Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 123


__ADS_3

Gimana menurut kalian... Semakin menarik ga ceritanya? πŸ˜‰πŸ˜‰


Tulis dikolom komentar ya... πŸ‘‡


Salam hangat dan manis untuk reader semua... 😎


Jangan lupa beri dukungan pada Author yaa


Disetiap akhir bab...😍😍


Jom lanjutπŸ’¨πŸ’¨πŸ’¨


πŸ’’Happy ReadingπŸ’’


πŸ’“πŸ’“πŸ’“


"Apa!! "


Suara Gul terdengar lebih tinggi dari biasanya. Seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu.


Murad menatap wajah wanita yang memberikan reaksi terkejut. Entah apa yang ada dihati dan pikiranya saat ini.


Yang jelas dia tak ingin wanita ini menikah lantaran perjodohan, sehingga ia tiba-tiba saja menawarkan dirinya.


"Tuan... Bagaimana mungkin? Tuan berpura-pura menjadi kekasih saya. Lambat laun mereka akan mendesak kita untuk segera menikah juga. "


Suara lirih kembali terdengar ditelinga Murad. Rasa putus asa masih terlihat jelas diwajah Gul.


"Bawa saja aku menemui mereka, minimal kau bisa bernafas lega tidak didesak untuk segera menikah. Kita bisa mengulur waktu sampai kau menemukan calon suami sebenarnya."


Hati Gul terenyuh mendengarkan saran dari Murad. Lelaki itu memang tak memiliki hati dan perasaannya pada diri Gul.


Dia hanya membantu Gul mencari solusi untuk masalah yang sedang dihadapi olehnya.


"Andai kau mengerti apa yang kurasakan saat ini... Lelaki yang ku harapkan menjadi suami ku adalah kau Tuan."


Terdengar suara pelan yang keluar dimulut Gul setelah Murad berjalan keluar ruang kerja Aiyla. Gul tak menyadari suara pelannya dapat terdengar, Murad bisa mendengar keluh kesah wanita dibelakangnya.


Ini adalah kedua kalinya wanita itu menyatakan cinta padanya tapi tak secara langsung. Gurat senyum terlihat diwajah Murad.


Gul yang melihat punggung laki-laki itu menjauh ada rasa sedih menyelinap dihatinya. Akan tetapi langkah kaki Murad terhenti seketika, laki-laki itu membalikkan tubuhnya dan kini berjalan kembali mendekati Gul, membuat gemuruh dihatinya terasa lebih kencang.


"Apa suara ku tadi terdengar oleh Tuan Murad... Aduuh gimana ini!! "

__ADS_1


Besit didalam hati Gul dengan gejolak didadanya. Murad menatap dalam kearah Gul sedangkan wanita itu mengigit bibirnya merasakan gejolak didada seakan tak dapat terkendali olehnya.


"Nanti malam bawa aku menemui kedua orang tua mu. "


Ucap laki-laki itu seraya mengedipkan matanya sebelah kanan. Sikap genit terhadapnya dipertunjukkan pada Gul.


Gemuruh didadanya seketika saja menghilang, kini rasa senang mekar dihatinya.


"Biarlah...Dia jadi kekasih settingan, yang jelas aku merasa senang walaupun kesenangan itu bersifat semu bagi ku."


Terdengar suara lirih Aiyla kembali seraya keluar dari kantor Aiyla.


"Terima kasih Aiyla... Kau memang sahabat ku yang the best."


Besit Hati Gul setelah mengingat akibat dari tindakan sahabatnya itu, yang menceritakan pada Murad permasalah dirinya dan sekarang lelaki itu bersedia membantunya.


Gurat senyum kembali terlihat, hatinya kembali berbunga-bunga.


Disatu sisi Ergin dan Aiyla telah berada disebuah cafe tak jauh dari kantor. Ergin membutuhkan penjelasan lebih lanjut dari istrinya. Dia mengerti isyarat yang diberikan padanya pada saat keluar dari ruang kerjanya, tapi tidak seutuhnya.


"Sayang... Apakah Gul dan Murad punya hubungan? Tapi kalau punya hubungan mengapa orangtuanya ingin menjodohkan Gul."


Rasa penasaran terdengar dinada suara laki-laki dihadapannya. Ergin sepertinya lebih antusias ingin mengetahui apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua.


"Gul memang memiliki perasaan terhadap Murad, tapi laki-laki itu tak mengetahuinya. Aku punya feeling Murad juga menyukai Gul cuma tak menyadarinya."


Ada rasa sedikit lega dihati Ergin, sekarang ia tahu bahwa Murad juga memiliki hati terhadap wanita lain.


Dengan demikian obsesinya terhadap Aiyla akan berkurang. Ergin tahu bahwa laki-laki itu masih membenam rasa ketertarikan pada istrinya.


"Semoga mereka bisa menjalin hubungan lebih serius."


Ungkap Ergin seraya menyeruput Coffee dan membasahi kerongkongannya. Gurat senyum terpancar dikedua mata biru milik Ergin.


"Sayang... Kau terlihat senang mendengar Gul dengan Murad? Terus apa yang kau bicarakan pada laki-laki itu setelah bertemu dengannya dilobi ?"


Pertanyaan yang membuat Ergin terkejut terutama pertanyaan Aiyla yang diawal kalimat. Lelaki itu menjadi salah tingkah dan sedikit panik.


Laki-laki itu tak mungkin memberitahukan bahwa Murad memiliki hati pada istrinya. Dia tak ingin istrinya memikirkan laki-laki lain.


Awalanya mereka membicarakan tentang perasaan Murad terhadap Aiyla. Dengan jujur Murad memang belum bisa menghilangkan rasa ketertarikan pada Aiyla.


Ergin tertegun dengan perkataan jujur dari sahabatnya itu. Berusaha untuk tak tersulut emosi karena ia yakin Aiyla telah memilih dirinya.

__ADS_1


"Sayang... Mengapa malah termenung ? apa yang kau bicarakan dengan Murad. " Ucap Aiyla penuh dengan penekanan.


"Hanya excited saja jika benar sahabatmu bisa menjadi pasangan dari sahabat ku. "


Ledek Ergin pada istrinya yang terkesan serius menatap wajahnya. Kini setelah mendengar candaan yang dikatakan suaminya mengubah reaksi diwajah Aiyla lebih terlihat santai.


Dreet...Dreeet...


Terdengar panggilan masuk melalui getar diponselnya. Aiyla melirik ponsel yang terletak diatas meja tanpa mengambilnya.


Panggilan masuk dari Gul, pada saat pertama diterima oleh Aiyla tapi keburu putus. Kini kali kedua ponsel itu bergetar kembali.


"Aiyla... Laki-laki itu ingin membantu ku. Terima kasih sayaaang."


Terdengar suara riang Gul memberikan informasi padanya bahwa apa yang telah dilakukannya membuahkan hasil.


Wanita itu terdengar bahagia dari suara yang masuk ketelinga Aiyla. Murad memang memiliki rasa pada sahabatnya itu tapi tak disadari olehnya.


Akhirnya Gul menutup panggilan keluar setelah sekitar 5 menit berbicara. Wajah Aiylapun tersenyum-senyum mendengar setiap perkataan dari sahabatnya itu.


Ergin menjadi penasaran melihat wajah Aiyla saat menerima panggilan masuk dari ponselnya itu.


"Ada apa sayang? Siapa yang menelpon?"


Terdengar suara Ergin yang penasaran dengan panggilan yang baru saja diterima dengan raut wajah bahagia.


"Apa ku bilang...Murad memang ada rasa terhadap sahabat ku itu. Buktinya ia mau menemani Gul untuk kenalkan dengan orangtuanya. Walaupun hanya settingan tapi ku yakin sahabat mu itu tertarik dengan Gul. "


Panjang lebar Aiyla menceritakan pada Ergin tentang Gul dan Murad. Dengan antusias, wanita itu menarik kesimpulan dari semua yang terjadi.


"Baiklah kalau begitu...Berarti hati ku juga ikut lega dan senang."


Ucap Ergin dengan tatapan mata penuh arti memandang wajah istrinya. Aiyla menyadari ada maksud tertentu dari perkataan yang keluar dari mulut suaminya itu.


"Terus apa yang kau bicarakan berdua dengan Murad?"


Kini balik Aiyla yang penasaran dengan pembicaraan dua laki-laki itu. Dengan wajah manja menutupi rasa penasarannya.


"Aku menanyakan soal kematian ayah ku, tapi Murad juga tak mengetahui. Aku berharap ia dapat cerita dari Nyonya Syukran perihal kematian ayah ku. Sepertinya aku akan menemui wanita itu, aku yakin dia tahu banyak tentang masa lalu ku. "


Dengan raut wajah sedih Ergin menceritakan perihal pembicaraan ia dengan Murad. Terselip rasa perih direlung hati Aiyla, bagaimana tidak laki-laki dihadapannya ini memang sungguh miris kehidupanya.


Hidup dengan segala yang dia punya tapi jauh dari rasa kasih sayang dan cinta yang didapat dari orang yang benar-benar memiliki ikatan darah padanya.

__ADS_1


"Aku memiliki firasat bahwa telah terjadi sesuatu terhadap ayahku!! "


Perkataan Ergin yang membuat hatinya bergemuruh, bisa saja kemungkinan itu terjadi melihat sikap dan tindakan yang telah dilakukan Nyonya Esma.


__ADS_2