Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 64


__ADS_3

Bagaimana menurut kalian? Sampai bab ini masih membuat Reader tertarik?


Tulis dikolom komentar dengan kata lanjut..


Plus Like πŸ‘, Vote πŸ‘Œ, Love πŸ’™and Rate Star 🌟


Author waithing your Support Reader 😍😎


πŸ’ Happy ReadingπŸ’ 


β™’β™’β™’


Mobil berwarna hitam mengkilat dengan plat khusus memasuki rumah besar nan mewah milik kediaman Tuan Mustafa.


Seperti perkataan Ergin sebelumnya, bahwa ia akan menjemput mereka berdua. Ergin memiliki alasan yang tepat karena setelah dia selesai dengan makan malam yang akan dihadirinya disebuah hotel mewah dikota itu akan langsung menjemput mereka berdua.


Sebenarnya Ergin ingin membawa Aiyla pada makan malam tersebut, namun karena Aiyla telah memiliki janji untuk bertemu dengan keluarga Ali maka Ergin lebih memutuskan untuk pergi sendiri.


"Ingat perkataan ayah tadi ya nak.. " Ucap Ergin seraya mencium dahi Azzam.


Azzam menganggukan kepala pertanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya tadi dengan menunjukkan jempol kanannya pada Ergin.


Ergin tersenyum mendapatkan respon baik dari Azzam. Kemudian Ergin beralih mendekati Aiyla lalu memainkan mata genitnya sekali lagi kearah wanita itu.


Entah mengapa lelaki itu begitu tertarik padanya. Sedangkan dengan melihat penampilannya malam ini wanita mana yang tak tertarik dengan lelaki tersebut.


Tuxedo berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu melingkar dilehernya. Terlihat perfeks dari sudut manapun dipandang mata. Belum lagi kekayaan yang dimiliki laki-laki itu tentunya merupakan daya tarik yang kuat pada lawan jenis.


"Ingat!!!... Aku akan menjemput mu, jangan bermalam dirumah ini karena aku ingin mengajak mu dengan Azzam kesuatu tempat," bisik Ergin dengan lembut ditelinganya.


Aiyla hanya tersipu malu mencoba untuk menutupi rona merah yang ada diwajah. Kemudian membiarkan saja Ergin menyentuh lembut dikedua pipinya sebelum mobil yang dikendarainya berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Selamat datang Nyonya Aiyla..." Ucap asisten rumah tangga dengan wajah tersenyum.


Azzam yang pertama kali kerumah ini membuat dirinya cangung sekaligus bingung karena melihat rumah yang begitu besar dan indah.

__ADS_1


Padangan matanya diarahkan kesegala penjuru melihat semua yang ada didalam rumah besar nan mewah tersebut.


"Azzam tak baik seperti itu, jaga pandangan mu," bisik Aiyla pada putranya dengan lembut.


Azzam masih tertegun dengan rumah kakek dan neneknya itu. Wajar saja anak lelaki itu takjub karena ini adalah pertama kalinya datang kerumah besar nan mewah.


Selama ini yang hanya dilihat Azzam adalah sebuah apartemant atau sebuah rumah dengan ukuran kecil dan fasilitas seadanya.


"Ibu apakah benar ayah pernah tinggal disini ? " ungkap Azzam masih merasa tak percaya.


Mata Aiyla berkaca-kaca mendengar perkataan dari putranya itu. Rasa perih dan sakit kembali menoreh luka yang ada dihatinya.


Bagaimana Aiyla menjelaskan pada putranya itu, bahwa keluarga besar ini baru saja menerima kehadirannya menjadi bagian dari keluarga besar ini.


"Ibu coba lihat...Ada photo ayah disana, memang benar ini rumah orangtua ayah," teriak Azzam seraya tersenyum penuh dengan rasa bahagia.


Berjalan mendekati photo yang dimaksudnya lalu berdiri lama menatap gambar Ali yang ada disalah satu dinding diruang tamu yang besar itu.


"Cucu ku...Azzam," Sapa Tuan Mustafa seraya berjalan mendekati Azzam.


Kini lelaki paruh baya itu sedang berdiri ditempat yang sama disamping Azzam, lalu menatap kegambar yang sama.


Kini semua penghuni rumah besar nan mewah itu telah berkumpul diruang tamu ini. Terlihat Akhsal dengan anggota keluarganya.


"Eh... Photo ini sama seperti photo yang ada dirumah," ucap Azzam dengan senyum mengembang.


Mengambil frame photo yang ada gambar ayahnya bersama Aiyla dan dirinya sendiri diatas meja hias.


"Ibu lihat !!! Ini Azzam dalam gendongan ibu," ucap anak lelaki itu excited.


Menunjukkan photo yang dimaksud Azzam dengan wajah gembira dan senang, kearah Aiyla agar dapat juga melihat photo tersebut.


"Itu photo yang dikirimkan ayah mu melalui paman mu ini," ucap nyonya Mustafa dengan tersenyum.


Azzam memandang wajah Akhsal dengan dalam, tiba-tiba terlihat rasa takut diwajahnya.

__ADS_1


Aiyla merasa bahwa putranya merasa tak nyaman dengan Akhsal walaupun lelaki itu mengeluarkan senyuman pada Azzam.


"Baiklah sayang...Mari duduk disini dan kembalikan photo itu ditempat semula," ucap Aiyla serius dan memberikan penekanan pada matanya.


Putranya itu langsung berjalan dan duduk disampingnya serta mengembalikan photo yang ada ditangannya.


"Azzam... Kenalkan, ini adalah sepupu-sepupu kamu yang menjadi tuan putri dirumah ini," ucap Azizah dengan senyum yang dibuat.


Azzam dengan sopan langsung memberikan salam pada sepupu-sepupunya yang semuanya perempuan.


"Ini Azzam bawakan chesscake untuk kita makan bersama," ucap Azzam pada sepupunya itu.


Mendengar anak lelaki yang baru saja menyalami mereka dan menawari mereka untuk makan kue yang telah dibawa Azzam membuat dua anak perempuan itu tersenyum.


Umur sepupu Azzam berdua itu tidak terpaut jauh hanya berbeda 1 tahun jadi mereka berdua terlihat kembar. Ditambah dengan wajah keduanya yang tak begitu berbeda.


Kakeknya mengelus rambut kepala Azzam dengan penuh kasih sayang yang tengah duduk dipangkuan lelaki paruh baya itu.


"Makan malam telah siap," ucap asisten rumah tangga itu dengan sopan.


Akhirnya mereka beralih keruang makan, semua anggota bisa dapat duduk dikursi yang saling berhadapan dibatasi meja besar berbentuk oval.


Sehabis makan malam Azzam bermain bersama sepupunya dan Aiyla sedang duduk ditaman bersama Nyonya dan Tuan Mustafa.


Berbincara tentang pertumbuhan Azzam mulai dari dia hamil dan sampai kejadian Azzam sakit. Pada moment dimana Azzam sakit terlihat diraut keduanya merasa sedih dan rasa bersalah.


"Aiyla... Maafkan aku, jika waktu itu dapat diulang kembali maka aku ingin menebus kesalahan besar yang telah ku lakukan itu," ucap Tuan Mustafa seraya menitikkan bulir bening disudut matanya.


Aiylapun tak kuasa mengendalikan perasaanya, dirinya pun larut akan kesedihan karena sejujurnya rasa perih tersebut masih terasa begitu menyakitkan dihatinya sampai saat ini.


"Maafkan kami nak...Tak terbuka hati saat itu untuk membantu mu disaat kau sangat membutuhkan bantuan, dan sekarang hanya ada penyesalan dan rasa bersalah dikehidupan kami berdua, " Ucap Nyonya Mustafa seraya memeluk tubuh Aiyla.


Dengan derai air mata, mereka bertiga larut dalam kesedihan yang berkecamuk dihati dan pikiran masing-masing.


Malam ini terasa begitu hening yang terdengar isak tangis mereka bertiga. Aiyla melihat kesedihan yang sama dimata mereka berdua.

__ADS_1


Terlihat jelas disorot mata dan mimik wajah pada Tuan dan Nyonya Mustafa. Rasa kehilangan putra bungsu mereka dan rasa bersalah pernah berpikir membuang putranya dari bagian keluarga besar ini.


Penyesalan yang tak dapat mengubah apapun. Semua yang telah terjadi tak dapat ditarik kembali. Tersisa hanya rasa bersalah dan rasa sakit sepanjang hidup.


__ADS_2