
Akankah mereka bisa bersatu Reader... Adakah yang menghalangi mereka kembali?😊
Tulis dikolom komentar yaaa👇
But don't forget to like, love, vote, gift, and rate star 5 please😘
I'm waiting for you support guy's...🙏
💖Happy Reading💖
🌵🌵🌵
Setelah satu hari mereka habiskan untuk urusan yang membuat mereka tertekan dikota ini. Aiyla dengan masa lalu saudara tiri ibunya, sedangkan Ergin dengan masa lalu ibu kandungnya.
Hari ini mereka berdua menggunakan pakaian santai, tidak seperti biasanya. Menghabiskan waktu dikota ini sebelum pulang kerumah.
Berusaha untuk memadu kasih selama satu hari penuh dikota ini dengan berjalan menyusuri pusat kota yang ada didaerah ini.
Berjalan dengan mengenggam tangan antara satu sama lainnya. Senyum menghiasi dikedua wajah mereka berdua.
Ergin tak ingin melepas genggaman tangan wanita yang sangat dicintainya. Begitu juga Aiyla setelah membaca surat yang ditulis oleh bibinya.
Lelaki yang sekarang mengeggam tangannya adalah saudara sepupu tirinya. Putra dari saudara tiri ibunya yang berbeda ayah.
Namun saat ini Aiyla tak sanggup untuk mengatakan bahwa ibu Ergin adalah bibi dari Aiyla. Raut wajah Aiyla tiba-tiba berubah, ada sendu dimatanya.
Ia tak akan mengatakan ini semua sebelum rencananya berjalan sesuai dengan yang diinginkan Aiyla. Memberikan keadilan bagi bibinya yang telah meninggal dengan tragis.
"Hai....Ada apa? Apa yang menyebabkan mu tak bahagia "
Tiba-tiba saja Ergin menghentikan langkah kaki lalu menatap kearah Aiyla seraya menyentuh kedua lengannya bertanya dengan rasa penasaran.
Aiyla berusaha untuk menutupi perasaannya agar tak banyak yang ditanyakan oleh lelaki dihadapannya itu.
__ADS_1
Berusaha kembali mengontrol emosi dan perasaannya dengan cepat. Wanita itu hanya menjelaskan bahwa ia merindukan putranya.
Mendengar penjelasan dari Aiyla terselip rindu yang sama terhadap putranya itu. Akhirnya mereka berhenti untuk duduk disebuah cafe yang ada dipinggir jalan.
"Aku juga merindukan putraku, kita akan mencari waktu yang tepat untuk pergi berlibur bersama."
Ungkap Ergin dengan meraih tangan Aiyla lalu mencium punggung tangannya dengan lembut.
Lelaki dihadapannya ini memang tak pernah berubah sikapnya pada Azzam, walaupun mereka berdua mengalami pasang surut dalam hubungan percintaan.
Azzam tak pernah tahu pertengkaran mereka berdua, anak lelaki itu merasakan bahwa Ergin adalah sosok ayah dimatanya.
Aiylapun tak melarang lelaki itu menemui putranya walau disaat mereka berdua sedang dalam pertengkaran besar. Aiyla merasa bahwa Azzam tak harus merasakan sakit hati akibat hubungan percintaan orangtuanya.
"Sayang... Selepas pulang dari sini aku akan mempersiapkan pernikahan kita, apakah kau menyetujuinya? "
Tanya Ergin yang membuyarkan lamunannya, Aiyla menatap Ergin pertanda setuju dengan yang dikatakan oleh lelaki dihadapannya.
"Tapi aku ingin pernikahannya diadakan sesederhana mungkin, tidak seperti sebelumnya."
Balas Aiyla dengan wajah serius akan ucapan yang barusan keluar dari mulutnya. Ergin tertawa kecil seraya mencubit hidung wanita dihadapannya.
"Tentu saja sayang... Aku trauma kau pergi meninggalkan ku begitu saja saat itu, dengan wedding dress yang masih kau kenakan."
Tawa kecil dengan mata meledek kearah Aiyla terlihat jelas diparas tampan Ergin. Hanya senyum tersipu malu mengingat keegoisan Aiyla saat itu tanpa mau mendengar alasan lelaki dihadapannya terlebih dahulu.
"Aku minta maaf. " Balas singkat Aiyla menutupi rona merah diwajahnya.
Lelaki itu menghentikan tawanya seraya mengangkat wajah Aiyla melalui dagu wanita itu secara perlahan. Ia menyetuh dengan tangan kanan secara perlahan wajah wanita yang tertunduk dihadapannya, kini menatap lembut dengan rona merah dikedua pipi.
"Sayang.... Aku tak akan pernah menyerah dan dari mu aku belajar bersabar untuk dapat mencintai mu."
Ungkap Ergin dengan menyentuh lembut bibir wanita yang masih terlihat rona merah diwajahnya.
Aiyla membalas sentuhan itu dan mereka larut dalam nikmatnya permainan dibagian bibir mereka berdua. Hanyut dengan perasaan cinta diantara mereka berdua.
Mereka melepas sentuhan dibibir, karena menyadari bahwa semua orang melihat mereka berdua. Cafe tersebut terletak dipinggir jalan dengan tempat terbuka dimana semua orang berlalu lalang tepat didepan mereka duduk.
__ADS_1
"Sayang apa perasaan mu jika setelah mengetahui identitas dari ibu kandung mu ?"
Tiba-tiba saja merubah topik dan menyinggung persoalan yang sangat sensitif dari laki-laki itu. Terjadi perubahan langsung pada raut wajah Ergin, kini terlihat sendu dan rasa penasaran akan sosok wanita yang selama ini tak pernah terpikirkannya.
Dia hanya tahu bahwa Nyonya Esma adalah ibu kandung Ergin. Namun setelah seusia sekitar 38 tahun lebih kurang, Ergin baru tersadar bahwa ia tak lahir dari rahim wanita yang disapanya ibu.
"Aku akan langsung menanyakan sebuah pertanyaan yang selalu berputar dikepala ku, mengapa tak merawatku tapi malah menyerahkan pada orang lain ? "
Ungkapan Ergin pada saat ini terlihat bahwa hatinya tersiksa dan merasakan kesedihan dan keputusan Ergin.
Ada rasa bergejolak dihati Aiyla namun seakan tertahan pada saat sebuah kata ingin keluar dari mulutnya dan mengatakan yang sebenarnya pada lelaki itu.
"Bagaimana jika seandainya ia terpaksa atau dipaksa melepaskan mu ? " Ucap Aiyla dengan wajah penasaran menunggu jawaban dari laki-laki itu.
Ergin menjadi heran, karena yang dibicarakan oleh Aiyla lebih menjurus pada sebuah intrograsi padanya. Muncul tanda tanya bagi laki-laki itu, mengapa selama berada didaerah ini sikap Aiyla berubah.
"Sayang.... Apakah ada yang kau sembunyikan terhadap ku? " Tanya Ergin dengan suara pelan seraya meraih tangan Aiyla kembali.
Hanya diam terpaku tanpa ada penjelasan, wanita itu masih merasakan perih dihatinya. Kini kerongkongannya terasa sangat kering pada saat salivanya naik turun. Aiyla meraih secangkir minuman yang sedari tadi telah tersedia diatas meja untuk membasahi kerongkongannya itu.
"Aku sangat ingin secepatnya kita pulang dan bertemu dengan putra kita."
Ucap Aiyla kembali mengalihkan pembicaraan dan berusaha sewajarnya agar Ergin makin tak curiga. Mengalihkan pembicaraan dengan topik yang sama.
Diliriknya arlogi yang ada ditangan kanannya tertuju pada angka 05.00 sore. Aiyla mengajak Ergin untuk kembali kehotel agar mereka berdua bisa berehat sebelum pulang kembali kekota.
Tiket pesawat telah disiapkan oleh Ergin, mereka akan kembali esok hari. Tinggal satu malam mereka berdua menginap dihotel bintang 5 yang ada dipusat kota ini.
Ditengah perjalanan ponsel Aiyla berdering, diliriknya dilayar ponsel tertera nama Nyonya Yasmin. Segera diterimanya panggilan masuk dari wanita itu didepan Ergin. Berusaha bersikap sewajarnya dihadapan lelaki itu.
Panggilan itu hanya berisikan ucapan selamat tinggal yang diberikan Nyonya Yasmin dan memastikan kepulangan mereka berdua dari daerah ini.
Terselip satu perkataan dari Nyonya Yasmin bahwa ia segera harus menikah sepulang dari daerah ini. Sebuah isyarat bahwa apa yang dikatakan wanita itu sebentar lagi akan menjadi kenyataan dan tentu ia akan mendapatkan undangan pernikahan mereka berdua.
Ergin berusaha menyimak pembicaraan Aiyla dengan seseorang yang barusan saja memutuskan panggilan masuk. Wanita itu terlihat memiliki hubungan yang akrab dengan Aiyla ditelinga Ergin.
"Nyonya Yasmin, memastikan apakah kita akan segera pulang kekota," ucap Aiyla seraya tersenyum setelah menyadari bahwa Ergin tertarik dengan pembicaraan dirinya diponsel.
__ADS_1
"Sayang...Apakah kau telah lama berkenalan dengan wanita itu ? Aku merasa kalian memiliki chemistry satu sama lain. " Balas Ergin dengan melemparkan senyum diwajahnya.
Mendengar perkataan dari Ergin yang begitu tiba-tiba membuat Aiyla salah tingkah. Lelaki ini emang sulit untuk Aiyla bersikap pura-pura dihadapannya. Ia seakan tahu bahwa gerak-gerik Aiyla menyimpan sebuah rahasia.