Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 87


__ADS_3

Come on Guy's..😎😎


Don't forget to like, love, vote, gift and rate star 5😉😉


Salam hangat untuk Reader setia... 😍🙏


💞Happy Reading 💞


Ergin tengah asik membolak balik file yang ada ditangannya. Matanya fokus pada file yang sedang dibacanya.


Dret... Dret...Dret...


Ponselnya berdering dan terlihat nama dari panggilan masuk tersebut. Nyonya Esma, dilayar ponsel milik Ergin.


Lelaki itu tak ingin menerima panggilan masuk dari ponselnya itu. Dia merasa tak ada hubungannya lagi dengan wanita ini.


"Mau apa lagi wanita ini menghubungi ku !!" ucap dingin Ergin seraya menatap layar ponselnya.


Tak ada yang berkesan dihatinya saat ini. Mengingat wanita yang begitu lama menyimpan rahasia yang sangat penting didalam hidupnya.


Ditambah dengan dendam dan prasangka buruknya terhadap orang lain. Sebelum mengenal sosok Aiyla, dirinyapun tertempa untuk tidak mudah percaya pada siapapun terlebih khusus wanita.


Bisa saja sikap Ergin ini adalah sikap yang diturunkan wanita ini secara tidak langsung. Kasih sayang dan cinta adalah hal yang sangat jarang atau hampir tidak ditemukan oleh Ergin didalam kehidupannya dulu.


Bahkan dirinya tak percaya akan adanya cinta sejati. Sampai pada saat ia bertemu dengan Aiyla yang mengubah pribadinya secara perlahan dengan penuh cinta dan kasih sayang tanpa disadarinya.


"Jikapun aku adalah anak mu dan kau meminta ku untuk meninggalkan Aiyla maka aku akan lebih memilih wanita itu daripada kemewahan yang kau tawarkan," ucap sinis Ergin dengan sudut bibir yang meninggi.


Ponsel itu berdering lagi dan ini panggilan yang kesekian kali. Ergin masih enggan untuk menerima panggilan masuk tersebut. Diambilnya ponsel lalu di non aktifkan agar tak terdengar lagi dering dari ponselnya.


Sekitar 2 jam lebih Ergin masih setia duduk diruang kerjanya. Begitu banyak klien-klien baru yang membutuhkan jasa dari perusahaannya.

__ADS_1


Asisten pribadinya kini telah berada dihadapannya mengingatkan dirinya pada projek pembangunan gedung pencakar langit yang sedikit tersendat.


Klien tiba-tiba mengubah konsep awal yang telah disepakati dengan alasan tak sesuai dengan lokasi yang dibagun. Konsep eksterior yang diberikan oleh pihak Ergin.


Projek ini adalah projek team dengan perusahaan yang Harun pegang. Diawal pertemuan mereka dengan senang hati menerima konsep desain yang ditawarkan oleh Ergin dan Aiyla.


Namun secara tiba-tiba saja mereka hampir mengubah kesepakatan awal. Ergin merasa bahwa ada yang menginterpensi projek satu ini. Tak mungkin mereka tidak menyetujui setelah penandatangani kontrak kerja.


Klien tersebut bersedia membayar denda dari perubahaan kontrak awal. Dari sini Ergin telah memiliki firasat ini tidaklah alasan yang masuk diakal.


Jika mereka memberikan alasan pada tempat yang akan dibangun, maka sebelumnya pihak Ergin dan Aiyla mengeceknya lokasi terlebih dahulu sebelum memberikan penawaran konsep desain eksterior dan interior pada klien tersebut.


"Siapkan kotrak baru dan jangan lupa bawa kontrak lama kita, kita akan mendengar saja dari mereka. Jika ini hanya alasannya untuk membatalkan kerja sama maka kita akan menekan mereka dengan jawaban atas alasan pembatalan kontrak tersebut," ucap Ergin dengan tegas tanpa ekspresi.


Asisten pribadinya segera melaksanakan perintah Ergin dan meninggalkan ruang kerjanya. Ponsel yang semula di non aktifkan dihidupkannya kembali.


Terlihat panggilan tak terjawab lebih dari tiga kali dari Nyonya Esma dan Nyonya Syukran. Sebuah pesan singkatpun terkirim keponselnya dari wanita yang tak ingin Ergin memiliki hubungan lagi dengannya.


Isi dari pesan singkat Nyonya Esma yang terkesan seperti tiba-tiba bagi Ergin. Hatinya tak tergiur sama sekali dari harta ayahnya itu. Terserah wanita itu mau memberikannya pada siapa saja.


Setelah membaca pesan dari nyonya Esma, baru saja masuk pesan singkat dari Nyonya Syukran.


"Ergin... Bibi sebenarnya tak berhak ikut campur persoalan pribadi antara kau dengan ibu mu. Aku tahu kau terluka dan terbakar setelah pengakuan yang keluar dari mulut ibu mu, andai kau tahu saat ini wanita itu juga sedang tersiksa dan terbakar atas kepergian dirimu. Bibi harap berbicaralah dengan ibu mu, seburuknya ia memperlakukan mu dengan sedikit kasih dan sayang yang diberikan pada mu. Kau harus ingat selama ini kau juga dirawat dengan baik olehnya."


Terdiam sejenak dengan menatap kosong keponselnya. Ergin tak tahu harus menerimanya atau tidak. Namun perkataan ibu Murad ada benarnya juga.


"Aku akan menanyakan Aiyla, jika dia berkenan ikut dengan ku maka aku akan pergi kerumah besar itu," batin Ergin dengan raut wajah serius.


Jari jemarinya lincah mencari kontak telpon yang ada diposelnya. Tertulis cinta ku sebagai nama yang ada dikontak ponselnya Ergin.


Sudah dua kali panggilan namun masih tak dapat dihubungi. Timbul rasa gelisah terlihat dibola matanya yang tak mau diam ditambah dengan gestur tubuh lelaki itu yang terlihat jelas kegelisahannya.

__ADS_1


"Sayaaang...Kau dimana? Beberapa kali menelpon mu tapi tak juga kau terima panggilan ku," ucap Ergin dengan cemas sekaligus antusias.


Rupanya Aiyla sedang melakukan perjalanan sehingga dering ponsel yang terletak didalam tas tak terdengar olehnya.


" Aku baru saja sampai pada tempat pertemuan kita," jawab singkat Aiyla dengan langsung mematikan panggilan masuk.


Bergegas menuju pintu keluar ruang kerjanya dan memberi perintah asistennya untuk segera menyiapkan mobil. Ergin tak ingin lama dan segera bertemu dengan wanita itu yang selalu membuatnya rindu.


Mobil melaju kencang sesuai dengan perintah Ergin. Selama perjalanan tersebut Ergin merasakan sesuatu yang aneh. Entah mengapa dirinya ingin cepat bertemu dengan Aiyla.


"Apa yang ku rasakan ini ? Terasa hatiku bergemuruh kencang," batin Ergin dengan wajah cemas tak lepas dari wajahnya.


Mobil berdecit beradu dengan aspal, karena pedal rem ditekan dalam. Ergin segera menelpon Aiyla terdengar panggilan itu masuk namun tak diterima oleh Aiyla.


Hati Ergin semakin cemas dan sekarang bertambah panik. Dirinya telah berkeliling pada lokasi yang akan didirikan gedung pencakar langit.


Tak terlihat sosok wanita itu disini dan Ergin dengan susah payah mencarinya dengan wajah cemas dan gelisah akhirnya kembali menelpon keponsel Aiyla.


Tak ada panggilan yang diterima setelah sekian kali dirinya melakukan panggilan keluar. Ergin mengarahkan mata kesegala penjuru untuk mencari keberadaan wanita itu.


"Kau dimana sayang... Angkat telpon mu," ucap Ergin dengan suara panik.


Asistennya tiba-tiba berlari mendekati Ergin, lalu menemukan ponsel Aiyla yang terjatuh ditanah. Pada saat Ergin menelpon suara dari dering ponsel Aiyla membuat asistennya mendekati lokasi suara tersebut.


Betapa terkejutnya ternyata hanya sebuah ponsel yang tak bertuan diatas tanah dengan layar ponsel yang pecah.


Lokasi tempat pembangunan gedung tersebut sangat luas karena akan banyak dibangun untuk gedung-gedung lain yang akan menjadi pelengkapan gedung pencakar langit.


Wajah Ergin terlihat kacau sekaligus panik, dengan wajah merah menahan segala rasa dihatinya.


"Tuan... Aku telah meminta orang-orang kita untuk menyelidiki tempat terakhir," ujar asistennya dengan wajah serius.

__ADS_1


__ADS_2