
Hai... Hai... Hai...👋👋👋
Author hadir dengan sejuta rasa...💟💟
Semoga Reader tetap setia membaca tulisan Author..👌👌👌
Tinggalkan jejaknya sebagai penyemangat jiwa dan raga Author...👇👇👇
Don't forget to like, love, vote, gift and rate star 5😉😉
Salam hangat untuk Reader setia... 😍🙏
💞Happy Reading 💞
💙💜💚❤💛
Tubuh Aiyla terasa sakit setelah sadar dari pingsannya dan melihat disekeliling ruang yang ada disana.
Sebuah ruang dengan dinding tinggi terlihat dua lelaki bertubuh tegap sedang berdiri didepan pintu dan satu orang lagi sedang santainya duduk disebuah kursi yang ada diruang besar tersebut.
Kedua tangan Aiyla terikat kebelakang dengan posisi duduk diatas kursi begitu juga kedua kakinya diikat dengan mengguna tali.
Terasa sakit dipergelangan tangan dan kaki karena ikatan itu terlalu ketat. Aiyla masih tak bisa mengingat mengapa sampai seperti ini.
"Siapa kalian!!!! Apa yang kalian inginkan!!! " teriak Aiyla dengan suara lantang.
Lelaki yang sedari tadi duduk dikursi berdiri dan berjalan mendekati Aiyla. Dengan wajah sombong dan tak memiliki jiwa dan perasaan menatap dengan mata nanar.
Memegang kuat rahang Aiyla dan terasa hembusan nafasnya diwajahnya, Aiylapun menatap dengan sama pada lelaki itu.
"Aku hanya diminta untuk membawa mu kemari dan menjaga wajah cantik serta tubuh indah ini dengan sebaik-baiknya. Untuk itu jangan pancing aku untuk berbuat kasar pada mu sayang...." Ungkap lelaki itu dengan senyum merendahkan dan mata penuh kesombongan.
Hanya bisa menatap lelaki itu dengan mata kesal dan penuh tanda tanya dihati Aiyla, siapa dalang dibalik penculikan dirinya ini.
"Siapa bos mu...Siapa yang meminta mu untuk melakukan ini!!! " Teriak keras Aiyla tanpa rasa takut.
Gertakan lelaki itu tidak membuat hati Aiyla menciut. Sebenarnya lelaki itu tidak akan berani menyakiti Aiyla. Mereka bertiga hanya diminta menculiknya saja tanpa akan melakukan kekerasan pada diri wanita ini.
__ADS_1
"Jika kau tak ingin ku tutup mulut mu, sebaiknya kau diam!!!! " Balas lantang lelaki berkepala plontos itu.
Tak ada guna Aiyla berbicara dengan mereka terutama lelaki berkepala plontos itu, lelaki itu seperti pimpinan mereka berdua yang berdiri didepan pintu dengan tak bergeming sedikitpun.
Aiyla pasti tidak mendapatkan informasi apapun. Dilihatnya kembali diseluruh ruang besar tempat ia disekap saat ini.
Sebuah gedung yang tak terpakai karena terlihat kotor dan berserakan. Aiyla mencari celah untuk dirinya kabur dari penculikan ini.
Mencoba menyusun rencana dan mencari kesempatan lengah dari ketiga lelaki yang ada didalam ruangan tersebut.
Aiyla telah mengetahui keadaan didalam ruangan ini, hanya ada akses keluar yaitu pintu yang dijaga kedua lelaki bertubuh tegap. Sedangkan disekelilingnya tak ada celah yang dapat Aiyla tempuh untuk keluar dari ruang ini.
Hanya ada jendela namun terlalu tinggi tak mampu Aiyla sampai kesana.
"Hei... Hei... Aku ingin buang air kecil, " ucap Aiyla dengan memasang wajah serius agar mereka percaya dengan perkataannya.
Lelaki berkepala plontos itu memberi isyarat dengan matanya pada salah satu lelaki yang berdiri tegap didepan pintu itu.
Membuka ikatan dikedua pergelangan tangan dan kaki Aiyla yang telah terasa kram karena aliran darah yang tak mengalir dengan lancar.
"Ayo cepat, Jangan harap untuk berpikir kabur," gertak lelaki itu.
Aiyla melihat lokasi diluar gedung, ternyata ini adalah lokasi yang tak jauh dari pertemuan dirinya dengan Ergin.
Terdapat lahan luas dengan beberapa gedung yang terbelengkalai. Jikapun ia lolos maka akan sangat jauh dari bantuan. Hanya terdapat jalan raya dengan hamparan dataran yang ditumbuh ilalang.
"Apa yang harus ku lakukan...Oh Tuhan bantu aku untuk bisa melewati ini semua," besit Aiyla dalam hatinya.
"Ayoo cepat jalan!!! " ucap ketus lelaki itu tanpa sedikitpun belas kasihan.
Disalah satu sisi Ergin seperti orang gila, kepanikan dan kegelisahan mengetahui Aiyla telah diculik.
Berharap penculik itu segera menghubungi dirinya, sehingga ia tahu dimana lokasi mereka.
"Tuan ada petunjuk, orang kita telah menemukan lokasi Nyonya Aiyla. Ini tak jauh dari lokasi ini," ucap asistennya dengan suara tegas dan penuh kesungguhan.
Seperti angin segar bagi Ergin mendapatkan secercah harapan untuknya bisa menyelamatkan wanita yang begitu berharga didalam kehidupannya.
__ADS_1
"Bersabarlah sayang... Aku akan segera menolong mu!!! " Batin Ergin dengan wajah optimis.
Melangkah kaki dengan langkah lebar dan cepat. Lelaki itu masuk kedalam mobil dan diikuti oleh asisten pribadinya.
Digenggam erat kedua tangannya, menahan rasa yang hampir ingin meledak dihatinya. Ergin berusaha untuk tidak gegabah atau memberikan hal yang membahayakan jiwa Aiyla.
Akhirnya mobil itu berhenti. Ergin dan beberapa orang pengawal pribadinya turun dari mobil. berjalan dengan cepat dan menyebar keseluruh lokasi yang diperkirakan Aiyla disekap disana.
Benar saja dari kejauhan dilihatnya seorang wanita yang sedang berjalan. Wanita itu adalah Aiyla, senyum tipis Ergin terlihat diujung bibirnya.
"Aku akan segera datang... Bersabarlah sayang," besit Ergin yang terus berjalan merunduk disela-sela ilalang.
Pengawal pribadi Ergin menemukan celah untuk masuk kedalam dengan sebuah rencana untuk menyelamatkan wanita yang mereka lihat memasuki kedalam gedung tersebut.
Misi pun berhasil, salah satu pengawalnya telah berada dilokasi yang paling dekat jaraknya dengan Aiyla.
Akhirnya ada peluang yang didapatkan pegawal pribadi Ergin, terdengar suara tembakan dari dalam gedung dan luar gedung.
Pengawal pribadi Ergin yang bertiga telah sahut menyahut mengeluarkan tembakan. Ergin diberikan kode untuk masuk kedalam ruangan tersebut setelah tak terdengar suara tembakan.
Satu orang lelaki yang berdiri tegap didepan pintu kini telah tergelatak dengan luka tembakan tepat dibagian dadanya. Tersisa dua orang lagi.
Satu orang lelaki, yaitu menjadi pimpinan mereka bertiga telah menodongkan senjatanya tepat dikepala Aiyla. Lelaki itu menyeret dengan paksa tubuh Aiyla untuk berjalan dengan mengancam akan menembak wanita yang ada dalam dekapannya.
Pengawal pribadi Ergin diminta untuk menurunkan senjata secara perlahan diatas tanah tempat mereka berdiri.
Ketiga lelaki dan termasuklah Ergin dan asistennya menuruti perintah lelaki yang menatap dengan sorot mata tajam.
Lelaki yang satunya mengambil senjata mereka dan memasukan kedalam belakang pinggangnya kemudian sisanya dikeluarkan peluru dari dalam senjata tersebut.
Aiyla menatap wajah Ergin dengan tatapan meminta lelaki itu tidak gegabah. Dekapan lengan lelaki itu tepat didada Aiyla. Terasa kuat sekali membuatnya tak bisa bernafas dengan lega karena dekapan lengan lelaki itu kini tepat dilehernya.
Wajah Ergin penuh dengan amarah dan tak sanggup melihat lelaki itu memperlakukan Aiyla seperti itu.
Pengawal pribadi Aiyla memberikan isyarat satu Sama lain. Mereka mendapatkan peluang untuk mengalihkan perhatian lelaki tegap yang memiliki tato dilengannya itu.
Dengan hitungan mata mereka bergerak cepat dan melumpuhkan satu lelaki itu, terdengar dua kali tembakan mengudara. Dua orang tumbang seketika dan tersungkur ditanah.
__ADS_1
"Ergiiiiin......." Teriak lantang Aiyla seraya berlari.
Aiyla melihat tubuh laki-laki itu telah tergeletak ditanah dengan darah segar merembes disela jasnya.