Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 159


__ADS_3

Hai... Hai...Hai...πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


Salam hangat buat reader tercinta...πŸ™πŸ˜


Yup lanjuuut ngebaca πŸ˜‰πŸ‘Œ


But don't forget to like, love, vote, gift, and rate stars 5 πŸ’‹πŸ˜˜


πŸ’™Happy ReadingπŸ’™


πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


Malam ini begitu sempurna tak pernah terbayang akhirnya mereka seperti sebuah keluarga.



Mereka telah menyia-nyiakan waktu yang berharga selama ini. Dengan keegoisan satu sama lain membuat buah hati mereka berdua merasakan hidup dalam sebuah hubungan yang tak utuh.


"Sayang... Ceritakan kepada ku. Apa alasan kau memutuskan untuk pergi dari sisi ku. Padahal sebelumnya kita tidak pernah terjadi pertengkaran ?"


Dengan rasa penasaran Murad mencoba memecahkan pertanyaan yang selalu bergelayut dalam pikirannya selama ini.


Murad tak tahu apa alasan sebenarnya dari wanita yang sedang berbaring menghadap dirinya itu.


"Kau ingat disaat terakhir kali aku datang keruang kerja mu, pada saat itu aku telah mengandung Dilec. Aku mencoba untuk memberitahukan kabar kehamilan ku dengan segenap keberanian ku saat itu."


Ungkap Gul dengan pandangan kosong menatap langit-langit kamar pribadinya itu. Dirinya seakan kembali kemasa itu.


Bagaimana gugup dirinya untuk bertemu saja dengan Murad dan ditambah dengan berusaha mengedalikan hatinya jika lelaki itu tak bisa menerima janin yang sedang dikandungnya.


"Ya, aku ingat hari itu dimana kau terlihat begitu gugup seperti ada yang berbeda dari dirimu. Lalu, mengapa kau tak mengatakannya langsung pada saat itu? "


Balas Murad dengan menatap wajah Gul dari samping, wanita itu tenggelam akan masa lalunya.


"Aku urungkan niat untuk mengatakannya lantaran kau tak ingin menikah, apalagi ingin memiliki seorang anak secepat itu. Kata-kata mu membuat aku tak berdaya. Aku memutuskan itu adalah sebagai jawaban dari ketidak bersediaan mu atas pernikahan saat itu."


Bulir bening telah mengalir diujung mata Gul saat dirinya mengulang kembali masa-masa dimana dirinya terpuruk dan hancur.

__ADS_1


Murad mengubah posisi Gul lalu dengan lembut mengusap air mata yang jatuh dengan sendirinya. Terasa sesak didadanya mengingat masa disaat itu.


"Maafkan akan kebodohan ku..."


Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut lelaki yang kini memeluk tubuhnya dengan erat. Murad tak dapat berkata apa-apa selain kata penyesalan yang teramat dalam dan begitu tulus.


"Sayang... Kita akan kembali bersama Ergin dan Aiyla. Terus aku akan membawa mu kerumah orang tua mu untuk meminta restu mereka berdua agar segera menikah dengan mu."


Sebuah pembicaraan yang telah lama dinantikan oleh Gul. Terdengar sungguh mengembirakan dihatinya. Wajah Gul berseri-seri mendengar perkataan Murad yang tak sabar untuk segera menjadikan Gul sebagai istrinya.


Malam ini mereka tidur dengan hati dan perasaan yang bahagia. Berpelukan sampai sinar sang fajar mengusik mereka berdua untuk segera bangkit dari tempat tidur.


Terdengar suara bel dari pintu utama, dengan berat langkah kaki Gul membuka pintu tersebut.


"Aiyla... Sepagi ini kau sudah berada didepan rumah ku?"


Ucap Gul masih dengan menutup mulutnya karena sedang menguap. Semalam entah sampai jam berapa mereka baru tertidur setelah bercerita satu sama lain selama mereka berdua berpisah.


"Waduuh!! Baru bangun...Hei udah jam 10. Aku ingin mengajak kalian untuk mengunjungi suatu tempat wisata sebelum liburan kami berakhir."


Ungkap Aiyla seraya masuk kedalam ruang tamu. Dengan wajah terlihat cerah Aiyla tersenyum pada sahabatnya itu.


"Murad ingin mengajak ku kembali kekota lalu mengajak ku ketempat orang tua ku La... Kami akan segera menikah secepatnya."


Ucap Gul dengan tersipu malu mengatakan apa yang barusan keluar dari mulutnya. Aiyla tersenyum gembira atas kabar bahagia yang didengarnya pagi ini.


Aiyla langsung memeluk erat tubuh sahabatnya itu. Bulir bening telah jatuh membasahi ujung matanya. Sebuah tangis kebahagian yang ia rasakan saat ini untuk sahabatnya sedari mereka kecil.


"Aku tak menyangka ini semua masih seperti mimpi bagi ku."


Ucap Gul kembali dengan mempererat pelukannya. Dua wanita itu larut dalam kebahagian yang sama.


Ditengah pembicaraan mereka berdua, Murad yang kehilangan Gul disaat meraba bagian tempat tidurnya tak terdapat tubuh wanita yang semalam begitu erat dipeluknya.


Mencari disekitar kamar namun matanya tak menemukan sosok yang dicarinya. Mencoba bangkit dari rasa kantuk yang masih mendera matanya berjalan keluar kamar.


Terdengar suara Gul berbicara dengan seseorang namun tak tahu dengan siapa teman bicara wanita itu.

__ADS_1


"Sayang... siapa yang datang? "


Tiba-tiba terdengar suara Murad yang mengangetkan mereka berdua dengan wajah yang masih mengantuk berjalan mendekati kearah mereka berdua.


"Aiyla....Dimana Ergin? Apakah kalian akan segera pulang? "


Ucap Murad setelah mengetahui bahwa wanita yang bersama Gul adalah istri dari sahabatnya. Aiyla menjelaskan kehadirannya dipagi ini, untuk mengajak mereka berdua.


Ajakan Aiyla disambut hangat oleh Gul dan Murad. Akhirnya dua keluarga tersebut menikmati sebuah liburan yang sangat menyenangkan.



Sebuah senyum mengembang dikeduanya. Rasa sedih dan luka dihati seakan sirna dengan sendirinya. Gul dapat tersenyum dengan lepasnya begitu juga lelaki yang ada disampingnya.



Dua orang wanita yang telah lama menjalin hubungan persahabatan, berpasangan dengan dua laki-laki yang juga telah menjalin persahabatan yang sama sedari kecil.


Mereka telah mengetahui karakter dari sahabatnya masing-masing, dengan demikian hubungan ini tentu akan dilanjutkan dengan kedua putri kecil mereka.


Sebuah hubungan yang sangat menarik yaitu saling jatuh cinta pada sahabat dengan pasangan mereka masing-masing.


"Ergin... Terima kasih. Berkat kau dan Aiyla, aku bisa merasakan hari bahagia ini. Kau benar disaat kita merasa tak membutuhkan cinta disaat itulah baru kita tersadar telah melepaskan sesuatu yang berharga."


Ungkap Murad yang tengah berdiri disamping Ergin. Kedua laki-laki itu memandang wanita yang sangat dicintai mereka sedang bersama buah hati mereka berdua.


"Aku juga pernah berbuat kesalahan besar yang menyebabkan aku harus membayarnya seumur hidup ku jika tak diberikan kesempatan padanya. "


Ungkap Ergin seraya menatap jauh kearah depan dengan leluasanya. Terdengar tarikan nafas yang panjang dengan mengeluarkan hembusan nafas yang secara kasar.


"Tuhan... Masih sayang pada kita berdua, mempertemukan kita pada sosok wanita yang sangat luar biasa mengubah kepribadian kita secara tidak langsung."


Ucap Murad seraya tersenyum menatap wajah sahabatnya itu. Ergin yang menatap kearah depan sedari tadi mengubah arah pandangannya.


"Kau benar... Jika kita tidak bertemu dengan mereka berdua. Tentu kau akan menjadi pemburu wanita sampai tua dan akupun juga akan menjadi lelaki tua dengan sebuah pikiran tak akan pernah percaya pada cinta sejati."


Ungkap Ergin seraya tertawa disela-sela perkataannya. Murad tertawa lepas mendengar perkataan dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kau benar... "


Balasnya singkat dari ucapan Ergin yang barusan didengarnya. Akhirnya mereka tertawa kembali secara bersamaan mengingat sosok mereka sendiri dengan sikap yang sekarang dianggap mereka menjadi suatu yang aneh.


__ADS_2