Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 174


__ADS_3

Terima Kasih reader yang masih tetap setia dilapak Author ya..😉


Semoga selalu sehat dan diberikan keberkahan, Aamiin... 🙏


Jangan lupa selalu dukung Author 💪dengan cara like👍, komentar yang membangun, berikan gift dan bintangnya👌, serta votenya


Jom lanjut baca...🍃🍃🍃


🌹Happy Reading🌹


🌲🌲🌲


Ergin berjalan memasuki sebuah cafe dengan desain interior dan eksterio yang senada yaitu bernuansa classic.


Langkah kakinya sedikit tidak pasti atas tindakan yang diambilnya malam ini. Gemuruh dihatinyalah yang menuntun kaki jenjangnya hingga datang ketempat yang dimaksud oleh wanita itu.


Matanya mengedar keseluruh bagian yang ada cafe. Dimana cafe pada malam ini terlihat sedikit pengunjung. Cafe ini terbilang diperuntukkan dari kalangan atas, jadi tentunya hanya orang berduit tebal yang mampu nongkrong dicafe tersebut.


Walau cafe ini lebih diperuntukan untuk kalangan atas, namun pengunjung dicafe tersebut terbilang ramai dengan segala usia.


Dari para pemuda sampai para pengusaha yang ingin melakukan pembicaraan ringan seputar bisnis yang mereka jalani.


Sebagian dari pengunjung ternyata ada juga yang hanya ingin terlihat kaya atau bisa dibilang sebagai ajang pamer atau gengsi. Untuk bisa mengobrol dengan secangkir kopi yang harganya berkali lipat dengan harga kopi ditempat lain pada umumnya.


Mata Ergin tertuju pada sosok wanita dengan penampilan yang sangat elegant. Berwarna baby pink dengan dress tampa lengan.


Nadine Terlihat sangat cantik walau usianya tidak muda lagi. Terpaut tak jauh dari usia Ergin, hanya berbeda 1 tahun.


Sebuah senyuman terlihat diujung bibir wanita tersebut, pada saat melihat Ergin berjalan mendekati tempat Dimana Nadine duduk.


"Selamat Malam...Tuan Ergin, silahkan."


Ucap Nadine dengan senyum yang masih membingkai diparasnya yang cantik. Seraya melirik sebuah arlogi yang melingkar indah dipergelangan tanganya.


Ergin duduk tepat berhadapan dengan kursi wanita tersebut. Dengan Wajah datar Ergin tak membalas senyum yang mengembang diujung bibir bekas kekasihnya.


Lelaki itu tak terpengaruh dengan tatapan mata dan senyum yang diberikan padanya. Sebaliknya Ergin bersikap datar tanpa ekspresi.


"Ternyata Tuan memang pemimpin yang dikagumi semua pegawai anda. Mereka benar bahwa anda adalah tipe seorang yang tepat waktu, arlogi ku sebagai buktinya."


Ungkap Nadine dengan pujian dan senyum manis yang berusaha dipertahankan olehnya.

__ADS_1


"Kita langsung saja, silahkan Nyonya Nadine sampaikan maksudnya!"


Balas Ergin dengan langsung to the point tanpa menanggapi pujian yang dilontarkan wanita tersebut.


Nadine merasakan bahwa laki-laki itu tak tertarik sama sekali pada dirinya. Padahal dirinya mempersiapkan benar moment makan malam dicafe yang sengaja direncanakan dengan matang.


"Mengapa Tuan begitu tak sabar, kita nikmati saja terlebih dahulu secangkir kopi yang ada diatas meja ini."


Ucap Nadine dengan suara lembut dan merayu. Ergin yang mendengar merasa panas ditelinganya.


Wanita dihadapannya ini terlihat sedang terang-terangan mengoda dan merayu dirinya. Ergin tak merasa tertarik sedikitpun walau sebelumnya dirinya pernah menjalin kekasih dengan wanita dihadapannya.


"Silahkan bicara maksud Nyonya... Jika kita hanya untuk hal yang tak penting, maka Maaf saya tidak ada waktu untuk itu."


Balas Ergin dengan nada tegas dan serius menatap kearah Nadine.


"Baiklah jika Tuan tak ingin menikmati minuman ini, saya akan langsung pada tujuan saya mengundang Tuan."


Ungkap Nadine yang dengan runtun menjelaskan maksud dari pertemuan makan malam ini.


Wanita itu tanpa malu menawarkan dirinya untuk kembali pada masa disaat sebagai kekasih Ergin.


"Kita tidak dalam masa lalu, aku telah memiliki istri dan anak. Mana Mungkin aku akan menikah kembali."


Ucap Ergin dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya. Terlihat pengunjung yang duduknya paling dekat dengan kursi mereka berdua spontan menoleh kearah mereka berdua.


"Aku tak meminta mu untuk menceraikannya, aku bersedia menjadi istri kedua."


Balas Nadine lebih serius menatap kearah manik biru milik Ergin. Wanita itu seperti kehilangan akal sehatnya dikarenakan terobsesi untuk mendapatkan Ergin.


"Aku sudah tak memiliki rasa sedikit pun terhadap mu, bagaimana bisa aku hidup dengan wanita yang sama sekali tak ada namanya dihatiku."


Ucap Ergin dengan suara pelan agar tak ingin lagi menjadi pusat perhatian pengunjung disekitar mereka berdua setelah sebelumnya berbicara dengan nada tinggi.


"Apa kau mau Aiyla lari dari hidup mu? Jika perjanjian yang pernah kalian berdua sepakati itu tersebar luas! "


Ungkap Nadine dengan wajah tebal muka, wanita itu mengancam dengan menunjukkan bukti yang dimiliki olehnya.


"Nadine... Mengapa kau memaksa kehendak mu. Kau akan mendapatkan laki-laki yang mencintai mu dan hidup dengan rasa cintanya yang diberikan pada mu. Apa yang kau harapkan dari ku sedangkan aku tidak lagi mencintai mu."


Perkataan yang keluar dari mulut Ergin terdengar sangat tegas dan berusaha menyadarkan wanita itu.

__ADS_1


Namun Nadine semakin tak menghiraukan perkataan yang terdengar ditelinganya. Seakan hatinya telah dibutakan akan cinta pada masa lalunya.


Malam ini suasana semakin tegang, Ergin tak mampu membuat wanita itu mengerti atau bahkan menghilangkan obsesinya melihat kondisi mereka berdua saat ini.


Sejenak mereka berdua terdiam dengan kopi yang tak tersentuh sama sekali. Ergin begitu kesal namun masih berusaha untuk mengendalikan emosinya.


"Baiklah nyonya, saya beranggapan jika apa yang telah nyonya sampaikan tersebar luas maka saya akan mengambil tindakan dalam jalur hukum untuk itu. Namun jika anda masih memiliki hati nurani maka anda tidak bertindak lebih jauh, mengingat kita pernah memiliki hubungan yang baik dimasa lalu. "


Ungkap Ergin seraya berdiri dari posisi duduk dan berlalu berjalan meninggalkan Nadine yang terdiam seakan tak percaya dengan apa yang telah didengarkannya.


Hati kecilnya terasa sangat sakit, penyesalan sangat terlihat dimata wanita tersebut. Dia merasa bodoh telah menyia-nyiakan seorang lelaki seperti Ergin.


Nadine dapat merasakan besarnya cinta Ergin untuk istrinya. Betapa hancur hati Nadine bahwa seharusnya dirinyalah yang ada dihati lelaki tersebut.


Tanpa disadari bulir bening keluar dari sela ujung matanya. Rasa kekecewan dan rasa penyesalan teramat dalam dirasakannya saat ini.


"Ergiiiin... "


Suara lembut keluar berukang kali begitu saja dari bibir wanita yang saat ini merenungi nasibnya. Menatap dalam punggung lelaki yang kini kian menghilang dari pandangan matanya.


Disatu sisi Ergin tampak tak menoleh kebelakang, lelaki itu terus melangkah dengan mantap keluar dari cafe tersebut.


Dirinya merasa kesal dan merasa kecewa atas sikap dari wanita yang tak pernah disangkanya akan berbuat sedemikian.


Nadine adalah wanita yang dulunya pernah singgah dihati Ergin dan saat ini wanita tersebut telah menoreh kembali luka untuk yang kedua kalinya.


Cukup lama Ergin mencoba untuk mengendalikan emosinya sehingga ketika tak tahan lagi, dirinya memutuskan untuk secepatnya pergi dari hadapan wanita tersebut.


"Selama ini wanita itu yang meneror ku, tak ku sangka Nadine membuat ku stress untuk beberapa bulan belakang ini!"


Umpatnya dalam hati dengan kepalan kedua tangan menggenggam erat sehingga terlihat memerah dengan urat yang menyembul keluar.


Memasuki halaman parkir lalu menekan pedal gas dan melaju dengan kencang meninggalkan


cafe bernuansa classic.


Sepanjang perjalanan pikiran Ergin bercampur menjadi satu. Lelaki itu tak ingin kehilangan Aiyla yang merupakan tujuan dari hidupnya terlebih lagi tak ingin berpisah dengan buah cinta bersama istrinya.


"Aku harus jujur mengatakan semua ini pada Aiyla, jika Nadine bersikap nekad lalu menyebarkan semua bukti yang sempat dikatakannya berkemungkinan Aiyla akan shock."


Besit dihati Ergin dengan mata menatap keluar dari kaca jendela mobil yang dikemudikan sopir pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2