
Gimana Reader.... 😊
Ergin telah membuat kesalahan dan baru kali ini meminta maaf.... Apa yang telah terjadi pada lelaki berjiwa dingin dan tanpa ekspresi itu... 😱
Tulis dikolom komentar yaaa😉
Like, vote dan love nya itu freeee
Author tunggu yaaaa😍
lanjut ngebaca... 😘
💚💚💚
Akhirnya meeting dengan perusahan kota x berjalan dengan lancar, mereka sangat suka dan senang atas kerjasama yang telah terjalin, terlebih lagi mereka dapat bertemu dengan arsitektur muda yang kreatif dan cerdas.
Setiba didalam pesawat Ergin dan Aiyla hanya diam dan tak sepatah katapun mereka ucapkan. Aiyla hanya melamun menerawang mengingat akan putranya yang sedang berjuang untuk sebuah kesembuhan.
Akhirnya dirinyapun tertidur, entah berapa lama Aiyla tertidur dikursi kelas bisnis didalam pesawat. Sedangkan Ergin melihat wanita yang ada dihadapannya tertidur begitu pulas, mengukir senyum tipis diujung bibirnya.
"Aku tak mengerti akan sikap mu... Disaat aku hanya menguji mu saat itu, kau malah menerimanya. Dan disaat aku meminta mu untuk tidur denganku dengan uang dua kali lipat dari sebelumnya, kau malah menolaknya. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada mu, " batin Ergin seraya menatap dalam pada wanita yang membuat hatinya bergemuruh kali ini.
Sungguh makan malam tersebut membuat hatinya bergemuruh hebat, entah mengapa Ergin merasa tak terima jika lelaki lain memuji dan menatap penuh nafsu pada Aiyla.
"Aku sudah hilang akal, aku masih tak percaya," umpatnya setelah mengingat kejadian malam itu.
Mendengar suara dari seseorang yang sedang mengumpat terdengar ditelinganya, membuat Aiyla terbangun dari tidurnya. Diusapnya kedua mata yang tak gatal dengan kedua punggung tangan secara bersamaan.
Ergin terkejut ternyata suaranya terdengar oleh Aiyla dan membangunkan wanita itu. Berusaha menghilangkan keterkejutan dengan kembali membaca sebuah buku tebal yang masih ada ditangannya.
Aiyla tak menyangka bahwa lelaki tersebut membaca buku tentang kumpulan syair-syair dari penyair bergendre percintaan setelah membuka matanya.
"Wajah tanpa ekspresi, berjiwa dan berhati dingin sedang membaca bacaan tentang percintaan," umpat Aiyla dalam hati setelah dirinya tahu dengan jelas buku yang dibaca lelaki dihadapannya itu.
Tubuhnya merasa lebih baik setelah menghabiskan tidur selama dipesawat dan kini mereka berdua telah berada pada sebuah mobil yang talah lama menunggu kedatangan mereka dibandara.
Terdengar suara ponsel berdering, ternyata dari ponsel Ergin. Lelaki itu merogoh ponsel yang terletak disaku jas bagian dalam.
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya? Apakah perusahan tersebut puas dengan apa yang kita punya?" tanya Murad yang penasaran.
Ergin menjelaskan dengan detail tentang pertemuan mereka berdua dengan relasi dikota x, terkecuali yang satu itu Ergin tak menceritakan bahwa dirinya telah merasakan sesuatu yang berbeda dari sikap biasanya.
"Ooo...Baguslah, bagaimana dengan Aiyla?Apakah kalian bisa akur selama disana? " ledek Murad pada sahabatnya itu dengan tertawa geli diakhir pembicaraannya.
Sudah tentu Ergin tak menjawab, apalagi wajah wanita yang ada disampingnya yang tidak tersenyum sama sekali sedang menatap kearah dirinya.
Aiyla masih merasakan penghinaan yang telah dilakukan lelaki itu, yang menjadi atasan number one diperusahan tempat dirinya bekerja.
"Tuan...Apakah Tuan akan langsung kekantor ?" tanya sang sopir untuk memastikan tujuan yang akan dilakukan atasannya.
Ergin tersenyum lalu berkata:" Kita berhenti ditepi laut itu."
Pada saat mereka berdua didalam mobil, Aiyla hanya menatap wajah lelaki dihadapannya yang terlihat tersenyum padanya.
Saat itu mobii berhenti, seperti yang dikatakan Ergin. Menepi disatu sisi jalan, dan lelaki yang sedari tadi fokus menyetir kini telah berada diluar membuka pintu mobil bagi mereka berdua.
Aiyla hanya mengikuti saja langkah kaki lelaki tersebut menuju sebuah meja dengan dua kursi. Pandangan mata mereka berdua menghadap laut lepas, ya tempat mereka berhenti adalah pinggir laut yang sepanjang tepinya dipenuhi dengan tempat duduk untuk menikmati suasana disaat sore hari seperti ini.
"Mau apa kita berhenti dan duduk disini? "tanya Aila sembari menatap wajah lelaki yang kini berada disampingnya.
"Maaf aku telah membuat mu marah, atas perkataan ku sewaktu dikota x. Rasanya sampai detik ini begitu banyak pertanyaan yang muncul dikepala ku, untuk apa uang yang kau dapatkan dari ku itu? " ungkap Ergin kali ini dengan menatap kearah wajah Aiyla.
Kali ini perkataan lelaki itu lembut dengan ekspresi wajah sendu dan penasaran agar apa yang diungkapkan oleh dirinya baru saja dapat terjawab oleh Aiyla.
Terdengar lebih bersahabat dari perkataan yang dilontarkannya kali ini, menandakan seperti mereka memiliki hubungan sudah lebih dekat antara satu sama lainnya.
Aiyla menatap dalam wajah lelaki yang ada disampingnya, seperti ada yang berbeda dari biasanya lelaki itu menatap dirinya.
Datar tanpa ekspresi, bahkan seperti enggan melihat wajah Aiyla pada saat bertemu, berbeda pada saat ini.
"Saya sudah katakan pada Tuan, untuk jangan menyinggung apa yang telah terjadi pada malam yang pekat itu, saya harap Tuan dapat mengerti dengan permintaan saya ini. Ini adalah kata yang terakhir kalinya Tuan berbicara hal yang sama," ucapa Aiyla seraya menatap lepas laut yang ada dihadapannya tanpa melihat ekspresi wajah lelaki yang ada disampingnya itu.
Setelah perkataan yang keluar dari mulut Aiyla didengar lelaki itu, timbul rasa kecewa bahwa apa yang diungkapkan Ergi belum terjawab dan ini adalah sebuah peringatan baginya sehingga diurungkan niat untuk berkata lebih lanjut.
"Kalau tidak ada sesuatu yang lain lagi, mari segera kita pergi dari sini," ucap Aiyla tanpa menghiraukan kekecewaan terlihat jelas diwajah lelaki itu.
__ADS_1
"Ahhkkkhh...Apakah aku telah melakukan kesalahan yang besar... Yang nantinya akan kusesali seumur hidup ini, " besit Ergin dengan perasaan bercampur baur didalam hatinya.
Bangkit dari tempat duduknya lalu berdiri dan berjalan menuju mobil yang terparkir disisi jalan tak jauh dari tempat mereka berdua duduk.
Deru mobil membawa mereka pada kediaman masing-masing dan disatu sisi Ergin masih memikirkan pertanyaan yang belum juga terjawab.
Tak menunggu waktu yang lama Aiyla segera membersihkan diri dan bergegas menuju kerumah sakit.
Tak sabar ingin segera bertemu putranya, dirinya hanya mendapatkan kabar dari dokter Ahmed tentang Azzam yang memperlihatkan kemajuan yang stabil pada kondisi tubuh pasca operasi besar.
"Ibu....Aku merindukan mu, " ucap Azzam dengan suara pelan dengan kedua tangan mengangkat kedepan sebagai tanda ingin didekapan tubuhnya.
Dengan langkah dipercepat Aiyla berjalan kearah putra yang juga dirindukannya itu. Pelukan erat pada tubuh kecil putranya begitu hangat masuk keruang hatinya.
Wajahnya masih terlihat pucat, tetapi Azzam menujukkan kemajuan yang baik pasca operasi besar itu.
"Apa anak ibu sudah makan malam?" tanya Aiyla seraya membelai lembut rambut kepala putranya.
Dengan menggelengkan kepala pertanda belum, Aiyla melihat diatas nakas makanan yang masih utuh disana.
"Sebelum nyonya datang, saya hendak memberi Azzam makan, tapi terburu nyonya datang," ungkap petugas jaga yang masih berdiri tak jauh disamping Ayla memberikan penjelasan.
Melihat Azzam telah ada yang menjaga, petugas jaga itupun permisi dari ruang inap pasien.
Setelah makan malamnya habis dengan cara disuap, kini permata hatinya itupun tertidur dengan pulas.
Aiyla keluar ruangan dan menuju keruang dimana Fusun juga masih dirawat dirumah sakit.
Sebuah senyuman terukir diwajah pucat wanita yang masih terbaring lemah diatas kasur. Aiyla membalas senyuman dengan mata berkaca-kaca.
"Bagimana kabar kakak? Dokter bilang apa?" tanya Aiyla seraya membelai lembut lengan wanita yang terbaring diatas kasur itu.
Fusun menjelaskan bahwa dirinya dapat pulang setelah tiga hari lagi dirawat disini. Dokter ingin memastikan keadaan pasien jauh lebih baik sebelum pulang kerumah.
"Kak...Terima kasih, kalau tak adanya kakak yang bermurah hati menolong putraku, sampai detik ini Azzam masih akan merasa kesakitan," ungkap Aiyla dengan bulir bening telah jatuh dari ujung mata dan kini membasahi kedua pipinya.
Fusun sekali lagi tersenyum dan dengan pelan diraihnya tangan Aiyla, seraya menatap dalam kewajah wanita tegar yang berada disampingnya itu.
__ADS_1
"Kau adalah saudari ku, terima kasih telah membawa aku masuk kedalam keluarga mu La... Merasakan dicintai dan disayang seperti yang pernah aku dapatkan dari saudara lelaki yang telah meninggalkan ku," balas Fusun yang telah mengeluarkan bulir bening yang sama dari sela matanya.
Akhirnya mereka berpelukan dengan sangat eratnya, seakan memberikan harapan besar bagi keduanya untuk lebih baik didalam kehidupan mereka berdua.