
Hai...Hai...Haiπππ
Maaf beberapa hari ini hanya satu sampai dua bab yang bisa Author berikan. Kesibukan Author lagi ramai didunia nyata πππ.
Author harap Reader setia dan tercinta masih tetap berada dilapak Author ππ.
Jom lanjuuut π
πHappy Readingπ
π’π’π’
Dengan tergesa-gesa Fusun mengeluarkan suaranya. Wanita itu terdengar panik memberitahukan pada Aiyla melalui panggilan diponselnya. Aiyla langsung shock mendapatkan kabar dari Fusun yang begitu tiba-tiba.
Wajah Aiyla menjadi pucat dengan tubuh bergetar, Yaren yang kebetulan berada tak jauh dari Aiyla membuat wanita itu buru-buru menghampiri Aiyla.
"Nyonya...Nyonya Aiyla...Ada Apa? "
Terdengar suara sedikit meninggi keluar dari mulut Yaren. Wanita itu juga terlihat cemas melihat wajah Aiyla dan reaksi majikannya yang mematung dengan wajah pucat dan tubuh bergetar.
Yaren meraih tangan Aiyla barulah wanita itu tersadar dari keterkejutan dirinya. Mencoba mengeluarkan bait-bait kata menjadi kalimat yang sulit diucapkannya.
"Azzam menghilang.... "
Yaren bertambah panik setelah mendengar perkataan Aiyla, terlihat jelas diwajahnya. Ia segera memberitahu Ergin sedangkan Aiyla telah pergi 5 menit yang lalu.
Dengan wajah gusar Aiyla menyusuri jalan menuju sekolah Azzam. Putranya tiba-tiba saja menghilang. Fusun yang biasa menjemput Azzam namun tak menemui anak lelaki itu.
Berdasarkan keterangan penjaga disekolah tersebut. Azzam baru saja ada disamping dirinya untuk menunggu Fusun seperti biasa.
Disaat penjaga sibuk melihat anak yang lain dalam waktu singkat Azzam telah tidak berada ditempat seperti biasanya.
Anak lelaki itu biasa duduk ditaman sambil menunggu Fusun setiap harinya. Walaupun terkadang terlambat namun Azzam tak pernah berniat untuk pergi dari tempat biasa ia menunggu.
Berbeda dengan hari ini, terlihat Azzam duduk ditempat biasa namun sekitar 10 menit anak lelaki itu sudah tidak terlihat lagi. Penjaga mengira telah dijemput oleh Fusun seperti biasanya.
"Aiyla maafkan aku, memang hari ini aku terlambat karena siang ini pencernaan ku mengalami masalah. Aku hanya terlambat sekitar 10 menit dari biasanya."
Ungkap Fusun dengan bulir bening telah membasahi wajahnya. Rasa bersalah terlihat jelas diwajah wanita itu. Fusun merasa menyesal karena datang terlambat, namun itu terjadi bukan karena keinginan tapi kondisi keadaan yang membuatnya terlambat.
"Nyonya maafkan saya, saya pikir Nyonya Fusun telah menjemput namun ternyata belum. Saya lihat ia sekitar 35 menit yang lalu, Azzam masih duduk dengan manis disana."
__ADS_1
Terdengar suara bergetar menceritakan kejadian sebelumnya. Penjaga sekolah kebetulan petugas keamanan yang baru tentu merasa ini adalah kelalaian darinya.
Aiyla yakin putranya tidak akan mau pergi dengan siapapun terkecuali orang yang dia kenal. Aiyla mengambil ponsel lalu menekan layar diponselnya.
"Nyonya... Apakah Azzam ada disana? "
Ungkap Aiyla dengan suara terbata-bata. Terdengar suara diseberang sana yang ikut bingung karena Azzam memang sedang tidak bersama mereka.
"Aiyla apa yang terjadi pada Azzam?"
Jawab Nyonya Mustafa yang terdengar cemas dan bingung. Aiyla menceritakan semua apa sedang dia alami.
"Baiklah saya akan beritahu kakek Azzam untuk ikut mencari Azzam."
Ungkap wanita paruh baya itu disertai tangis yang telah pecah terdengar dari suara dipanggilan keluar Aiyla.
"Kemana kau Nak..."
Ucap lirih Aiyla yang telah menyandarkan tubuhnya disebuah bangku tak jauh dari taman sekolah.
Tak berapa lama terdengar suara ponselnya berdering. Tertera nama Ergin dipanggilan masuk tersebut.
"Sayang...Kau dimana?"
Suara laki-laki itu terdengar cemas dengan gaya biasa meminta untuk tidak gegabah.
Tubuh Aiyla yang bergetar dengan wajah pucat segera dipeluk oleh Ergin. Ada rasa hangat dan perlahan membuat dirinya bisa mengontrol emosinya.
"Sayang...Aku telah meminta Buraq untuk masalah ini. Kau tenang saja, ingat kau sedang hamil. Azzam pasti akan segera kita temukana."
Ungkap Ergin seraya membelai lembut punggung dan puncak kepala Aiyla. Wanita itu barulah mengeluarkan bulir bening dari ujung matanya.
"Ergin... Cepat temukan putra kita, " ucap lirih Aiyla seraya memandang wajah suaminya.
Sebuah sentuhan tepat didahi Aiyla dengan isyarat mata Ergin memberikan keyakinan pada istrinya. Aiyla menatap dalam kemanik biru suaminya.
Kini terdengar suara dari ponselnya, sebuah pesan singkat terkirim padanya. Pesan itu menambah kekalutan Aiyla.
Didalam pesan singkat tersebut berisikan sebuah perintah dari sang penculik. Terlihat jelas dari kalimat dipesan singkat tersebut. Seraya membaca berulang-ulang meyakinkan bahwa putranya sedang diculik seseorang.
"Ergin... "
Ucap Aiyla seraya menunjukkan pesan singkat yang baru saja dibacanya.
__ADS_1
"Aku ingin kau pergi sendiri disebuah gudang bekas pabrik sepatu dijalan x untuk menemui putra mu yang kini bersama ku. "
Sebuah pesan dari nomor yang tak tersimpan diponselnya. Ergin langsung memberikan isyarat untuk Aiyla menjawab pesan singkat tersebut.
"Baiklah... Aku akan datang sendiri."
Balas pesan singkat yang dikirim Aiyla untuk nomor baru itu.
Aiyla berjalan bersama suaminya menyetop sebuah taxi lalu menaikinya bersama, dimana Ergin telah bersembunyi didalam taxi sampai pada saat alamat yang dimaksud telah dekat.
Setibanya ditempat yang dimaksud, dengan jantung berdebar dan berusaha untuk melangkahkan kaki masuk kedalam gudang bekas pabrik sepatu tersebut.
Langkah kaki Aiyla begitu pasti walau gemuruh didadanya semakin kencang. Aiyla memperhatikan segala yang ada disekitar gudang bekas pabrik sepatu tersebut.
Terdapat seseorang yang telah berdiri menyambut Aiyla dengan tatapan matanya yang tajam. Senyum sinis mengukir diujung bibirnya.
Lelaki itu menuntun Aiyla memasuki kesebuah ruang dan berjalan tanpa sedikitpun mengeluarkan suara.
Setibanya disebuah ruangan yang tertutup, laki-laki itu berhenti dan membuka pintu tersebut dengan mendorongnya begitu saja.
"Selamat datang Aiyla."
Terdengar suara yang tak asing seraya tepukan tangan menyambut Aiyla setelah masuk kedalam salah satu ruang yang ada didalam gudang bekas pabrik sepatu tersebut.
Aiyla bertambah terkejut melihat laki-laki yang tak lain adalah orang yang dikenal olehnya. Dengan senyum sinis laki-laki itu menatap Aiyla.
Tidak terlihat putranya didalam ruang tersebut. Hati Aiyla bertambah risau karena tak dapat melihat keberadaan dari Azzam.
"Dimana putra ku!!!"
Terdengar suara lantang dari Aiyla dengan mata menatap tajam kelaki-laki yang ada dihadapannya.
Hanya tawa yang terdengar dari balasan perkataan yang keluar dari mulut laki-laki itu. Menunjuk kesalah satu sisi disudut ruang tersebut.
Mata Aiyla terbelalak, melihat tubuh kecil putranya yang terbaring diatas sebuah sofa. Aiyla berlari mendekati Azzam yang telah tak sadarkan diri.
"Kejam!!! Kau apakan putra ku!!!
Terdengar teriakan Aiyla seraya memangku kepala putranya dan berusaha membangunkan anak lelaki itu.
Pada saat Aiyla turun dengan cekatan Erginpun keluar dari pintu yang sama kemudian langsung bersembunyi dibalik sebuah tiang yang tak jauh dari gudang tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Ergin berusaha mengendap-mengendap memasuki kedalam gudang dengan berjalan penuh kehati-hatian.
Terdengar suara teriakan istrinya dari sebuah ruang yang ada didalam gudang bekas pabrik sepatu tersebut.