
Jom lanjut ngebaca π¨π¨π¨
Pliss jangan lupa Like π, Vote π―, Gift π, Love β₯, and Rate Stars 5π
Author waiting for your support ππ
πHappy Readingπ
πππ
Akhsal semakin terdesak setelah beberapa pengawal pribadi Ergin berada disekeliling lelaki itu.
"Letakkan senjata kalian secara perlahan atau aku tak akan segan-segan untuk meledakkan kepala wanita ini!!!"
Gertak Akshal kembali yang membuat Ergin memberikan perintah dengan sebuah isyarat pada pengawal pribadinya untuk mengikuti perkataan laki-laki dihadapannya.
Setelah melihat semua senjata tergeletak ditanah, membuat Akhsal menjalankan aksi selanjutnya.
"Masuk kedalam mobil... Ayoo cepat!! "
Perintah Akhsal dengan teriakan keras, sehingga Aiyla hanya mampu menatap wajah Ergin berlalu dari hadapannya.
Meninggalkan mereka semua dengan mobil yang melaju kencang. Ergin dengan sigap langsung mengikuti dari belakang mobil yang dikendarai oleh Akhsal.
"Akhsal...Aku mohon .. Tolong bawa putraku keklinik, cek keadaanya terlebih dahulu. Lihatlah sudah lebih dari 3 jam Azzam tak bangun. Ku mohon.... "
Terdengar suara Aiyla dengan tangis yang telah pecah seraya memangku kepala putranya.
"Azzam... Azzam... Bagunlah nak....Bangun... ini ibu,"
Suara pilu Aiyla membuat Akhsal menuruti permintaan wanita yang duduk dikursi tengah tersebut. Memberi perintah pada pengawal pribadinya untuk melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
Jalan yang ramai pada saat ini dan berusaha menghindari mobil Ergin yang mengikuti mobil yang dikendarai mereka serta dengan memacu kecepatan tinggi.
Akhirnya kecelakaan mautpun terjadi dan tak terelakkan. Semua mata tertuju pada kecelakaan tunggal mobil tersebut.
Braaaaak...
Benturan amat keras terdengar ditelinga Aiyla. seperti sebuah mimpi Aiyla merasakan tubuhnya melayang dan berputar seraya memeluk Azzam.
Sebuah cahaya terang menyilaukan matanya dan akhirnya Aiyla tak sadarkan diri dengan tubuh telah berdarah didahi dan lututnya namun mereka berdua masih didalam mobil.
Posisi Aiyla yang masih didalam mobil begitupun dengan Azzam, lebih mendingan dari pada sopir pribadi Akhsal yang terlihat lebih tragis. Namun mereka berdua dalam keadaan yang sama dalam kondisi tak sadarkan diri.
__ADS_1
Sedangkan Akhsal terlepar keluar dan berada dibagian pembatas jalan dengan kondisi kepala membentur beton.
Mobil Akhsal ingin melintas mobil dihadapan namun ada lawan dari arah berlawanan. Berusaha menghindari namun naas benturan kuat terjadi dipembatas jalan dengan beton tebal karena sisi jalan yang merupakan jalan layang.
Laju kendaraan yang kencang mengakibatkan keseimbangan mobil tak terkendali. Tak dapat membanting stir kearah yang lainnya. Pengawal pribadi Akhsal terjepit diantara kursi sopir dan stir mobil dalam kondisi tak sadarkan diri.
Ergin yang tertinggal dari laju kencang mobil Akhsal, menjadi terkejut ketika didepan jalan melihat keramaian dan kemacetan.
Mobilnya terhenti dan tak dapat mengejar mereka. Perasaan Ergin mulai merasakan tak enak hati dengan jantung yang berdetak kencang dan wajah yang pucat.
"Ya Tuhan... Semoga bukan mobil yang membawa istri dan putra ku. "
Besit Ergin dalam hati seraya berdoa dengan wajah cemas dan panik. Ergin menepikan mobil lalu keluar untuk memastikan apa yang sedang terjadi didepan sana.
Betapa terkejutnya Ergin melihat petugas kesehatan mengangkat Aiyla dan meletakkan tubuh wanita itu diatas brankar lalu memasukan kesebuah ambulan. Sedangkan Azzam telah lebih dahulu didalam mobil tersebut.
"Wanita ini adalah istri dan putra ku,"
Teriak Ergin histeris seraya meremas rambut kepalanya. Melihat mereka berdua tergeletak tak bergerak.
"Silahkan Tuan ikut bersama kami, dua orang laki-laki telah tewas ditempat. Kita harus secepatnya membawa kerumah sakit dan memberikan pertolongan pada istri dan putra anda yang kedua nadi mereka melemah."
Bagai disambar petir Ergin mendengar perkataan dari petugas kesehatan tersebut. Lututnya bergoyang karena tak mampu menerima kenyataan yang sedang terjadi dihadapannya.
Buraq yang ada disamping segera memberikan kekuatan pada atasannya dimana tubuh Ergin hampir roboh.
Ungkap Buraq dengan tatapan menyakinkan dan seolah memberikan sebuah kekuatan pada Ergin.
Ambulan membawa tubuh Aiyla dan Azzam dengan cepat, kini mereka telah sampai dirumah sakit yang terdekat.
Ergin yang sedari tadi menggengam tangan Aiyla sedangkan putranya disampingnya.
"Ayoo cepat mereka berdua dalam keadaan kritis."
Teriak petugas yang ada diambulan tersebut kepada petugas yang menyambut mereka. Ailya dan Azzam masuk kedalam ruang yang sama.
Seperti biasa Ergin hanya bisa mengantar sampai depan pintu yang kini telah tertutup. Tangan Ergin bergetar dengan mata telah memerah akibat bulir bening yang keluar dari kedua ujung matanya.
"Ya. Tuhan selamatkanlah mereka berdua." Besit Ergin dalam hati.
Tak berlangsung lama Buraq beserta Gul dan Dishyapun telah berdatangan. Begitu juga kakek dan nenek Azzam beserta Murad.
Mereka semua terdiam dan hanya terdengar isak tangis dari para wanita yang ikut hadir.
__ADS_1
"Apa yang telah dilakukan anak itu sehingga sampai begini."
Terdengar suara lirih Tuan Mustafa yang tak habis pikir tentang yang barusan terjadi.
Sedangkan disatu sisi Azizah menangis dengan histeris atas kepergian Akhsal. Wanita itu menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang telah terbujur kaku.
Akhsal meninggal ditempat kejadian karena kepalanya membentur sangat keras beton pembatas jalan pada saat terlepar keluar akibat pengawal pribadinya menghentikan secara mendadak mobil tersebut.
"Suami ku.... Mengapa kau tinggalkan aku sendiri disaat aku dan kedua putri mu masih membutuhkan dirimu... "
Ratapan itu terdengar pilu keluar dari mulut Azizah seraya menggenggam erat tangan Akhsal yang telah dingin.
"Nyonya...Ikut saya. Anda harus kebagian administrasi dan pihak berwajib juga membutuhkan anda sekarang."
Terdengar petugas rumah sakit tersebut seraya menyentuh pelan pundak Azizah yang masih terdengar tangis yang tersedu-sedu.
Azizah bangkit dari duduknya lalu dengan gontai ia melangkahkan kakinya mengikuti petugas yang berbicara padanya tadi.
"Nyonya, apakah ada pihak keluarga yang lain selain anda. "
Ungkap dokter tersebut setelah melihat wanita itu dengan wajah pucat dan emosinya yang tak stabil. Azizah mengeluarkan suaranya dan menjawab pertanyaan yang diberikan padanya.
"Ya, saat ini ada ayah dan ibu mertua saya yang telah hadir dirumah sakit ini. "
Dengan suara yang terbata-bata disela isak tangisnya yang masih terdengar ditelinga semua orang yang ada disana. Dokter meminta asisten pribadinya untuk membatu Azizah memanggil keluarga dari pihak lain.
Setiba diruang kerja dokter menjelaskan bahwa tempurung kepala Akhsal retak akibat benturan yang sangat keras sehingga pecah pembuluh darah tersebut.
Akibatnya terjadi pembekuan darah didalam selaput otak dan akhirnya pasokan oksigen yang beredar menjadi terhambat.
Akhsal dan pengawal pribadinya itu telah meninggal ditempat kejadian dengan sangat tragis. Istrinya yang hanya tahu menerima uang dari Akhsal, saat ini begitu hancur dan terpuruk karena kehilangan penopang keuangan.
Semua pikirannya melayang tak tentu arah disaat ayah mertuanya berbicara dengan dokter begitu juga para pihak yang berkaitan.
"Yaaa, Tuan. Anda akan mengambil langsung jenazahnya pada saat menginginkannya, jika tak ingin dilakukan visum."
Dalam hal ini adalah kecelakaan tunggal karena membawa mobil dengan ugal-ugal tentu Tuan Mustafa tak ingin melakukan Visum.
"Baiklah Tuan.. Anda bisa membawanya dan bisa memakamkan secepatnya. "
"Baiklah terima kasih." Balas singkat Tuan Mustafa dengan bulir bening telah membasahi wajahnya.
Tuan Mustafa menjadi shock atas kejadian yang dihadapinya. Hatinya bergemuruh dengan hebatnya didada mereka.
__ADS_1
Disini tubuh putra Aiyla yang telah terbujur tak bergerak dan berada diruang ICU yang ada dirumah besar ini. Nyawa cucunyapun terancam begitu juga menantunya.
"Ya... Tuhan dalam sekejap Engkau uji kami dengan ujian yang sangat berat," Suara pelan terdengar sendu dari mulut laki-laki paruh baya itu.