
Hai... Hai... Hai...πππ
Mohon maaf lahir batin yaaa πππ
Sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan, Author mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang seiman ππ.
Semoga kita bisa menjalankan ibadah dengan maksimal, diberikan kesehatan dan keberkahan serta masa pandemik Covid-19 segera menjauh.π
Salam hangat untuk Reader setia dan tercinta πππ
πLemb@yungπ
Jom lanjuuut...π¨π¨
β₯Happy Readingβ₯
β₯β₯β₯
Dishya merasa bersalah atas apa yang terjadi, walaupun tak seutuhnya salah wanita tersebut. Buraq yang berada disampingnya menenangkan wanita itu yang menangis.
Wanita itu tak ingin Ergin meyalahkan dirinya, karena datang kerumah dan menceritakan semua pada Aiyla sehingga menyebabkan istrinya pingsan.
Dishya yang seorang dokter saja menjadi panik karena wanita itu tiba-tiba saja pingsan dihadapannya.
Diceknya nadi wanita itu melemah sesuai dengan perkataan petugas kesehatan yang datang kerumah.
"Nona sudahlah.. Bersabar, berdoa saja semoga Nyonya Aiyla dapat tertolong. "
Terdengar suara Buraq yang begitu lembut seraya menggenggam jemarinya. Dishya menjatuhkan kepalanya yang terasa berat karena terlalu lama menangis dipundak laki-laki itu.
Tak ada penolakan dari Buraq, bahkan gemuruh dihatinya bercampur menjadi satu antara cemas melihat keadaan istri atasannya dan gemuruh karena wanita disampingnya yang menggunakan bahunya untuk bersandar.
"Buraq... Dari awal aku juga sudah melihat Aiyla tak begitu sehat diwajahnya terlihat sedikit pucat dengan kantung mata yang melingkar dikedua matanya. Tapi aku tak begitu memperdulikan kondisi wanita itu, aku terbawa emosi sehingga melupakan resiko yang terjadi."
Ungkap Dishya merasa tambah bersalah pada wanita yang sekarang telah berada didalam ruang emergency.
Getar ponsel terasa bergetar ditubuh Buraq, segera diraih ponsel yang ada didalam saku jaketnya.
"Tuan... Syukurlah anda menelpon saya kembali. Nyonya pingsan dan sekarang berada dirumah sakit."
Terdengar suara Buraq antusias melihat panggilan itu berasal dari atasannya. Segera memberitahukan kabar tentang istrinya pada Ergin.
Lelaki diseberang sana memutuskan begitu saja setelah mendengar perkataan dari asisten pribadinya itu.
Wajah Ergin cemas bercampuk panik, tak dapat dibayangkan jika wanita yang dicintainya meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Pikiran Ergin sangatlah buruk, ia merasakan ketakutan yang sangat berlebihan. Memikirkan sesuatu yang berlebihan karena rasa cintanya pada Aiyla.
"Sayaaaang, Ku mohon jangan tinggalkan aku. "
Teriak Ergin seraya memukul stir mobilnya. Kecepatan mobilnya begitu kencang, sampai disuatu simpang ada mobil yang melaju dari arah berlawanan.
Ergin tak melihat lampu merah, suara gesekan antara ban mobil dan aspal terdengar kuat. Semua orang yang ada disekitarnya menoleh kearah suara.
Tingal sedikit jarak antara mobil keduanya sekitar setengah meter, jika tak ada jarak yang tersisa maka kedua mobil bertabrakan.
Mobil Ergin menabrak body mobil bagian kiri tepat ditengah-tengahnya. Beruntung Ergin cepat menginjak rem dan dapat menghentikan laju mobilnya tepat waktunya.
"Akhhh... Sial."
Teriak mobil yang hampir ditabrak Ergin mengumpat sejadi-jadinya. Ergin tak perduli bahkan tak meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuatnya.
Mobilnya langsung pergi meninggalkan begitu saja lelaki yang sejadinya memarahi Ergin. Akhirnya mobil berhenti tanpa mematikan mesin mobilnya.
Ergin seperti orang stres tak dapat mengendalikan rasa cemas dan panik yang melanda dirinya.
"Aiyla Ozturk dimana ruangannya."
Terdengar suara panik dengan nada tinggi laki-laki itu menanyakan pada petugas kesehatan bagian pendaftaran atau registrasi.
Petugas kesehatan itu menjadi ikut gugup ditambah dengan orang yang menanyakan itu bukanlah orang sembarangan.
Tentu saja mereka merasa hormat dan sopan pada lelaki ini, Ergin tak pernah bertindak seperti itu, lantaran ada sebab makanya lelaki itu terkesan ketus dan bersuara dengan nada tinggi .
Langkah Ergin dipercepat setelah mendapatkan keberadaan Aiyla. Terlihat disana asisten pribadinya, Yaren dan Dishya sedang menunggu didepan sebuah ruangan.
Mereka bertiga juga larut dalam kesedihan, akan kejadian yang mendadak terjadi pada Aiyla.
"Ergin... "
Teriak Dishya yang melihat kedatangan sosok lelaki itu. Wanita itu memeluk tubuh Ergin didepan Buraq.
Ada rasa sakit dihati Buraq melihat kedekatan Dishya dengan atasannya itu. Lelaki itu hanya memalingkan wajahnya dan tak ingin melihat lebih lama dari pandangannya.
"Aiyla tiba-tiba pingsan setelah bercerita banyak dengan ku, maafkan aku Ergin menyebabkan istri mu seperti ini. "
Ungkap Dishya dengan tangis yang tadinya terhenti kini mulai pecah kembali. Ergin melepaskan pelukan Dishya, hatinya yang bergemuruh membuat merah dimatanya.
"Tuan Ergin... Istri anda telah sadar. Ia memanggil nama anda. "
Terdengar suara dari seorang laki-laki yang keluar dari ruangan tertutup itu. Posisi Ergin yang berlawanan sehingga tak menyadarinya pintu ruang itu terbuka.
__ADS_1
"Sayang ku... Apa yang terjadi?"
Ucap Ergin dengan menggenggam tangan istrinya. Bulir bening membasahi wajah tampan Ergin.
Aiyla melihat laki-laki dihadapannya menangis karena cemas akan dirinya. Aiyla begitu berharga dikehidupan Ergin, sosok lelaki yang sangat jarang atau saat tertentu saja bisa menangis seperti saat ini.
"Sudahlah... Jangan menangis. Aku baik-baik saja. Aku yang harusnya minta maaf padamu terlalu sibuk dan tak mengetahui hadirnya buah cinta kita."
Mendengar perkataan Aiyla, Ergin yang tak henti mencium punggung tangan istrinya itu terdiam sesaat.
Mencerna dengan baik bait kata yang keluar dari mulut istrinya itu. Memandang wajah Aiyla yang tersenyum dengan wajah yang masih terlihat pucat.
"Apa? Aku tak mengert ? "
Balas Ergin dengan rasa penasaran menatap wanita yang terbaring dihadapannya itu.
"Azzam akan memiliki adik."
Ucap Aiyla dengan meraih tangannya Ergin lalu mengenggamnya.
Dokter meminta Ergin untuk meminta Aiyla beristirahat dan tak banyak berbicara. Ergin menuruti saja perintah dokter dan mengajak Ergin keruang kerjanya.
Memberikan sentuhan lembut tepat didahi Aiyla sebelum meninggalkan wanita itu.
"Beristirahatlah sayang. ..Aku akan ada disini." Bisiknya lembut tepat ditelinga Aiyla.
Melihat Ergin keluar dari ruang tersebut mereka bertiga yang menunggu kabar dari laki-laki itu menatap kearahnya secara bersamaan.
"Aiyla diminta untuk istirahat, kondisinya sudah lebih baik. Yaren kau boleh pulang, dan Buraq antar nona Dishya dan Yaren pulang kerumah. "
Ungkap Ergin seraya berlalu dari hadapan mereka bertiga. Hembusan nafas panjang dan rasa kecemasan menghilang diraut wajah mereka bertiga setelah mendengar perkataan Ergin.
Dishya berjalan dengan dipapah Buraq, wanita itu ikut shock atas kejadian yang secara cepat dan tiba-tiba itu.
"Baiklah dokter tolong jelaskan keadaan istri saya sesungguhnya."
Terdengar suara berat Ergin dengan wajah masih cemas dan penasaran atas apa yang terjadi pada Aiyla.
"Nyonya sepertinya mengalami penurunan dalam imun tubuh, bisa jadi karena terlalu banyak bekerja sehingga waktu istirahat yang berkurang dan sering melewatkan makan. Jika kondisi ini terus berlangsung maka akan mempengaruhi keadaan janin yang ada dalam kandungan Nyonya."
Suara dokter terdengar ditelinga Ergin membuat berbagai rasa dihatinya. Gembira dan sekaligus cemas, karena ini adalah pengalaman pertama baginya menjadi sosok laki-laki yang menghadapi seorang wanita yang sedang hamil muda.
"Tak perlu cemas Tuan Ergin, anda hanya menjaga pola hidup sehat untuk Nyonya Aiyla. Makan, istrihat dan olahraga yang seimbang. Tapi untuk tri semester pertama akan banyak perubahan untuk tubuh dan emosional Nyonya, kemudian usahakan jangan buat stres atau beban kerja yang berat."
__ADS_1
Ungkap dokter dengan tersenyum melihat laki-laki yang baru merasakan sebagai seorang ayah.