Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 170


__ADS_3

Tetap selalu berikan dukungan pada Author dengan cara πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


1. πŸ‘Like diakhir bacaan 😚


2. πŸ’™ Love jadikan favorit 😍


3. 🎁 Gift sekuntum mawar lebih juga boleh 😁


4. πŸ’― Vote 😍


5. ⭐ Rate Star 5 😘


Terima kasih buat Reader yang telah memberikan dukungannya pada Author πŸ™πŸ™ Semoga masih tetap setia πŸ’™ dan terus mengikutin alur dari cerita Pekatnya Malam 😍😘


Jom lanjuuut ngebacaπŸ”œ


🍁Happy Reading🍁


🌴🌴🌴


"Silahkan masuk. "


Ucap Murad dengan sedikit tegang terlihat diwajahnya yang tampan.


Seorang wanita dewasa berambut blonde setengah bahu dengan make-up tipis terlihat berkelas dengan balutan stelan celana casual.


Wanita tersebut berjalan lalu dengan anggunnya duduk tepat dikursi yang berhadapan dengan Murad.


"Sudah lama saya ingin bertemu dengan anda, kebetulan pagi ini Tuan Murad memberikan kartu nama pada security yang ada dirumah."


Ungkap wanita tersebut dengan nada pelan namun serius menatap Murad. Wanita itu terkesan ingin menyampaikan sesuatu yang selama ini disimpan didalan hatinya dari tatapan matanya.


"Ya... Nyonya, sama saya juga ingin bertemu dengan wanita yang ada didalam photo tersebut. Apakah ini anda?"


Ucap Murad seraya menyodorkan photo lama yang tersimpan didalam lacinya dengan wajah penuh keseriusan menatap kearah wanita dihadapannya.


"Anda benar, ini adalah saya."


Balas singkat wanita itu setelah menerima photo yang disodorkan padanya.


Ada raut sedih kini tersirat jelas diwajah wanita itu, menatap lekat dengan mata berkaca-kaca.


"Sangat sulit saya mengingat nyonya, kita pernah berjumpa tapi entah dimana. Ingatan dimasa lampau sulit untuk menuntunnya kembali."


Ungkap Murad dengan mengawali pembicaraan mereka berdua. Wanita itu masih tak mengeluarkan sepatah katapun untuk merespon apa yang baru saja dilontarkan Murad kearah wanita tersebut.

__ADS_1


"Sampai detik ini, aku masih belum mengingat. Jika nyonya berkenan untuk mengingatkan saya kembali."


Ungkap Murad kembali dengan mata penuh harap karena didorong oleh rasa penasaran sekaligus kegelisahannya.


"Kita hanya beberapa kali bertemu setelah tamat dari tempat perguruan tinggi. Tapi mengapa photo ini bisa sampai ditangan anda? Terlebih dengan photo anak lelaki yang ada bersama saya diphoto ini."


Akhirnya wanita itu mengeluarkan suaranya juga, menanggapi perkataan dari Murad.


"Ini yang hendak saya tanyakan. Siapa anak lelaki ini? "


Secepatnya Murad merespon balik untuk segera menghilangkan rasa penasaran dan kegelisahannya. Dengan jantung yang bergemuruh, Murad tak sabar mendengar penjelasan dari wanita dihadapannya.


"Ini adalah keponakan ku."


Dengan menatap kembali kearah Murad seakan bibir wanita tersebut ingin mengeluarkan kata-kata. Perkataan yang telah berada diujung lidahnya namun sengaja wanita tersebut mengurungkan diri dengan alasan yang hanya diketahui dirinya sendiri.


"Apaa!!! "


Dengan sedikit berteriak Murad berdiri dari kursi kebesarannya beralih berjalan mendekati kursi wanita tersebut.


"Ya... putra dari adik ku. "


Balas wanita tersebut yang kini raut wajahnya berubah, terdapat pancaran kesedihan berbalut kebencian dari sorot matanya.


"Aku mohon, berikan penjelasan yang mudah ku mengerti. Siapa ibu dari anak laki-laki ini? "


Dengan menunjukkan jari telunjuknya diatas photo yang diambil kembali dari tangan wanita tersebut.


"Dia adalah putra dari saudari ku satu-satunya, Sungguh tragis yang dialami oleh saudari ku itu. Demi melahirkan putranya, ia harus mengorbankan nyawanya sendiri. Untuk seorang janin yang sampai detik ini hanya dirinya yang mengetahui siapa ayah dari keponakan ku itu. "


Ungkap wanita tersebut dengan tak tahan lagi membendung rasa sedih melalui bulir bening yang keluar diujung kedua matanya.


"Apa!! "


Untuk kedua kalinya Murad sedikit berteriak dihadapan wanita tersebut dengan raut wajah terkejut semakin membuat dirinya bertambah gelisah dan penasaran.


"Nyonya...Coba anda baca tulisan yang ada dibalik photo tersebut. "


Perintah Murad seraya menyodorkan kembali photo yang berbeda pada wanita itu. Betapa terkejut dirinya mengetahui tulisan yang ada dibalik photo.


Tulisan tersebut untuk meneror lelaki dihadapan wanita itu. Dengan sebuah misteri yang diyakini oleh Murad bahwa wanita itu belum menceritakan sepenuhnya pada dirinya.


"Dalam tulisan ini, menyatakan bahwa Tuan Murad sebagai ayahnya."


Ungkap wanita tersebut dengan menatap wajah Murad yang terlihat kusut karena belum mendapat jawaban yang jelas.

__ADS_1


"Aku tahu saudari ku pernah dekat dengan seorang pria, yang aku tahu lelaki itu adalah kau. Namun disaat detik terakhir yang ingin ku ketahui, siapa ayah dari bayinya ? Saudari ku bungkam tanpa sepatah katapun. Hanya meminta ku untuk menjaga bayinya yang masih merah itu."


Isak tangis terdengar pilu disaat dalam pikirannya terlintas kembali kejadian yang menyayat hatinya.


"Ini saudari ku. "


Terlihat sebuah photo seorang wanita yang tak asing bagi Murad. Ya lelaki itu begitu mengingat wajah cantiknya. Binar mata yang terpancar dimanik hitam Murad menggambarkan sebuah senyuman diujung bibirnya.


"Aku telah lama mencari dia! Menghilang begitu saja. "


Ungkap Murad dengan bulir bening telah jatuh seraya menatap photo usang yang ada ditangannya.


"Jadi wanita ini adalah saudari mu, kita berdua juga telah lama berpisah. Terakhir bertemu disaat reuni 8 tahun silam. Aku ingat bertemu saudari mu disaat pesta tersebut dan berlanjut beberapa bulan kemudian. Aku tak menyangka pada saat itu dia sedang menjemput mu seusai pesta reuni kampus kita."


Ungkap Murad yang telah mengingat hubungan wanita dihadapannya dimasa lampau. Setelah melihat saudarinya yang memiliki hubungan khusus dengan dirinya.


"Aku tahu itu, karena setelah pertemuan dipesta tersebut, saudari ku begitu ceria. Setelah itu tanpa sengaja aku mendengar pembicaran dari kalian berdua melalui ponsel, dan menyebut-nyebut nama mu."


Balas wanita itu dengan antusias menceritakan kisah awal pertemuan Murad dengan saudarinya. Murad begitu larut terbawa kemasa lampau.


Dirinya ingat benar begitu menikmati pertemuan mereka berdua setelah beberapa bulan. Namun setelah hubungan mereka terjalin selama lebih kurang 7 bulan, tiba-tiba saja menghilang tak kunjung rimbannya.


Murad putus asa mencari wanita tersebut karena menghilang bak ditelan bumi. Murad tak menyangka bahwa teman satu kampusnya merupakan saudari dari wanita yang dicarinya selama ini.


"Sungguh aku tak pernah mengira bahwa sekarang dia telah pergi selama-lamanya."


Ungkap Murad dengan wajah tertunduk dan bulir bening telah membasahi wajahnya. Wanita dihadapannya melihat perubahan dari wajah Murad, terlihat jelas rasa kehilangan dimata laki-laki itu.


"Apakah hubungan kalian sudah terlalu jauh saat itu ?Atau hanya sekedar saja."


Ungkap wanita dihadapan Murad dengan rasa penasaran dan tak sabar menunggu jawaban dari mulut laki-laki itu.


"Ya,...Dia membuat ku begitu terpikat saat itu. Kecerianan dan wajah manisnya membuat ku terpesona dengan kepolosannya."


Ungkap Murad dengan berkata sebenarnya sesuai dengan yang dirasakan hatinya saat itu.


"Kau sengaja mempermainkan saudari ku sehingga kau memanfaatkan kepolosannya sehingga sampai mengandung putra mu!"


Ungkap wanita itu yang telah berubah wajahnya menjadi lebih terpukul atas pengakuan Murad.


Usia antara Murad dengan saudari wanita yang bergaya sangat elegant tersebut sangat terpaut jauh. Namun Murad tidak meniduri gadis dibawah umur.


Saudarinya telah kuliah dan memasuki semester kedua saat itu. Namun diusia yang sangat muda, wanita tersebut harus meregang nyawa pada saat sesudah proses bersalin karena mengalami pendarahan yang sangat hebat sehingga nyawanya tak tertolongkan.


.

__ADS_1


__ADS_2