Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 68


__ADS_3

Hai... Hai... Hai...πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


Sabar banget ya sibabang Ergin... Sabar menunggu Sieneng mengatakan Ya..😁😁


Menurut Reader akankah Aiyla bisa membuka hati yang terluka untuk lelaki bermata biru?πŸ˜‰πŸ˜‰


Tulis dikolom komentar yaaa...πŸ‘‡πŸ‘‡βœŠ


Plus Like, Vote, Love and Rate star 5...πŸ’ž


Author menunggu jejak mu... Guy's 😍😍


Jom Lanjut Ngebaca 🐜🐜🐜


🐬Happy Reading🐬


πŸ™πŸ™πŸ™


Dengan wajah tak terima namun tak berdaya, Murad hanya mengatakan Ya. Setelah sahabat sekaligus rekan kerjanya selesai menghubungi dirinya.


Baru saja Murad sampai dikota ini dari perjalanan bisnisnya bersama Gul. Awalnya tak menyenangkan pergi bersama sahabat dari wanita yang disukainya itu.


Murad selalu uring-uringan, namun lelaki itu baru menyadari bahwa wanita yang bernama Gul juga berbeda dengan wanita yang ada disekelilingnya.


Gul memiliki karakter yang baik dan tak termasuk pada wanita yang hanya mendekati karena uang dan status sosial.


Selama perjalanan seminggu bersama wanita tersebut, yang tak dapat dipercaya oleh Murad bahwa Gul adalah wanita sekaligus pegawainya itu telah melakukan sesuatu diluar dugaan dikota Y.


Hatinya tersentuh dengan perbuatan Gul dikota Y itu. Disaat wanita lain berusaha mengambil kesempatan dari peluang yang ada tapi tidak dengan Gul.


Wanita itu tidak berusaha mengambil peluang itu, Gul berbuat demikian karena karakternya yang baik.


"Kalian berdua memang wanita yang memiliki karakter yang baik dengan fashion yang berbeda," besit Murad seraya tersenyum.

__ADS_1


Namum Murad masih belum bisa move on walaupun dirinya telah tahu Aiyla memilih Ergin daripada dirinya. Gul memang memiliki karakter namun tak memiliki daya tarik sebesar Aiyla.


"Ergin... Kenapa aku masih tak bisa terima kalau kau menghabiskan waktu mu dengan wanita itu," ucap kesal Murad.


Disatu sisi lain Ergin bersama Aiyla dan Azzam telah melakukan perjalanan menuju peternakan. Mereka berdua menikmati sekali perjalanan tersebut.


Berbeda dengan Aiyla, hatinya masih saja terasa bersalah jika membuka hatinya untuk laki-laki disampingnya ini.


"Ibu...Ayah... Setelah sampai disana aku ingin langsung melihat anak kuda itu," ucap Azzam memecah keheningan mereka bertiga.


Ergin lansung memberikan ciuman dipuncak kepala anak lelaki itu seraya melepaskan senyuman diparasnya yang tampan.


"Baiklah...Kau bisa bermain sepuasnya disana," ucap Aiyla seraya membelai wajah putranya.


Ergin merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan seperti saat ini. Lelaki itu seperti merasakan indahnya dalam sebuah keluarga.


Terlahir dari keluarga kaya dimana ayah dan ibunya termasuk orang yang super sibuk sehingga moment berkumpul keluarga jarang terjadi didalam rumah besar itu.


Ayahnya sibuk melakukan perjalanan bisnis begitu juga dengan ibunya yang lebih mementingkan yayasan dan perkumpulan wanita kelas atas.


Tidak kasih sayang, Ergin mendapatkan sedikit kasih sayang dari Nyonya Esma. Entah mengapa wanita itu seperti memberi jarak tidak seperti umumnya seorang ibu pada putranya.


"Azzam sangat beruntung dan bahagianya mendapat seorang ibu seperti Aiyla, demi apapun mampu berkorban demi buah hatinya," batin Ergin dengan wajah sendu.


Pikiran Ergin kembali pada masa lalunya, ia berbagi kasih sayang dari sahabatnya itu yaitu ibu Murad. Wanita itu lebih menyayangi dirinya dari pada ibu kandungnya sendiri.


Dalam hal perhatian atau apapun, karena Murad dan Ergin tumbuh bersama sedari mereka kecil. Pada saat ibunya sibuk dengan rutinas kerja dan kehidupan sosialitasnya, ibu Murad masih sempat memperhatikan mereka berdua disaat masa-masa pendidikan disekolah.


Bisa saja itulah penyebabnya Ergin menjadi sosok pribadi yang dingin dan selalu perfeks dalam segala hal. Kehidupan menempa dirinya untuk mengatur dirinya sendiri dan sikap datar tanpa ekspresi yang ditunjukkan laki-laki itu terlahir karena didalam dirinya hampir tak tahu apa itu cinta dan kasih sayang.


"Tuan...kita sudah sampai," ucap Aiyla dengan menyentuh bahu lelaki itu.


Larut dalam kisah masa lalunya membuat Ergin tak sadar bahwa perjalanan mereka telah sampai pada tujuan.

__ADS_1


Dilihatnya Azzam telah tidur dipangkuan Aiyla, segera dirinya keluar dari mobil dan mengangkat tubuh kecil anak lelaki yang tertidur itu.


"Oh... Putra ku, kau masih tertidur setelah sampai disini, padahal tadi kau begitu antusias untuk sampai kemari, " ucap Ergin seraya membelai wajah Azzam dengan lembut.


Anak lelaki itu masih tidur digendongan Ergin. Sepertinya Azzam kelelahan selama perjalanan kepeternakan itu. Melihat sikap Ergin membuat hati Aiyla merasakan sesuatu yang berbeda yang tak dapat diungkapkan.


"Selamat datang Nyonya dan Tuan." Sambut penjaga peternakan.


Sepasang suami istri yang menjaga dan mengurus peternakan yang dimiliki oleh Ergin menyambut mereka bertiga begitu hangat.


"Oooh.. Putra Tuan sedang tertidur, biar saya membawanya kekamar Tuan," Ucap lelaki paruh baya tersebut.


Ergin memberikan isyarat pada sepasang suami istri itu untuk membuatkan makan malam untuk mereka dan mempersiapkan yang dibutuhkan Aiyla.


Ergin tak ingin memberikan Azzam pada lelaki itu, dirinya hanya ingin membawa putranya sendiri ketempat tidur.


Direbahkannya tubuh Azzam secara perlahan dan menyalakan pemanas diruang tersebut. Tempat ini jauh lebih dingin karena daerahnya dekat dengan perbukitan dan masih terdapat banyak pohon-pohon hijau.


"Istirahat disini...Nanti ayah akan bangunkan jika makan malam telah siap," ucap Ergin dengan mencium dahi putranya.


Aiyla bingung walaupun sebelumnya dirinya pernah berada ditempat ini. Beruntung wanita penjaga menunjukkan kamar untuknya membersihkan diri.


"Nyonya ini kamar yang paling disukai oleh Tuan Ergin kalau beliau kemari, silahkan beristirahat terlebih dulu didalam nyonya. Nanti saya akan beritahu pada anda setelah siap makan malam," ujar istri penjaga peternakan itu seraya tersenyum.


Aiyla membalas senyuman dan menutup pintu, dirinya memperhatikan segala penjuru yang ada didalam ruangan tersebut.


Kamar ini menghadap sebuah bukit dengan pohon yang masih banyak dengan sebuah balkon sehingga dapat melihat pemandangan dari balkon tersebut.


Dinding rumah ini terbuat dari kayu terkesan jadul namun antik dan unik, walaupun terkesan rumah lama namun memiliki segala fasilitas layaknya sebuah kamar hotel.


Aiyla membuka pintu yang terbuat dari kaca tebal dengan cara digeser kesamping, berjalan ke arah balkon. Berdiri disana dengan angin dingin terasa menyentuh tubuhnya yang hanya menggunakan sweater .


Terasa damai karena tak terdengar sama sekali ramainya kendaraan dan hiruk pikuk kehidupan kota. Yang terlihat hamparan ladang dan bukit, terlihat beberapa cahaya lampu dari kejauhan yang berada dititik-titik tertentu dipeternakan itu.

__ADS_1


Sebuah tangan telah melingkar ditubuhnya, rasa hangat dari dekapan terasa di punggung Aiyla. Mengusir rasa dingin yang masuk dari sela-sela sweater yang dikenakannya.


"Sayang ku... Semoga kau bisa menikmatinya," bisik Ergin dengan mesra ditelinga.


__ADS_2