Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 154


__ADS_3

Hai...Hai... Hai.. ๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹


Bagaimana Reader menurut kalian apakah ceritanya semakin menarik? ๐Ÿ˜‰


Kalau ya beri jempolnya๐Ÿ‘atau tulis komentar dibawahnya dengan kata lanjuuuuut...๐Ÿ‘‡


Jangan Lupa Like, Love, Gift and rate stars 5 ya Guy's...๐Ÿ‘Œ


Jom lanjuuut ๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ


๐Ÿ’œHappy Reading๐Ÿ’œ


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


Semilir angin laut menyibak rambut Aiyla yang terurai. Hari ini ia telah siap untuk melakukan snorkeling bersama Ergin dan kedua putra putri mereka.



Mengenakan kemeja dengan paduan santai celana jeans. Suaminyapun terlihat sama mengenakan jeans dengan T-shirt dipadukan dengan jaket kulit.


"Sayang...Hari ini aku akan bersantai di pantai setelah snorkeling."


Ujar Aiyla sembari menggendong putrinya memasuki mobil, sedangkan putranya Azzam telah duduk manis dikursi belakang.


"Kita jemput Gul terlebih dahulu,"


Ujar Aiyla kembali saat Ergin masuk kemobil dan siap menghidupkan mobilnya.


Setibanya dirumah Gul yang tak berjarak jauh dari hunian yang mereka tempati terlihat Bulut telah berada disana.


Terdengar pertengkaran antara Gul dan Bulut, Aiyla secepat kilat masuk kedalam untuk melihat keadaan.


"Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi?"

__ADS_1


Ucap Aiyla setelah berada dihadapan mereka berdua. Bulut terkejut ketika Aiyla hadir secara tiba-tiba diantara mereka berdua.


"Aiyla... Aku tak ada maksud untuk membodohi Bulut dan ibunya. Sama sekali tak pernah berniat seperti itu. "


Ungkap Gul seraya menangis dihadapan Bulut dan Aiyla. Aiyla mengambil Dilec dan memberikan pada Ergin agar tak melihat pertengkaran ibunya dengan Bulut.


Kemudian kembali masuk kedalam rumah tanpa ada Dilec, Aiyla berusaha menjadi penengah dan menenangkan lelaki yang sedang tersulut apa amarah.


"Bulut tenanglah...Kita bicarakan ini dengan baik-baik. Ayo duduk, aku akan meluruskan kesalahpahaman yang telah terjadi."


Ungkap Aiyla dengan penuh keseriusan menatap Bulut dan sahabatnya itu.


Lelaki dihadapannya menuruti apa yang dikatakan oleh Aiyla. Bulut masih menyimpan rasa hormat pada Aiyla sehingga lelaki itu tak berani untuk melawan dan berusaha untuk mengendalikan emosi dan perasaannya.


"Sebenarnya disini aku yang bersalah bukan karena aku ingin memihak pada Gul. Diawal Gul berada dikota ini, aku lah yang mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuklah sebuah cerita yang ku karang sendiri untuk menjaga harga diri dan martabat sahabat ku didaerah yang asing baginya. Aku menceritakan pada Feride bahwa Gul sedang hamil dan suaminya meninggal dunia akibat kecelakaan, karena ingin menghilang kesedihan Gul mencoba hidup didaerah lain agar dapat menjalankan hidup selanjutnya setelah ditinggal suami. "


Ungkap Aiyla dengan suara pelan dan terdengar berat menceritakan sebuah cerita hasil karangannya sendiri tanpa diketahui oleh Gul.


"Kalau kau ingin meyalahkan Gul maka itu salah besar karena aku lah yang membuat cerita itu sendiri. Sedangkan wanita ini, wanita yang ada dihadapan mu ini hanya ingin hidup tenang tanpa bayangan dari laki-laki yang tak mengharapkan kehamilannya. "


Bulut baru sedikit tenang karena Gul tak seperti dugaanya. Apa yang dikatakan oleh Aiyla benar adanya karena Bulut mendapatkan cerita itu dari ibunya yang diberitahukan oleh Aiyla tidak mendengar langsung dari mulut Gul.


"Salahnya aku tidak berterus terang pada mu, aku hanya meneruskan cerita karangan yang dibuat oleh Aiyla. Aku tak menyangka akan berakhir diluar kendali ku. Jujur aku tak memanfaatkan mu atau membodohi mu. Kau dan ibu mu adalah orang terdekat yang sangat perduli pada ku dan telah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri."


Balas Gul memberanikan diri membuka suara untuk memperjelas keadaannya. Pada saat Bulut mendengar kata bahwa ia dan ibunya adalah bagian keluarga berarti selama ini perhatian dan rasa sayang yang diberikan pada Gul disalah artikan oleh Bulut.


"Aku yang salah mengartikan perhatian mu selama ini dan aku merasa cinta sendiri, maafkan aku."


Ucap Bulut seraya berlalu keluar begitu saja dari dalam rumah Gul. Aiyla dan Gul hanya melihat saja lelaki itu menghilang dari pandangan mereka berdua. Tanpa ada tindakan untuk menghentikan Bulut karena mereka berdua tahu bahwa laki-laki itu butuh waktu sendiri untuk dapat mencerna dengan baik semua yang telah terjadi.


"Aiyla.... "


Teriak Gul seraya mendekat dan memeluk sahabatnya itu. Wajah wanita itu telah basah oleh air mata serta mata Gul telah sembab karena tangisannya.

__ADS_1


"Sudahlah... Tenangkan diri. Disini aku juga bersalah pada mu membuat sebuah cerita tanpa konfirmasi dari mu. Maafkan aku."


Balas Aiyla seraya memeluk erat tubuh sahabatnya itu. Mereka berdua larut akan kesedihan yang mendalam dihati mereka masing-masing.


Ergin masuk dengan menggendong kedua putri ditangannya dan diiringi oleh Azzam. Melihat dua wanita dihadapannya yang saling berpelukan dengan tagis yang memenuhi ruangan itu.


"Aiyla... Gul. "


Suara dari Ergin membuat mereka tersadar dan saling melepaskan pelukan. Gul mengambil putri kecilnya dan berusaha menyeka air matanya. Diikuti oleh Aiyla yang mendekati suaminya.


"Apa yang terjadi? "


Ucap Ergin dengan wajah penasaran menatap mereka berdua. Aiyla dan Gul saling menatap mengisyaratkan agar salah satu diantara mereka menjelaskan semuanya pada Ergin.


Mereka bertigapun duduk kembali dan akhirnya Aiyla yang membuka suara dan menjelaskan semua yang barusan terjadi pada suaminya.


Ergin mengerutkan alis dan dahinya seraya menatap Aiyla setelah mendengar semua yang dikatakannya.


"Sayang... Kau telah terlibat jauh. Dalam hal ini kau harus menjelaskan juga pada Feride."


Ucap Ergin seraya menatap pada Aiyla dengan nada pelan namun penuh keseriusan. Aiyla merasa apa yang dikatakan oleh suaminya memang benar dan dirinya harus meminta maaf atas kebohongan yang telah dikatakan Aiyla sebelumnya.


"Gul aku ingin berbicara tentang sahabat ku Murad. Disini aku tak memaksa mu hanya mengungkapkan apa yang ku rasakan setelah lama mengenal sahabat ku itu. "


Ungkap Ergin dengan wajah serius dan menatap Gul dengan sorot mata penuh kesungguhan.


"Murad memang lelaki yang sering bertukar pasangan bahkan sebelum dekat dengan dirimu untuk kesenangan semata, aku tahu betul sahabat ku itu. Namun kini lelaki itu semakin mengila, tidak untuk kesenangan tapi melainkan pelampiasan atas kepergian dirimu mencari sosok kau dalam diri wanita lain."


Ungkap Ergin dengan suara pelan dan terasa beban yang selama ini disimpan dihatinya tumpah melalui perkataannya saat ini.


Gul merasa terkejut atas apa yang diungkapkan Ergin. Dirinya tak pernah menyangka bahwa Murad akan bersikap seperti itu.


Gul mencium putri kecilnya dengan penuh rasa bersalah karena telah bersikap tak adil pada Dilec. Putri kecilnya yang tak mengetahui apa-apa harus terpisah dengan ayah kandungnya karena keegoisan ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Gul... Berikan kesempatan pada Murad, Aku yakin dia akan bahagia kalau lelaki itu tahu bahwa telah memiliki putri secantik Dilec."


Ucap Ergin pada Gul dengan mata berkaca-kaca. Gul tak pernah melihat lelaki bekas atasannya seperti itu. Sikapnya yang dingin tanpa ekspresi jika saat berkata pada semua orang. Tapi kali ini Ergin sungguh berbeda dari yang biasa Gul kenal.


__ADS_2