Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 129


__ADS_3

Lanjuut ngebaca...😘😘


Siapa yang jadi gemes sama Sieneng Dishya...πŸ˜‰


Tulis dikolom komentar....😊


Dukung dengan cara πŸ‘‡


Like, Love, Vote, Gift , and Rate Star 5πŸ™πŸ™


🌡Happy Reading🌡


πŸ’™πŸ’™πŸ’™


Panggilan telpon yang tak diterima membuat Dishya segera menemui Ergin. Ia kembali kekantor laki-laki itu tapi tak menemukan sosok yang ia cari.


"Nona... Tuan Ergin tidak ada dikantor dan ponselnya tertinggal. Saya berencana akan kerumahnya untuk memberikan ini. Jika Nona ada yang perlu disampaikan dan berkenan boleh titip pesan pada saya. "


Ungkap Buraq dengan ramah dan sopan seraya menunjukkan ponsel Ergin ditangan kanannya.


Lelaki itu bertemu dengan Dishya saat berpapasan dilobi kantor. Terlihat ramah dan sopan dimata Dishya dengan wajah tak begitu buruk termasuk kategori lelaki berparas tampan.


Dishya melemparkan senyuman lalu menyambut perkataan Buraq dengan sikap yang sama.


"Wajar... Aku menelponnya sedari tadi tak juga diterima olehnya. " Balas Dishya dengan wajah kecewa.


Buraq memperhatikan wanita didepannya dengan seksama. Tubuh tinggi dan langsing dengan wajah cantik. Buraq merasa mereka berdua terpaut usia tak berbeda jauh



Wanita ini beberapa minggu ini sering datang berkunjung kekantor atasannya. Namun Buraq tak tahu ada urusan apa dan kedekatan apa sehingga ia sering menjumpai Dishya dikantor Ergin.


Buraq hanya tahu ia adalah dokter yang baru datang dari luar negeri. Itu yang pernah terdengar pada saat atasannya menceritakan siapa wanita dihadapannya itu.


"Aku akan menyampaikan sendiri pada Ergin. "


Ucap wanita itu seraya berlalu dari hadapan Buraq.


Hanya dapat menatap punggung wanita itu menjauh dari pandangannya. Buraq memiliki sedikit ketertarikan pada wanita ini.


Entah mengapa setiap bertemu dengan wanita itu membuat percikan rasa dihatinya. Hatinya bergemuruh ketika wanita itu tersenyum seperti tadi.


"Heis....Apa yang sedang kau pikirkan... "


Umpat ia sendiri menepuk dahinya setelah beberapa menit berdiri seperti mematung seraya menatap wanita yang kini telah menghilang dari pandangannya.


"Aku akan langsung menemui Tuan Ergin, aku harus segera bertemu dengannya."


Dengan langkah kaki cepat Buraq keluar dari kantor dan memacu mobilnya dengan cepat

__ADS_1


Tak membutuhkan waktu lama akhirnya ia telah sampai didepan rumah atasannya, disambut dengan Yaren.


"Tuan Buraq...Tunggu sebentar, akan ku beritahu kedatangan anda. "


Terdengar suara pelan dan santun dari asisten rumah tangga atasannya itu.


Sekitar 5 menit Ergin telah ada dihadapannya, Buraq langsung memberikan ponsel Ergin yang tertinggal.


"Tuan.. Tadi nona Dishya kekantor dan ingin menemui anda. Oh..ya, ada sesuatu yang harus saya bicarakan langsung dengan anda."


Ungkap Buraq berkata dengan serius menatap wajah atasannya. Sedangkan Ergin mengecek pesan dan panggilan yang masuk keponselnya.


Beberapa panggilan dari clients dan beberapa panggilan dari Dishya.


"Apakah wanita itu tidak mengatakan sesuatu pada mu? "


Tanya Ergin masih dengan fokus menatap layar ponselnya.


"Tidak ada, Nona Disha mengatakan ada sesuatu yang harus dibicarakan langsung dengan anda. Saya meminta untuk menitipkan pesannya seperti ia tak berkenan."


Balas Buraq dengan cepat setelah atasannya bertanya.


Ergin mengajak Buraq keruang kerja yang ada didalam rumah besar tersebut. Mereka berjalan beriringan dan saat itu berpapasan dengan Aiyla.


Dengan ramah wanita itu menegur Buraq. Berbeda pada saat ia bertemu istri atasannya itu sewaktu dikantor.


Sapa Buraq dengan menundukkan kepalanya. Aiyla membalas dengan tersenyum menatap asisten pribadi suaminya itu.


"Sayang...Tunggu sebentar, aku akan berbicara dengan Buraq. "


Ucap Ergin seraya merangkul indah tangannya dipinggang Aiyla. Menunjukkan kemesraannya antara mereka berdua.


Lelaki muda itu hanya mencoba untuk tidak fokus memperhatikan adegan dihadapanya, walau bagaimanapun bentuk pemandangan dihadapannya. Karena ia merasa itu adalah tindakan tidak sopan, jika memperhatikan atasan bersama istrinya tanpa memalingkan pandangan.


Aiyla merasa malu dengan tindakan suami yang begitu mesrah dihadapan asisten pribadinya. Aiyla sadar bahwa laki-laki muda dihadapannya merasa sungkan dengan tindakan Ergin.


"Baiklah... Aku ingin kedapur meminta untuk Yaren membuatkan lemon tea, kepala ku terasa berat."


Balas Aiyla seraya memijat bagian pelipis matanya didepan kedua laki-laki itu. Mendegar perkataan Aiyla wajah Ergin terlihat cemas.


"Sayang... Apa kau sakit? Wajah mu terlihat sedikit pucat. Berbaring saja biar aku yang akan memberitahukan Yaren untuk mengantar minuman mu itu. "


Ungkap Ergin dengan menyentuh wajah istrinya yang terlihat keringat dingin ditubuhnya.


"Biarkan aku saja, setelah meminta Yaren membuatkanya aku akan langsung naik keatas dan beristrirahat."


Balas Aiyla dengan tersenyum tipis diujung bibirnya seraya menahan sakit kepala yang sekarang dialaminya.


"Apa kau yakin sayang... " Terdengar suara suaminya penuh dengan penekanan.

__ADS_1


Menganggukkan kepala memastikan bahwa Aiyla masih bisa melakukan hal tersebut. Melihat isyarat yang diberikan oleh istrinya, Ergin kembali berjalan menuju ruang kerjanya diikuti oleh Buraq.


Setiba diruang kerja, Buraq langsung memberikan informasi terbaru yang telah didapatkannya.


Informan yang dapat dipercaya mengatakan bahwa Nyonya Esma pernah datang mengunjungi wanita yang ada didalam photo. CCTV itu memperlihatkan ia mengunjungi seorang pasien dirumah sakit tersebut.


Sesuai dengan buku daftar pengunjung dirumah sakit itu, Nyonya Esma mengunjungi seorang pasien bernama Elif Sadoglu.


Berdasarkan tanggal kunjungan itu, informan mengecek CCTV sesuai dengan tanggal yang tertera dibuku daftar kunjungan. Kedatangan Nyonya Esma seminggu sebelum wanita itu meninggal dunia.


Kemudian Nyonya Esma juga pernah bertemu dengan wanita itu disebuah cafe. Terlihat Elif Sadoglu dan Nyonya Esma bertemu dengan sebuah perjanjian.


Terlihat disana wanita itu menanda tangani sebuah surat perjanjian dengan wajah terpaksa terlihat jelas diwajah wanita itu.


"Apakah bukti CCTV itu telah kau amankan? "


Ucap serius Ergin menatap kearah Buraq.


Semua telah berada pada posisi aman, CCTV itu telah disimpan oleh Buraq. Itu terlihat dari isyarat yang diberikan oleh Buraq atas pertanyaan atasannya.


"Bagus." Balas cepat Ergin seraya menepuk pundak asisten pribadinya itu.


Buraq tersenyum atas pujian yang diberikan oleh atasannya itu. Ada rasa bahagia ia dapat menjalankan tugasnya secara maksimal.


"Tuan...Penculik itu akan bersedia menjadi saksi jika anda membutuhkannya."


Ungkap Buraq lebih lanjut memberikan informasinya. Ada secercah harapan bagi Ergin untuk membuka tabir gelap masa lalu kedua orangtuanya yang berhubungan dengan Nyonya Esma.


Ponsel Ergin bergetar dengan nada lama, setelah berbicara dengan Buraq cukup lama Ergin menerima telpon dari Dishya.



Segera menerima panggilan tersebut dengan wajah serius Ergin mendengar suara dari seberang sana.


Dishya meminta untuk bertemu dengannya malam ini untuk membicarakan semua tentang ibu kandung Ergin secara tatap muka.


Dengan segera laki-laki itu langsung memenuhi permintaan Dishya untuk bertemu disebuah cafe.


Dipacunya kecepatan mobil meninggalkan rumah. Menuju tempat pertemuan mereka berdua yang telah disepakati.


Terlihat Dishya telah lebih dulu hadir dicafe tersebut.



Wanita itu telah mengenakan mini dress yang terlihat sexy malam ini. Dengan memilih warna terang dan baju yang terbuka dibagian depan.


"Selamat datang Ergin."


Ucap Dishya dengan memberikan pelukan dan sentuhan ringan dikedua pipi Ergin.

__ADS_1


__ADS_2