
Apakah Gul berhasil memberitahu Ergin?ππ
Tulis dikolom komentar....ππ
Perbanyak share cerita ini pada teman Reader lain yaaaa atau share di medsos untuk tulisan Author ini... ππ
Hanya di NovelToon yang free tinggal baca aja...Untuk itu jangan lupa like, vote, love dan rate bintang 5 ya Guy's....ππ
πΆHappy ReadingπΆ
πππ
Air mata Aiyla masih terus mengalir pada saat dirinya hanya terdiam dan terpaku melihat sahabatnya itu. Lidahnya kelu untuk bersuara menghentikan tindakan yang dilakukan Gul padanya.
Sambungan telpon yang Gul lakukan berdering panjang namun tak segera diterima sehingga terputus dengan sendirinya. Tak patah semangat Gul melakukan panggilan ulang kembali kenomor yang sama namun masih tak diterima.
Untuk yang ketiga kalinya barulah panggilan tersebut diterima oleh orang diseberang sana dengan suara terkesan sedang habis berlari. Terdengar suara nafas yang tak teratur menjawab panggilan yang Gul lakukan.
"Selamat sore Tuan... Datanglah kerumah sakit. Putra Aiyla sedang dirawat dirumah sakit," ucap Gul singkat dengan suara bergetar dan berat.
Ergin terkejut setelah mendengar suara dari pangilan tersebut, dan panggilan itupun terputus. Dengan seketika menambah rasa sesak didadanya.
Rupanya Ergin baru selesai berolahraga sehingga terkesan nafasnya tak beraturan diruang fitnes yang ada diapartementnya itu.
Mendengar perkataan dari pegawainya itu tanpa berpikir panjang Ergin langsung berlari dan mengambil kunci mobilnya yang terletak diatas meja.
Dengan kecepatan penuh Ergin melintasi jalan raya yang ramai disaat itu. Bunyi klatson dari mobilnya terdengar berbunyi disetiap persimpangan.
Serasa dirinya ingin terbang dan sampai secepat kilat bertemu dengan anak lelaki yang sangat dirindukannya itu.
Ternyata selama ini Ergin merasakan kerinduan yang sangat mendalam pada putra Aiyla. Disetiap malam wajah keduanya selalu menemani Ergin disepanjang malam-malam nya.
Setibanya dirumah sakit semua orang melihat dirinya. Beruntung dirinya membayar orang sehingga tahu dimana rumah sakit yang dulu Azzam pernah dirawat disana.
Dengan menggunakan celana pendek diatas lutut dan kaos tipis yang memperlihatkan bentuk tubuhnya serta sebuah handuk kecil berwarna biru yang masih melingkar dilehernya.
__ADS_1
Ergin terus berlari, dia tak menghiraukan penampilanya menjadi soroton orang yang ada dirumah sakit.
Ergin jarang tampil dengan menggunakan pakaian seperti itu didepan umum dengan pakai tersebut terlihat tubuhnya yang atletis dengan dada bidang, perut yang sizepack dan otot yang terlihat berisi.
Semua mata wanita tertuju padanya ditambah wajahnya yang familiar membuat orang mengenal siapa lelaki tersebut.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga Tuan Ergin terlihat begitu cemas, " ucap salah satu wanita yang berdiri melihat Ergin melintas dihadapannya.
Akhirnya sampai juga pada ruang yang dikatakan petugas yang ada dibawah sebelum dirinya sampai diruang inap Azzam.
Dibukanya pintu tersebut tanpa mengetuknya, terlihat Aiyla yang tertunduk dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.
"Tuan Ergin... " teriak Azzam dengan wajah terkejut.
Aiyla yang tak menyadari lelaki itu datang, saat ini telah berdiri dihadapan mereka. Teriakan putranya membuat Aiyla mengangkat kepalanya.
Rasanya baru saja Gul menelpon lelaki itu, dengan begitu cepatnya lelaki tersebut telah berada diruang ini. Gul yang ada disana pasti memikir hal yang sama.
Ergin mendekati putra Aiyla dengan kerinduan terpancar dikedua matanya. Tubuh kecil itu telah didekapnya dengan penuh kasih sayang.
Berulang kali lelaki itu mencium puncak kepala Azzam dengan mata yang telah berkaca-kaca. Ergin tak perduli dengan Aiyla, Gul dan Fusun yang masih terpaku atas kehadirannya saat ini.
Azzam juga merespon pelukan lelaki yang juga dirindukanya. Semua orang yang ada disana melihat reaksi yang berbeda yang dilakukan Azzam pada lelaki tersebut.
"Aku rindu pada mu Tuan... " ucap Azzam seraya menangis tersedu.
Ergin melepaskan pelukannya dan menyeka air mata yang membasahi wajah mungil anak lelaki yang ada dihadapannya dengan penuh kasih sayang.
"Oh...Sayang ku...Sudah, jangan menangis. Sekarang aku ada dihadapan mu," ungkap Ergin dengan membelai lembut wajah Azzam.
Ergin menatap wajah Aiyla sama saat melihat putranya. Sosok wanita yang selalu membuat malam-malam yang dilaluinya terasa menyakitkan dan menyiksa dirinya.
Kedua tangan Azzam digengaman Ergin lalu mencium punggung tangan kecil putra Aiyla itu.
"Tuan... Apakah anak kuda itu sudah bisa berlari dengan kencang?" ucap Azzam dengan memperlihatkan senyumannya.
__ADS_1
Lesung pipi yang telah lama tak terlihat dengan jelas kini menghiasi wajah putra Aiyla. Semua yang ada disana turut bahagia melihat sebuah senyuman yang terukir diujung bibirnya.
"Kau akan segera melihatnya langsung," ucap Ergin kembali memeluk tubuh kecil yang terasa kurus didekapannya.
"Ya...kau akan segera melihatnya," ucap Aiyla dengan tersenyum.
Kini Aiyla telah berdiri berada disamping Ergin dengan membelai tubuh putranya. Mata Azzam menatap dalam kearah ibunya seperti memastikan kebenaran atas ucapan ibunya kali ini.
Dengan merangkul tubuh Aiyla dan tersenyum menatap Azzam, Ergin memastikan pada anak lelaki dihadapannya atas kebenaran perkataan ibunya itu.
Melihat tindakan Ergin pada ibunya barulah Azzam percaya dan sebuah senyuman kembali terukir diwajahnya. Kemudian lansung putranya memeluk tubuh mereka berdua secara bersamaan.
Gul dan Fusun terharu melihat adegan dihadapan mereka berdua. Seraya tersenyum menatap wajah mereka bertiga.
"Baiklah jagooan... Bibi akan pulang dulu, karena sepulang dari kantor langsung kemari, besok bibi akan jenguk Azzam lagi," ucap Gul seraya mendekati Azzam dan mencium kedua pipinya.
Dengan tersenyum Gul melambaikan tangannya berlalu pergi. Lambaian tangan Gul dibalas oleh Azzam masih dengan tersenyum.
"Sayang...Boleh saya bicara dengan ibu mu dulu diluar sana? " ucap Ergin dengan membelai puncak kepala Azzam.
Anak lelaki itu tersenyum kembali seraya menganggukan kepala pertanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ergin. Memberikan tangan ibunya pada Ergin untuk segera mengajak ibunya pergi keluar ruangan tersebut.
Tangan yang sangat dirindukannya kini telah berada digenggamannya dan tak ingin dilepaskannya.
Setibanya diluar ruangan lelaki itu tak perduli dilihat oleh orang yang melintas disana. Ergin telah memeluk tubuh wanita itu dengan mesrah dan mencium aroma dari tubuh yang sangat dirindukannya.
Aiylapun tak menolak tindakan Ergin padanya. Tubuhnya seakan merindukan hal yang sama terhadap lelaki bermata biru.
"Aku tak akan pernah menyerah sampai kau menerima ku," bisik lembut ditelinga Aiyla.
Tak ada respon yang diberikan Aiyla hanya bulir bening yang membasahi wajahnya yang masih terlihat pucat. Mendengar tangisan Aiyla membuat Ergin semakin terbakar akan rasa sakit yang ada dihatinya.
"Sayangku... Ku mohon. Biarkan rasa sakit ini kita lalui bersama, ku mohon pada mu untuk menerima ku, " ungkap Ergin dengan mencium dahi Aiyla.
Tak ada kata yang keluar dari mulut Aiyla yang ada hanya tangisan yang terdengar ditelinganya. Ergin kembali memeluk tubuh itu dan tak ada penolakan yang dirasakan Ergin atas tindakannya.
__ADS_1
Disatu sisi berdiri seorang lelaki tak jauh dari mereka berdua yang sedang berpelukan. Terlihat sorot matanya yang tajam memandang mereka berdua dengan wajah tak senang.
Tangan yang digenggam erat menahan rasa terbakar oleh api cemburu atas apa yang dilihatnya.