
Alhamdulillah...
Terima kasih bagi Reader yang sudah hadir dan menikmati tulisan Author kemudian telah berkenan memberi apresiasinya dengan like, vote, love dan rate starnya ππ
Tiap hari tulisan ini bertambah semoga bisa dinikmati pencinta novel online dan bisa menghibur Reader semuaππππ
Akan tetapi masih sedikit yang memberikan jejaknya setelah menikmati tulisan ini ππ
Bagi yang belum meninggalkan jejaknya Author harap berkenan memberikan dukungannya pada Author melalui jari jemari Reader sehingga Author bersemangat merangkai kata menjadi suatu jalan cerita. πππ
Dengan menekan tanda like, love, vote dan rate bintang lima... Setelah membaca diakhir bab.
πππ
Jom lanjut.... π
πHappy Readingπ
π π π
Gul merasa bahagia akhirnya ia bisa bekerja sama lagi dengan Tuan Murad. Kali ini lumayan lama berada dikota Y untuk mengecek projek yang ada disana.
Entah mengapa Gul begitu tertarik sekali dengan laki-laki ini walaupun ia tahu bahwa Murad adalah sosok yang suka berganti pasangan.
Sudah tak terhitung wanita yang pernah menjadi pasangan lelaki itu semenjak Gul bekerja diperusahaan tersebut.
"Tuan... Apakah kita akan langsung kelapangan setelah sampai disana? " Tanya Gul dengan tersenyum menatap laki-laki itu.
Murad yang tengah asik membolak-balik kertas yang ada dipangkuannya hanya menganggukan saja tanpa memandang Gul sama sekali.
Gul terenyuh melihat sikap atasannya yang tak begitu menghiraukan kehadirannya. Gul tahu bahwa laki-laki dihadapannya lebih tertarik pada sahabatnya Aiyla.
"Uhhh...Berhentilah berharap, aku pegawainya yang tak begitu menarik," besit Gul dengan menghembuskan nafasnya secara kasar.
Gul ingat sekali pertemuan pertama dengan lelaki ini, pada saat interviu. Dirinya ingat benar karena kecemasan dan kegelisahan Gul bolak-balik kekamar kecil.
Padahal hanya tersisa 2 orang lagi sebelum giliran dirinya yang akan diinterviu. Akibat sering kekamar mandi *high*heel sepatunya patah karena tersandunh pada saat Gul tergesa-gesa memasuki kamar mandi.
__ADS_1
Kejadian tersebut menambah kecemasan Gul. Bagaimana mungkin ia memakai sepatu dengan heel tinggi sebelah.
Menangis disudut kamar mandi seraya menatap sepatunya yang telah patah. Gul bingung harus bagaimana karna tak ada satu idepun yang muncul dikepalanya.
"Apa yang terjadi nona? " Ucap seorang lelaki dengan serius menatap dirinya.
Gul terkejut ketika tiba-tiba seorang lelaki telah berada dihadapannya. Lelaki itu keluar dari kamar mandi pria.
"Ada apa? " Tanya lelaki itu kembali dengan wajah lebih serius menatapnya.
Gul tak dapat bersuara hanya menunjukkan sebelah sepatunya. Dengan wajah tertunduk dan bulir bening telah membasahi wajahnya.
"Coba ku lihat," ucap lelaki itu kembali.
Mengambil sepatu yang sebelah kemudian mematahkannya dengan santai. Gul terkejut dengan lelaki yang tiba-tiba mematahkan hell sepatunya yang sebelah lagi.
"Apa yang telah anda lakukan ? Sekarang bagaimana? Aku tak bisa ikut interviu dengan kedua sepatu seperti ini !?" Ungkap Gul dengan wajah kecewa bercampur sedih.
Lelaki iti hanya tertawa lepas setelah mematahkan hell sepatu Gul tanpa sedikitpun rasa bersalah.
Sebuah senyuman terukir diujung bibir Gul. Baru disadarinya maksud dari tindakan laki-laki itu. Kini ia bisa menggunakan sepatu itu untuk sementara sampai interviu yang dilakukannya selesai.
"Terima kasih Tuan." Ucap Gul dengan kembali tersenyum.
Setelah membantu Gul memecahkan masalahnya, lelaki itu berlalu dari hadapannya. Gul menatap punggung lelaki itu sampai memasuki salah satu ruang.
Bergegas dirinya kembali ketempat dimana diadakan interviu bagi calon pegawai yang lulus bahan diperusahan tersebut.
"Ayooo Gul..Semangat kau harus percaya diri. Jangan cemas dan gugup lagi, moga hari ini adalah keberuntungan mu," batinya dalam hati dengan wajah optimis.
Sampai diruang interviu ternyata giliran Gul sebentar lagi setelah tersisa satu orang yang sekarang telah berada didalam ruang tersebut.
Berusaha menarik nafas dalam dan panjang lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan. Itulah yang dilakukan Gul berulang-ulang kali sampai muncul rasa percaya dirinya.
Akhirnya giliran dirinya datang jua. Gul masuk kedalam ruang tersebut dengan matanya memperhatikan segala penjuru diruang itu.
Terlihat 3 orang yang duduk sejajar dengan jarak setengah meter diantara mereka bertiga. Dihadapan ketiga orang tersebut membuat mata Gul membulat dan merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Lelaki yang duduk tepat ditengah-tengah berjas abu- abu dengan dasi yang melingkar dileher jenjang dengan motif polos berwarna senada dengan jas tersebut adalah pemilik perusahaan.
Terlihat tulisan diatas meja Mr. Murad Sarkhen, lelaki yang ditemuinya dikamar mandi tadi. Wajah cemas kembali menyelimuti wajah Gul, berjalan dengan mengunakan sepatu yang terlepas heel nya.
Tatapan lelaki yang berada ditengah kedua lelaki yang ada dihadapannya menatap kearah sepatunya.
"Tuhan tolong aku...Beri aku kekuatan," besit diam didalam hati.
Saat itu lah pertama kali Gul tahu bahwa laki-laki yang telah menolong Gul adalah salah satu pemilik perusahaan. Sampai saat ini Gul masih bekerja diperusahaan lelaki yang tengah fokus membaca file dipangkuannya.
Semenjak itu Gul merasa Murad adalah lelaki yang baik, walau suka berganti pasangan. Terpesona dengan sikap Murad sejak 8 tahun silam.
"Gul... Kenapa kau terus memperhatikan ku," ucap Murad masih tak memandang lawan bicaranya.
Gul terkejut dan merasa salah tingkah atas ucapan atasannya. Wajahnya memerah menahan rasa malu serta bingung menjawab pertanyaan yang diberikan padanya.
"Tak ada Tuan... Anda salah sangka saja, saya tidak memperhatikan Tuan," balas Gul dengan wajah tertunduk menutupi rona merah diwajahnya.
Ternyata selama Gul memandang seraya melamun akan kisah silam lelaki itu sekali-kali melirik kearahnya.
"Sekarang apa yang ingin kau sampaikan, sampaikanlah !! Dari pada kau mencuri pandang kearah ku !! " ucap Murad dengan tatapan mata serius kearahnya.
Murad sengaja membuat wanita dihadapannya menjadi salah tingkah. Dia menghentikan membaca file dan serius menatap Gul yang telah tertunduk dihadapannya.
"Maaf Tuan...Tidak ada. Saya berkata jujur," ungkap Gul masih dengan wajah tertunduk.
Melihat wanita itu semakin cemas dan salah tingkah, Murad menghentikan actingnya dengan tertawa lepas karena merasa puas mengerjai wanita dihadapannya.
"Tuan kenapa anda malah tertawa... Apa yang salah pada ku," ucap Gul dengan mengangkat sedikit wajahnya.
Murad tersenyum dan menepuk lembut pundaknya, dan kembali tertawa melihat wajah Gul yang cemas serta bingung.
"Eh... Santai. Kau seperti baru mengenal ku saja. Aku bukanlah Ergin yang dingin dan kaku serta tak ingin melihat sedikit kesalahan dari pegawainya," ungkap Murad dengan tersenyum.
Mendengar perkataan atasannya baru Gul tersenyum dan seketika hilang rona merah diwajah karena sejujurya ia memang memandangi wajah lelaki dihadapannya.
Sekitar 1 jam lebih kurang penerbangan yang mereka lakukan, kini mereka berdua ada pada hotel yang telah disiapkan untuk mereka bermalam selama 6 hari disana.
__ADS_1