Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 63


__ADS_3

Hai... Hai... Hai...Reader... 👋👋👋


Don't forget to like, vote, love and rate star 5..


Please... Butuh dukungan dari Reader..


Jom lanjut ngebaca...😊😊


🍁🍁🍁


Baru saja selesai pertemuan Aiyla bersama rekan kerjanya, dengan sepasang suami istri yang menjadi klien mereka. Berjanji untuk bertemu disebuah cafe tak jauh dari kantor.


Membicarakan projek kerja untuk sebuah rumah baru bergaya minimalis namun terkesan moderen. Rumah untuk pasangan yang baru saja menikah.


"Baiklah... Nyonya Aiyla kami permisi dulu," ucap wanita itu dengan raut wajah bahagia.


Sepasang pengantin baru tersebut menyukai desain rumah yang ditawarkan oleh Aiyla. Sang wanita begitu antusias dan bahagia karena rumah impian mereka sebentar lagi akan terbangun seperti yang mereka idamkan.


Ada rasa kepuasan dihati Aiyla ketika ide-ide yang ditawarkan pada klien dapat diterima dengan senang dan dapat mewujudkan keinginan dari seseorang adalah suatu kebanggaan dan kepuasan tersendiri baginya.


Ditengah asiknya berbincang dan berdiskusi, mata Aiyla tanpa sengaja melihat sosok laki-laki dan wanita yang tak asing baginya.


Terlihat seperti sedang makan dicafe tersebut, namun terlihat janggal dimata Aiyla dari sikap dan gerak tubuh mereka berdua.


"Sedang bertemu klien atau sedang... Achh..Sudahlah kenapa kau berpikir yang tak seharusnya kau pikirkan, Biarkan saja!!" batin Aiyla seraya mengalihkan pandanganya.


Diliriknya jam menunjukkan jam 15.35, Aiyla memutuskan untuk tidak balik lagi kekantor. Aiyla beralih dari cafe menuju kesebuah toko kue.


Sedangkan rekan kerjanya yang muda dan tinggi semampai itu telah pergi meninggalkan dirinya sewaktu keluar dari cafe.


Malam ini Aiyla ingin mengajak putranya kerumah kakeknya. Sebelum pergi kesana ia bermaksud untuk membeli sekotak cake untuk dibawa kerumah besar itu. Sekotak besar cheese cake menjadi pilihan Aiyla untuk menjadi buah tangan kali ini.


Senyum mengembang diujung bibirnya, hampir satu bulan Aiyla merasakan kebahagian yang pertama yaitu semakin membaiknya Aiyla dengan keluarga Ali serta yang kedua adalah hubungan Ergin dengan putranya yang membuat dirinya bahagia.


Anak lelaki itu seperti tak ingin lepas dari sosok Ergin begitu juga sebaliknya dengan lelaki bermata biru. Mereka berdua membuat hubungan yang begitu rapat layak antara ayah dan putra kandung.


Seperti malam ini Azzam memberitahu Ergin bahwa ia akan pergi kerumah kakeknya. Anak lelaki itu telah bercerita lebih dulu dari pada Aiyla tentang perihal pergi kerumah Tuan Musrafa.


Dret... Dret... Dret


Terdengar suara getar dari ponselnya yang ada disaku mantel tebal. Cuaca dingin masih terasa dibulan ini. Aiyla mengambil ponsel tersebut lalu melihat panggilan masuk dilayar ponsel tersebut.

__ADS_1


Tertera nama Tuan Ergin dilayar ponsel, Aiyla menerima panggilan tersebut dengan menekan warna hijau lalu terdengar suara dari seberang sana.


"Sayang... Aku akan menjemput kalian terus akan mengantarkan kerumah Tuan Mustafa," ucap Ergin dengan antusias.


Dicobanya untuk memberikan pengertian bahwa itu tidak perlu dilakukan, namun lelaki itu tetap saja memaksa untuk menjemput dan mengantar mereka berdua.


Dimana pada pagi tadi Ergin telah sampai didepan rumah untuk mengatarkan Azzam kesekolah lalu mengantar Aiyla kekantor.


Sebenarnya cukup tidak dimasuk akal jarak apartemantnya dengan rumah Fusun memakan waktu sekitar 30 menit. Hanya untuk mengantar dan menjemput ia dan putranya, rela menempuh jarak tersebut secara berulang kali.


Dan nanti malampun Ergin akan mengantarkan kembali mereka berdua kerumah Tuan Mustafa, waktu lelaki itu habis dengan mengurus Aiyla dan Azzam untuk menjemput dan mengantar.


"Emang ga ada kerjaan apa? Sudah ku bilang ga perlu tapi masih tetap saja, mana memutuskan telpon begitu saja !! " Gerutu Aiyla dengan wajah cemberut.


Sejujurnya Aiyla adalah tipe wanita yang mandiri. Terkadang sikap Ergin yang terlau over membuat dirinya merasa dibatasi. Wajar saja sikap Aiyla seperti itu karena kerasnya kehidupan, menempa dirinya untuk tidak tergantung pada orang lain.


Ergin juga tak bisa disalahkan juga dalam hal ini, lelaki yang merasa bahwa Aiyla dan Azzam adalah dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya.


Sehingga dirinya tak ingin dua orang yang sangat berharga itu terjadi sesuatu yang tak diinginkannya. Ergin ingin menjaga keselamatan dan memberikan rasa aman pada mereka berdua.


Akhirnya Aiyla telah sampai dirumah, selama perjalanan kerumah hati dan pikirannya tak terlepas dari lelaki bermata biru.


Mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya disofa setelah satu box chassescake dimasukan kelemari pendingin.


Baru saja direbahkan tubuhnya, kini putranya datang dengan mengenakan pakaiannya dan telah siap pergi.


Senyum mengembang diujung bibir Aiyla, melihat wajah putranya yang berseri dan senyum khasnya yang menandakan bahwa anak lelaki ini adalah putranya.


"Tentu saja sayang... Ibu telah menyiapkan sekotak chassescake buat kakak sepupu mu," ungkap Aiyla dengan membalas senyum putranya.


Dicobanya untuk bangkit dari posisi tidur walaupun tubuhnya merasakan lelah. Aiyla berjalan menuju kamar untuk mandi dan segera bersiap.


Malam ini ia akan mengenakan pakaian yang lebih santai yaitu shortdress berwarna hijau muda pupus berlengan pendek dengan motif bunga kecil dibagian ujung dress nya. Dengan make-up natural dipoleskan kewajah Aiyla yang telah terlahir cantik.


Rambut coklat bergelombang alami diujungnya Aiyla biarkan terurai dengan jepit rambut mutiara berbentuk kupu-kupu menghiasi bagian tegah kepalanya.


Terlihat cantik dan serasi dengan make-up yang digunakannya. Setelah merasa siap Aiyla keluar dari kamarnya.


"Azzam....Dimana kau nak? Ibu telah siap," ucap Aiyla seraya membuka pintu pembatas antara kamar Aiyla dan putranya itu.


Sebelum dirinya bersiap terdengar putranya masih main didalam kamar setelah menyapa Aiyla yang tengah merebahkan tubuh disofa.

__ADS_1


"Tuan Ergin," ucap pelan Aiyla dengan wajah tak percaya.


Melihat lelaki itu tengah bersama putranya diruang tamu dan sedang asik bermain dengan Azzam.


"Sejak kapan ia sudah ada disini ?" Besit aiyla dalam hati dengan tanda tanya.


Mendengar suara dari Aiyla, mereka berdua mengarahkan pandangan melihat Aiyla yang telah berdiri dihadapan mereka.


Ergin memberikan senyum yang mengembang setelah melihat Aiyla dengan baju yang dikenakannya malam ini. Sedangkan putranya langsung berjalan menghampiri Aiyla seraya menarik pelan tangan ibunya.


"Ibu.. Berhiasnya lama. Ayah dan Azzam telah lama menunggu ibu," ungkap Azzam dengan menggelayutkan tanganya dilengan aiyla.


Dengan tersenyum Aiyla berjongkok seraya membelai wajah polos putranya lalu tersenyum menatapnya.


"Maafkan ibu... Membuat kalian berdua menunggu lama, " balas Aiyla seraya berdiri.


Ergin yang semula diam hanya memperhatikan saja seraya tersenyum kini telah berdiri lalu memeluk tubuh Aiyla seraya memberikan sentuhan ringan dikedua pipinya.


"Kau cantik sekali malam ini sayang," bisik Ergin ditelinga Aiyla.


Hanya rona merah yang terlihat diwajahnya setelah kata-kata Ergin yang terdengar ditelinganya.


Masih tak melepaskan pelukannya, Azzam yang berdiri disamping ibunya ikut memeluk mereka berdua. Melihat putranya yang ikut merasakan kebahagiaan, Ergin lalu menggendong Azzam.


"Baiklah jagoan...Kita berangkat sekarang," ucap Ergin seraya mencium pipi Azzam.


Ditengah perjalanan Aiyla dan Ergin tak bersuara, hanya pandangan lelaki itu yang tak lepas darinya.


Azzam yang duduk ditengah-tengah mereka berdua menjadi bingung melihat ibu dan Ayahnya berdiam tanpa sedikitpun bicara.


Anak lelaki itu menatap mereka berdua secara bergantian dengan wajah penuh tanda tanya. Pada saat dirumah ayah dan ibunya itu terlihat baik-baik saja.


Azzam melihat pada saat mereka berdua berpelukan dengan penuh kasih sayang tetapi pada saat didalam mobil mereka berdua terlihat berbeda.


Pikiran Azzam yang polos dan tak mengerti pikiran orang dewasa hanya bisa mengartikan bahwa ayah dan ibunya sedang saling marah satu sama lainnya


"Ayah... Ibu mengapa kalian tak bicara, tidak sedang bermusuhan kan? " ucap Azzam seraya meraih tangan Aiyla dan Ergin.


Melihat putranya itu bingung dengan sikap diam mereka berdua sontak Ergin tersenyum.


"Sayang... Ayah titipkan ibu mu pada mu, pastikan ia pulang bersama mu. Jika ada lelaki dirumah sana yang meminta ibu mu untuk tetap tinggal dirumah itu," ucap Ergin dengan serius menatap azzam.

__ADS_1


Sebuah senyum tipis diujung bibir Aiyla yang mengerti maksud dari laki-laki itu. Ergin mengedipkan mata genitnya kearah Aiyla yang terlihat tersenyum dimatanya tanpa diketahui oleh putranya.


__ADS_2