Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 74


__ADS_3

Menurut Reader nyonya Esma akan menerima atau tidak hubungan mereka berdua? 😉😉


Tuliskan dikolom komentar ya... 👇👇


Plus dukung Author melalui jejak yang kalian tinggalkan...Setelah menyelesaikan bacaan perbab nya😭😭😭


Come on Guy's to Like, love, vote dan rate star please....🔥🔥🔥


Lanjut ngebaca...💨💨💨


💠💠💠


"Ergin... Pergilah dari hidup ku, aku tak pantas untuk mu," ucap Aiyla dengan suara lirih


Kata-kata yang tak ingin didegar oleh telinganya. Lebih perih terasa sembilu menyayat hatinya.


Ergin tahu bahwa Aiyla telah bertemu dengan ibunya. Makannya lelaki bermata biru itu langsung menjumpai Aiyla.


Lelaki itu tahu bahwa ibunya tak akan semudah itu percaya terhadap seseorang yang dekat dengan dirinya. Wanita yang tak mengenal dirinya dan mengambil jarak terhadapnya begitu mudahnya mencampuri kehidupan percintaan Ergin.


Setelah pulang dari peternakan itu, asisten rumah tangga Ergin menceritakan sedetailnya akan kedatangan ibunya diapartemantnya.


Wanita itu begitu terkejut setelah mengetahui dari sahabatnya yaitu ibu Murad. Murad bercerita bahwa Ergin telah memiliki wanita yang telah mengubah secara perlahan kepribadian sahabatnya itu.


Mereka berdua jarang lagi pergi bersama semenjak Ergin lebih ingin menghabiskan waktu bersama Aiyla dan putranya. Dari sanalah ibu Murad menanyakan hubungan persahabatan mereka yang tak begitu rapat seperti biasanya.


"Aiyla... Aku tak perduli dengan apa yang telah ibu ku sampaikan pada mu sayang... " Ucap Ergin seraya tak ingin melepas pelukannya pada wanita itu.


Aiyla berusaha melepas namun tak dibiarkan begitu saja oleh Ergin yang mendekap tubuhnya. Dengan terus meneteskan bulir bening dikedua mata Aiyla berusaha untuk menjelaskan pada lelaki itu agar segera berhenti memperjuangkan cinta untuk dirinya.


"Sudahlah... Ergin. Aku tak ingin ibu mu sampai mengetahui pekatnya malam yang pernah terjadi diantara kita berdua." Balas Aiyla dengan suara berat.


Ergin yang tadinya memeluk erat tubuh Aiyla dan tak ingin melepaskan pelukannya kini perlahan pelukan itu terlepas dari dekapanya.

__ADS_1


Ditatapnya dalam wajah wanita yang ada dihadapannya lalu menyentuh lembut bibir Aiyla tanpa reaksi balik yang diberikan padanya.


Mata yang sayu dengan wajah sendu tak sedikitpun terlihat rona bahagia diwajah Aiyla. Terlihat hanya kesedihan dan rasa sakit yang dapat dirasakan Ergin.


"Sayang... Aku tak perduli pendapat dari ibu ku tetang dirimu dan tak perlu restu darinya," ungkap Ergin dengan mata sorot yang teduh.


Mendengar perkataan dari Ergin membuat Aiyla menjadi berdiri dengan menghadap kelaut lepas dengan tatapan mata kosong.


"Ergin...Bagaimanapun bentuk hubungan mu dengan ibu mu, kau seharusnya mendengar perkataannya. Cukup dulu aku menjalin hubungan tanpa restu orangtua Ali," ucap Aiyla dengan menyeka air mata dengan kedua punggung tangannya.


Lelaki itu memeluk tubuh Aiyla dari belakang dengan mencium bahunya lalu meletakkan kepala dipundak Aiyla.


"Sayang... Aku tak ingin kehilangan dirimu, aku akan bicara baik-baik pada ibu dan meminta restu darinya," bisik lirih terdengar ditelinga Aiyla.


Walau bagaimanapun Aiyla tak ingin kisah cintanya terulang kembali tanpa restu dari ibu Ergin. Kalau dulu ia tak mengetahui status suami dan keluarganya, namun kini Aiyla tahu siapa sebenarnya keluarga Ergin Ozturk.


Malam ini terasa panjang bagi mereka berdua, setelah membawa Aiyla kembali kerumahnya, lelaki bermata biru langsung memutar mobilnya meninggalkan kediaman Aiyla.


"Bisa-bisanya wanita itu mengatur pada siapa aku jatuh cinta, sedangkan dulu sewaktu aku membutuhkan perhatiannya seolah tak pernah ada disisih ku, " ucap kesal Ergin seraya memukul keras stir mobilnya.


Ditekan dalam pedal gas yang ada dikaki kanannya. Speedometer dimobil itu naik menuju angka diatas 90 km/jam.


Berusaha secepatnya mungkin untuk sampai dikediaman ibunya. Amarah dihati Ergin berusaha diredam karena teringat perkataan Aiyla bahwa wanita itu tak akan menjalin hubungan yang tak direstui.


"Acchh....Mengapa begitu sulit untuk ku bahagia!!!" Teriaknya seraya melajukan kembali mobilnya.


Akhirnya mobil berwarna hitam mengkilap memasuki halaman besar milik kediaman ibunya. Asisten rumah tangga rumah besar itu membuka pintu secara otomatis disisi samping pintu.


"Tuan muda, ibu anda sedang berada didalam kamar. Tunggu sebentar saya akan memberitahukan kedatangan anda," ucap sopan wanita tua yang telah lama menjadi asisten pribadi ibunya.


Menarik nafasnya dalam dan panjang lalu mengeluarkan secara perlahan melalui rongga hidungnya secara berulang kali sampai dirinya merasa lebih tenang dan lebih rileks.


"Ergin... Untuk apa datang kemari semalam ini ?" Ucap wanita paruh baya yang berjalan kearahnya dengan baju tidur telah melekat ditubuh.

__ADS_1


Dengan berusaha tersenyum dirinya merangkai kata untuk mengawali bicara terhadap ibunya. Ergin akan langsung berbicara pada pokok permasalahan yang ingin diketahui oleh ibunya.


"Ibu... Sudah mengenal Aiyla dan putranya itu. Mereka berdua adalah orang yang berharga bagi hidup ku. Dengan segera aku akan menjadikan wanita itu sebagai istri ku," ucap Ergin dengan tegas.


Nyonya Esma terkejut setelah mendengar perkataan tegas dari putranya. Dari kecil Ergin jarang sekali berkata seperti ini. Dia akan lebih banyak menuruti perintah kedua orangtuanya.


Putranya itu pada saat moment tertentu disaat Ergin menginginkan sesuatu yang penting barulah ia akan bicara lugas dan tegas seperti ini.


"Apakah wanita itu mengadu padamu bahwa ibu bertemu dengannya sehingga kau semalam ini langsung datang kemari? " Ucap wanita itu tanpa menjawab ungkap Ergin sebelumnya.


Ergin berusaha mencoba untuk menenangkan hatinya dan berusaha mengeluarkan suara pelan namum pasti.


"Aiyla bukan tipe wanita seperti itu !!! Dia adalah wanita yang mandiri, pemberani dan penuh semangat serta harapan tinggi karena ditempa dari kerasnya kehidupan yang harus dijalaninya, " ungkap lelaki bermata biru yang masih menatap lekat wajah ibunya.


Wanita itu tertegun dengan gambaran sosok Aiyla dimata putranya itu, namun dirinya belum yakin karena prasangka buruknya lebih besar menguasai pikiran dan hatinya yang pernah terluka dan terkhianati.


Ditambah dengan status Aiyla sebagai single parent kemudian terlahir dari status sosial yang tak sepadan. Didalam pikiran ibu Ergin wanita tersebut akan melakukan segala cara untuk mendapat lelaki seperti putranya itu.


"Aku tak bisa terima wanita itu menjadi bagian dari keluarga besar ini, apapun alasan mu." ucap wanita itu terbawa akan kisah silamnya.


Dikepal kuat kedua tangannya mendengar perkataan dari wanita yang selama ini tak begitu memperdulikan Ergin.


"Apa alasan mu ibu? Jika selama ini kau begitu menjaga jarak pada ku!! Kenapa sekarang kau over protective terhadap kisah asmara ku?!!" ucap Ergin dengan suara lantang.


Wanita itu tertundak dengan bulir air mata yang membasahi wajahnya. Ergin tak pernah berkata sekeras itu terhadapnya. Sejenak mereka berdua terdiam dengan perasaan yang bercampur baur menjadi satu didalam hati.


"Aku tak ingin wanita itu hanya menginginkan harta kekayaan mu saja seperti yang terjadi pada ayah mu!!!" Ucap lirih nyonya Esma dengan tangis yang terasa pilu.


Betapa terkejutnya Ergin mendengar perkataan dari wanita yang selama ini tak pernah berkata buruk terhadap ayahnya.


Ayah dan ibunya memang jarang bertemu namun tak pernah terdengar keributan atau cekcok didalam rumah besar itu.


"Apakah dengan cara seperti ini kau ingin menghalangi ku!!! Sebenarnya aku tak begitu perduli kau merestui hubungan ku atau tidak. Hanya karena syarat dari wanita itu meminta restu dari mu, maka aku berbicara pada mu saat ini," tukas Ergin dengan sorot matanya yang tajam.

__ADS_1


__ADS_2