
Hai... Hai... Hai...πππ
Apakah Reader π masih setia dilapak Author. Mohon maaf lahir dan batin yaπ. Maaf baru bisa menyapa setelah beberapa hari vakum dan baru hari ini bisa melanjutkan ceritanya ππ
Tetap selalu berikan dukungan pada Author dengan cara πππ
1. πLike diakhir bacaan π
2. π Love jadikan favorit π
3. π Gift sekuntum mawar lebih juga boleh π
4. π― Vote π
5. β Rate Star 5 π
Terima kasih buat Reader yang telah memberikan dukungannya pada Author ππ Semoga masih tetap setia π dan terus mengikutin alur dari cerita Pekatnya Malam ππ
Jom lanjuuut ngebaca
Happy Reading
πππ
"Sebuah rahasia? Apa maksudnya? "
Balas Murad kembali menatap dalam kearah Ergin yang kini terlihat perubahan diraut wajah lelaki itu.
Dengan menganggukkan kepala sahabatnya itu
memberikan penekanan pada perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Maaf... Aku tak bisa menceritakan apa rahasia yang ku miliki. Aku yakin seseorang yang telah mengirimkan teror kepada kita berdua ini adalah orang yang sama. "
Ungkap Ergin kembali seraya penuh dengan keseriusan menatap wajah Murad. Kedua laki-laki itu merasakan hal yang sama dalam pikiran masing-masing.
"Siapa yang mengetahui rahasia kita dimasa lalu tentu adalah seseorang yang telah mengenal betul pribadi kita selama ini. Seseorang yang paling dekat dengan kita berdua. "
Ungkap Ergin lebih lanjut dengan penuh kesungguhan mengatakan pada sahabatnya itu. Muradpun berpikir demikian, wanita yang ada diphoto ini adalah wanita yang telah lama dikenal oleh Murad.
"Kau benar sekali, bisa jadi wanita ini yang sengaja meneror ku dan meneror kau. Wanita yang ada didalam photo ini! Kalau bukan dia terus siapa lagi? Ditambah dengan kata-kata dibalik photo lama ini. "
Ucap Murad semakin yakin dengan argumennya tentang pelaku meneroran tersebut.
"Tidak mungkin wanita itu, bodoh kalau dia harus meneror mu dengan cara seperti itu. Dia bisa langsung bertemu dengan mu. Satu hal lagi, Aku tak mengenal wanita itu jadi sangat kecil kemungkinan akan mengetahui rahasia yang ku simpan beberapa tahun ini."
__ADS_1
Balas Ergin memberikan gambaran untuk sosok yang sengaja membuat mereka bingung sekaligus terganggu dan penasaran siapa dibalik pengirim surat yang dikirimkan pada mereka berdua.
"Sebenarnya apa rahasia mu? Ceritakan pada ku? "
Ucap Murad dengan nada suara menjadi lebih penasaran setelah mendengar penjelasan dari sahabatnya itu.
"Maafkan aku, aku tak bisa mengatakan pada mu. Ini adalah kebodohan yang pernah ku lakukan seumur hidup, ku mohon kau tak merasa tak enak hati jika rahasia ini biar ku kubur sendiri."
Ucap lirih Ergin dengan kepala tertunduk, dirinya merasa bodoh disaat pekatnya malam itu terlintas kembali didalam pikirannya.
"Baiklah, Aku akan mengerti jika itu adalah sebuah rahasia yang tak ingin kau bagikan pada ku."
Balas Murad dengan sebuah senyum pertanda dirinya tak merasa sakit hati karena Ergin tak bersedia menceritakan padanya.
Dalam kurun waktu lebih dari 6 bulan mereka selalu diteror secara beruntun setiap minggunya.
Kinerja mereka mulai terganggu karena pikiran mereka berdua teralihkan dan fokus pada surat tanpa pengirim tersebut.
"Ergin... Apakah mungkin aku memiliki anak dengan wanita lain sebelumnya. Aku memang sering tidur dengan banyak wanita, tapi aku selalu memakai pengaman."
Ungkap Murad dengan serius menatap Ergin. Lelaki itu merasa bahwa selama ini pertualangannya dalam bercinta sangat hati-hati.
Sehingga Murad merasa aneh jika ada wanita yang meneror dirinya telah melahirkan seorang anak hasil dari pertualangannya.
Keesok Hariannya...
Lelaki itu tahu bahwa ini dari seseorang yang sengaja membuat dirinya penasaran dan kesal bercampur bingung.
Dengan perasaaan yang bercampur aduk Murad membuka amplop berwarna coklat tersebut.
Ternyata didalam surat tersebut terdapat photo seorang anak laki-laki berumur 7 tahunan dan dibelakang photo tersebut tertulis sebuah alamat sekolah.
Alamat tersebut tak begitu jauh, dia kenal betul daerah tersebut. Memang benar bahwa wanita yang menjadi ibu dari anak lelaki tersebut benar berdomisili dari daerah sana.
"Baiklah... Aku akan pastikan sekarang juga. "
Besit Murad dalam hati seraya keluar dari ruang kerjanya menuju lobi dari perusahaan tersebut dirinya bekerja.
Dengan kecepatan penuh Murad memacu kendaraannya dan memakan waktu sekitar 35 menit untuk sampai pada tempat yang dimaksud dalam tulisan dibalik photo tersebut.
Tanpa turun dari mobil Murad memperhatikan sebuah sekolah yang merupakan alamat yang tertulis dibelakang photo.
"Apakah ini adalah tempat sekolah anak laki-laki ini?"
Besit Murad dengan pandangan tak lepas menatap gerbang sekolah yang berjarak sekitar 2 meter dari mobil yang diparkirnya.
__ADS_1
"Apa aku harus turun dan bertanya pada security?"
Batin Murad dalam hati seraya keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pos security.
"Permisi...Ada yang bisa dibantu Tuan? "
Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kepala plontos menyapa Murad yang mendekati pos security tersebut.
"Apa anak lelaki ini bersekolah disini? "
Tanya Murad dengan serius seraya mengeluarkan sebuah photo yang ada didalam saku jasnya.
"Ehm...Coba saya lihat. "
Balas singkat laki-laki dihadapannya dengan tatapan mata penuh keseriusan menatap gambar anak lelaki yang dimaksud oleh Murad.
Cukup lama memperhatikan secara seksama dengan mata tak berkedip menatap photo tersebut.
"Anak ini memang bersekolah disini. Namun dalam sebulan ini sangat jarang sekali bertemu dengannya. "
Ucap lelaki tersebut dengan suara meyakinkan Murad. Diambilnya photo yang diserahkan kembali oleh lelaki bertubuh gempal dan berkepala plontos.
"Apakah ibu dari anak lelaki ini adalah wanita yang ada diphoto ini?"
Tanya Murad kembali seraya menyerahkan sebuah photo yang berbeda dari yang diperlihatkan sebelumnya.
"Benar, wanita ini yang selalu mengantar dan menjemput anak lelaki itu."
Balas cepat lelaki tersebut tanpa menunggu waktu lama.
"Untuk lebih jelas lagi, silahkan Tuan menemui kepala sekolah dan bertanya lebih detail dengan beliau tentang anak lelaki yang ada didalam photo tersebut."
Ucap lelaki itu antusias memberikan saran pada Murad. Tanpa menunggu waktu yang lama Murad mengikuti saran yang diberikan lelaki bertubuh gempal berkepala plontos.
Melangkahkan kaki memasuki koridor sekolah dan menyusuri beberapa kelas dan akhirnya sampai pada sebuah ruangan yang diatas pintu samping bagian kanan tertera sebuah identitas diri seseorang didalam ruang tersebut.
Murad melangkahkan dengan yakin dan sekarang berada tepat didepan ruangan tersebut karena telah mendapatkan petunjuk dari petugas keamanan sekolah.
Terdengar suara dari dalam dan meminta untuk Murad masuk ke rungan tersebut setelah dirinya tiga kali mengetuk daun pintu.
"Permisi... "
Ucap Murad dengan sebuah senyum membingkai diparas tampannya.
"Silahkan duduk Tuan, Apa tujuan anda kemari? Katakan pada saya ? Apa yang bisa saya bantu? "
__ADS_1
Ucap wanita dengan sebuah kaca mata tebal membingkai wajahnya menatap kearah Murad dengan sebuah kecemasan terlihat diwajahnya.