Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 173


__ADS_3

Hai... Hai... Hai..๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹


Apa kabar reader semua? Semoga selalu sehat dan selalu setiap dilapak author ya..๐Ÿ˜š


Terima kasih yang masih setia dan selalu memberikan semangat serta dukungannya๐Ÿ™๐Ÿ˜˜


Jom lanjuuut ngebaca๐Ÿ’จ


๐Ÿ’ขHappy Reading๐Ÿ’ข


๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ


Murad terdiam sejenak tanpa memberikan respon atas pertanyaan istrinya. Pikirannya terlintas kembali atas apa yang telah terjadi pada dirinya sendiri dan sahabatnya Ergin.


Seakan ada seseorang yang dengan sengaja membuat mereka berdua stress dan bingung. Teror yang sering berdatangan seakan datang dari seseorang di masa lalu mereka berdua.


Namun sampai detik ini antara Murad dan Ergin masih belum bisa menerka siapa dalang dibalik teror yang mendera mereka berdua.


"Sayang...Ada apa?"


Ucap Gul kembali, rasa penasaran semakin bergejolak didada. Ditambah dengan melihat raut wajah Murad yang bertekuk seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.


"Aku masih belum bisa menerka siapa yang dengan sengaja meneror aku dan Ergin."


Balas Murad dengan tatapan mata kosong menatap langit-langit kamar.


"Apa! Ergin sedang diteror juga? Wajar saja Aiyla bercerita bahwa suaminya sering termenung dan berdiam diri pada saat diajak bicara."


Ungkap Gul dengan serius menatap kearah suaminya. Kemudian wanita itu menceritakan kegelisahan yang Ada hatinya dan sahabatnya itu.


"Sayang.... Sebenarnya apa hubungan kalian berdua dengan Nadine?"


Tiba-tiba saja istrinya mengubah alur bicara pada sosok wanita yang baru beberapa bulan hadir didalam kehidupan Gul dan Aiyla.


Antara yakin dengan keraguan, Gul menceritakan pada suaminya tentang sesuatu yang janggal terhadap wanita bernama Nadine.


Tanpa disadari Nadine, Gul melihat wanita itu masuk kedalam ruang Murad dengan sikap yang mencurigakan. Awalnya Gul menganggap hal itu biasa saja karena wanita itu adalah salah satu client diperusahan Ozturk.


Namun sikapnya yang seolah-olah telah melakukan sesuatu, yang membuat Gul menjadi terpikir kembali akan peristiwa disaat wanita itu keluar dari ruang kerjanya Murad dengan wajah yang berbeda dari biasa dirinya bertemu.

__ADS_1


Penuh kehati-hatian dan penuh kewaspadaan pada saat wanita itu menutup kembali pintu ruang kerja Murad.


Pada saat itu Gul berusaha bersikap biasa saja pada saat berpapasan walaupun dirinya mengetahui Nadine baru saja keluar ruang kerja Murad dengan cara mengendap-endap.


"Sayang...Ayo ceritakan pada ku awal perkenalan kalian berdua dengan wanita itu dan sekarang menjadi client sekaligus teman dimasa lalu mu itu? "


Ucap Gul dengan menyentuh pundak suaminya dengan lembut. Murad yang semula menatap kosong langit-langit kamarnya kini beralih menatap manik coklat istrinya.


"Nadine adalah wanita pertama yang membuat


Ergin mengenal cinta dan wanita yang pertama Kali juga mengenalkan sahabat ku dari rasa sakit hati dikhianati."


Ucap Murad seakan kembali pada masa lampau pada saat bercerita awal pertemuan mereka bertiga.


Gul mendengarkan dengan seksama rangkaian kata yang mengalir dari mulut suaminya. Ada beberapa kali jeda cukup lama baru setelah itu Murad melanjutkan ceritanya kembali.


"Jadi, diri mu yang mengetahui lebih sulu bahwa Nadine tak setia dengan Ergin? Disaat mereka berdua tak akan lama lagi membawa hubungan mereka berdua kejenjang yang lebih serius?"


Ungkap Gul dengan nada suara penuh penekanan menatap wajah suaminya yang dengan refleks merespon perkataan istrinya dengan cara menganggukan kepalanya.


"Sayang....Apa kau percaya, menjalin kerja sama dengan wanita itu dalam perusahan kita? "


Ungkap Gul kembali menatap Murad dengan serius menunggu jawaban dari pertanyaan yang dilontarkanya.


Ungkap Murad dengan penuh keyakinan menjawab tegas pertanyaan istrinya tersebut.


"Tapi... Mengapa hati kecil ku merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari wanita tersebut ditambah dengan sikapnya waktu itu. "


Balas Gul dengan wajah yang menyakinkan suaminya atas apa yang dirasakan oleh hati kecilnya.


Sebagai seorang wanita terkadang insting atau naluri dihati terkadang dapat menjadi petunjuk kebenaran. Namun saat ini Gul tak dapat memaksa suaminya untuk percaya dengan apa yang dirasakannya.


Terlwbih Gul tak memiliki bukti yang dapat memperkuat apa yang dirasakan dihati kecilnya.


Cukup lama mereka berdua terdiam, lalu lelaki itu mengeluarkan suaranya dengan pelan namun terdengar pasti.


"Baiklah...Tidak ada salahnya jika aku mendengarkan kata hati istri ku, aku akan lebih extra untuk memantau gerak-gerik Nadine."


Ucap Murad yang juga merasakan kemantapan istrinya dalam mengungkapkan feeling yang dirasakannya.

__ADS_1


Akhirnya mereka tertidur setelah merasakan lelah dan beban berat yang baru saja lepas dari hati dan pikiran mereka berdua. Secara tidak langsung masalah tersebut mempengaruhi hubungan mereka berdua.


Untuk malam ini mereka berdua baru saja merasa lebih tenang setelah mereka berdua dapat melaluinya.


๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


Ergin dengan langkah kaki yang mantap berjalan dan hendak melewati pintu lift. Seketika pintu lift terbuka tanpa menoleh siapa saja yang keluar dari dalam lift tersebut.


"Than Ergin... Aku ingin kita bertemu malam ini."


Tiba-tiba terdengar suara tak asing dari belakang tubuhnya. Refleks Ergin menghentikan langkah kakinya Lalu membalikkan tubuh menatap wanita yang tengah berada tepat dihadapannya saat ini.


"Ya... Apa ada pembicaran khusus yang berhubungan dengan pekerjaan? Apakah Murad akan pergi juga? "


Ungkap Ergin yang sengaja ingin menghindar dari wanita tersebut. Walau telah sekian tahun namun kisah masa lalu masih terasa dihatinya.


Awalnya Ergin tak ingin menjalin kerja sama dengan wanita yang saat ini begitu menatap dirinya dengan penuh makna terpancar dari manik hitam yang dimilik wanita itu.


Namun dengan pertimbangan dari perkataan Murad, akhirnya dirinya hanya mengikuti saja perkataan dari sahabatnya itu.


"Tidak... Hanya kita berdua."


Ucap wanita itu dengan senyum yang mengembang diujung bibirnya. Tanpa membalas senyum dan bersikap tegas dengan ekspresi datar Ergin Berbicara.


"Dalam rangka apa? Jika itu kepentingan pribadi maka aku tak bisa. Namun jika urusan pekerjaan maka Nyonya bisa menemui Murad sebagai wakilnya."


"Tidak bisa, Tuan harus menemui ku jika masalah ini tidak mau diketahui oleh khalayak ramai."


Terdengar sebuah ancaman yang keluar dari bibir yang merona dengan ekspresi begitu serius. Ergin balik menatap tajam wanita yang tepat berada dihadapannya berjarak lebih kurang satu meter.


"Melisa jam 20.00 malam ini, aku menunggu mu! "


Ucap wanita itu tanpa rasa takut dengan tatapan tajam Ergin kearahnya. Berjalan melintasi lelaki itu Lalu berhenti swraya berbisik dengan pelan.


"Aku tahu rahasia kau dan istri mu."


Berjalan dengan langkah sepatu yang terdengar jelas setelah berbisik ditelinga Ergin. Terjadi perubahan wajah yang terlihat jelas, Ergin merasa wanita itu memiliki nyali begitu besar sehingga mampu mengeluarkan kata-kata seperti itu.


Lelaki itu berdiri terpaku, telinganya masih terngiang suara wanita itu berbisik pelan walau telah berlalu sekitar 5 menitan.

__ADS_1


"Apakah dia mengetahui peritiwa yang terjadi pada pekatnya malam antara dirinya dan Aiyla?


Besit dihati Ergin penuh dengan tanda tanya besar. Selama ini yang meneror dirinya tentu berasal dari wanita itu.


__ADS_2