Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 178


__ADS_3

Menurut Reader apa yang akan dilakukan Nyonya Esma?๐Ÿ˜‰


Tulis dikolom komentar ya... ๐Ÿ‘Œ


Jangan Lupa selalu beri dukungan ya buat Author ๐Ÿ˜š


Jom lanjuuut ngebaca ๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ


๐Ÿ’ŸHappy Reading๐Ÿ’Ÿ


Ergin telah membuat janji bertemu dengan Murad. Dua orang lelaki yang sudah lama tidak duduk bersama, kini menyempatkan waktu untuk bertemu karena dari keduanya ada sesuatu yang perlu dibicarakan.


Siang ini disebuah resto tak jauh dari perusahaan tempat mereka bekerja. Murad menyadari kehadiran sahabatnya itu telah berjalan mendekati meja dimana saat ini dirinya telah menempati sebuah sofa dengan santai.


Seraya menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan sahabatnya, Ergin sembari berkata: "Maafkan, aku telat 5 menit."


"Tak masalah, aku juga baru saja tiba."


Balas Murad seraya tersenyum menatap sahabatnya itu. Tanpa basa-basi mereka berdua berbicara sesuai dengan tujuan mereka datang keresto tersebut.


Setelah mereka berdua saling bicara betapa terkejutnya, bahwa mereka berdua telah diteror dengan satu wanita dimasa lalu. Murad menceritakan semua yang terjadi padanya dan begitu juga Ergin. Akan tetapi Ergin secara terus terang berbicara bahwa tak akan menceritakan secara detail apa yang menjadi rahasia yang disimpan selama ini.


Mendengar sahabatnya berterus terang, sahabatnya itu dengan rasa pengertian tidak memaksa kehendak untuk mengetahui lebih jauh apa yang menjadi rahasia antara sepasang suami istri tersebut.


"Baiklah... Kau harus punya rencana untuk mengatasi Nadine, jika wanita itu tetap nekad mengpublikasi rahasia yang kau jaga tersebut. Saran ku lebih baik kau bicara kembali dengan wanita itu dan menceritakan secara detail mengapa kau melarang dirinya untuk mengungkapkan semua didepan umum."


Dengan wajah serius dan suara yang tegas Murad berusaha memberikan saran pada Ergin untuk memecahkan masalah yang tengah dihadapinya.


"Aku...Akan meminta ijin pada istri ku terlebih dahulu, lalu baru menemui Nadine. Aku tak ingin Aiyla salah paham jika adapula seseorang yang sengaja memberitahu Aiyla bahwa aku berjumpa dengan wanita itu. "

__ADS_1


Ergin tak ingin masalah itu bertambah besar dengan adanya kesalah pahaman antara dirinya dengan Aiyla. Ergin merespon saran dari sahabatnya itu dengan sedikit tersenyum.


Saran yang diberikan Murad untuknya, mengapa tidak dicobanya terlebih dahulu. Harapan Ergin, jika cara ini dapat membuat wanita itu mengurungkan niatnya dengan ikhlas untuk tidak bertindak lebih jauh.


"Aku tahu, Nadine masih memiliki perasaan pada mu, namun jika kau berterus terang kembali padaNya, bahwa rasa yang dulu ada kini telah digantikan dengan Aiyla akibat pengkhiatan yang telah dilakukan olehnya."


Dengan penuh penekanan Murad memberikan gambaran bahwa Ergin harus meyakinkan wanita tersebut untuk tidak berharap akan cinta mereka berdua yang telah lama lenyap dihatinya.


"Kau benar... Semenjak pengkhiatan itulah yang membuat rasa cinta terhadap Nadine sirna. Bahkan kau tahu sendiri, aku menjadi tak percaya akan cinta sejati sebelum Aiyla hadir didalam kehidupan ku. Mengubah kembali diri ku yang dingin dan tak percaya menjadi kembali mengenal manisnya cinta sejati."


Dengan wajah miris dan kepala tertunduk Ergin merasa dirinya begitu tertekan dengan adanya masalah tersebut, terdengar dari suaranya yang berat dari penjelasan yang Ergin utarakan.


Disatu sisi Aiyla dengan berat hati bersedia melepas dirinya asalkan rahasia itu tidak terbongkar. Istrinya tak sanggup menanggung jika harga dirinya selama ini yang telah terinjak akibat keputusan yang pernah dirinya ambil akan menjadi konsumsi public.


Jika semua orang tahu, maka Aiyla tak mampu mengangkat kepalanya kembali. Aiyla akan kembali kemasa disaat dirinya merasa kotor bahkan jijik pada tubuhnya sendiri.


"Baiklah... Aku rasa kita sudahi sampai disini, karena sebentar lagi kita akan ada rapat dengan rekan baru yang menjalin kerjasama dengan perusahaan."


Walau Murad telah menyelesaikan masalah yang sedikit banyak telah membuat pengaruh pada hubungan rumah tangganya kini dapat bernafas dengan lega.


Disatu sisi Aiyla seperti kehilangan gairah pada hari ini. Suasana hatinya tak begitu baik, dirinya masih tak dapat menghilangkan rasa cemas serta rasa khawatir setelah pembicaraan mereka berdua.


Wanita yang telah memiliki dua orang anak itu termenung disaat asisten pribadinya berbicara tentang meeting yang akan berlangsung sekitar dua jam lagi.


"Nyonya... Nyonya Aiyla."


Terdengar asistennya memastikan apa yang telah dilontarkan dirinya pada atasannya. Aiyla masih berdiri terpaku seraya menatap jendela kaca dari ruang kerjanya.


"Nyonya... Apakah anda sedang sakit?...Nyonya Aiyla.. "

__ADS_1


Kali ini dengan suara lebih keras dari sebelumnya, membuat wanita yang masih menjaga postur tubuhnya yang tak terlihat telah melahirkan dua kali itu tersentak dari lamunannya.


"Oh.. Ya..Maaf. Ada apa? "


Terlihat jelas kantung mata dan wajahnya yang menunjukkan kurangnya istirahat pada Aiyla, pada saat membalikkan tubuh menatap asisten pribadinya itu.


"Maaf Nyonya, Apakah anda dapat mengikuti meeting sekitar 2 jam kedepan? "


Asistennya mengulang kembali pertanyaan yang telah dilontarkan sebelumnya. Dengan suara pelan dan wajah yang sedikit cemas menatap Aiyla.


"Baiklah... Aku tak bisa mengikuti meeting, silahkan gantikan saya."


Terdengar pelan seraya menjatuhkan tubuhnya dikursi kerja yang tak jauh dari Aiyla berdiri. Melihat kondisi tak bersemangat dari atasannya dengan loyalitas yang tinggi asisten tersebut langsung menganggukan kepala.


Setelah asistennya berlalu sekitar 3 menit yang lalu, Aiyla dikejutkan dengan suara ponselnya. Terlihat didaftar panggilan masuk adalah Ergin, Aiyla segera mengambil ponselnya lalu menekan tanda hijau dilayar ponsel.


"Sayang... Aku ijin untuk menemui Nadine untuk meminta wanita itu untuk berbicara dan mengatakan sesunguhnya apa yang terjadi pada malam itu. Jika dia masih memiliki hati nurani maka dia tak akan mencapuri hal pribadi kita lebih jauh. "


Terdengar suara Ergin dengan runtun dan berat karena terlalu khawatir dengan yang sedang dilontarkan pada istrinya.


"Sayang... Jika Nadine bersikeras maka penuhi saja kehendaknya."


Dengan suara terbata-bata Aiyla mengatakan balasan dari ucapan suaminya yang terdengar ditelinga. Terdengar putus asa, tidak seperti pribadi Aiyla yang tegar sebelumnya.


"Apa yang kau katakan sayang... Aku adalah suami mu seutuhnya, aku tak ingin kehilangan mu dan anak-anak. Biarkan aku yang mengurusnya, aku hanya perlu ijin dari mu untuk bertemu dengan wanita itu agar tak menjadi salah paham bagi mu."


Dengan penuh kasih sayang Ergin berkata pada Aiyla, berusaha menenangkan hati istrinya yang begitu putus asa. Setelah beberapa menit berbicara, Ergin memastikan pada istrinya untuk lebih percaya padanya sebelum mengakhiri panggilan masuk tersebut.


Aiyla kembali melamun dengan pikiran yang berputar tak tentu arah. Walau Ergin berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak memikirkan masalah tersebut, namun Aiyla tak mampu untuk tidak terpikir atas masalah yang menyangkut harga dirinya.

__ADS_1


"Ya Tuhan... Ku mohon ijinkan kami dapat melalui ini semua."


Tanpa terasa bulir bening telah membasahi wajah Aiyla yang terlihat lelah dan pucat.


__ADS_2