Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 166


__ADS_3

Author butuh suplement nih πŸ’ͺπŸ’ͺbiar tambah semangat πŸ‘ŒπŸ‘Œdengan cara klikπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


1. πŸ‘Like diakhir bacaan 😚


2. πŸ’™ Love jadikan favorit 😍


3. 🎁 Gift sekuntum mawar lebih juga boleh 😁


4. πŸ’― Vote 😍


5. ⭐ Rate Star 5 😘


Maaf baru bisa 1 bab setiap harinya karena bawaan bulan puasa memberi pengaruh besar ditambah dengan intensitas kerja yang masih riweh


Terima kasih buat Reader yang telah memberikan dukungannya pada Author πŸ™πŸ™ Semoga masih tetap setia πŸ’™ dan terus mengikutin alur dari cerita Pekatnya Malam 😍😘


Jom lanjuuut ngebaca πŸ’¨πŸ’¨πŸ’¨


πŸ’₯Happy ReadingπŸ’₯


πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


Selama satu minggu mereka berdua lepas dari rutinitas kerja. Gul sangat merindukan putri kecilnya yang setiap hari hanya bisa bertemu dengan menggunakan video call.


"Aku rindu pada Dilec, lain kali kita akan bawa dia untuk liburan bersama."


Ungkap Gul dengan memeluk erat tubuh suaminya, sedangkan Murad hanya tersenyum seraya membelai lembut puncak kepala istrinya.


Perjalanan mereka kembali kerumah sekitar satu jam lagi, Murad masih memiliki sebuah kejutan untuk istrinya.


"Kenapa arah jalannya berbeda sayang? "


Ungkap Gul setelah 45 menit kemudian, melihat arah perjalanan pulang berbeda dari boasa yang mereka tempuh.


"Apa ada jalan pintas agar cepat menuju rumah? "


Ucap Gul kembali dengan nada penasaran. Murad masih dengan santai memberikan senyuman yang terukir diujung bibirnya.


"Tenang sayang, sebentar lagi kita akan sampai dirumah."


Ungkap Murad dengan menyentuh puncak kepala Gul yang masih merangkul tubuh lelaki itu dengan manjanya.


Gul menurut saja atas ucapan suaminya walau dalam hati tak ada perasaan apapun yang terlintas setelah mendengar penjelasan dari Murad. Lelaki itu yang tak sabar melihat dan merasakan ekspresi istrinya setelah sampai disana.


Sopir yang sedari tadi telah diberikan perintah tanpa bertanya telah menghentikan mobilnya disebuah hunian dengan desain modern.

__ADS_1


Hunian yang tepat sekali dijantung kota dan merupakan hunian bagi orang berkelas. Bertingkat dua dan terlihat halaman yang kuas dan telah tertata dengan rapi.


"Katanya kita mau kerumah, ini rumah siapa? "


Ungkap Gul yang sedikit cemberut karena wanita itu ingin cepat bertemu dengan putri kecilnya.


Murad masih dengan tersenyum keluar dari mobil seraya meraih tangan istrinya untuk mengajak keluar mobil.


Dengan wajah sedikit kecewa Gul menurut saja permintaan suaminya yang mengajak singgah kesebuah hunian yang elit dan berkelas.


"Ayo sayang..."


Ucap Murad seraya berjalan menuju pintu utama dengan cara bergandengan tangan. Gul masih cemberut namun dirinya berusaha untuk tidak terlihat kesal.


"Jawab pertanyaan ku, mengapa kita kemari. Mau bertemu siapa? "


Ucap Gul kembali setelah berada didepan pintu dengan cara berbisik ditelinga suaminya.


"Rumah kita sayang."


Bisik Murad kembali tepat didaun telinganya seraya menyentuh lembut wajahnya. Gul yang tak percaya langsung histeris dengan menutup mulut nya dengan kedua telapak tangannya.


"Apaaa!!! Kau serius sayang. Ini rumah kita? "


Ucap Gul yang berubah seketika dari cemberut menjadi histeris karena masih tak percaya dengan apa yang didengar telinganya.


Jika hidup disebuah apartemmant ruang gerak terbatas, Murad menginginkan putrinya dapat bebas berlari dan bermain disebuah halaman yang luas.


Sehingga dia memilih hunian dengan taman dan halaman yang luas tanpa sepengetahuan istrinya.


Gul berjalan masuk setelah pemindai wajah mengenal wajah Murad. Seketika pintu besar dan tinggi tersebut terbuka.


"Silahkan masuk Nyonya Gulver Sharken."


Ungkap Murad seraya menundukkan tubuhnya seperti gaya seorang pelayan pada majikannya.


Gul tersenyum dengan sikap suaminya memperlakukan dirinya bak seorang tuan putri.


"Sayang... Kau pandai membuat kejutan sehingga membuat aku berasa sedang bermimpi."


Ucap Gul seraya berkaca-kaca mematap suaminya yang kini bak pangeran mengulurkan tangannya untuk diraih oleh Aiyla seraya membungkukkan tubuhnya kembali.


Tak jauh mereka berjalan masuk kedalam ruang utama, tiba-tiba terdengar suara letusan yang berisi kertas warna warin mengenai tepat diatas kepala keduanya.


"Selamat datang dirumah baru.... "

__ADS_1


Terdengar suara yang tak asing ditelinga Gul, secepatnya membalikkan posisi tubuh dan melihat wajah sahabatnya dan disamping berdiri mantan atasannya tersebut.


"Selamat kembali dari berbulan madu, dan selamat atas rumah barunya... "


Ucap Aiyla seraya memeluk tubuh sahabatnya dengan erat. Kedua laki-laki itu tersenyum bahagia melihat dua orang wanita yang begitu terlihat bergembira.


Didalam hati keduanya merasa beruntung memiliki wanita dihadapan mereka. Murad dan Ergin saling menatap satu sama lainnya.


Mereka berdua merasakan hal yang sama dihati mereka. Mereka berdua merasakan bahwa hidup mereka sekarang telah sempurna dalam sebuah hubungan rumah tangga.


"Ibu."


Terdengar suara pelan namun terdengar oleh Gul disaat dirinya dalam dekapan sahabatnya itu. Mencari sumber suara dari arah yang terdengar ditelinganya.


Kejutan kedua ini yang menyempurnakan hati Gul, wajahnya memerah dengan air mata jatuh menetes diujung matanya.


"Oooo.... Sayangku... Ibu sangat merindukan diri mu. "


Ungkap Gul seraya melepas pelukannya secara perlahan dan berjalan menuju ibu mertuanya yang menggendong putrinya.


Semua orang yang ada disana tersenyum melihat ekspresi Gul bertemu dengan buah hatinya yang sangat dirindukannya.


Sepuasnya Gul mencium dan memeluk tubuh putrinya yang kini dalam pelukannya. Rasa rindu terbayar sudah, Muradpun tak tinggal diam.


Tubuh Murad yang besar dan tinggi merangkul mereka berdua untuk meluapkan perasaan bahagia. Melihat adegan romantis dari sepasang suami istri beserta buah hati mereka berdua membuat Aiyla tanpa sadar telah memeluk tubuh Ergin karena larut dalam rasa bahagia yang sama.


Lelaki itupun memberikan respon dengan merangkul pinggangnya dan menyentuh puncak kepala Aiyla dan tangan satunya membelai lembut lengan istrinya.


"Aku sekarang lega, sahabatku bisa merasakan kebahagiaan bersama lelaki yang sangat menyayanginya dan bertanggung jawab padanya."


Ucap Aiyla masih menatap sahabatnya dengan meneteskan bulir bening dikedua mata. Sebuah rasa haru dan rasa bahagia bercampur menjadi satu.


"Mari kita lihat sayang... Bagian dalam rumah ini. Semoga kau menyukainya karena dirumah ini kita akan tinggal dan hidup bersama putra putri kita. "


Ungkap Murad seraya beralih berjalan meninggalkan mereka bertiga dirusng utama tersebut.


Satu persatu Murad begitu bersemangat mengajak istrinya berkeliling disetiap ruang yang ada didalam rumah bertingkat dua.


Bagian bawah terdapat ruang utama, ruang keluarga, ruang makan, ruang kerja, ruang perpustakaan, ruang bermain biliar dan masih ada ruang lain untuk mereka bisa berolahraga dirumah seperti halnya ruang fitnes.


Dapurpun terdapat dibagian lantai bawah dengan ukuran besar dan terdapat diruang makan sebuah mini bar. Sedangkan dibagian lantai dua, diatas adalah kamar-kamar yang terlihat seperti kamar hotel.


Kamar putrinya didesain sangat detailnya bernuansa merah muda dengan langit-langit kamar berbentuk awan serta bagian lantai dibuat seperti berpijak pada sebuah kolam ikan yang terbuat dari kaca yang transfaran.


Sebuah tehnik lukis berdimensi 4 sehingga terlihat nyata dimata yang melihat. Gulpun awalnya sangat excited disaat kakinya melangkah masuk kedalam kamar putrinya.

__ADS_1


"Sayang... Kau bisa sedetail ini, menyiapkan semuanya tanpa diketahui oleh diriku. "


Ucap Gul dengan mata kembali berkaca-kaca menatap lelaki yang merasa puas atas keberhasilan kejutan yang diberikan untuk istrinya.


__ADS_2