Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 167


__ADS_3

Hai... Hai... Hai...πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


Apakah Reader 😊 masih setia dilapak Author. Mohon maaf yaπŸ™ kalau sekarang hanya bisa 1 Bab setiap harinya karena dibulan puasa mempengaruhi kinerja imajinasi dan ditambah dengan pekerjaan yang masih riweh😟😟


Tetap selalu berikan dukungan pada Author dengan cara πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


1. πŸ‘Like diakhir bacaan 😚


2. πŸ’™ Love jadikan favorit 😍


3. 🎁 Gift sekuntum mawar lebih juga boleh 😁


4. πŸ’― Vote 😍


5. ⭐ Rate Star 5 😘


Terima kasih buat Reader yang telah memberikan dukungannya pada Author πŸ™πŸ™ Semoga masih tetap setia πŸ’™ dan terus mengikutin alur dari cerita Pekatnya Malam 😍😘


Jom lanjuuut ngebaca πŸ’¨πŸ’¨πŸ’¨


πŸ’₯Happy ReadingπŸ’₯


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Semua kembali pada rutinitas semula, Aiyla tengah sibuk mengembangkan perusahan baru yang dirintisnya sedangkan Ergin memperkuat kembali perusahaan Ozturk.


Buraq yang merupakan asisten pribadi Ergin kini menjadi pemimpin diperusahaan yang didirikan oleh Ergin sewaktu hengkang dari perusahaan Ozturk.


Perusahaan itupun dibawah pantauan Ergin, dan sekarang juga tak bisa diremehkan karena perusahaan tersebut mampu bersaing dengan perusahaan yang telah lama berdiri.


Nadine yang merupakan bekas tunangan Ergin telah menjalin kerja sama yang baik dengan perusahaan Ozturk. Awalnya Ergin dan Murad merasa canggung karena kerjasama mereka dengan Nadine bakal terkuak kembali kisah dimasa lalu yang kurang mengenakan.


Perusahaan yang dipimpin oleh Nadine merupakan perusahaan yang didirikan suaminya. Wanita itu berstatus single parent, suaminya telah meninggal dunia sehingga kursi kepemimpinan tertinggi diperusahaan jatuh pada wanita tersebut.


"Terima kasih Tuan Murad aku sangat senang kita bisa menjalin kerjasama yang baik. "


Ungkap Nadine setelah ikut rapat dewan direksi dan pimpinan dari beberapa perusahaan yang bergambung dan berkerja sama dengan perusahaan Ozturk.


"Sama-sama, semoga kita mendapatkan keberuntungan atas kerja sama ini."

__ADS_1


Balas Murad yang mewakili Ergin dalan rapat hari ini. Sedangkan Ergin sengaja menghindar untuk tidak bertemu secara langsung dengan Nadine.


Kebetulan sekali relasi yang ada diluar negeri membutuhkan dirinya sehingga rapat hari ini diwakili oleh sahabatnya itu.


"Bagus.. Aku akan memberikan kepercayaan pada mereka berdua. "


Besit Nadine dalam hati dengan maksud yang terselubung. Wanita ini masih menyimpan cerita dimasa lalu, dan sebuah kenangan yang sangat menyesakkan dadanya terutama dengan Murad.


"Baiklah, sampai bertemu kembali Tuan Murad."


Ucap Nadine dengan senyum membingkai diwajahnya yang cantik.


Wanita itu pandai memainkan perannya dengan dua raut wajah. Sesat membalikkan tubuhnya keluar dari ruang rapat sebuah senyuman dengan lirikan mata mengisyaratkan kelicikan terpancar jelas diraut wajahnya yang tadi tersenyum dengan manisnya menatap Murad.


Melangkahkan kaki dengan rasa percaya diri menyusuri koridor menuju lantai bawah. Didalam hati wanita itu tersimpan rasa senang karena perusahaan yang dipimpinnya diberikan kepercayaan untuk bekerja sama.


Disatu sisi diperusahaan yang dipimpin Aiyla telah memenangi sebuah projek baru yang bernilai milyaran. Perusahaan yang baru berdiri seumur putrinya itu mampu bersaing dan mampu menjalin kerjasama dengan perusahaan yang telah lama berdiri.


Keberhasilan Aiyla membuat Nadine kesal karena wanita itu telah beberapa tahun ini sengaja mencari informasi mengenai semua hal. Termasuk kehidupan Aiyla dan Ergin serta kehidupan Murad dan Gul.


Wanita itu terlalu terobsesi untuk membawa kisah masa lalu pada masa kini. Berusaha mencari sela kelemahan disetiap sisi kedua laki-laki tersebut.


Wanita itu juga tahu bahwa Ergin adalah anak dari wanita lain yang dicintai ayahnya. Serta Nadinepun tahu bahwa ada sebuah rahasia yang besar disimpan rapat antara Ergin dan Aiyla, namun dirinya masih belum memiliki bukti.


Sedangkan rahasia Murad yang diketahui oleh dirinya adalah Murad telah menghamili seorang wanita yang sampai saat ini tak diketahui oleh laki-laki itu sendiri.


Nadine sengaja menjadikan hal tersebut untuk senjatanya pada Murad, menggunakan seorang wanita yang telah memiliki seorang putra untuk menghancurkan hubungan pernikahan Gul dan Murad yang baru saja terjalin.


"Kau pastikan akan bertekuk lutut pada ku dan segera meminta aku untuk mengantarkan mu menemui wanita yang telah melahirkan putra mu itu tujuh tahun silam."


Ungkap Nadine dalam hati seraya berlalu dari perusahaan Ozturk.


6 Bulan kemudian


Setelah menjalin hubungan selama 6 bulan, mulai Nadine menjalankan aksi teror pada kedua pria tersebut. Sebuah surat tanpa pengirim berdatangan pada kedua laki-laki tersebut.


Murad dikirimkan sebuah surat yang berisikan photo-photo disaat dirinya bersama seorang wanita. Sosok wanita yang sudah lama tak pernah dilihatnya. Bahkan Murad sudah lupa dengan sosok wanita tersebut, kalau tidak melihat wajah wanita yang ada didalam photo itu.


Dibalik photo tertulis dengan jelas yang berbunyi " Selama ini aku hanya berdiam, dan kini saatnya aku menuntut hak ku!!"

__ADS_1


Photo pertama yang dikirimkan seminggu yang lalu, dan minggu ini Murad mendapatkan sebuah surat dengan amplop berwarna coklat yang sama persis dengan amplop seminggu yang lalu.


Tanpa ada pengirim dan hanya tertulis alamat perusahaan dengan lengkap, tidak ada yang lain.


Murad mulai merasa tergangu, dirinya sadar bahwa sebelum menikah banyak mengenal wanita. Namun sosok wanita ini membuat Murad menjadi penasaran secara tiba-tiba kehadiran wanita itu setelah selama ini.


"Mengapa setelah tujuh tahun, baru muncul kehadiran kau dihadapan ku. Aku yakin ada sesuatu yang diinginkan dari diri ku!! "


Besit Murad dalam hati dengan rasa bercampur aduk dihatinya. Awalnya hanya dibiarkan saja oleh Murad, namun lelaki itu baru merasa terganggu setelah surat yang sama berisi photo dirinya.


Kali ini photo itu begitu syur, memperlihatkan kedekatan antara wanita tersebut dengan Murad. Jika Gul melihat photo tersebut tentu membuat hati istrinya merasa tersakiti bak diiris sebilah sembilu.


Lamunan Murad jauh tenggelam seraya melihat photo kedua dan berisi sebuah tulisan kembali dibelakang photo tersebut.


"Aku yang seharusnya berada disamping mu, bukan dia!!"


Kalimat tersebut menimbulkan keringat dingin didahi Murad. Murad berusaha keras untuk mencari sebuah alasan pada wanita yang ada didalam pelukan dirinya didalam photo tersebut.


Semakin keras dirinya berpikir semakin tak menemukan jawaban dari pertanyaan yang berkembang didalam pikirannya.


Ergin masuk kedalam ruang kerjanya tanpa disadari oleh dirinya. Bahkan Ergin menyapanya dengan suara pelan namun tak mendapatkan respon diri laki-laki dihadapannya.


"Murad!! "


Terdengar suara Ergin kembali namun dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.


Keringat dingin sebesar jagung didahinya menetes dan jatuh tepat diatas photo yang ada digenggaman oleh kedua tangannya.


Barulah Ergin berdiri tak jauh dari sahabatnya tersebut dengan tatapan mata penuh dengan keseriusan.


"Murad sedang apa? Tidak biasanya kau termenung jauh seperti itu ? Apa yang sedang kau pikirkan sampai kau tak mendengar suara sapaan dari ku. "


Ucap Ergin dengan penuh penasaran menatap dalam kembali kearah mata Murad.


Dengan gamblang Murad menceritakan semua yang terjadi selama dua minggu terakhir ini pada sahabatnya itu. Betapa terkejutnya Murad bahwa Ergin juga mendapatkan hal yang sama seperti dirinya.


"Baiklah... Kau juga mendapatkan surat dengan amplop yang tak berbeda jauh dengan ku. Seseorang juga mengirimkan sepucuk surat yang berisikan sebuah rahasia yang ku miliki."


Perkataan sahabatnya itu terdengar ditelinga Murad yang menyebabkan perubahan diraut wajah Ergin saat bercerita dengan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2