Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 53


__ADS_3

Apa cerita Si babang Ergin yaaaa??


Dah beberapa bab ga terlihat lelaki yang terikat pada suatu malam dengan Aiyla.... 😭😭


Ayoo siapa yang mengharapkan kehadiran lelaki bermata biru itu??? 😘😘


Acung jempol dan tulis dikolom bawah ya.. πŸ“£


Plus jangan lupa like, love, vote dan rate bintang 5 yang tak henti disetiap akhir membaca perbab tulisan ini. πŸ“©πŸ“©


Author...πŸ”œπŸ”œπŸ”œ


Me...Nan....Ti....Kan.... Jejak mu.....Guy's


Jom LanjuuutπŸ’’πŸ’’πŸ’¨πŸ’¨


πŸ’ Happy ReadingπŸ’ 


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Waktu terus berjalan hampir seminggu Azzam dirumah sakit, bersyukur putranya telah berpindah keruang rawat inap tidak diruang isolasi.


Setitik harapan itu perlahan muncul kembali, seperti sore ini Azzam sudah sadar akan tetapi belum bisa berinteraksi dengan baik pada Fusun dan dirinya.


Kecerian putranya itu masih belum terlihat menghiasi wajahnya yang beransur memerah, masih terlihat pucat tapi tidak seperti sebelumnya disaat ruang isolasi.


Azzam memang semakin menunjukkan kemajuan lebih baik dari sebelumnya. Tapi tidak dengan kesehatan psikisnya. Anak lelaki itu cenderung murung dan cenderung ingin menyendiri dan tak ingin terlalu berinteraksi.


Gul masih mengenakan baju kerjanya berjalan menyusuri ruang inap yang ditempati putra Aiyla. Dengan wajah yang ceria karena mendengar bahwa hari ini putra sahabatnya itu telah berpindah keruang inap tersebut.


Melihat nomor ruang inap yang telah dikirimkan Aiyla melalui pesan singkat tadi pagi. Mengetuk pintu dan terdengar suara dari dalam untuk meminta dirinya masuk.


Melihat anak lelaki itu yang sedang duduk dengan posisi menyandarkan tubuhnya pada kepala tempat tidur


"Selamat sore jagoooan.... Ayo tebak? Bibi bawakan sesuatu untuk mu.." ucap Gul dengan senyum mengembang diujung bibirnya.


Wanita itu berjalan mendekati anak lelaki yang sedang menyandarkan tubuhnya dikepala tempat tidur.

__ADS_1


Langsung memeluk dan mencium kedua pipinya serta meletakkan bingkisan yang sengaja dibawanya.


Dengan wajah datar tanpa reaksi apapun putra Aiyla menatap Gul yang telah duduk disamping tempat tidurnya. Azzam tak tertarik dengan bingkisan yang ada ditangannya, dengan melihat dan membiarkannya saja.


"Eh... Kenapa diam? Ayo dibuka sayang," ucap Gul dengan mata melirik kearah Aiyla.


Lirikan mata sahabatnya itu membuat Aiyla tertunduk. Gul tahu bahwa putra Aiyla seperti kehilangan keceriaanya. Azzam tak merespon dengan baik kehadirannya.


Semenjak sadar dari ruang isolasi Azzam memang tak begitu merespon apapun yang ada disekitarnya. Terkecuali memancing untuknya berbicara dan merespon atas tindakan yang kita berikan padanya.


Kehadiran kakek sama neneknya saja tak direspon Azzam. Tuan dan Nyonya Mustafa terkejut dengan perubahan yang terjadi pada cucunya itu. Mereka bersedih dan terpukul atas sikap Azzam yang dingin terhadap mereka.


Aiyla sempat menjelaskan pada mereka berdua bahwa yang dilakukan Azzam tidak hanya pada mereka namun pada dirinya juga. Barulah terlihat tak begitu bersedih diwajah mereka berdua.


Fusun yang sedari tadi hanya berdiri disamping Aiyla berjalan mendekati Azzam lalu duduk disisi lain tempat tidur Azzam.


"Sayang...Ayo kita buka...Apa kau tak penasaran? Apa yang ada didalam kotak ini?" Ungkap Fusun dengan tersenyum menatap Azzam.


Azzam membiarkan Fusun membuka kotak tersebut seraya berpura-pura kesulitan untuk membukanya. Melihat pengasuhnya yang kesulitan membuka, seketika putra Aiyla membantu Fusun membuka kotak yang berisi sebuah mainan.


"Wow...Keren ini mobil-mobil yang mahal sayang... Kau belum memiliki ini," ungkap Fusun dengan senyum tak lepas diwajahnya.


"Bibi salah...Cara mainnya buka seperti itu. Bibi harus memutar kunci dibelakang ini lalu membiarkanya berjalan sendiri, seperti ini..." ungkap Azzam.


Melihat Azzam merespon membuat Gul dan Aiyla tersenyum. Fusun pandai mengambil hati anak ini, agar mau mengeluarkan suaranya.


Selama dirumah sakit Azzam kembali menjadi pendiam dan enggan untuk mengeluarkan suaranya. Anak lelaki itu seperti kehilangan gairah untuk berinteraksi pada semua orang.


Termasuk pada Aiyla, putranya hanya akan meminta sesuatu baru berbicara dengan dirinya. Itu sangat membuat Aiyla terpukul atas sikap yang ditunjukkan pada putranya itu.


"Bibi kapan kepeternakan lagi? Aku ingin bertemu anak kuda yang baru lahir itu. Tentu sekarang sudah bisa berlari kencang," ucap Azzam dengan polosnya.


Mendengar perkataan Azzam mereka yang ada diruang inap itu terkejut. Mereka tak percaya dengan yang baru saja keluar mulut Azzam. Perkataan putranya menusuk hati Aiyla.


"Aku telah berjanji pada, tapi tak pernah ku penuhi," besit dihati Aiyla dengan mata berkaca-kaca.


Fusun dan Gul saling menatap dan begitu juga mereka melihat mata Aiyla yang hendak menangis.

__ADS_1


" Azzam cepat sembuh dulu biar bisa lihat anak kuda itu," balas Gul seraya membelai rambut kepala putranya Aiyla.


Mendengar perkataan wanita disampingnya itu Azzam menatap dalam Gul kemudian menatap wajah ibunya yang berdiri disudut ruang yang tak jauh darinya.


"Ibu ku pernah mengatakan itu sebelumnya, tapi..." ucap Azzam seraya menghentikan bicaranya.


Dengan wajah tertunduk putra Aiyla tak meneruskan perkataanya. Hanya terlihat kesedihan diraut wajah putranya.


Aiyla tak mampu berbicara dan tak mampu menatap wajah Azzam. Berjalan keluar ruangan seraya menahan tangis yang tak mampu ditahannya lagi.


Sahabatnya langsung meninggalkan Azzam dan Fusun lalu mengejar Aiyla yang secara tiba-tiba keluar dari ruang tersebut.


Dilihatnya Aiyla telah berlari menuju suatu pojok disisi rumah sakit tersebut. Menangis terseduh-sedu seraya terduduk dilantai.


Gul memeluk tubuh sahabatnya itu berusaha memberikan kekuatan agar dapat menenangkan emosi dan perasaannya.


"Aiyla... Aiyla... Ada apa dengan mu. Sadarlah... Tenangkan diri mu," ucap Gul seraya membelai lembut pundak sahabatnya itu.


Aiyla masih menangis tak dapat mengendalikan emosi dan perasaannya. Beruntung tempat dimana mereka berdua itu jarang dilintasi oleh orang ramai sehingga tidak menjadi perhatian orang lain jika melihat Aiyla menangis begitu pilu.


"Gul... Akulah yang membuat putra ku menderita, Aku tak menyadari keputusan ku ini, aku pikir dia akan baik-baik saja jika aku tak memenuhi permintaannya Itu, " ungkap Aiyla dengan terbata-bata.


Gul memandang wajah Aiyla seraya merapikan rambut sahabatnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya.


Pada saat merapikan rambut sahabatnya itu, Gul penasaran sebenarnya apa yang sudah terjadi dan apa maksud dari perkataan Aiyla yang barusan didengarnya.


"Ceritakan pada ku semuanya dengan perlahan Aiyla..." Ucap Gul dengan wajah serius menatap sahabatnya.


Dengan runtun Aiyla menceritakan semua dari awal sampai akhir disaat Aiyla memberikan harapan pada putranya untuk pergi kembali keperternakan yang dimiliki Ergin.


Mereka bertiga yaitu Azzam, Ergin dan dirinya akan menghabiskan waktu libur sekolah Azzam disana. Itu semua sebelum terjadi keputusan dirinya untuk pindah dari apartemant dan menghilang dari kehidupan Ergin.


Selama mereka disana Azzam selalu menagih Aiyla untuk memenuhi janjinya, namun dengan segala cara dan berbagai alasan yang diberikan pada putranya untuk melupakan peternakan itu.


" Wajar dia menatap ku tadi, pada saat aku berjanji pada putra mu. Kau sudah berbuat tak adil pada putramu La.." ucap sahabatnya itu yang membuat Aiyla terdiam.


Kata-kata yang keluar dari mulut Gul menusuk hatinya, memang benar adanya tapi Aiyla merasakan sakit dan tersiksa dihati yang tak mampu diceritakan pada Gul.

__ADS_1


"Baiklah... Aku akan memberitahu Tuan Ergin, kau jangan melarang ku kali ini," ucap ketus sahabatnya itu seraya mengambil ponsel yang ada disakunya.


Dengan tangis yang masih tersisa, Aiyla tak mampu menghentikan tindakan yang dilakukan oleh sahabatnya itu.


__ADS_2