
Wow... π
Ternyata Aiyla melahirkan seorang bayi perempuan. Lengkap sudah kebahagiaan Ergin. Menurut Reader adakah badai lagi ditengah kebahagiaan mereka?
Kira-kira apa ya? Tulis dikolom komentar dibawah... ππ
Tekan Like, love, vote, gift, and rate stars 5 yeeesππ
Tinggalkan jejaknya Reader semua π Biar makin rameee...π
Lanjut ngebaca Reader setia... ππ
πHappy Readingπ
πππ
"Ibu...Kapan kita pulang kerumah? Azzam ingin secepatnya tidur bersama dedek bayinya."
Tutur manja Azzam terdengar ditelinga semua yang ada diruang itu seraya tak henti berdiri dan menatap ke box tempat tidur adiknya tersebut.
Tiba-tiba Gul masuk kedalam ruang inap dengan mengucapkan kata : "Permi.. siii...Hai... Azzam..."
Terdengar suara dari wanita yang tak asing ditelinga Azzam. Seketika Azzam menoleh melihat kearah Gul yang telah tersenyum menatap dirinya. Aiyla merasakan kebahagiaan yang tak terkira sehingga tersenyum melihat sahabatnya mendekati.
"Aunti Gul, lihatlah Azzam saat ini. Sudah punya adek yang sangat cantik. "
Sebuah perkataan langsung dilontarkan pada Gul yang baru saja beberapa detik memasuki ruang inap tersebut.
Gul melihat putri kecil yang baru saja dilahirkan sahabatnya itu. Begitu menggemaskan dan membuat hatinya terenyuh, berusaha menahan bulir bening yang akan keluar dari ujung matanya.
Dengan bersemangat Azzam menceritakan kejadian Aiyla dengan gaya bicara dan bahasa yang digunakan oleh anak lelaki itu. Gul menyimak dengan baik semua yang dibicarakan anak lelaki itu.
"Wow keren..Sekarang Azzam telah jadi seorang kakak. Duh...cantiknya adik yang kau miliki ini.. "
Ucap Gul dengan senyum mengembang menatap kedua putra dan putri sahabatnya itu. Dengan berbunga-bunga Azzam membalas senyum setelah mendengar perkataan dari sahabat ibunya. Aiyla hanya ikut tersenyum mendengar celotehan dari sahabatnya itu.
Gul beralih posisi dan kini berada dihadapan Aiyla. Ada sesuatu yang berbeda dari sahabatnya itu. Gul adalah wanita periang dan saat ini Aiyla melihat wajahnya setengah dipaksakan untuk tersenyum.
Aiyla penasaran dengan keadaan Gul dan berusaha untuk mencari tahu penyebabnya. Digenggamnya tangan Gul dan menatap lekat masuk kemanik hitam sahabatnya itu.
__ADS_1
"Gul... Ada apa? Mengapa mata mu bengkak? "
Suara Aiyla terdengar pelan namun penuh rasa simpati terhadap Gul. Sahabatnya hanya tertunduk, bulir bening yang sedari tadi ia coba untuk tak keluar menetes dipipinya, kini tak mampu dipertahankannya lagi.
"Aiyla....Akupun akan segera memiliki bayi. "
Bagai disambar petir Aiyla mendengar perkataan dari sahabatnya. Dengan derai air mata Gul menceritakan semua.
Akhir-akhir ini setelah kejadian kecelakaan yang menimpa Aiyla ditambah dengan kondisinya yang sangat lemah disaat hamil membuat dirinya dan sahabatnya Gul sangat jarang untuk bercerita satu sama lain. Bahkan Gul sudah jarang kerumah ataupun sekedar menelpon Aiyla.
"Apakah lelaki itu mau bertanggung jawab? "
Ucap singkat Aiyla tepat pada pokok permasalahannya. Gul tak memberikan jawaban, hanya tangis yang masih terdengar dari sahabatnya itu.
"Sekarang lelaki itu sedikit menjauh, sepertinya ia mulai bosan terhadap ku La. "
Ungkap Gul masih dengan tangis yang terisak-isak menatap Aiyla. Sebuah pelukan hangat Aiyla berikan pada sahabatnya itu sebagai bentuk simpati yang sangat mendalam terhadap Gul.
"Murad adalah tipe laki-laki petualang sepertinya dia mulai jenuh dengan hubungan kami berdua. Sedangkan kedua orangtua ku mendesak agar kami segera menikah. Aku tak tahu, apakah desakan orangtua ku yang membuatnya menjauhi ku. "
Terdengar suara pelan dan terasa sendu yang keluar dari mulut Gul. Aiyla membelai lembut punggung sahabatnya itu.
Aiyla memberikan isyarat agar suaminya bisa meninggalkan dirinya untuk sementara waktu mengurus Azzam selagi Gul ada bersama dirinya saat ini.
"Coba kau ceritakan pada Murad, kalau kau sedang mengandung anaknya."
Ucap Aiyla dengan wajah meyakinkan atas apa yang dikatakannya. Wanita itu hanya terdiam dan menundukkan kepala.
"Aku tak memiliki keberanian untuk memberitahukan kehamilan ku pada Murad. Aku tak bisa menerima dan akan lebih terasa tersakiti dihati ini jika ia menolak anak yang sedang ku kandung ini."
Ungkap lirih Gul dengan bulir bening telah membasahi wajahnya. Aiyla merasakan kesedihan yang teramat dalam menggelayut dihati sahabatnya itu.
Perasaan yang tak mampu diungkapkan, hanya bulir bening yang tak henti mengalir dari ujung mata wanita itu.
Hanya bisa menangis satu sama lain, belum ada solusi untuk memecahkan masalah sahabatnya itu. Aiyla tak bisa bayangkan bagaimana Gul hidup dengan seorang diri nantinya dalam kondisi sedang mengandung.
"Aku akan berniat resign dari kantor dan pergi jauh dari lelaki itu. Bahkan aku juga tak akan memberikan kabar kehamilan ku pada orangtua ku."
Begitu shock Aiyla mendengar keputusan yang diambil oleh Gul atas masalah yang sedang dialaminya.
__ADS_1
"Resign...Terus kau akan tinggal dimana? dan apa yang akan kau kerjakan selama kau tak bekerja itu ? Aku tidak setuju!!!
Terdengar keras suara yang keluar dari mulut Aiyla. Dengan penuh kesungguhan dirinya menatap sahabatnya itu.
"Mengapa kau begitu putus asa... Aku ingin kau beritahu Murad, walau apapun reaksi yang diberikannya pada mu. Bagian yang terburuk kau akan kehilangan dirinya barulah jika kau ingin resign silahkan. Aku akan mencari pekerjaan untuk mu selama pelarian itu."
Ungkap Aiyla kembali dengan nada penuh keseriusan. Gul sepertinya menerima saran dari sahabatnya itu.
Mereka kembali saling berpelukan dan Aiyla merasakan beban berat yang sedang dipikul oleh sahabatnya.
Pintu ruangan itu secara tiba-tiba terbuka, mereka berdua yang terlalu larut dalam kesedihan sehingga tak terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan yang tak mereka sadari.
Muncul sepasang suami istri keluarga besar Mustafa Othman beserta menantu dan kedua sepupu Azzam.
Raut kebahagiaan terpancar diparas wajah sepasang suami istri itu. Terlihat begitu bergembira dengan hadirnya putri kecil Aiyla, buah cintanya bersama Ergin.
"Aiyla... Putri mu sangat cantik, seperti dirimu."
Ungkap Nyonya Mustafa seraya tersenyum menatap putrinya yang masih tertidur. Wanita paruh baya itu memasangkan perhiasan ditubuh putrinya. Sepasang gelang, kalung dan cincin yang terbuat dari emas.
Ada tatapan mata yang tak senang akan tindakan Nyonya Mustafa. Berusaha menutupi dari semua orang yang ada disana. Azizah merasakan bahwa kasih sayang yang diberikan mertuanya terlalu berlebihan.
Adanya rasa iri yang terselubung dihati wanita itu terlihat dari raut wajahnya. Aiyla menyadarinya namun berusaha untuk tak memperlihatkan dihadapan semua orang.
"Terima kasih sudah hadir kemari."
Ungkap Aiyla pada sepasang suami istri itu. Tuan Mustafa dengan menggunakan kursi roda masih sempatnya hadir menjenguk Aiyla dengan segala keterbatasan lelaki itu.
Hati Aiyla terharu, hadirnya sosok lelaki yang dulu begitu tak menganggap kehadirannya. Kini terlihat sekali rasa kasih sayang terhadap Azzam dan kehadiran putri kecilnya.
Menyelipkan sebuah kertas dibalik bantal lalu lelaki itu meminta istrinya untuk menggedong dan membiarkan dirinya mencium putri kecil Aiyla.
Begitu juga Azizah yang memberikan perhiasan emas dan memakaikan ketubuh putrinya, walaupun Aiyla tahu bahwa wanita itu penuh dengan kepura-puraan.
"Terima kasih kak. "
Terdengar suara Aiyla saat wanita itu memasangkan perhiasan pada putrinya. Aiyla tak mengungkit sedikitpun peristiwa yang terjadi dirumah besar tersebut.
Walaupun dirinya yakin bahwa Azizahlah yang mendorong tubuhnya dari belakang dengan kesengajaan.
__ADS_1