
Akankah Azzam dapat diselamatkan???😢
Tulis dikolom komentar dibawah👇
But don't forget to like, vote, love and bintang 5 senantiasa Author menantikannya... 👌
Happy Reading 😍😍
💔💔💔
Azzam dilarikan keruangan instalasi gawat darurat dirumah sakit, Aiyla hanya bisa menunggu diluar ruangan tersebut.
Matanya merah dan sembab, suaranya telah parau dan berat. Kedua wanita itu terduduk lemas dan tak berdaya dikursi yang berjejer dihadapan ruang IGD tersebut.
"Kau harus kuat Aiyla...Kita tidak akan kehilangan dia. Azzam anak lelaki yang kuat dan akan mampu bertahan," ucap lirih Fusun seraya memeluk tubuh Aiyla.
Dokter Ahmed telah berada didalam sana, yang lebih mengerti tentang riwayat kesehatan putranya.
Terdengar bunyi ponselnya berdering, Aiyla tak ingin mengangkat panggilan masuk dari ponselnya itu. Kemudian berhenti sendiri karena tak diterima oleh Aiyla.
Tak berselang lama ponselnya kembali berdering, kali ini Aiyla merogoh sakunya untuk mengambil ponsel tersebut.
Tertera disana nama sahabatnya, seperti ada firasat Gul menelpon dirinya sore ini. Biasa wanita itu menghubungi Aiyla diwaktu malam hari, karena tak ingin ketahuan oleh atasannya atau orang lain pada saat berbicara dipanggilan itu.
"Aiyla... Aku merasakan sesuatu, apakah kau baik-baik saja? " ucap Gul dengan hati dan perasaan yang tak menentu.
Terdengar hanya suara tangis dipanggilan tersebut, sangat pilu dan menyayat hati. Gul semakin panik dan semakin gelisah.
Sahabatnya itu hanya menangis tanpa berkata apapun. Yang terdengar ditelinganya hanya sebuah nama rumah sakit lalu panggilanpun terputus.
"Ada apa dengan Azzam... Oh tidak.. Aku akan segera kesana," ucap Gul yang berdiri seketika.
Tanpa disadarinya Murad ada diruang kerjanya itu sedari tadi.Telah mendengar percakapan wanita itu ditelpon.
Gul terkejut setengah mati, melihat atasannya itu. Tapi masih jauh lebih terkejutan dirinya mendengar tangisan Aiyla.
"Tuan, aku harus segera pergi," ucap Gul tanpa menghiraukan lelaki yang telah mendengar percakapannya.
__ADS_1
Gul berlari menuju tempat parkir mobilnya dan mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tuan Murad pun telah menyusul dibelakang mobil sahabat Aiyla tersebut.
Tak membutuhkan waktu lama Gul telah masuk kedalam rumah sakit yang dimaksud diakhir panggilan tadi. Dirinya tak begitu sulit menemukan sahabatnya itu.
Terlihat dimatanya Aiyla sedang terduduk lemas tak berdaya dilantai didepan ruang IGD. Rambutnya yang semula terikat rapi kini kusut dan sebagian rambutnya terlepas dari ikatannya.
Wajahnya tertunduk dengan mata merah dan kini matanya menjadi sipit akibat menangis terlalu lama, pipinya telah basah dengan air mata.
Melihat keadaan Aiyla yang seperti itu Gul langsung memeluk sekuat-kuatnya tubuh sahabatnya itu.
"Aiyla... Aiyla... Aiyla... Kau harus kuat...Aku tak mau melihat mu seperti ini...Kemana semangat mu itu, " teriak Gul seraya menguncang-guncangkan tubuh Aiyla.
Fusun hanya menangis melihat adegan didepan matanya itu. Dirinyapun merasa hancur dan tak berdaya karena teringat kembali akan kepergian saudara laki-lakinya.
Aiyla tak bergeming, tatapan matanya kosong seakan jiwa dan raganya tak selaras lagi. Hanya Bulir bening yang mengalir tak berhenti dari sudut kedua matanya.
Merasakan ini adalah sebuah mimpi bukan kenyataan, karena begitu berat beban dan ujian yang dideritanya sehingga tak mampu dirinya menghadapi bahwa ini kenyataan yang harus diterimanya bukan sebuah mimpi.
"Aiyla... Aiyla... Sadarlah saudara ku!!! " Tangis Gul yang akhirnya pecah.
Tak sanggup dirinya melihat kedaan Aiyla yang terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Aiyla seperti mayat hidup dihadapan Gul.
Menangis disudut ruang tak jauh dari ketiga wanita dihadapannya. Hatinya terasa pilu dan terasa perih melihat beban derita wanita yang selama ini menghilang dari pandangannya.
Setelah sekian lama tak bertemu, kini dipertemukan dalam keadaan yang sangat memilukan.
"Aiylaaa... Andai aku bisa berada disamping mu, mungkin bisa sedikit mengurangi beban berat yang sedang kau tanggung," ucap lirih Murad dengan menyeka air mata dengan kedua tangannya.
Cukup lama Murad berdiri disudut ruang itu. Pandangannya tak lepas dari wanita dihadapannya. Hatinya terenyuh dan tak pernah melihat keadaan yang begitu memilukan
"Ya... Tuhan berikan keselamatan pada putra wanita itu," ucap lirih Murad dengan mengangkat kedua tanganya.
Murad yang tak pernah ingat akan kehadiran Tuhan didalam hidup bebasnya, dirinya hanya tahu bahwa kesuksesan dan kekayaan yang didapat karena kerja kerasnya.
Ini juga baru pertama kali dirinya memohon dan berdoa untuk seseorang bukan bagian dari keluarga tapi anak lelaki yang baru saja dikenalnya.
Pintu diruang itupun terbuka terlihat seorang laki-laki keluar dari sana. Dengan pakaian lengkap dan membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya.
__ADS_1
Aiyla yang sedari tadi mematung tanpa mengeluarkan suara kini beranjak seketika setelah melihat dokter Ahmed yang dikenalnya.
"Aiyla..Bersyukurlah pada Tuhan, Azzam dapat diselamatkan. Namun kondisinya belum begitu baik, biarkan dia berada pada ruangan khusus dengan pengawasan penuh dan steril," ucap dokter Ahmed dengan sedikit senyum diwajahnya.
Setelah mendengar perkataan dokter yang menangani Azzam, ketegangan yang dirasakan sedikit berkurang.
"Aiyla... Duduklah disini, sudah sedari tadi kau dilantai. Azzam sudah melewati masa kritisnya," ungkap Gul seraya meraih tangan sahabatnya.
Dokter Ahmed meminta Aiyla bertemu diruang kerjanya satu jam kemudian. Dokter tersebut akan menjelaskan tentang keadaan putranya lebih detail lagi.
Gul memandang Fusun untuk lebih dekat duduk disamping Aiyla karena dirinya akan pergi untuk membeli minuman hangat.
Tubuh Aiyla terasa sangat dingin dan wajahnya yang sedari tadi menangis kini terlihat lebih pucat.
Pada saat berdiri dan berjalan beberapa langkah Murad menghadang dirinya dengan membawa minuman hangat yang akan dibeli Gul.
"Tuan sejak kapan anda disini," ucap Gul yang terkejut melihat laki-laki itu.
Murad tak menjawab pertanyaan wanita itu, lelaki itu hanya memberikan minuman yang dibawanya dan berjalan disamping sahabat Aiyla.
Gul memberikan minuman kepada Fusun dan kepada Aiyla. Secangkir kopi hangat telah digenggaman, menyeruput beberapa kali air kopi dan masuk kedalam tenggorokannya yang terasa kering.
Keadaan Aiyla sudah lebih baik dari sebelumnya setelah meminum hampir separuh gelas air kopi yang ada digenggamannya.
Mata Aiyla tertuju pada lelaki yang berdiri disamping sahabatnya itu. Wajahnya kembali terkejut, melihat Murad ada diantara mereka.
Sudah lama lelaki itu berdiri disamping Gul, namun baru detik ini Aiyla sadar akan kehadiran atasannya dulu.
Pandangan mata Aiyla beralih pada Gul, sebagai isyarat meminta penjelasan dari kehadiran lelaki tersebut.
Sebelum Gul menjelaskan atas kehadiran atasannya itu, Murad lebih dulu mengeluarkan suara.
"Aiyla, jangan salahkan Gul. Aku datang kemari sendiri karena melihat Gul yang tergesa-gesa pergi meninggalkan kantor. Aku mengikuti mobil Gul dari belakang dan sampailah kerumah sakit ini," ungkap Murad dengan wajah masih terlihat sedih.
Mendengar perkataan Murad membuat Aiyla tak dapat berkata apa-apa. Suatu saat pelariannya pun akan terhenti dan ini lah saatnya.
"Aku memang tak dapat lari dari takdir-Mu. Siapalah aku ini.... Yang penuh dengan keterbatasan tak mampu menolak, " ucap lirih dari suaranya yang berat dan parau.
__ADS_1
Baru saja Aiyla merasakan kebahagian pagi tadi dengan wajah berseri, namun lihatlah malam ini. Gelapnya malam kembali menyadarkan dirinya bahwa hanya ada warna hitam didalam kehidupannya.