
Hai... Hai... Hai...๐๐๐
Salam Hangat buat Reader Setia...๐
Jangan lupa untuk selalu memberikan๐ semangat serta dukungannya yaaaa๐
Jom lanjut baca...๐
Happy Reading
๐ธ๐ธ๐ธ
Ada gemuruh dihati Nadine saat lelaki yang sampai saat ini masih membingkai indah dihatinya yang terdalam.
Sebuah senyum menghiasi bibirnya yang merona dengan tampilan yang sengaja dipersiapkan olehnya.
Ada rasa cemas sekaligus penasaran akan pertemuanya kali ini. Nadine tak dapat menerka maksud dan tujuan lelaki itu meminta bertemu siang ini.
Ergin telah duduk tepat dihadapannya tanpa membalas senyum yang sengaja Nadine berikan untuk lelaki itu.
Dengan wajah datar tanpa ekspresi lelaki itu membuka pembicaraan diantara mereka berdua. Suaranya yang berat namun terdengar tegas dan jelas masuk ketelinga Nadine.
Hatinya yang sedari tadi bergemuruh menjadi lebih kencang terdengar seakan jantungnya hendak keluar pada tempatnya.
"Nadine... Aku tak ingin kau terhasut oleh orngtua ku, aku tahu kalau kau merasa bersalah atas apa yang telah terjadi pada kita berdua. Itu bukanlah sebuah rasa yang sama namun melainkan hanya rasa penyesalan yang berusaha kau perbaiki atas keputusan mu yang dulu."
Terdengar sangat menusuk dihati Nadine, dirinya tersadar akan apa yang diucapkan lelaki dihadapannya. Apa yang dikatakan lelaki itu benar adanya.
__ADS_1
Membuka yang tersembunyi dihatinya selama ini. Sebuah keputusan salah yang dulunya pernah diambil, telah menghantuinya sampai saat ini membuat dirinya tak mampu melupakan lelaki dihadapannya itu.
"Ergin... Kau benar. Aku hanya ingin memperbaiki kesalahan yang dulu ku perbuat. Aku juga ingin hidup dengan penuh kedamaian dan kasih sayang."
Dengan suara terbata-bata wanita dihadapan Ergin mengeluarkan bulir bening dari kedua ujung matanya.
Nadine merasa sangat bersalah setelah mengetahui dibalik semua yang terjadi dengan Ergin dan istrinya saat ini. Sungguh membuat dirinya merasa Malu dihadapan lelaki tersebut.
"Maafkan aku Ergin, jika ku tahu sedari dulu maka aku tak akan berharap lebih jauh akan cinta mu yang telah hilang itu."
Terdengar jelas namun terasa begitu perih dihati saat kata-kata itu keluar dari bibir Nadine yang merona.
"Ergin satu hal yang harus kau ketahui bahwa aku akan merasa bersalah jika ini tidak ku utara sekarang."
Tiba-tiba saja wanita itu bercerita keluar dari topik pembicaraan diawal. Nadine menceritakan niat buruk dari Nyonya Esma.
Ergin yang mendengar panjang lebar cerita tentang Nyonya Esma tak mengubah ekpresi wajah lelaki dihadapan Nadine tersebut.
"Terima kasih kau telah memberikan informasi ini. Nyonya Esma alias ibu tiri ku itu masih tak dapat menerima kenyataan."
Betapa terkejutnya Nadine mendengar Kata Dari laki-Laki tersebut. Kata "Ibu Tiri" membuka matanya menjadi sangat lebar. Sungguh diluar dugaan dirinya.
"Jadi, Nyonya Esma bukalh ibu mu? "
Dengan mata yang membulat membuat Nadine masih merasakan ketidakpercayaan sehingga wanita tersebut berusaha mempertegas kembali dengan pertanyaan tersebut.
Ergin hanya menggengam tangan kanannya dengan sangat kuat pertanda sangat tak menyukai atas perbuatan Nyonya Esma.
__ADS_1
Lelaki itu mempertunjukkan ketidak sukaannya terhadap kata-kata yang masuk ketelinga dirinya itu.
Nadine tak mendapatkan respon melalui kata-kata namun dirinya dapat dengan jelas melihat perubahan ekspresi lelaki yang sedari tadi wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Wajar saja Nyonya Esma begitu membenci mu, wanita itu telah berbuat salah sama seperti diriku. Memaksakan seseorang untuk dapat mencintai dirinya sedangkan cinta tak dapat dipaksakan. Kami bedua menghendaki yang bukan milik kami."
Terdengar pelan dan pilu disaat Ergin melihat wajah wanita yang dulu sempat bersemayam dihatinya.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan pergi menjauh untuk melupakan semua yang berhubungan dengan mu Ergin. Aku akan memutuskan hubungan kerja diperusahaan. Maafkan aku atas ketidaknyamanan yang telah ku lakukan pada mu, Aiyla, Murad beserta istrinya."
Dengan wajah tertunduk dan bulir bening membasahi wajah cantik Nadine mengakhiri pertemuan mereka berdua. Ergin tak membalas semua yang baru saja keluar dari mulut wanita yang kini hanya terlihat punggunnya saja berlalu dari hadapanya.
Lelaki itu begitu tak percaya atas sikap Nadine yang berlalu pergi meninggalkan dirinya. Ergin masih mencerna dengan baik setiap kata-katanya yang baru saja terdengar ditelinganya.
"Terima Kasih Tuhan, wanita itu dapat mengerti keadaan ku."
Tanpa disadarinya kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Ergin. Hari ini terasa begitu lapang, rasa sesak didalam dadanya hilang dengan sendirinya.
Ergin begitu bersemangat meraih ponsel yang tersimpan disaku jasnya. Memainkan ponsel tersebut dan segera memilih panggilan keluar untuk segera memberitahukan Aiyla akan hasil dari pertemuan dirinya dengan Nadine.
Tak menunggu waktu lama, sambungan dari panggilan keluar tersebut diterima hangat oleh istri yang sangat dicintai Ergin.
Ergin berbicara runtun dengan ekspresi wajah yang begitu berbeda dari pada saat berbincang-bicang dengan Nadine. Wajah lelaki itu begitu hangat dengan ekspresi wajah begitu cerah dengan binar dimatanya yang berwarna biru berbicara dengan lembut pada Aiyla.
Setelah Berbicara sekitar 15 menit dengan istrinya, Ergin mengalihkan panggilan keluarnya pada sahabatnya itu.
Murad tak banyak membalas perkataan dari sahabatnya tersebut. Sebuah senyum membingkai diparasnya yang tak muda lagi. Hatinyapun ikut merasakan kebahagian dengan mendengar perkataan dari sahabatnya itu.
__ADS_1
Sebuah masalah dapat diselesaikan sesuai dengan harapan, namun yang masih dalam hati dan pikirannya adalah Nyonya Esma. Ibu tiri Ergin yang sampai Detik ini masih tak menyukai Aiyla.
Panggilan berakhir dengan sebuah prmbicaraan tentang kesepakatan untuk memutuskan hubungan kerja perusahan Ozturk dengan perusahaan yang dipimpin oleh Nadine.