
Akankah Aiyla dan bayinya selamat ? ๐ข
Tulis dikolom komentar yaaa Reader๐
Don't forget to like, love, vote, gift and rate stars 5 Guy's...๐๐
Author waithing for your support Guy's
Jom lanjuuut ngebaca ๐จ๐จ
๐ฅHappy Reading๐ฅ
๐ ๐ ๐
Sudah 2 jam Aiyla didalam ruang tertutup itu. Lagi-lagi Ergin terus melirik kearah pintu diruangan yang tertutup rapat, berharap segera terbuka dan mendapatkan kabar yang membuat hatinya bahagia.
"Tuan Ergin... Selamat bayi anda perempuan."
Terdengar suara wanita saat Ergin tertunduk lesu menatap kearah lantai bawah. Sontak terloncat seketika mendengar suara dari depan pintu yang tadinya tertutup rapat.
Aiyla sudah melahirkan seorang putri dengan cara operasi caesar karena pendarahan sehingga dokter mengambil tindakan untuk segera mengangkat bayinya.
Kondisi Aiyla juga membaik dengan transfusi darah yang tersedia dirumah sakit tersebut. Kebetulan stok darah bergolongan yang sama dengan Aiyla tidak kosong seperti pada saat dirinya mengalami kecelakaan.
"Syukurlah... Selamat Tuan Ergin."
Ungkap Nyonya Mustafa dengan mata berbinar menatap laki-laki itu. Merekapun refleks saling berpelukan. Merasakan kebahagiaan yang sama dihati keduanya.
Rasa sesak dan cemas serta khawatir kehilangan untuk yang kedua kalinya sirna seketika mendengar perkataan dari dokter tersebut.
"Tuan Ergin beruntung secepatnya membawa Nyonya Aiyla sehingga kami cepat memberikan pertolongan pada ibu dan bayinya."
Ungkap dokter itu kembali dengan wajah cerah dan senyum diujung bibirnya. Ergin tentu tak kalah bahagia setelah mendengar perkataan dari dokter dihadapannya.
"Apakah saya bisa menemuinya dokter? Saya ingin melihat kondisi istri saya? "
Dengan antusias Ergin berkata pada dokter yang masih tersenyum melihat reaksi laki-laki dihadapannya.
"Aku telah menjadi ayah seorang putri."
Dengan mata berkaca-kaca Ergin memasuki ruang yang tertutup dan memakai pakaian khusus. Terlihat Aiyla yang tengah tertidur terlihat wajahnya yang lelah dan pucat.
Bekas dari obat bius yang diberikan masih membuat Aiyla tak sadar. Sebenarnya sewaktu persiapan operasi caesar ternyata Aiyla telah sadar. Sehingga dokter memberikan bius lokal, namun pada saat perjalanan operasi Aiyla mengeluh bahwa dirinya merasakan perih dibagian perutnya.
Akhirnya dokter memutuskan untuk membius secara total. Tubuh Aiyla seperti batu es terasa sangat dingin saat Ergin menyetuh kedua pipinya.
Mengengam erat tangan Aiyla yang pucat dan terasa sangat sejuk dalam genggaman tangannya. Ergin yang tadinya cerah berubah menjadi sendu. Melihat kondisi Aiyla pasca operasi caesar.
__ADS_1
Bibir wanita itu sangat kering namun terasa sejuk. Ergin menyentuhnya dengan sangat lembut, tak terasa bulir bening membasahi paras tampanya.
"Sayang... Begitu besar pengorbanan mu untuk anak yang baru saja kau lahirkan ini. "
Besit Ergin dalam hati dengan rasa sedih dan haru menatap wajah istrinya yang pucat tengah terbaring diatas tempat tidur.
"Tuan... Kami akan segera memindahkan Nyonya Aiyla keruang rawat inap. "
Ucap petugas kesehatan wanita yang bersuara secara tiba-tiba sehingga membuyarkan lamunannya. Ergin mengikuti saja perkataan dari petugas tersebut.
Kini Aiyla telah berpindah tempat, sebuah ruangan yang dikhususkan untuk ibu yang baru saja bersalin.
Sebuah ruangan bernuasa biru dengan sangat indah ditata agar memberikan kenyaman untuk ibu yang baru saja melahirkan dengan segala tenaga dan perjuangan pada saat bertarung nyawa demi sang buah hati.
Sudah sekitar 8 jam dan mendekati dini hari. Aiyla baru tersadar dari obat bius yang sengaja dimasukkan ketubuhnya. Tiba-tiba saja ia merasakan kedinginan yang sangat hebat sehingga tubuhnya mengigil, bergetar serta gemeretak dari gigi yang beradu terdengar yang kuat.
Secepat kilat Ergin memanggil dokter untuk mengecek keadaan istrinya atas apa yang sedang dirasakan Aiyla. Dokter memberikan beberapa obat dan menyuntikkan melalui selang infus yang terpasang ditangan kanannya.
Perlahan reaksi obat yang diberikan dapat terlihat, tubuh Aiyla tak merasakan kedinginan hingga sampai menggigil kembali. Suhu tubuhnya sudah kembali normal.
"Sayang kenapa? "
Keadaanya sudah kembali normal tapi terlihat wajah Aiyla mengernyitkan alisnya dan bibirnya seolah menahan rasa sakit. Aiyla mulai merasakan perih didaerah perut bekas sayatan karena bius bekas operasinya yang mulai menghilang.
Kemudian ditambah dengan kedua *********** yang terasa tegang dan bengkak. Tersentuh sedikit saja terasa sangat sakit.
Balas Aiyla seraya menahan rasa nyeri yang semakin terasa sampai keringat jagung telah keluar didahinya.
Dengan handuk kecil Ergin mengusap dahi istrinya. Kemudian Aiyla meminta suaminya mengompres kedua *********** agar tak menyebabkan deman karena proses produksi asi tersebut.
Membukanya secara perlahan dan menempelkan handuk yang telah dibasahi dengan air hangat.
Terlihat sizenya lebih besar dari biasanya. Dari ujung putingnya terlihat cairan putih mulai keluar dengan sendirinya saat Ergin menempelkan handuk kecil. Dengan telaten Ergin mengompres secara bergantian hingga Aiyla tertidur kembali.Rasa sakit tersebut mulai sedikit berkurang.
Keesok harinya mulai terlihat wajah Aiyla yang merona karena telah lebih baik dan bertenaga dari pasca operasi yang dijalaninya.
Air susunyapun telah keluar maksimal sehingga Aiyla dapat memberikan asi eksklusif pada putri kecilnya itu. Dengan lahapnya putrinya menyusu dengan sentuhan penuh kasih sayang dari dirinya.
Setelah selesai menyusu dengan puas, putri kecilnya begitu nyaman dipelukan Aiyla dan tak terdengar merengek. Perut putri kecilnya telah merasa kenyang sehingga dengan sendirinya menyebabkan bayi perempuan itu tertidur kembali.
Menggedong putri kecilnya dipangkuan, terlihat sangat menggemaskan disaat putrinya itu tertidur dengan nyenyak.
Aiyla menatap wajah putri kecilnya yang imut, menyentuhnya dengan ibu jari secara perlahan tepat disalah satu pipinya.
__ADS_1
Sentuhan itu begitu lembut sehingga tak menyebabkan putrinya terganggu akan tidurnya.
"Sayang... Lihatlah putri kecil ku ini. Dia mirip dengan mu Ergin."
Ungkap Aiyla saat melihat Ergin memasuki ruang rawat inap tersebut. Dengan wajah bahagia dan senyum yang mengembang diparasnya, Ergin tak puasnya mencium pipi Aiyla berulang-ulang kali.
Luapan dari rasa syukur dan kegembiraan hatinya menyeruak melalui tindakan Ergin yang terlihat lucu dimata Aiyla.
"Hei...Sudah...Sudah. Mau sampai kapan nih, sentuhannya berhenti."
Ledek Aiyla karena melihat suaminya sangking gembira dan bersemangat, Ergin melakukan sesuatu hal yang konyol diluar karakternya yang cool serta tak begitu ramah pada semua orang.
Ergin sengaja membangunkan putrinya itu dengan cara yang sama yaitu mencium berulang-ulang kali tepat dipipi putrinya. Usahanya berhasil, putrinya terbangun dan kini mereka betiga tersenyum bahagia.
"Sayang...Bagaimana dengan Azzam. Putra kita selama aku disini ia tinggal dengan siapa?"
Terdengar suara Aiyla saat mempertanyakan keberadaan putranya itu secara tiba-tiba. Ergin mengecup dahi Aiyla seraya berbisik dengan mesrah.
"Putra mu aman bersama Fusun dan sebentar lagi ia akan datang kemari. "
Tak berselang lama dari Ergin membisikan kata-kata tepat ditelinga Aiyla. Anak lelaki yang menjadi pembicaraan mereka berdua kini telah berada didepan pintu.
Tanpa mengetuk pintu dan langsung membuka pintu tersebut dengan antusias. Sumringah diwajah Azzam dari kejauhan saat melihat ibunya tengah menggendong seorang bayi dipangkuannya.
Azzam berlari kecil mendekati tempat tidur ibunya. Matanya berbinar melihat bayi kecil ditangan ibunya.
"Ibu... Ini dedek bayinya adalah adik Azzam yang ada didalam perut ibu kan?"
Celoteh Azzam saat melihat wajah bayi yang ada dihadapannya. Wajah putrinya tak mirip dengan Aiyla namun lebih kewajah Ergin persi perempuannya.
"Iya sayang... ini adek yang kau nantikan selama ini sayang. "
Balas lembut Aiyla seraya mengusap wajah Azzam dengan telapak tangannya dengan tersenyum.
"Ibu... Aku ingin menciumnya."
Ungkap Azzam dengan manja. Ergin menaikkan tubuh Azzam keatas kasur kemudian menyodorkan bayi tersebut dihadapan Azzam agar mudah mencium dengan puasnya.
"Dedek.... Bayi... Siapa nama mu? "
Dengan menatap kedua orangtuanya, seolah ingin mencari tahu siapa nama adeknya yang baru saja lahir tersebut.
"Baiklah jagoan...Nanti kita akan berikan nama untuknya. Tapi sekarang kita letakkan dedek bayi ini kedalam box tidurnya. Biar dedeknya istirahat karena tentu bayinya juga merasa capek akibat dari gendongan dengan menggunakan tangan.
Azzam mengikuti perintah ayahnya, kini dua laki-laki itu saling bercengkrama dengan penuh kasih sayang sambil menatap bayi perempuan yang telah leluasa bergerak diatas tempat tidurnya.
__ADS_1
Sungguh pemandangan yang luar biasa dihadapan Aiyla sehingga bulir bening kebahagian menitik diujung matanya.