
Apakah Murad merasa kehilangan?
Tulis dikolom komentar yaaaπ
Author butuh suplement nih πͺπͺbiar tambah semangat ππdengan cara klikπππ
1. πLike diakhir bacaan π
2. π Love jadikan favorit π
3. π Gift sekuntum mawar lebih juga boleh π
4. π― Vote π
5. β Rate Star 5 π
Jom lanjuuut ngebaca π¨π¨π¨
π₯Happy Readingπ₯
π π π
Gul telah membereskan semua, sebuah tiket telah ada ditangannya. Ini adalah hari terakhir ia berada diapartementnya itu.
Aiyla telah menyiapkan semua keperluan Gul disana. Sehingga ia hanya membawa satu koper besar dan satu tas jingjing sedang.
Sungguh beruntung dirinya, berkat bantuan Aiyla mampu membereskan semua untuk kepergian dan tempat tinggal disana nantinya.
Merogoh ponsel yang ada didalam saku mantel tebalnya karena saat ini memasuki musim dingin. Gul menyentuh layar ponselnya dan mencari sebuah kontak nama.
Terdengar suara nada sambung terhubung dengan panggilan keluar yang ia lakukan. Sampai nada sambung itu berhenti namun tak dapat diterima seseorang diseberang sana.
Sekitar 5 menit Gul menunggu, dia berpikir positif karena tentu saja Aiyla sibuk. Wanita itu telah kembali kerutinitas biasanya setelah melahirkan putri kecilnya.
Karena aset perusahan Ozturk dialihkan ke Ergin, kemudian Aiyla cuti selama hamil dan melahirkan maka Ergin mengambil alih kursi kepemimpinan.
Sambutan hangat dari perusahaan pendukung atas kembalinya pemimpin tertinggi diperusahaan Ozturk tersebut.
Aiyla menjadi pemimpin tertinggi diperusahaan kedua yang didirikan oleh Ergin. Sebuah perusahaan kedua yang sengaja dirintisnya bersama suaminya. Aiyla lebih memilih menjadi pemimpin diperusahaan baru tersebut.
Sedangkan perusahaan yang pertama kali didirikan oleh Ergin diserahkan pada Buraq seorang asisten pribadinya yang dapat dipercaya sebagai pemimpin direktur utama diperusahaan tersebut.
Walau demikian 2 perusahaan tersebut dibawah naungan dan pantauan Ergin. Aiyla dan Ergin adalah sepasang suami istri yang sukses didalam dunia bisnis.
__ADS_1
Siapa yang tak akan mengenal sepasang sejoli itu yang melebarkan sayapnya didunia bisnis dengan meraup keuntungan besar setiap tahunnya.
Lamunan Aiyla membuat dirinya semakin tak percaya bahwa sahabatnya yang pernah membantunya kini sedang mengalami masalah.
Aiyla mengambil ponsel diatas meja kerjanya. Lalu melakukan panggilan keluar dan terdengar nada sambung yang masuk ke nomor tersebut.
"Hallo...Gul, kau dimana sekarang?"
Terdengar balasan suara dari seberang dan juga melalui panggilan keluar yang telah dilakukannya.
"Aiyla aku telah berada distasiun kereta api. Aku akan berangkat, ku mohon kau bisa menjaga kepercayaan ku untuk tidak mengatakan apapun kepada siappun."
Terdengar suara Gul dengan berat dan serak menahan tangis yang hampir jatuh menetes dipipinya.
"Baiklah... Kau harus memberikan ku segala info atau kabar apapun disana. Persoalan uang kau jangan khawatir aku akan mengirim setiap bulan kerekening mu."
Balas Aiyla dengan wajah sedih mengucapkan perkataan itu pada sahabatnya.
"Gul..Semoga kau baik-baik saja disana. Jangan lupa selalu berikan aku kabar. "
ucap Aiyla setelah menutup panggilan keluarnya. Aiylapun tak memberitahukan persoalan mengenai keberadaan sahabatnya itu pada Ergin.
Alasan tak ingin Aiyla memberitahukan keberadaan Gul pada Ergin karena khawatir itu akan bocor dan diketahui oleh Murad. Walau bagaimanapun Ergin dan Murad adalah sahabat dekat.
Butuh waktu 2 jam setengah untuk sampai kesana. Kota itu memang jauh dari kota besar, terletak dipesisir pantai.
Mayoritas penduduknya adalah nelayan walau ada beberapa kantor, rumah sakit disana tapi tidak sebesar dikota yang ditempat Gul sebelumnya.
Menurut sahabatnya itu kota itu kecil dengan penduduk sedikit sehingga antar warga disana layak seperti sebuah keluarga besar.
Gul akan merasa nyaman tinggal disana bersama orang-orang baru yang tentunya akan memerima kehadirannya disana.
Bunyi sirine dari kereta api berdering kencang. Sebuah pertanda telah sampai pada stasiun pemberhentian.
Gul memandang disekitar lingkungan baru, Aiyla mengatakan akan ada seseorang yang menjemputnya dikota itu.
Mencari tanda atau isyarat dari seseorang yang dimaksud sahabatnya itu. Sudah diperhatikan disekitar stasiun tersebut namun tak terlihat disana seseorang yang akan menjemput dirinya.
Gul memutuskan untuk duduk disebuah kursi panjang sembari menunggu seseorang yang datang menjemputnya.
"Nyonya... Maaf saya terlambat. Ada sesuatu yang tak dapat saya tinggalkan sehingga waktu menjembut Nyonya jadi terhambat. Maafkan saya Nyonya. "
__ADS_1
Terdengar suara laki-laki yang berumuran kurang lebih dengannya. Sebuah senyum membingkai wajahnya dengan rasa bersalah terlihat jelas dimatanya.
Gul terkejut, mengapa bisa laki-laki itu mengenal dirinya ditengah orang yang ada distasiun. Padahal ini adalah pertemuan pertama tak mungkin bisa mengenal langsung dirinya.
"Mengapa anda bisa mengenali ku? "
Rasa penasaran Gul dilontarkan langsung kepada laki-laki dihadapannya. Dengan senyum yang masih membingkai wajahnya. Lelaki itu berkata : "Nyonya Aiyla memberikan photo anda... Nyonya."
Jawaban singkat dari laki-laki itu memberikan rasa lega pada dirinya. Aiyla memang mempersiapkan segalanya untuk sahabatnya itu tinggal dikota kecil ini.
"Biarkan saya yang membawakan tas Nyonya, mari ikuti saya. "
Terdengar suara pelan dan ramah serta sopan keluar dari mulut laki-laki itu. Gul menuruti saja permintaan laki-laki dihadapannya.
Dengan menaiki kendaraan roda dua menuju tempat tinggal yang dirinya tak tahu sampai kapan berada disini.
Begitu asri dan tercium air laut dihidungnya. Burung-burung laut berterbangan disenja itu mengitari permukaan laut. Kapal-kapal pelaut menepi didermaga, kesan pertama kota ini membuat hati Gul sedikit merasa nyaman.
Akhirnya mereka sampai pada sebuah hunian yang terkihat tradisional.Terbuat dari kayu dinding-dindingnya. Hampir rumah disini sama tak ada yang terbuat dari beton.
Walaupun terbuat dari kayu namun terlihat indah dan uniq. Saat Gul memasukinya terdapat fasilitas lengkap disana. Jendela kamarnya menghadap laut lepas.
Rumah ini sangat nyaman dan suasana tepi pantai membuat semangat pada dirinya. Deru ombak terdengar jelas dari tempat tinggalnya kini.
"Nyonya silahkan beristirahat dulu, sewaktu makan malam saya akan menjemput Nyonya kembali untuk bertemu dengan sang pemilik cafe tempat Nyonya akan bekerja. "
Ungkap laki-laki itu masih dengan senyum yang tak lepas. Dengan sopan dan ramah laki-laki itu pamit untuk meninggalkan Gul.
Apa saja yang telah dipersiapkan Aiyla untuk dirinya. Tanpa berkata apapun Aiyla telah mengatur semuanya.
Bagian belakang rumah itu langsung memandang laut sepanjang mata memandang. Membuat suasana dihati Gul yang terasa berat perlahan merasakan kedamaian dan ketenangan.
Direntangkannya kedua tangan seakan hendak terbang, membiarkan udara laut menyentuh kulitnya dan masuk kerongga pernafasannya.
Udara laut tercium sangat lekat dihidungnya, suasana senja yang sangat menawan hati. Warna keemasan dilangit pertanda akan bergantinya dengan malam.
Gul telah merasa puas berada dibagian belakang rumah, ia melangkah kaki masuk kedalam mencari ponselnya untuk memberikan kabar pada sahabatnya itu.
"Aiyla... Aku telah sampai dikota ini. Terima kasih atas semua yang telah kau persiapkan."
Tedengar suara dari seberang sana saat panggilan keluar tersambung. Aiyla merasa lega bahwa sahabatnya telah sampai dengan selamat.
"Baiklah... Yakinlah pada ku! Kau akan perlahan melupakan beban berat yang sekarang kau bawa kekota itu. Dengan berjalannya waktu tentu akan mengikis habis derita mu Gul. "
__ADS_1
Terdengar suara Aiyla yang penuh dengan rasa optimis dan rasa semangat yang tinggi untuk menjalankan hidup sendiri.
Aiylapun sama saat itu melarikan diri kekota ini bersama suami tercinta. Rasa damai dan keakraban warga disini membuat Ali dan Aiyla betah untuk tinggal begitu juga buat Gul hendaknya.