
Akan Gul mendapatkan ketenangan dikota kecil tersebut?π§
Tulis dikolom komentar ya Readerπ
Author butuh suplement nih πͺπͺbiar tambah semangat ππdengan cara klikπππ
1. πLike diakhir bacaan π
2. π Love jadikan favorit π
3. π Gift sekuntum mawar lebih juga boleh π
4. π― Vote π
5. β Rate Star 5 π
Jom lanjuuut ngebaca π¨π¨π¨
π₯Happy Readingπ₯
π π π
Suara dari bel pintu terdengar sampai dikamar Gul. Malam ini ia telah mengenakan pakaian shortdress berwarna merah muda dengan motif bunga.
Sebuah pakaian yang sederhana karena memang ia akan melepas kebiasanya dikota kecil ini dan berusaha membaur dengan warga disini dengan menggunakan pakaian yang tak mencolok.
Melangkahkan kaki menuju pintu utama dan melihat siapa yang bertandang malam ini. Rupanya laki-laki yang menjemputnya sore tadi, Gul sempat lupa bahwa lelaki itu akan membawanya kerumah sang pemilik cafe.
"Selamat malam Nyonya. Apakah anda telah siap? "
Tanya laki-kaki tersebut dengan ramah sama seperti pertemuan pertama mereka distasiun. Gul memintanya menunggu sebentar dan kembali kekamar pribadinya.
Lelaki itu terpesona dengan Gul walau hanya mengenakan pakaian yang tak begitu mewah namun terkesan anggun.
Hanya sekitar 6 menit Gul telah kembali dihadapan lelaki itu. Rambut hitamnya dibiarkan saja terurai hanya sebagian rambutnya dijepit kebagian tengah kepala.
Menggunakan lipstik bewarna nude dengan riasan seadanya. Gul tampil dengan sangat sederhana namun terkesan anggun.
"Mari, saya sudah siap."
Ungkap Gul dengan memasang senyum manisnya berusaha menutupi rasa sedih dihati dengan bersikap sewajarnya.
Gul terkejut saat keluar dari pintu karena tak ada kendaraan yang terparkir didepan rumah, lelaki itu datang dengan berjalan kaki.
"Ada apa Nyonya?"
__ADS_1
Tanya lelaki itu setelah melihat wajah Gul yang berubah menjadi sedikit bingung. Lelaki itu paham bahwa wanita dihadapannya heran karena tak ada kendaraan yang terparkir untuk mereka gunakan.
"Tenang nyonya, kita akan berjalan kaki saja karena tempatnya tak jauh dari rumah Nyonya. Dibalik belokan itu kita akan sampai dicafe."
Ungkap laki-laki itu seraya memperlambat langkah kakinya menyamai langkah kaki Gul yang tak terbiasa berjalan kaki.
Beruntung ia memutuskan menggunakan sepatu flat sehingga tak terasa sakit ditumitnya. Udara malam ini terasa hangat karena terbawa dari udara air laut.
Benar apa yang dikatakan oleh lelaki itu hanya membutuhkan sekitar lebih kurang 5 menit mereka telah sampai pada tujuan yaitu sebuah cafe dipinggir laut.
Tak begitu besar namun juga tak begitu kecil. Untuk daerah terpencil seperti ini. Dengan nuansa biru dengan ornamen laut cafe itu berdiri kokoh dipinggir laut sehingga terasa udara dan henbusan air laut disaat duduk menikmati menu dicafe tersebut.
Menurut Gul cafe ini sudah lumayan baik untuk sebuah kota kecil seperti ini. Sebuah tempat untuk menikmati suasana laut ditemani dengan angin laut yang menyentuh kulit.
"Mari Nyonya...Silahkan masuk. "
Terdengar lelaki itu bersuara kembali, sepanjang perjalanan menuju cafe mereka berdua tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Selamat datang Nyonya Gul, perkenalkan saya Firide dan ini putraku Bulut. "
Ungkap wanita paruh baya tersebut dengan senyum menghiasi wajahnya yang tak muda lagi. Usia wanita itu hampir sama dengan usia ibunya Gul.
Gul jadi teringat akan kedua orangtuanya terutama ibunya. Saat ini tentu ia akan merasa sangat membutuhkan sosok ibu, apalagi dalam kondisi hamil seperti ini.
Balas Gul seraya mengulurkan tangan namun disambut dengan pelukan hangat dan sentuhan dikedua pipi Gul. Wanita itu begitu ramah dan merasa bahwa telah lama mengenal dirinya dari sikap yang ditunjukkannya.
"Jadi ini putra Nyonya? Bernama Bulut yang menjemput ku sore tadi."
Ucap Gul seraya menatap kearah lelaki yang berdiri disamping wanita paruh baya itu.
"Cukup panggil nama saya saja Nyonya."
Balas Firede karena merasa panggilan dengan kata Nyonya itu terlalu berlebihan menurutnya.
Ternyata wanita paruh baya ini adalah saudara angkat Aiyla. Mereka tinggal berdua sementara suaminya telah lama meninggal dunia.
Aiyla dan Ali telah membantu wanita itu disaat terjadinya kecelakaan pada saat melaut. Suaminya yang merupakan tulang punggung bagi keluarga tersebut harus pergi dengan cara tenggelam dilaut dan sampai saat ini jasad dari suaminya tak ditemukan.
Kapal yang digunakan pada saat mencari ikan tiba-tiba karam karena terjadi kebocoran dilabung kapal akibat menghantam karang pada saat terjadi badai. Banyak korban pada saat itu dan salah satunya adalah suami Firide.
Karena hanya mengandalkan nafkah dari suaminya dan hanya memiliki keahlian dirumah maka Firide sering membantu pekerjaan Aiyla pada saat dirumah. Ditambah lagi putra mereka Bulut yang sedang menempuh kuliah dikota dan membutuhkan biaya tidak sedikit.
Untuk itu Firide harus mencari penghasilan agar dapat membiayai kuliah putranya yang tinggal tahap akhir. Suaminya dan dirinya mengutamakan pendidikan karena mereka tak ingin anak semata wayang mereka memiliki nasib yang sama seperti mereka berdua.
Walau dengan keterbatasan mereka mengirim Bulut untuk melanjutkan sekolah keperguruan tinggi dikota, malang tak dapat ditolak disaat detik akhir masa kuliah putra mereka diuji dengan kepergian sang tulang punggung keluarga.
__ADS_1
Melihat semangat dari kedua orangtua Bulut, Ali memberikan sejumlah uang tabungan yang dimiliki mereka berdua. Dengan uang pemberian Ali dan Aiyla, wanita itu mencoba membuka warung makanan bagi para turis atau pelancong yang singgah kekota ini untuk sekedar liburan.
Kota kecil ini masih asri dengan pantainya yang berpasir putih serta keindahan bawah lautnya sehingga beberapa pelancong dan traveler singgah kekota ini.
Awalnya hanya bentuk warung kecil namun seiring perjalanan waktu berubah menjadi sebuah cafe. Ramai dikunjungi oleh pelancong ataupun warga sekitar sini yang sekedar untuk saling bercengkrama.
Kini cafe tersebut mampu berdiri kokoh dipinggir laut. Wajar saja saat Aiyla meminta dirinya untuk tinggal dan bekerja disini begitu mudah.
Wanita ini merasa berhutang budi pada Aiyla dan Ali. Terdengar dari suara dan raut wajah wanita paruh baya itu mengingat kembali pada saat menceritakan masa lalu mereka dan perkenalannya dengan Aiyla.
"Nyonya Gul, Apakah benar sekarang Nyonya Aiyla telah memiliki seorang putri dari pernikahannya yang kedua ini? "
Tanya wanita itu dengan nada penasaran menatap Gul untuk mendengar jawaban darinya.
"Benar, sahabatku itu kini tengah berbahagia dalam keluarga kecilnya ditambah dengan hadirnya putri kecil mereka yang cantik."
Balas Gul dengan binar mata seraya mengelus perutnya. Wanita dihadapannya langsung berubah raut wajahnya. Terlihat rasa bersalah dan terselip rasa sedih pada saat menatap Gul.
"Maaf Nyonya.. Saya tak bermaksud membuat anda bersedih. Nyonya juga kehilangan suami disaat bayi Nyonya belum dilahirkan."
Mendengar perkataan wanita itu membuat Gul terkejut. Wanita itu mengetahui bahwa dirinya sedang hamil.
"Apakah Aiyla telah mengarang sebuah cerita untuk ku agar aku tak begitu sulit menjelaskan status ku dengan keadaan ku yang tengah hamil. "
Besit Gul dalam hati dengan perasaan sedikit lega karena dirinya tak sulit lagi menjelaskan tentang keadaannya.
"Nyonya Gul... Selama anda disini. Aku dan putra ku akan ada bersama anda. Jadi jangan khawatir anda merasa sendiri dikota kecil ini."
Ungkapnya kembali dengan penuh kesungguhan dan ketulusan terlihat dimata wanita paruh baya itu.
"Ibu..Sedari tadi mengajak Nyonya Gul bicara, sedangkan ibu mengundangnya kemari untuk makan malam. "
Terdengar putrannya mengingatkan kembali tujuan tamunya datang kerumah mereka. Dengan ramah dan sopannya kedua orang ibu dan anak itu melayani Gul seperti anggota keluarga.
"Masakan Nyonya memang lezat wajar saja bisa mendirikan sebuah cafe."
Ucap Gul seraya menyantap makan laut yang telah tersedia diatas meja makan. Semua hidangan yang disuguhkan begitu nikmat dan sesuai dengan selera Gul.
"Nyonya jangan sapa saya dengan sebutan itu, panggil saja nama saya."
Terdengar suara wanita itu mengingatkan kembali Gul untuk memanggil namanya saja.
"Baiklah... Tapi aku ingin memanggil mu ibu karena anda seperti ibu kandung ku. "
Balas Gul dengan senyum diwajahnya dan Firide merasa tersanjung dengan perkataan yang baru saja keluar dari mulut wanita yang ada dihadapannya itu.
__ADS_1