Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 160


__ADS_3

Hai... Hai... Hai... πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


Bagaimana Reader sampai detik ini apakah masih tetap setia? Semoga masih tetap dilapak Author. πŸ‘πŸ‘


Tetap berikan dukungannya dan tinggalkan jejaknya setelah ngebaca. Sebuah suplement buat Authornya.πŸ‘ŒπŸ‘Œ


Dengan cara like, love, vote, gift, and rate star 5 please... πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Terima kasih untuk Reader yang telah memberikan dukungannya...πŸ™πŸ™πŸ™


Salam sayang dan terkasih untuk Reader setia... πŸ’«πŸ’«πŸ’«


Jom lanjut ngebacaπŸ”œ


πŸ’–Happy ReadingπŸ’–


πŸ’πŸ’πŸ’


Sebelum mereka pergi kembali kekota sepasang sahabat tersebut berpamitan pada Feride dan Bulut.


Aiyla telah meminta maaf atas perkataannya dan menceritakan semua mengenai sikapnya yang telah berbohong pada Feride.


Wanita paruh baya tersebut mengerti alasan Aiyla mengapa sampai bertindak seperti itu. Baginya jika diposisi yang sama dengan Aiyla, wanita itupun akan melakukan hal yang sama.


"Feride... Terima kasih telah menyambut kami dan menerima kami berliburan disini. Terima kasih telah membantu Gul selama tinggal disini. Jika tidak ada keluarga mu tentu sahabat ku akan merasa kesulitan dan kesepian."


Ungkap Aiyla seraya menggenggam erat tangan wanita paruh baya tersebut. Feride sedikitpun tidak berubah sikapnya terhadap semua orang. Masih sama seperti yang Aiyla kenal dari dulunya.


"Sama-sama Nyonya, saya juga banyak mengucapkan berterima kasih. Berkat Nyonya tentu saya tidak bisa semandiri ini dalam membesarkan putra seorang diri. Jangan dipikirkan tentang Bulut. Lambat laun dia akan bisa menerima semuanya."


Ungkap Feride dengan mata berkaca-kaca menatap Aiyla dan Gul. Dua wanita yang dekat dan ada dalam perjalanan hidupnya. Feride merasakan hal yang sama dengan Gul, berusaha berjuang untuk bisa sabar dan tegar setelah memutuskan untuk melahirkan seorang diri dikota kecil ini.


"Semoga Bulut mendapatkan wanita yang sangat mencintainya dan kau akan segera mendapatkan seorang cucu dari nya. "


Ungkap Aiyla kembali pada Feride yang kini wajahnya telah basah dengan air mata.


Bulut tak ada diantara mereka, lelaki itu memilih untuk tidak mengantar kepergian Gul. Rasa kecewa dan rasa cintanya membuat lelaki itu tak sanggup melihat kepergian Gul.


"Ibu... Maafkan atas segala kekurangan ku dan terima kasih atas segala bantuan mu selama ini. Termasuklah putra mu yang telah menjaga ku dan putri kecil ku. Sampaikan padanya salam sayang dari seorang saudari dan keponakan untuknya. Dilec dan aku tentu akan merindukan kalian berdua. "


Ungkap Gul dengan memeluk tubuh Feride yang telah dianggap ibu baginya. Mereka saling mengeratkan pelukan dan air mata telah membasahi wajah keduanya.

__ADS_1


Mereka berdua larut dalam kesedihan atas perpisahan dan tentunya akan merasa kehilangan dalam beberapa waktu. Seiring berjalannya waktu rasa kehilangan itu dengan sendirinya dapat diterima oleh mereka berdua


"Feride jangan khawatir kami akan mengunjungi mu kembali dan pada saat pernikahan Gul kau harus ikut hadir karena sahabat ku ini telah menganggap kau sebagai ibunya."


Ungkap Aiyla seraya memeluk tubuh wanita itu yang tak hentinya menangis. Rasa kehilangan dan cintanya terlihat jelas dimata wanita paruh baya tersebut.


"Nyonya Feride terima kasih telah menjaga Gul dan putri kecil ku, terima kasih untuk semua yang telah putra anda dan Nyonya lakukan. Berkat anda aku bisa mengendong putri kecil ku ini."


Ungkap Murad seraya mengulur tangan pada Feride. Wanita itu langsung mengambil Dilec dan mencium kedua pipi anak perempuan tersebut.


"Sayang... Jangan lupakan nenek ya.. Kau harus kembali kesini untuk melihat nenek dan paman mu ini."


Ucap Feride pada putri kecil Gul yang hanya tersenyum dengan celotehan gaya bahasa balita yang seakan mengerti apa yang dibicarakan wanita tersebut.


Moment perpisahan itu terjadi dengan derai air mata namun terselip dihati mereka akan sebuah harapan dan kebahagiaan dihati setiap orang.


Mereka berpamitan dan hanya tersisa jejak dan kenangan yang indah turut menyertai kepergian mereka.


Dibalik moment tersebut ada seseorang yang hanya memperhatikan dari jarak jauh kepergian mareka dengan bulir bening telah jatuh diparas wajahnya yang tampan.


Melihat putri kecil Gul yang sangat disayanginya seperti anak kandung kini telah lepas dari genggamannya.


Besit Bulut seraya menatap kepergian mereka sampai menghilang dari pandangan matanya.


Mereka berangkat dengan menggunakan dua mobil, selama perjalanan mereka singgah ditempat-tempat yang indah disepanjang perjalanan mereka pulang.


Mengistirahatkan tubuh mereka sebentar seraya tetap menikmati akhir dari liburan keluarga mereka. Gul bersama Murad dan putri kecil mereka, begitu juga Aiyla bersama Ergin serta kedua putra putri mereka.


Lebih kurang dua jam dalam menempuh perjalanan yang akan mereka lalui, sampailah mereka pada kota yang telah 2 tahun ditinggalkan oleh Gul.


"Ada apa sayang? Mengapa kau menangis? "


Ungkap Murad seraya menyentuh wajah Gul, dengan mata tetap pokus mengemudikan kendaraannya.


Mengingat kembali bagaimana dirinya penuh dengan derai air mata pergi dari kota besar yang membuat hatinya terluka.


Namun saat ini Gul tak menyangka bahwa ia akan kembali kekota yang membuat hatinya terluka saat itu dengan dua orang yang sangat berharga didalam hidupnya.


Luka itu telah terobati dengan sendirinya atas kehadiran Murad disamping Gul.


"Aku bahagia.. "

__ADS_1


Jawab Gul seraya mempererat gengaman tangannya dan terlihat senyum yang mengembang dibibirnya. Muradpun membalas senyuman yang diberikan wanita yang telah melahirkannya putri kecilnya.


"Untuk sementara kita akan tinggal di apartement ku, sebelum ku carikan sebuah rumah untuk kita tempati bersama."


Ungkap Murad dengan mencium punggung tangan wanita yang sangat dicintainya. Gul hanya menganggukan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Murad.


Akhirnya mereka berpisah, Murad mengambil jalur menuju apartemantnya sedangkan Ergin kembali kerumah mereka.


Setibanya dirumah, mereka berempat disambut Fusun dan Yaren. Dua wanita itu terlihat sangat merindukan Azzam dan Melec.


Kehadiran mereka langsung dipeluk oleh Fusun dan Yaren. Secara bergantian mereka melepas rindu pada kedua putra putri Aiyla dan Ergin.


"Kak Fusun tolong bantu Azzam untuk membersihkan dia dan tolong Yaren bersihkan Melec. Aku ingin membersihkan diri dan segera beristirahat, pinggang ku terasa sakit."


"Oya sebelum itu buatkan aku dan Ergin minuman seperti biasa. Tolong minuman yang telah dibuat antar keatas. "


Ucap Aiyla seraya berlalu dari mereka berdua dan naik kelantai dua untuk segera membersihkan tubuh.


Terlihat Ergin yang telah bersiap untuk mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya.


"Hei... Kenapa begitu lesu tak bersemangat?"


Ucap Ergin seraya melingkarkan kedua tangannya tepat pada lengan Aiyla dari posisi belakang.


"Terasa sakit dipinggang ku, aku juga ingin segera mandi dan langsung tidur. "


Ucap Aiyla dengan manja pada suaminya.


"Baiklah ayo mandi bersama...Biar ku pijat dan kau akan segera tertidur nantinya."


Balas Ergin dengan mata genitnya menatap Aiyla yang telah mengubah posisi berhadapan sehingga tak ada jarak bagi keduanya.


"Ehmm...Itu ga urut melainkan yang lain, apa kau tak lelah sayang? Aku yang hanya duduk saja terasa lelah apa lagi dirimu yang membawa kendaraan."


Balas Aiyla seraya mencolek hidung mancung yang dimiliki suaminya. Ergin langsung menggelengkan kepala pertanda bahwa ia tak merasakan lelah sama sekali.


"Baiklah... Kita akan mandi bersama dan hanya itu, tidak ada plus-plusnnya."


Ucap Aiyla seraya mencubit pinggang suaminya yang telah mengedipkan sebelah matanya.


Biasanya hanya modus saja pijat namun ada sesuatu yang lebih yang akan dilakukan oleh suaminya itu. Ergin tertawa terkekeh melihat wajah Aiyla yang cemberut seraya mengusap bekas cubitan Aiyla tepat dipinggangnya.

__ADS_1


__ADS_2