
Menurut Reader bagusnya Aiyla akan melahirkan anak laki-laki atau perempuan?
Tulis dikolom komentar yaaa...π
Lanjut ya guy's ...ππ
Salam hangat untuk reader setia....ππ
Ayo dong !!! Tinggalkah jejaknya...Author sedih loh kalau kalian hanya baca doang tanpa supportnya πππ
Author menunggu Reader setia.... π
Bertambah semangat atas dukungan kalian..π
πΏHappy ReadingπΏ
πππ
Perkiraannya Aiyla akan melahirkan dimusim semi, dengan suhu yang berkisar 13 derajat sampai 20 derajat celcius setiap harinya. Dengan perut buncit Aiyla telah mengenakan shortdress berwarna hitam dengan sepatu flat berwarna coklat serasi dengan les coklat yang ada dipinggir shortdress.
Terlihat Aiyla sangat kesulitan hanya untuk sekedar berjalan dengan perut yang telah membesar. Ergin tersenyum disaat istrinya berjalan mendekati dirinya.
Bagi Ergin Aiyla terlihat sangat sexy dan begitu menggemaskan dirinya dengan bentuk tubuh yang mengembang seperti itu. Ergin tak memperdulikan bentuk tubuh Aiyla, baginya saat ini Aiyla memancarkan iner beauty yang membuat dirinya semakin terpikat.
Seperti pagi ini Aiyla dengan bersemangat dan senyum yang mengembang diparas cantiknya. Berniat untuk mengunjungi ayah mertua bersama putranya ditemani oleh Ergin.
Tak berbeda jauh dengan Aiyla, anak laki-laki itu juga bersemangat untuk mengunjungi kakek dan neneknya pagi ini. Azzam telah menyiapkan sekotak chesscake untuk dimakan bersama dua saudari sepupunya dan seikat bunga white rose untuk nenek dan kakeknya.
"Ayah...Azzam langsung pulang kerumah ya, tak ingin tidur dirumah kakek. Azzam kangen sama kakek dan nenek tapi tak ingin tidur disana."
Ucap Azzam karena dirinya masih sulit untuk percaya diri. Masih ada trauma yang dialami anak lelaki itu dan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan interaksi sosial Azzam.
"Baiklah... Ayah akan mengikuti permintaan mu saja. Sebenarnya tentu kakek mu sangat senang jika kau juga bisa tidur disana, jangan khawatir tak akan ada yang menyakiti dirimu nak. "
Balas Ergin dengan mengusap wajah pipi Azzam yang cuby. Posisi Ergin yang berjongkok kemudian membuat dirinya secara full melihat wajah putranya yang belum yakin dengan yang dikatakan oleh ayahnya itu.
__ADS_1
"Ayo... Kita berangkat...Tapi sebelumnya aku tak mampu berdiri. Bantu tarik tanganku agar bisa bergerak dan berjalan mengambil apa saja keperluan yang akan dibutuhkan jika seandainya Azzam berubah pikiran dan berniat kembali tidur disana. "
Ungkap Aiyla dengan wajah lelah hanya mengubah posisi dari duduk lalu berdiri, Aiyla membutuhkan bantuan.
Ergin meraih tangan istrinya, kini tangan itu telah beralih melingkar dipinggang istrinya. Mereka berpelukan namun perut Aiyla yang telah membesar memberikan jarak diantara mereka berdua.
"Biarkan aku suruh Fusun untuk membawa perlengkapan Azzam jika dia berubah pikiran. "
Bisik Ergin seraya mencium dikedua pipi istrinya dengan begitu mesrah. Beralih kebibir merah Aiyla dengan sentuhan lembut dari bibir Ergin.
Azzam tersenyum melihat kedua orangtuanya yang begitu saling menyayangi. Anak lelaki itupun ikut memeluk mereka berdua dan berusaha merangkul dengan tangannya yang merangkul pinggang ayah dan ibunya.
Deru mobil membawa kekediaman Mustafa Othman. Mereka disambut hangat oleh nenek Azzam yang telah menunggu kedatangan mereka bertiga.
Tuan Mustafa telah kembali dari rumah sakit, kini laki-laki itu jauh lebih baikan. Namun kondisi kesehatannya masih dalam pantauan dokter setiap harinya.
Azzam berjalan menuju kamar kakeknya yang tak begitu jauh dengan kamar pribadinya dirumah besar itu. Mengetuk pintu lalu membukanya secara perlahan.
Setelah melihat sekelilingnya terlihatlah kakeknya yang masih terbaring diatas tempat tidur, Azzam langsung berlari mendekati lelaki yang begitu bahagia dengan kehadiran cucu laki-laki satu-satunya itu.
"Kakek....Azzam rindu dengan kakek... Cepat sembuh yaa...Azzam ingin bermain dengan kakek seperti dulu."
Ergin yang melihat langsung mengerti keinginan Tuan Mustafa. Segera Ergin berjalan mendekati diikuti oleh Aiyla dan Nyonya Mustafa, lalu melakukan tindakan dengan mengangkat tubuh Azzam agar bisa memeluk ketubuh lelaki paruh baya itu.
Bulir bening tanpa sadar mengalir diwajah yang tak muda lagi. Rasa senang dan bahagia menyeruak dihati Tuan Mustafa. Ada kekuatan yang mengalir keseluruh tubuhnya.
Melihat cucu laki-lakinya yang begitu menggemaskan dan membuat semangat untuk Tuan Mustafa agar segera sembuh dari penyakit jantung yang sedang dideritanya.
Disalah satu sisi dari tempat tidur Tuan Mustafa telah berdiri Aiyla dan istrinya yang saling merangkulkan tangan kepinggang dengan posisi berdampingan.
"Terima kasih Tuan Ergin...Sungguh beruntung Azzam mendapatkan sosok ayah dari anda."
Suara pelan keluar dari mulut Tuan Mustafa membuat yang mendengar dikamar itu menyimak dengan jelas perkataan tersebut.
Bunga white rose yang diberikan Azzam dimasukkan kesebuah pas bunga yang transparan diatas nakas dekat dengan tempat tidur Tuan Mustafa.
__ADS_1
Pandangan yang semula menatap Ergin kini beralih kearah Aiyla yang berdiri disamping istrinya. Mencoba mengangkat tangan kanannya agar dapat meraih tangan Aiyla.
"Aiyla... Saya minta maaf atas kejadian yang telah terjadi. Sesungguhnya kami selaku orangtua telah gagal mendidik putra kami sehingga membuat hidup mu terancam dan sengsara selama ini."
Terdengar kembali suara dari laki-laki itu, Tuan Mustafa memang terlihat ingin berbicara banyak dengan Aiyla. Dengan tersenyum Aiyla menyambut tangan lelaki yang terlihat mulai keriput lalu menggenggam tangan tersebut dengan erat.
Perbincangan ringan terjadi diantara Ergin dan Aiyla, Ergin merasa sangat akrab dan merasa kedekatan sebagai orangtua dengan keluarga Mustafa Othman. Sepasang suami istri itu menerima Ergin sebagai menantu karena mereka berdua menganggap Aiyla sebagai anak mereka.
Ditengah perbincangan, tiba-tiba Azzam mengeluarkan suaranya dengan melihat kearah kakeknya.
"Kakek...Aku ingin bertemu dengan saudari sepupu ku. Aku ingin makan bersama mereka dengan chesscake yang ku bawa."
Terdengar suara Azzam yang pelan ditengah-tengah percakapan ringan mereka bertiga. Lalu berhenti berbicara sejenak untuk memberikan peluang pada Azzam untuk mengeluarkan kata-katanya.
Semua mata mengarah pada anak lelaki tersebut. Mereka menjadi haru atas tindakan berbagi dari seorang anak lelaki yang masih muda.
"Baiklah...Nenek akan mengantarkan kekamar mereka. Tentu saja mereka berdua pasti akan merasa senang."
Balas Nyonya Mustafa seraya meraih tangan Azzam dan berlalu dari hadapan Ergin dan Aiyla. Nyonya Mustafa mengetahui bahwa Azzam ingin bertemu dengan saudari perempuan sepupunya yang dianggap sebagai sahabat.
Cukup lama mereka bertiga berbincang dan sampai pada makan siang dirumah besar tersebut. Dengan menggunakan kursi roda karena tubuhnya masih lemah membuat Tuan Mustafa meminta untuk ikut makan siang bersama.
Azizah yang sedari tadi hanya memperhatikan Aiyla dan tak menghiraukan keberadaan dirinya.
"Aiyla... Sekarang kau sudah menebar pesona mu dirumah ini. Kau pasti senang karena meninggalnya suami ku. Aku tahu bahwa kau sengaja merayu suami ku sehingga sampai tergila-gila."
Umpat Azizah disaat diruang makan yang tersisa dirinya saja. Semua orang yang ada diruang makan kini beralih keruang keluarga.
Aiyla hanya tersenyum dan tak menanggapi perkatan pedas yang keluar dari mulut wanita itu. Dirinya terus mengambil buah-buahan segar kedalam piring dan segera akan membawa keruang keluarga.
Disisi lain diruang keluarga Azzam bercerita bahwa dirinya sama dengan saudari sepupunya yang kehilangan ayah. Dengan bijaknya anak lelaki itu mengutarakan pendapatnya.
"Ayahnya Azzam juga sudah meninggal, ibu berkata bahwa suatu hari nanti kita akan bertemu dengan Ayah, jika kau menjadi anak yang sholeh.
Semua orang terkesima dengan ucapan putra Aiyla yang tersimpan dengan baik dipikirannya tentang kepergian ayahnya, semua apa yang telah dikatakan oleh ibunya tertanam didalam hatinya dengan benar.
__ADS_1
"Baiklah... doain ayah ya Nak ...Tuhan Maha adil, hanya tinggal kita sebagai umatnya yang harus berusaha menjalani setiap fase didalam kehidupan dengan terus beriman padaNya. "
Ungkap Ergin seraya membelai lembut rambut bagian kirinya dan melepaskan pelukan agar kembali duduk disampingnya.