
Mohon dukungannya ya reader.. untuk selalu memberikan like,vote, love and rate bintang 5.
Author ucapkan terima kasih bagi reader yang telah memberikan kontribusinya atas karya Author ini.😍🙏
Tidaklah banyak yang Author inginkan pada reader selain rasa menghargai atas apa yang telah dinikmati reader semua melalui tulisan yang Author tulis. 😘🙏
Jom Lanjut...😊
🎀🎀🎀
Aiyla semakin gelisah, Ergin dan Murad seakan mereka berdua berlomba mencari perhatian dirinya. Sahabatnya merasakan hal yang sama juga, bahwa Murad dekat dengan dirinya hanya untuk mendapatkan informasi tentang Aiyla.
Sungguh Aiyla tak ingin menjadi pusat perhatian laki-laki, dirinya hanya ingin hidup tenang dengan kenangan suaminya dan putra semata wayangnya.
Tuan Murad telah terang-terang mengatakan padanya bahwa lelaki itu menyukainya sedang Ergin lebih dulu mengatakan itu semua.
Entah apa yang terjadi dengan kedua atasannya itu, tertarik dengan Aiyla dengan status single parent.
Seperti tak ada wanita lain yang mengincar dan berlomba-lomba untuk mendekati mereka berdua.
"Kenapa tak kalian pilih saja wanita-wanita itu, kenapa harus mengacau kehidupan ku," batin Aiyla dengan wajah tertunduk tak bersemangat.
Melihat Aiyla yang termenung jauh ditempat duduk dengan tatapan mata yang kosong, membuat sahabatnya itu penasaran.
"La... Apa yang kau pikirkan? " tanya sahabatnya seraya mendekati tempat duduk Aiyla.
Aiyla tersenyum getir dengan raut wajah tak begitu baik seperti terlihat kecanggungan dan kegelisahan.
"Gul... Maaf. Apa kau juga merasakan, atasan kita selalu berusaha mendekati ku, aku merasakan tak nyaman kerja dengan keadaan seperti itu. Ditambah lagi dengan staf senior wanita yang selalu bergosip bahwa aku mendapatkan jabatan ku karena kedekatan ku pada Tuan Ergin dan Murad," ungkap Aiyla dengan wajah tertunduk.
Gul terkejut mendengar apa yang telah disampaikan oleh sahabatnya itu. Memang benar faktanya atasan mereka berdua seakan selalu mencari perhatian Aiyla.
__ADS_1
Terlebih lagi Tuan Murad dengan mudahnya mengganti dirinya, yang sebelumnya projek yang ditanggani mereka berdua kini berganti dengan Aiyla.
Gul merasakan hal itu karena Tuan Murad ingin menghabis waktunya bersama sahabatnya. Namun Gul tak menyalahkan Aiyla karena dirinya tahu bahwa Aiyla tidak mengambil kesempatan dari mereka berdua yang ingin mendekati Aiyla.
"Kau benar...Bahkan Tuan Murad menggantikan projek yang ditanggani bersama dengan ku menjadi projek yang kau kerjakan itu. Sebenarnya aku sudah sangat nyaman mengerjakan projek dikota itu," ungkap Gul dengan sadar menyampaikan apa yang menjadi ketidak nyamanannya.
Setelah mendengar ketertarikan sahabatnya akan projek itu dan tiba-tiba diganti dengan Aiyla, merasa bertambah bersalah atas tindakan yang dilakukan Murad pada Gul.
Dari awal Aiyla sudah tahu bahwa Gul menyimpan rasa ketertarikan pada Tuan Murad dan berusaha agar bisa melakukan perkerjaan dengan projek bersama Murad diperusahaan itu.
"Gul...Maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk menggambil projek itu dari tangan mu dan tak ada rasa tertarik dengan Tuan Murad, kau harus tahu itu.. " ungkap Aiyla dengan menggenggam tangan sahabatnya.
Ada sedikit perasaan tenang menyelimuti hati Gul, bahwa Aiyla telah terang-terang mengatakan tidak menyukai lelaki yang disukainya, sehingga Gul masih bisa mencoba untuk mengambil hati dan perhatian lelaki itu.
"Baiklah... Aku akan menemui Tuan Murad saat ini juga," ungkap Aiyla yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
Gul menahan Aiyla namun tak dihiraukannya, Aiyla melangkahkan kakinya berjalan menuju keruang kerja Tuan Murad. Setelah mengetuk lama namun tak mendapatkan jawaban, Aiyla berusaha untuk membuka secara perlahan dan tidak terdapat didalamnya lelaki yang akan ditemuinya.
"Nyonya, Apakah Tuan Murad bersama Tuan Ergin didalam sana ? " tanya Aiyla pada sekretaris Ergin.
Sekretaris itu menganggukan kepala dan mempersilahkan Aiyla masuk setelah memberitahukan pada atasannya bahwa Aiyla ingin bertemu.
"Permisi tuan...Maaf sebelumya. Saya datang dengan keinginan sendiri, karena ada sesuatu hal yang ingin saya sampaikan pada Tuan Murad," ucap Aiyla pada kedua lelaki yang terkejut atas kehadiran Aiyla diruangan ini.
Murad langsung mengajak Aiyla keruang kerja pribadinya karena wanita ini akan menyampaikan sesuatu yang sifatnya hanya untuk dirinya tanpa harus didengar oleh Ergin.
Melihat dan mendengar wanita itu, hati Ergin menjadi cemburu sekaligus gelisah. Hatinya bertanya-tanya tentang hal apa yang akan dibicarakan mereka berdua. Ditambah dengan wajah Aiyla dengan kesungguhan pada saat berbicara tadi.
Tanpa sadar jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja dengan cepat sehingga mengeluarkan suara. Ergin tahu mereka telah membuat kesepakatan untuk bersaing secara sportif mendapatkan Aiyla.
"Apa yang hendak kau katakan Aiyla..." Besit Ergin dalam hati.
__ADS_1
Pekerjaan yang semula dikerjakannya menjadi terhenti, pikirannya tertuju pada Aiyla dan Murad.
Cukup lama Aiyla ada didalam ruang kerja Murad, setelah mendengar penjelasan dari wanita yang ada dihadapan membuat wajah lelaki itu berubah menjadi kecewa.
Setelah menyampaikan apa yang ada dihati dan pikiranya, Aiyla berjalan dan berlalu pergi dari ruang kerja Murad.
Kembali masuk keruang kerjanya, dimana sahabatnya tengah menunggu Aiyla dengan wajah cemas dan khawatir.
"Kau terlalu berani..." ucap Gul dengan wajah gelisah.
Aiyla hanya sedikit merasakan kelonggaran dihatinya. Setelah menyampaikan pada atasannya itu, kini tinggal Tuan Ergin yang ada dihati dan pikirannya.
Tanpa merespon perkataan sahabatnya, Aiyla malah mengambil ponsel yang terletak diatas meja kerjanya.
Memainkan jari jemarinya dengan lancar menekan huruf yang ada diponselnya dengan cepat. Kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat pada seseorang.
Barulah wanita itu sedikit merebahkan punggungnya ke kursi kerjanya itu, sedangkan Gul hanya memperhatikan saja gerak-gerik sahabatnya sedari tadi tanpa bertanya lagi.
"Aku akan menemuinya dan mengakhiri ini semua, " besit didalam hati Aiyla.
Aiyla kembali menerawang, hati dan pikirannya kini tak menentu. Ini tak mampu dirinya bagikan pada orang lain termasuk sahabatnya itu. Beban dihati dan dipikirannya seakan rumit untuk diceritakan pada orang lain.
Akhirnya pekerjaan yang semula dilakukannya tak selesai dikerjakannya sampai jam pulang kantorpun tiba.
Bergegas keluar tanpa pamit pada sahabatnya itu menuju parkiran mobil. Sesuai dengan tempat yang diberikan oleh Aiyla dan waktu yang telah ditentukan juga olehnya.
Mobilnya melesat dengan kecepatan lebih dari biasanya. Sebuah tempat yang tak begitu ramai menjadi tempat pertemuan Aiyla.
Diliriknya jam yang ada di dasbor masih ada 5 menit untuk bisa sampai ketempat yang dimaksud. Ditekan pedal gas lebih dalam sehingga laju mobil bertambah kencang.
Tepat jam yang telah disepakati, Aiyla melihat lelaki bermata biru itu telah sampai lebih dulu darinya. Dengan senyum diujung bibirnya menatap kedatangannya.
__ADS_1
Suasana menjadi kaku dan tegang sampai seorang pelayan menyapa mereka untuk menanyakan menu yang akan dipesan.