Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 135


__ADS_3

Alhamdulillah sudah melewati puasa pertama ya reader... 🙏😍


Semoga tetap semangat sampai buka nanti 😉


Lanjuuut ngebaca yoook 😘💨💨


But don't forget to 👌


♥Like


♥Love


♥vote


♥Gift


♥Rate Star 5


💞Happy Reading💞


💢💢💢


3 Bulan Kemudian...


Setelah menjalankan sidang tahap akhir, hakim memberikan putusan atas semua tindak kejahatan yang dilakukan Nyonya Esma dengan pasal berlapis, dimana bukti-bukti dan saksi-saksi yang memberatkan wanita itu.


Tindakan mengintimidasi sehingga menyebabkan kematian seseorang, percobaan penculikan dan pencemaran nama baik.


Dengan dakwahan itu akhirnya Nyonya Esma mengalami masa tahan yang terbilang cukup lama. Dimasa tuanya akan dihabiskan dibalik jeruji penjara.


Dengan wajah penuh amarah Nyonya Esma manatap Ergin, Aiyla, Nyonya Syukran dan Nyonya Yasmin serta semua yang berpihak pada Ergin termasuk Dishya.


Mendengarkan pembacaan keputusan oleh hakim ketua dalam sidang pidana atas terdakwa Nyonya Esma. Jantung Aiyla dan Ergin berdegub kencang, mereka berdua menitikkan bulir bening bahwa apa yang mereka usahakan kini sesuai harapan.


Mendapatkan keadilan bagi saudara tiri ibu Aiyla. Dan bagi Ergin membuka tabir hitam yang selama ini tersembunyi dari dirinya.


"Sayang...Terima kasih. Aku bersyukur ditakdirkan bertemu dengan mu. Tuhan memang maha tahu apa yang terbaik untuk kita. "

__ADS_1


Ungkap Ergin dengan bulir bening telah jatuh menetes dipipinya. Aiyla memeluk erat tubuh suaminya itu.


Degub jantung Ergin terasa disaat Aiyla memeluk dada bidang suaminya, sepertinya telah terjadi gemuruh secara bersamaan dihati mereka berdua.


"Aku akan selalu ada disamping mu Ergin." Bisik Aiyla yang terdengar indah ditelinga Ergin.


Diseberang sana masih diruang yang sama, Dishya mendekati mereka berdua. Berjalan dengan ditemani oleh asisten pribadi Ergin.


"Terima kasih Dishya, atas bantua mu pada ku. "


Seraya memberikan pelukan dan sentuhan dikedua pipi wanita muda tersebut. Ergin menatap dalam sahabat dimasa kecilnya.


"Maafkan aku juga, telah salah mengartikan hubungan kita selama ini. Bodohnya aku, termakan asutan wanita itu. Sekarang aku menyadari bahwa kau adalah saudara laki-laki ku."


Terdengar suara Dishya dengan sorot mata penuh dengan keseriusan dan ketulusan. Ada terselip rasa bersalah diwajah wanita muda itu.


Buraq yang berada disampingnya menggenggam tangan Dishya dengan erat. Seolah memberikan kekuatan pada wanita itu. Ergin dan Aiyla menatap tindakan asisten pribadi Ergin mengukir senyum diwajah keduanya.


Selama menjalani sidang, Dishya lebih dekat dengan Buraq. Mereka berdua saling support satu sama lain karena Dishya menjadi salah satu saksi dipersidangan tersebut.


Kedekatannya antara mereka berdua itu membuat Buraq senang. Bunga cinta semakin bersemi dihatinya. Namun sampai saat ini Buraq masih belum berani untuk mengungkapkan perasaannya pada Dishya.


"Tuan... Saya permisi. Saya Akan mengantar nona Dishya pulang. "


Terdengar suara dari Buraq dengan tangan masih menggenggam tangan wanita yang ada disampingnya seraya menatap wajah wanita muda itu. Aiyla dan Ergin memberikan respon dengan menganggukkan kepala pertanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Buraq.


Sedangkan Murad yang sedari tadi menampilkan kemesraan bersama Gul menatap dari kejauhan Ergin dan Aiyla. Murad mendapatkan restu Nyonya Syukran atas hubungan dirinya dengn Gul.


Dengan demikian Nyonya Syukran telah memberikan lampu hijau pada mereka berdua untuk meneruskan hubungan yang diawali hanya sebuah kesepakatan.


Nyonya Syukran berjalan menghampiri mereka berdua yang sedari tadi berdiri tak jauh dengan Ergin dan Aiyla.


"Murad... Ibu akan bersama sopir, kalian berdua tak perlu khawatirkan aku."


Terdengar suara ibunya dengan sorot mata penuh dengan rasa sedih. Walau bagaimanapun Nyonya Esma adalah sahabatnya.


Deru mobil mengantarkan mereka kembali kekediaman masing-masing, namun tidak hanya dengan Nyonya Syukran.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu meminta sopir pribadinya mengantar kesebuah tempat yang tak ramai dikunjungi orang. Duduk sendiri dengan bulir bening yang sedari tadi ingin keluar dari ujung matanya.


"Esma... Maafkan aku....Jika hal ini membuat mu membenci ku maka aku akan terima. Aku hanya ingin kau menjadi sahabat dimasa kecilku. Polos dan tak ada sedikitpun ambisi dimata mu."


Terdengar suara lirih dengan tatapan mata kearah laut lepas. Sopir pribadinya hanya melihat majikannya yang tak jauh dari posisi dimana majikannya itu duduk.


"Kau harus berjaga-jaga dan jangan jauh dari ibu ku. Aku tak ingin sesuatu terjadi padanya."


Terdengar suara Murad penuh kesungguhan memberikan perintah pada sopir pribadi ibunya sebelum laki-laki itu pergi dari ruang sidang.


Makanya setelah 2 jam wanita itu duduk disana, sopir pribadinya tak bergerak sedikitpun dari posisi semula.


"Esmaaa... Mengapa kau merusak segalanya. Aku tahu kau begitu mencintai lelaki itu. Kegilaan akan cinta membuat kau menghancurkan dirimu sendiri."


Nyonya Esma sudah tahu sebelumnya bahwa ayah Ergin memiliki wanita yang dicintainya namun tak terima bahwa cinta sedari kecil itu tak terbalaskan.


Esma merupakan putri angkat dari keluarga kaya dikota ini. Mereka tak memiliki seorang anakpun sampai diusia yang tak muda lagi. Akhirnya memutuskan untuk mengadopsi anak dari sebuah panti asuhan.


Esma diadobsi dengan keluarga kaya dan diberikan faailitas yang tak pernah dimilikinya. Kisah surampun menghiasi perjalanan wanita itu, wajar saja ia begitu ambisius untuk mempertahankan harta yang dimiliki suaminya.


Bulir bening semakin membasahi wajah Nyonya Syukran, hebusan angin senja membuat kaku diwajahnya.


Berjalan menyusuri pinggir laut membawa perasaannya. Sopir yang sedari tadi memperhatikan tingkah lakunya refleks juga mengikuti dari belakang.


❤❤❤


"Akhirnya apa yang kita rencanakan berhasil juga, terima kasih Ergin. Setidaknya rasa sakit dihati ini bisa lebih membaik. Sahabatku Elif bisa lebih tenang disyurga. Putranya mampu memperbaiki namanya dan bertemu dengan Melec, sang keponakan yang menjadi diharapkan Elif. "


Suara itu terdengar sendu dan berat, keluar dari mulut wanita yang sudah tak dapat menahan tangis. Aiyla memeluk tubuh Nyonya Yasmin begitu erat.


"Nyonya Yasmin terima kasih.. Kau memang sahabat yang luar biasa bagi bibi ku Elif sampai detik terakhirnya. Beruntung sekali bibi ku memiliki diri mu."


Ungkap lirih Aiyla masih memeluk tubuh Nyonya Yasmin. Akhirnya tanpa membalas perkataan Aiyla, mereka berdua saling mengeratkan pelukan.


Kini rasa dihati mereka bercampur menjadi satu, larut dalam emosi dan perasaan masing-masing.


"Aiyla jaga baik-baikan janin yang ada dirahim mu ini, karena ini buah cinta mu bersama Ergin. Jangan biarkan kau mudah kelelahan, saran ku kau bisa melepaskan jabatan mu sementara. Biarlah Ergin saja yang menjalankan sampai kau melahirkan dan putramu cukup umur untuk ditinggalkan."

__ADS_1


Sebuah pendapat yang datang dari seorang wanita yang belum pernah menikah dan memiliki anak. Akan tetapi perkataan itu terkesan seperti seorang ibu menasehati putri kesayangannya.


__ADS_2