
Haiiii Reader ππ
Salam hangat buat Reader setia ππ
Don't forget to like, love, vote, and rate star 5 ππ
Jom Lanjuuut... ππ
πHappy Readingπ
πΈπΈπΈ
Wajah terkejut Aiyla terlihat jelas diparas cantiknya setelah lelaki itu berbalik badan menatap kedatangannya.
"Silahkan Nyonya Aiyla..." Ucap atasannya dengan wajah tersenyum.
Berusaha untuk menghilangkan keterkejutan didirinya serta gemuruh yang ada didada. Aiyla duduk berdampingan dengan Harun.
Posisi duduknya pas berhadapan dengan Ergin yang tak berpaling menatap wajahnya mulai diawal dirinya berdiri didepan pintu.
"Selamat datang nyonya," sahut Ergin dengan sebuah senyuman diparasnya yang tampan.
Secara profesional Aiyla mulai berdiskusi dengan lelaki bermata biru dan asisten pribadi Ergin. Pada saat Aiyla menjelaskan ide yang diberikan untuk konsep interior gedung tersebut, mata Ergin masih menatap wajah Aiyla dengan sorot mata yang mengandung kagum bercampur rindu.
Atasannya melihat tatapan Ergin pada Aiyla walaupun lelaki itu berusaha menutupi rasa rindu dan sayangnya ketika pada saat Aiyla menatap Ergin, namun tak dapat menutupinya dari Harun.
Harun yang sedari tadi melihat dan memperhatikan gerak-gerik Ergin terhadap pegawainya itu seraya mengikuti diskusi yang terjadi diantara mereka berempat.
"Bagaimana menurut mu Tuan Ergin ? Apakah konsep yang kami berikan itu sudah pas dengan konsep yang anda miliki? " Tanya Harun dengan serius.
Ergin menjelaskan konsepnya dengan detail serta menambahkan beberapa konsep yang diberikan Aiyla. Dengan profesional Aiyla menerima masukan dari Ergin, setelah lelaki itu memberikan beberapa alasan yang masuk diakalnya.
Hampir sekitar dua jam mereka berdiskusi dan saat ini mereka telah bersiap untuk mengakhiri pertemuan ini.
"Senang bisa bekerja sama dengan Tuan, sampai jumpa lagi, " ucap Harun dengan mengulur tangannya.
Dengan menyambut tangan harun lelaki itu memberikan rasa senang diwajahnya atas pertemuan kali ini.
Aiylapun menjabat tangan Ergin namun seketika lelaki itu menarik dan memberikan pelukan serta sentuhan ringan dikedua pipinya.
Aiyla terkejut dan mengikuti saja gerakan tubuh lelaki itu. Tak mungkin pula dirinya seketika mendorong tubuh yang telah begitu dekat ingin memeluk dirinya.
__ADS_1
Pelukan itu terasa hangat disekujur tubuh Aiyla. Harun tersenyum tipis melihat sikap mereka berdua. Sebagai seorang lelaki dirinya tahu betul bahwa Ergin begitu bahagia bertemu dengan pegawainya itu.
"Apakah bisa kita bicara? Aku akan menunggu mu dilobi, " bisik Ergin lembut ditelinga Aiyla.
Tanpa didengar oleh kedua laki-laki yang ada diruangan tersebut Ergin meminta Aiyla bertemu setelah pertemuan mereka ini.
Hanya sebuah isyarat mata yang diberikan Aiyla pada Ergin. Lelaki itu hanya akan menunggu seperti yang telah dikatakan olehnya. Aiyla bersedia atau tidak lelaki itu tak tahu karena isyarat yang diberikan oleh wanita itu tak dimengertinya.
Sekitar 10 menit Ergin telah menunggu wanita yang sangat dicintainya, sosok Aiyla yang diharapkan belum juga hadir memberikan kegelisahan dihati Ergin.
Kini berjalan 15 menit, wajah Ergin sudah menunjukkan kekecewaan diparasnya yang tampan. Hatinya mulai ragu bahwa wanita itu telah begitu sulit untuk didapatkannya.
Dengan duduk disalah satu sofa yang ada dilobi kemudian menundukkan kepala dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ergin..." Sapa Aiyla.
Mendengar suara yang tak asing baginya membuat Ergin mengangkat kepala. Wajahnya yang sendu terlihat jelas dimata Aiyla.
Berdiri tak jauh dari tempat duduk lelaki yang kini memandang dirinya. Sepertinya Ergin belum percaya bahwa benar wanita yang hampir 30 menit ia menunggu dengan ketidakpastian.
Ada rasa sedih bercampur kecewa pada saat wanita ini tak ada dihadapannya, namun setelah melihat sosok wanita berambut coklat bergelombang diujung sontak Ergin terdiam menatap dalam wanita itu.
Hening seketika tak ada suara diantara mereka berdua. Hanya ada sorot mata yang saling menatap dan seolah berbicara satu sama lain.
Ergin ingin memeluk tubuh Aiyla namun langkah mundur wanita itu membuat Ergin menghentikan gerakannya.
"Ikut Aku.." Ucap tegas Ergin.
Berjalan dibelakang lelaki tersebut dengan langkah kaki yang cepat. Aiyla merasa dirinya kesulitan menyamakan langkah kaki Ergin yang cepat dan panjang.
Sedikit berlari kecil mengekor dibelakang tubuh lelaki yang besar dan tegap itu. Dari sudut pandang manapun lelaki ini sangat menarik.
"Cepat..." ucap laki-laki itu.
Aiyla mengerutkan dahinya dan menyipitkan matanya mendengar perkataan Ergin. Sudah berlari kecil dirinya masih saja ketinggalan dengan langkah kaki Ergin yang cepat itu.
"Seenaknya saja meminta ku untuk cepat, tak tahu apa aku telah berlari agar bisa mengimbangi langkah kakinya yang besar dan cepat itu!!! " Gerutu Aiyla dengan nada kesal.
Ergin mendengar perkataan kesal wanita yang ada dibelakangnya. Senyum tipis terukir diujung bibirnya. Memperlambat langkah kakinya sehingga sekarang mereka berdua telah berjalan beriringan.
Dengan tiba-tiba Ergin meraih tangan Aiyla yang membuat wanita itu terkejut. Berusaha melepaskan tangannya namun gengaman lelaki itu begitu erat.
__ADS_1
"Mau bawa aku kemana? " Ucap Aiyla dengan nada kesal.
Sebuah senyuman yang mengembangkan menjadi balasan dari pertanyaan wanita itu. Aiyla menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara kasar karena melihat tingkah Ergin dengan raut wajah kesal.
"Ikut saja!! " Balas Ergin masih dengan senyuman.
Ergin membukakan pintu mobil untuk Aiyla yang masih berdiri yang tak ingin masuk kedalamnya.
"Masuklah... Aku ingin kau ikut dengan ku kali ini," ucap Ergin dengan raut wajah memohon.
Melihat wajah Ergin yang seperti memohon membuat Aiyla mengikuti saja perintah lelaki itu.
Laju mobil membawa mereka meninggalkan tempat pertemuan mereka tadi. Masih tak bersuara dengan tatapan mata saling menghadap kedepan.
Ergin mengambil ponselnya dan menyerahkan alamat yang ada pada pesan singkat yang dikirimkan ke ponselnya.
"Baik Tuan," jawab sopir pribadinya.
Sopir itu melajukan mobilnya lebih cepat dan rasa penasaran Aiyla bertambah. Sebenarnya Ergin akan membawa Aiyla bertemu pada seseorang yang sangat berarti bagi Ergin.
Sepanjang perjalanan mereka berdiam dan tak saling menatap. Tiba-tiba terdengar dering ponsel yang ada didalam saku Aiyla.
Sebuah panggilan masuk dari Fusun, sepertinya Aiyla lupa bahwa telah mempunyai janji pada putranya akan mengajak menonton film dibioskop.
"Sayang... Maafkan ibu. Malam ini ibu tidak bisa menepati janji karena sedang.... " Ucap Aiyla yang terputus
Lelaki disampingnya mengambil begitu saja ponsel yang ada ditangan Aiyla. Panggilan masuk itu adalah vidio call sehingga Ergin bisa melihat wajah putranya itu.
Aiyla terkejut dengan sikap laki-laki itu yang merampas begitu saja ponselnya dan sekarang berbicara pada putranya seenaknya dengan wajah tak bersalah.
Azzam begitu excited melihat Ergin ada didalam panggilan itu. Anak lelaki itu berbicara begitu manis pada Ergin dan begitu juga sebaliknya. Ergin melayani suara manja putra Aiyla yang membuat Aiyla cemburu dan merasa dicuekin oleh putranya.
Setelah puas bercerita didalam vidio call tersebut tiba-tiba saja ponsel Aiyla diberikan lelaki itu kembali tapi masih dalam panggilan terhubung.
"Ibu sudah baikkan ya sama Ayah ? Besok Azzam juga mau ikut.." Ucap polos putranya dengan manja.
Aiyla terdiam tak dapat menjawab pertanyaan putranya itu. Dengan seketika Azzam mengambil kembali ponsel dari tangan wanita itu.
"Yaa...Ayah janji kita akan pergi bersama kebioskop nantinya," balas Ergin dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
Terdengar sorak riang putra Aiyla setelah Ergin berkata demikian. Pangilan itu pun berakhir setelah Aiyla mengatakan akan pulang terlambat malam ini.
__ADS_1