Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 76


__ADS_3

Duuuh Gimana menurut Reader? Sibabang Ergin resign dari perusahaan...lπŸ˜‰πŸ˜‰


Tulis dikolom komentar yaaa..😊😊


Sehabis ngebaca jangan lupa like, love, vote dan rate bintang 5 yessπŸ™πŸ™


Jom lanjut ngebaca...πŸ˜‰πŸ˜‰


🍁Happy Reading🍁


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Aiyla resah tidak biasanya Ergin tak memberikan kabar padanya. Azzam selalu menanyakan keberadaan ayahnya.


Ini masuk hari ketiga lelaki itu tak menghubungi nya, ada rasa rindu dan khawatir menyelinap direlung hatinya.


"Apakah lelaki itu telah menyerah akan cintanya? Atau dia mengikuti perkataan ibunya ? " Batin Aiyla berkecamuk dihati dan pikirannya.


Jika memang begitu adanya Aiyla tak mungkin memaksa lelaki itu. Satu hal yang sangat dikhawatirkan adalah putranya yang telah begitu dekat dengan sosok Ergin.


Seperti malam ini Aiyla harus memberikan alasan kesibukan kantor pada Azzam yang menyebabkan Ergin tak datang kerumah ataupun sekedar memberikan kabar.


Dreet...Dreet... Dreet...


Getar ponselnya yang terletak diatas meja membuyarkan lamunannya. Tertera nomor yang tak tersimpan dikontak ponselnya.


Aiyla tak ada niat untuk mengangkat panggilan masuk nomor baru itu. Dirinya enggan melayani nomor yang tak tersimpan dikontak ponselnya.


Ini panggilan yang ketiga dari nomor yang sama sebelumnya, Aiyla masih enggan menerima panggilan masuk itu.


"Aiyla... Ponsel mu berdering, mengapa tak mencoba menjawabnya. Terdengar sangat lama dan berulang kali. Bisa saja itu telpon penting dari seseorang," ucap Fusun dengan wajah serius.


Pada saat ponsel itu berdering untuk kesekian kalinya barulah Aiyla menerima panggilan masuk tersebut.


Terdengar suara wanita diseberang sana yang berbicara tanpa jeda dan terlihat bersemangat. Aiyla tak mengingat suara wanita yang ada dalam panggilan masuk tersebut.


Dirinya baru tersadar bahwa itu adalah asisten rumah tangga Ergin. Hanya satu malam Aiyla pernah menginap dirumah Ergin, tentu saja dirinya belum begitu akrab dengan suara Yaren.


"Nyonya Aiyla... Bisa anda kerumah ? Sudah 3 hari Tuan Ergin dirawat dirumah, ia selalu menyebut nama nyonya dan putra nyonya. Sopir akan menjemput nyonya malam ini," ucap Yaren tanpa jeda.


Terdengar kegelisahan dari suara asisten rumah tangga Ergin menyampaikan kabar tersebut. Itu tak berbeda jauh dengan Aiyla, wajahnya bertambah menjadi cemas dan khawatir.


Segera Aiyla bergegas untuk bersiap setelah mengatakan pada Yaren untuk secepatnya menjemput dirinya. Pikiran Aiyla tertuju pada pertemuan terakhirnya, mengapa secara tiba-tiba saja lelaki itu sakit.


"Apakah ada hubungannya dengan pertemuan dengan Nyonya Esma ? " Besit dalam hati Aiyla.

__ADS_1


Fusunpun ikut melihat kecemasan yang dirasakan oleh Aiyla. Wajahnya yang tadi cemas memikirkan Ergin yang tak kunjung memberi kabar kini bertambah setelah ia mengetahui keadaan lelaki itu yang sebenarnya.


"Kak... Malam ini aku akan menginap disana. Besok pagi akan ku minta sopir menjemput Azzam, karena saat ini Azzam telah tertidur jadi tak mungkin ku bawa," ucap Aiyla dengan suara lirih.


Terdengar bunyi bel dipintu apartemantnya, segera Aiyla membuka pintu dan benar lelaki yang menjadi sopir pribadi Ergin telah berada dihadapannya.


"Pak...Bagaimana keadaan Ergin?" Tanya Aiyla dengan wajah cemas.


Deru mobil melaju kencang selama perjalanan menuju apartemantnya Ergin terasa lebih lama dari biasanya.


"Nyonya Aiyla... Sudah tiga hari Tuan tidak masuk kantor. Keadaannya demam dengan suhu badan panas tinggi walaupun dokter telah memberikan obat padanya," ungkap Pak sopir dengan melirik spion yang terletak ditengah.


Sekitar 10 menit lebih cepat dari biasanya mobil hitam mengkilat telah memasuki parkiran yang ada di basmant apartemant.


Menaiki lift yang terasa lebih lama, sama dengan perjalanan Aiyla kemari. Yaren telah menunggu kedatangan Aiyla pada saat bel pintu itu dibuka.


"Selamat malam Nyonya, mari ikut saya," ucap Yaren dengan wajah masih terlihat cemas.


Terlihat oleh Aiyla sosok lelaki yang tengah terbaring diatas tempat tidur. Mata terpejam namun terlihat ketidaknyamanan disaat tidur.


Duduk disalah satu sisi tempat tidur seraya menyentuh lembut wajah Ergin. Terasa hangat ditelapak tangannya.


"Ya...Tuhan, tubuhnya panas sekali. Apakah malam ini telah diberikan obat ?" Ucap Aiyla dengan wajah menatap serius kearah Yaren.


Ternyata Ergin tak ingin bangun, walaupun telah berulang kali dibangunkan oleh Yaren. Dokter mengatakan bahwa hanya demam biasa, namun suhu tubuhnya tak kunjung turun karena obat yang diberikan tidak masuk ketubuh majikannya.


Awalnya lelaki itu hanya memanggil nama Aiyla dengan mata masih terpejam. Ergin seperti masih sedang dibawah alam sadarnya.


"Buka mata mu sayang... Ini aku Aiyla," bisik lembut ditelinga lelaki itu kembali.


Sentuhan lembut diwajahnya dan suara Aiyla yang terdengar ditelinganya membuat Ergin perlahan membuka mata.


"Aiyla... " Suara berat Ergin terdengar ditelinganya.


Aiyla merasa bahagia Ergin mau membuka matanya, lalu tersenyum tipis diujung bibirnya.


"Sayang... Aku akan suapkan makanan ini lalu makan obat yang diberikan oleh dokter," ujar Aiyla dengan memberikan sentuhan lembut dipunggung tangannya.


Tubuh Ergin dibuat senyaman mungkin untuk posisi duduk menyandar diujung kepala tempat tidurnya. Makanan yang telah disiapkan Yaren diambil Aiyla.


Dengan telaten Aiyla menyuapkan makanan masuk kedalam mulut lelaki itu. Ergin menatapnya dalam dengan tersenyum disudut bibirnya. Wajah Ergin terlihat pucat dan tak bersemangat.


Dengan menggunakan serbet Aiyla mengelap makanan yang menempel diujung bibir Ergin. Tangan Aiyla dipegangnya lalu mencium punggung tanggan wanita yang telah menyuapkan makanan dengan telaten.


"Sayang ini obatnya, setelah itu baru tidur kembali," ujar Aiyla dengan senyum menghiasi wajahnya.

__ADS_1


Terlihat dua lesung pipi diwajah wanita itu, menambah semangat Ergin yang tadi sempat menghilang. Wanita yang membuatnya tertarik itupun telah dengan sabar datang kemari dan mau mengurus dirinya.


"Sayang aku ingin kau tidur disamping ku," ucap Ergin dihadapan Yaren.


Mendengar perkataan dari majikanya, maka keputusannya memberitahu wanita ini adalah suatu tindakan yang tepat.


"Saya permisi Tuan... Nyonya jika ada yang diperlukan bangunkan saja saya," ucap Yaren seraya berlalu dari hadapan mereka berdua.


Senyum mengembang diwajah Yaren, dirinya yakin bahwa majikannya akan segera sembuh. Berjalan kearah pintu dan menuju kamar tidurnya.


"Baiklah sekarang... Kau harus tidur, " ucap Aiyla dengan tersenyum.


Dibenarkan bantal yang akan dipakai Ergin dan menggantikan pakaian Ergin yang telah basah oleh keringat.


Obat yang dikonsumsi telah menunjukkan reaksinya. Tubuh lelaki itu telah berkeringat pertanda suhu tubuh akan segera menurun.


"Dimana kau letakkan baju tidur mu," tanya Aiyla yang telah membuka lemari pakain Ergin.


Ergin hanya mengangkat kedua bahunya pertanda tak tahu karena semua yang menyiapkan adalah Yaren.


Aiyla membuka semua pintu pada lemari tersebut dan belum juga menemukan apa yang dicarinya.


"Sudahlah, panggil Yaren saja," ucap Ergin dengan wajah tersenyum.


Aiyla masih bersikeras untuk menemukan pakaian tidur lelaki itu. Dirinya tak ingin membangun Yaren hanya untuk hal kecil ini.


"Secepatnya kau menjadi istriku dengan demikian kau tak kesulitan seperti itu," ledek Ergin dengan mata genitnya.


Wajah Aiyla berubah menjadi cemberut seraya tetap mencari semua lemari yang ada didalam kamar Ergin.


"Sakit masih juga meledek ku," gerutu Aiyla dengan suara pelan.


Ergin mendengar suara pelan itu seraya tersenyum. Lelaki itu kembali bersemangat berbeda sebelum Aiyla datang ke apartemant ini.


"Yes... Aku menemukannya," ucap girang Aiyla seraya mengibas-ngibaskan kaos tipis tersebut.


Memberikan baju tersebut pada Ergin lalu Aiyla naik diatas tempat tidur. Dirinya tak membawa baju tidur karena terburu-buru.


"Sayang apa kau akan tidur dengan pakaian seperti itu ?" Ujar Ergin dengan tersenyum mencoba meledeknya.


Ergin meminta Aiyla untuk mencari pakaian tidur untuk Aiyla kenakan. Dengan terpaksa Aiyla menuruti saja perintah lelaki tersebut.


Dengan baju kaos tipis dan celana panjang sport yang dikenakan. Terlihat kebesaran ditubuh Aiyla karena Ergin lelaki dengan tinggi badan 185cm.


Akhirnya Ergin dapat tertidur pulas tanpa igauan menyebut namanya disepanjang malam seperti malam sebelumnya.

__ADS_1


Dengan tubuh Aiyla dipeluk erat oleh Ergin, terasa suhu tubuh lelaki itu telah menurun tidak sepanas pada saat diawal Aiyla menyentuhnya.


__ADS_2