Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 131


__ADS_3

Hai... Hai... Hai... 👋👋👋


Author sedih 😭 habis sedikit sekali yang meninggalkan jejaknya...😭


Ayoo... Perlihatkan keberadaan kalian Reader tercinta 😘😍


Berikan semangat 🔥🔥 dan support pada Author yang telah memberikan kenikmatan dalam bentuk tulisan yang kalian baca Guy's 😉😎


Dengan cara memberikan tanda 👍, menekan tanda 💙 agar selalu masuk notis up perharinya, berikan Vote dan Gift sebagai rasa menghargai tulisan Auhtor yang telah Readers baca 🙏


Baiklah... Jom Lanjuuut 👌


♥ Happy Reading ♥


💘💘💘


Semilir angin dingin mulai terasa dikulit Aiyla walaupun telah memasuki musim semi. Angin membelai lembut rambutnya yang terurai.


Aiyla sengaja duduk sendiri ditaman yang terdapat dirumah besarnya. Azzam sedang bermain dengan riang bersama mainannya.


Dari kejauhan ia memperhatikan putranya saja yang begitu asik bermain sendiri. Tak terasa Azzam tumbuh dengan sehat dan tak terlihat lagi rasa kesakitan diparas tampan putranya.


Pikirannya kembali terlintas beberapa tahun sebelumnya, disaat perjuangannya mencari kesembuhan pada putranya.


Tuhan memang adil padanya... Saat dulu dirinya berprasangka hanya ada warna hitam dikehidupannya. Tapi lihatlah sekarang Aiyla dapat tersenyum melihat putranya dan mendapatkan sosok laki-laki yang sangat mencintainya.


"Nyonya...Ada nona Dishya. Apakah nyonya mau menemuinya? "


Ucap Yaren dengan wajah serius menatap Aiyla. Asisten pribadi mereka telah mengetahui penyebab mereka berdua bertengkar kemaren karena ulah wanita muda itu.


"Bawa Dishya kemari..."


Balas singkat Aiyla dengan menatap balik kearah Yaren yang terlihat cemas dimatanya mendengar perkataan dari Aiyla.



"Ada apa ? Mencari suami ku sampai kerumah ku!! "


Ucap Aiyla dengan wajah sinis menatap kearah Dishya.


Aiyla akan memainkan perannya yang seolah-olah cemburu dengan kehadiran wanita muda itu. Seperti yang disampaikan oleh suaminya itu.


Ergin lupa mengatakan pada Aiyla bahwa ia telah dapat mengendalikan semua keadaan sehingga Dishya dapat mengerti atas kesalahan yang telah dilakukannya.

__ADS_1


Pagi ini wanita muda itu sengaja mencari Aiyla bukan suaminya. Seperti semalam yang diucapkannya akan meluruskan kesalah pahaman terhadap dirinya dan Aiyla.


"Aiyla...Aku minta maaf. Aku kesini untuk menemui mu. Meluruskan kesalah pahaman antara kita berdua."


Ucap Dishya dengan wajah tertunduk terlihat dimata Aiyla, wanita itu penuh dengan kesungguhan dan ketulusan.


"Apa... Apa aku tak salah dengar ?"


Balas Aiyla dengan wajah menatap lekat kearah matanya. Aiyla meminta untuk duduk dan berbicara dengan baik.


Menjelaskan maksud dari pertanyaannya yang barusan didengar Aiyla. Dishya mengikuti langkah Aiyla mendekati kursi yang ada ditaman tersebut.


Cukup lama mereka berdua berbicara, Dishya menceritakan semuanya pada Aiyla. Tentu saja itu membuat dirinya terkejut.


Nyonya Esma berhati iblis dengan rencana yang telah diaturnya sehingga membuat bibi nya mau tak mau mengikuti segala kehendak dari Nyonya Esma.


Kekuasan keluarga Ozturk memang tak bisa dianggap remeh, sampai saat ini. Wanita itu memanfaatkan kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki keluarga Ozturk, menekan bibi Aiyla yang hanya seorang diri dikota sebesar ini.


"Sungguh kejam... Kau tahu Dishya wanita yang kita bicarakan itu adalah saudara tiri ibu ku. Elif Sadoglu adalah bibi ku dari ayah yang berbeda. Aku dan Ergin bukanlah orang lain, kami adalah saudara sepupu."


Terdengar suara parau dan berat dari Aiyla, bulir bening membasahi wajahnya. Dishyapun larut dalam kesedihan yang dirasakan Aiyla begitu juga rasa sakit teringat akan Ergin yang harus berpisah dengan ibu kandungnya secara keji.


"Wajar wanita tua itu menaruh benci terhadap mu. Ternyata kalian memiliki hubungan keluarga."


Dadanya terasa sesak dan kepalanya merasakan pusing yang amat hebat. Seketika wanita itu lemas dan merasakan tubuhnya tak memiliki tenaga.


Aiyla yang duduk disamping Dishya tiba-tiba hilang kesadarannya. Beruntung wanita muda itu berada tepat disampingnya.


Dengan wajah cemas dan panik Dishya berteriak sekuat-kuatnya memanggil Yaren. Wanita paruh baya yang sedang berada tak jauh dari mereka berdua secepat kilat datang dengan tergopoh-gopoh.


"Ya... Tuhan. Nyonya Aiyla!!!"


Teriak Yaren setelah melihat Aiyla dalam pelukan Dishya.


"Apa yang terjadi, apa yang telah nona Dishya lakukan padanya!! "


Ucap keras Yaren dengan wajah tak senang. Mendengar teriakan Yaren membuat Fusun yang sedang bersama Azzam seketika berlari diikuti oleh Azzam.


Azzam dibawa oleh Yaren masuk kedalam rumah agar tak bertemu dengan Dishya pada saat kedatangan wanita itu dan menghampiri Aiyla.


Azzam melihat ibunya yang terkulai lemas dipelukkan wanita asing, mengguncang tubuh Aiyla dengan sekuat tenaganya tapi tak membuat Aiyla sadar.


Tangisan Azzam telah pecah melihat ibunya yang tak bangun walau sekerasnya ia berteriak dan mengguncang tubuh Aiyla.

__ADS_1


Fusun segera menelpon Ergin dengan tangan bergetar menekan layar yang ada diponselnya.


Cukup lama ia melakukan panggilan keluar namun tak ada balasan dari Ergin. Berulang kali wanita itu melakukan panggilan keluar tapi hasilnya sama tak ada jawaban dari panggilan tersebut.


"Telpon Buraq. " Ucap Yaren yang kini telah mengambil alih posisi Aiyla dalam pelukan Dishya.


Wanita itu tak mempercayai wanita disamping majikannya itu. Dengan memeluk tubuh Aiyla dengan derai air mata.


Terdengar suara laki-laki itu menerima panggilan keluar Fusun. Dengan wajah pucat dan panik mendapatkan kabar mengenai istri atasannya.


"Aku akan segera kesana dengan membawa ambulan."


Ucap tegas suara laki-laki itu dan segera memutuskan panggilan masuk tersebut.


Ergin sedang keluar dan bertemu dengan client. berulang kali Buraq menelpon namun sama sekali tak mendapatkan jawaban.


Buraq menekan pedal gas mobilnya semakin dalam, berusaha secepatnya sampai dirumah atasannya itu. Ambulanpun telah beriringan dengan mobilnya.


Sekitar 15 menit dengan kecepatan tinggi Buraq telah sampai dikediaman Ergin. Dengan sigap petugas kesehatan memberikan pertolongan pertama untuk Aiyla.


"Tuan... Nadi Nyonya ini begitu lemah, kita harus segera membawa kerumah sakit. "


Ucap salah satu petugas yang ikut bersama Buraq. Dengan wajah pucat, cemas dan panik dirasakan semua yang ada disana setelah mendengar perkataan dari petugas tersebut.


Mobil ambulan telah membawa tubuh Aiyla menuju kerumah sakit terdekat. Dishya bersama dengan Buraq mengikuti dari belakang.


Sedangkan Yaren pergi bersama petugas kesehatan menaiki mobil ambulan tersebut. Tertinggal Fusun dan Azzam yang menangis melihat kepergian mereka.


Fusun berusaha mengendalikan emosi dan perasaannya agar dapat menenengkan putra Aiyla yang terkejut melihat ibunya itu.


"Sayang... Ayo kita berdoa, semoga ibu mu memdapatkan pertolongan dengan cepat dan segera sadar. "


Dengan terbata-bata Fusun berkata pada Azzam. Anak lelaki itupun masih menangis tersedu. Terlihat kecemasan diwajah putra Aiyla.


"Bibi... Apa yang terjadi pada ibu, mengapa ia tak bangun padahal sudah aku panggil dengan keras? "


Terdengar suara polos dari Azzam disela tangisannya yang belum berhenti. Fusun memeluk tubuh Azzam sekuatnya.


Mengelus puncak kepalanya dan mencium dahi anak lelaki itu dengan wajah sedih.


"Sayaang... Ibu mu sedang tak sadar. Ia tak bisa mendengar panggilan mu itu. Kita berdoa saja semoga secepatnya ibu mu sadar ya nak!"


Ucap Fusun dengan bulir bening yang berusaha ditahannya agar tak jatuh kembali.

__ADS_1


__ADS_2