Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 11


__ADS_3

Bagaimana Reader...


Masih menjadi Silent Reader?? 😢😢


Come on... Jangan senyap saja...


Like, vote and comment...


Author Tunggu....


❄❄❄


Percakapan yang terjadi ditaman rumah sakit antara Aiyla dan Fusun diluar prediksinya. Dirinya tak menyangka bisa bertemu dengan wanita semulia Fusun.


Namun Aiyla tak mungkin mengajak Fusun untuk tinggal diapartement sahabatnya itu. Disana hanya ada dua kamar, dan tak mungkin pula dirinya sudah menumpang membawa orang lain untuk tinggal pula disana.


Akhirnya Aiyla memutuskan untuk mencari sebuah apartemant yang biasa saja yang terjangkau bagi dirinya untuk sewa perbulan.


Dibukanya aplikasi diponsel untuk mencari secara online apartemant sewaan yang tak dibayar pertahun tetapi perbulan.


Jika sewa pertahun maka akan terlalu berat, mengingat dirinya harus mencari uang untuk proses transplantasi tersebut.


Ada 3 tempat yang tak jauh dari kantor dan rumah sakit. Dari 3 tempat tersebut memiliki perbedaan uang sewa perbulannya.


Satu apartemant dengan jarak lebih jauh 1,5 km dari kantor dan rumah sakit menawarkan harga yang berbeda dari 2 apartemant lainnya.


Dengan fasilitas sederhana, namun terlihat aman dan dirinya mampu menyewa perbulan.


Akhirnya Aiyla memutuskan untuk menelpon contact person yang tertera pada iklan tersebut. Membuat janji untuk bertemu dan melihat kondisi apartemant tersebut secara langsung.


"Hey... Serius sekali," Tegur Gul yang sedari tadi melihat gerak gerik sahabatnya itu.


Aiyla menunggu waktu yang tepat untuk bicara tentang niat untuk pindah dari apartemant. Dirinya tak ingin Gul tersinggung atau merasa tidak dibutuhkan lagi dalam hal keputusannya untuk pindah.


"Tak ada apa-apa, aku hanya berpikir tentang Azzam, " Ucap Aiyla berusaha menutupi tentang niatnya itu.


Gul selalu berkaca-kaca ketika Aiyla menyinggung tentang Azzam, setiap yang berhubungan dengan kesehatan putra sahabatnya, Gul langsung terenyuh dan ikut merasakan penderitaan sahabatnya itu.


"Ada apa dengan Azzam? Bagaimana kondisinya terakhir ini? " Tanya Gul dengan antusian dan cemas.


Aiyla menceritakan tentang kondisi Azzam yang belum juga menunjukkan kesembuhan. Tindakan selama ini hanya memperlambat kerusakan fungsi ginjalnya saja tapi tidak menyembuhkan dirinya.

__ADS_1


Bulir bening jatuh diujung matanya membayangkan wajah pucat putranya dengan kondisi tubuh yang semakin kurus dan lemah


"Bersabarlah Aiyla... Semoga secepatnya ada yang bersedia menjadi pendonor dan pendonor itu cocok untuk putra mu," Ungkap Gul dengan mata yang telah berair juga.


Mendengar perkataan Gul tentang pendonor, Aiyla harus berterus terang dan memberitahukan sahabatnya itu, bahwa telah ada seorang wanita yang bersedia menjadi pendonor Azzam.


Gul berdiri dari tempat duduknya dengan spontan setelah mendengar perkataan yang disampaikan Aiyla. Raut wajah bahagia terlihat dengan jelas dari sahabatnya itu


"Syukurlah...Ini yang kita harapkan selama ini," Ungkap Gul dengan mata berbinar masih belum percaya dengan apa yang telah didengarnya.


"Proses transplantasi itu akan dilaksanakan dalam minggu ini, aku berharap semua berjalan lancar dan tak ada kendala suatu apa pun, " Ungkap Aiyla dengan menatap penuh kesungguhan.


Kemudian Aiyla mengingatkan kembali dua hari sebelumnya, pada saat dirinya memutuskan pulang lebih awal dari jam pulang kantor.


"Itulah sebenarnya, alasan aku pulang cepat karena harus kerumah sakit dan segera memastikan kabar yang diberikan pada ku". Ungkap Aiyla dengan membayangkan pertemuannya dengan Fusun


Sahabatnya itu hanya menganggukan kepala pertanda dirinya mengingat kembali dua hari sebelumya dimana Aiyla pulang lebih awal dari kantor.


"Nah...kalau begitu kau sedikit tenang La, pendonor Azzam telah ada tinggal proses transplantasi saja," Balas Gul dengan wajah cerah dan tersenyum.


Hanya dapat menundukkan kepala setelah mendengar perkataan dari sahabatnya itu. Tak mungkin dirinya bercerita akan uang yang dibutuhkan untuk proses transplantasi.


Arloginya menunjukkan pukul 16.00, saatnya jam pulang. Aiyla memberitahu Gul untuk pulang terlambat kerumah, seperti biasa karena harus kerumah sakit.


Sebuah mobil taxi telah menunggu dipinggir jalan karena lambaian tangan Aiyla yang telah berada diluar kantornya


Memberikan alamat pada sopir untuk mengantarkan dirinya ketempat apartemant yang mau dilihatnya


Sekitar 25 menit taxi telah berada dialamat yang Aiyla berikan pada sopir tersebut, menelpon kembali nomor yang telah dihubungi Aiyla tadi siang


Cukup 15 menit Aiyla mengecek dan melihat serta berbicara dengan yang punya apartemant dan mengambil keputusan untuk segera menyewa.


Meminta waktu tiga hari dari pertemuan Aiyla dengan yang punya apartemant untuk mempersiapkan kepindahannya


Dengan memberikan uang muka pada yang punya apartemant, menunjukan bahwa Aiyla serius akan menyewa apartemant tersebut


Setelah melihat apartemant dan telah mengambil keputusan, Aiyla bermaksud untuk kerumah sakit.


Mempertemukan Azzam dan Fusun. Dirinya ingin Azzam mengenal siapa yang menjadi pendonornya.


Dalam perjalanan kerumah sakit, Aiyla segera mengambil ponsel yang terletak disaku jaketnya, kemudian menelpon Fusun untuk segera bertemu dirumah sakit.

__ADS_1


Ternyata Aiyla lebih dulu sampai, dia akan menunggu Fusun didepan rumah sakit. tak begitu lama wanita yang ditunggupun tiba.


Mereka melangkahkan kaki menuju ruang rawat inap Azzam, setelah sampai diruang tersebut ternyata Azzam sedang makan dengan perawat jaga.


Senyum terlihat diwajahnya yang pucat, Azzam memang telihat senang setiap Aiyla datang keruangan tersebut. Azzam mengerti bahwa ibunya tak bisa menjaganya 24 jam, karena harus bekerja.


Anak lelaki ini terlihat mandiri diusianya 6 tahun, tak pernah merengek pada saat Aiyla tak bisa selalu ada disampingnya.


"Ibuuuuu...Kau datang, " Ucap Azzam dengan mengangkat kedua tangannya kedepan dada seperti meminta dipeluk.


Aiyla langsung memeluk seperti biasanya dan mencium kedua pipi permata hatinya itu. Setelah cukup lama mereka berdua berpelukan, Aiyla memperkenalkan Fusun.


Melihat sebegitu dekatnya Aiyla dengan putranya tersebut, mengingatkan Fusun pada saudara laki-lakinya


"Boleh aku memeluk mu juga? " Tanya Fusun pada anak lelaki yang ada dihadapannya seraya tersenyum


Azzam heran dan kemudian melirik kearah Aiyla meminta persetujuan. Dengan sebuah isyarat yang diberikan pada Azzam melalui matanya.


Melihat isyarat tersebut Azzam menganggukan kepalanya pertanda setuju. Fusun langsung memeluk erat tubuh lemah anak lelaki dihadapannya dengan bulir bening jatuh membasahi wajahnya.


"Mengapa bibi menangis? " Tanya Azzam karena dirinya sadar bahwa wanita yang memeluknya itu membasahi baju bagian belakang dengan air matanya.


Fusun melepaskan pelukannya lalu memandang dengan sendu dan penuh kasih sayang pada Azzam.


Azzam menghapus air mata yang masih keluar dari ujung mata Fusun dengan kedua ibu jarinya.


"Jangan menangis bibi, ibu berkata akan ada hari esok yang membuat kita tersenyum, bersabarlah," Ungkap polos Azzam dengan mata menatap lekat diwajah Fusun


Fusun seketika menghentikan tangisannya dan berusaha menghapus airmatanya sendiri dengan kedua tanggan.


"Aiyla sungguh ibu yang tegar, mampu mendidik putranya menjadikan sosok anak yang tegar pula," Besit dalam hati Fusun


Melihat kedekatan yang terjadi pada Fusun dan Azzam, memberi sedikit kebahagian dihatinya. Walaupun ini pertama kali mereka berdua bertemu, namun Fusun dan Azzam seperti telah mengenal lama.


"Azzam... Bibi Fusun ini yang akan memberikan kesembuhan pada mu nak, melalui bibi ini Azzam akan sehat seperti dulu," ungkap Aiyla dengan suara pelan dan menatap wajah putranya.


Azzam memang mengetahui penyakit yang dideritanya, karena Aiyla pernah menjelaskan padanya bahwa dia harus mendapatkan seseorang yang membantunya sembuh selain dokter yang ada dirumah sakit.


Mendengar perkataan ibunya itu, Azzam langsung memeluk erat Fusun yang berada dihadapannya dan membuat wanita itu terkejut


"Bibi...Terima kasih. Sudah lama Azzam menunggu bibi, mengapa bibi lama sekali menemui ku. Azzam sudah tak tahan dengan rasa sakit ini, " Ucap Azzam seraya menangis.

__ADS_1


Mendengar perkataan Azzam sontak Aiyla dan Fusun menangis tersedu dan mereka bertigapun berpelukan dengan eratnya.


__ADS_2