Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 152


__ADS_3

Berhasilkah Ergin dan Aiyla membujuk Gul?😍


Tulis dikolom komentar...πŸ‘‡


Author butuh suplement nih πŸ’ͺπŸ’ͺbiar tambah semangat πŸ‘ŒπŸ‘Œdengan cara klikπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


1. πŸ‘Like diakhir bacaan 😚


2. πŸ’™ Love jadikan favorit 😍


3. 🎁 Gift sekuntum mawar lebih juga boleh 😁


4. πŸ’― Vote 😍


5. ⭐ Rate Star 5 😘


Jom lanjuuut ngebaca πŸ’¨πŸ’¨πŸ’¨


πŸ’₯Happy ReadingπŸ’₯


πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


Mereka telah berada dihunian yang telah disediakan Feride dan Gul. Koper yang dibawa masuk kecafe oleh Bulutpun telah ada dihunian tersebut.


Setelah puas bermain dengan Gul bersama putri kecilnya dan melakukan perjalanan untuk sampai dikota ini, putra putri mereka langsung tertidur pulas karena kelelahan.


"Sayang... Sedang apa disini ? Beristirahatlah, tentunya kau capek karena membawa mobil sedari pagi tadi."


Terdengar suara Aiyla berbisik ditelinga Ergin. Aiyla sengaja merangkul tubuh Ergin dari belakang dengan erat.


Lelaki itu masih tak bergeming dengan ucapan Aiyla. Ergin seakan sedang memikirkan sesuatu yang berat saat ini.


"Sayang... Rasanya tak adil untuk sahabat ku. Murad telah menderita seumur putrinya itu. Tidak adakah kesempatan untuk menebus kesalahan yang telah diperbuatnya?"


Ungkap Ergin dengan suara berat seperti tertahan sesuatu dihatinya. Mendengar perkataan suaminya Aiyla melepaskan pelukannya lalu berdiri disamping Ergin.


Menatap kelautan lepas, yang terdengar hanya deburan ombak dan hembusan angin laut menyentuh kulit mereka berdua.


Sejenak mereka berdua terdiam satu sama lainnya. Pikiran mereka berdua melanglang buana tak tentu arah tujuan.

__ADS_1


"Sayang...Apa yang kau katakan benar adanya. Setelah melihat putri kecil Gul ada rasa sakit dihati ku. Anak perempuan itu tak berdosa, ia berhak mengetahui siapa ayahnya. Tapi aku tak berdaya sayang...Gul masih tak memberikan peluang untuk Murad."


Balas Aiyla masih menatap jauh kearah depan tanpa menatap Ergin. Menikmati hembusan angin laut malam yang terasa hangat menyentuh kulitnya.


"Kita harus mempertemukan mereka berdua sayang... Aku tahu Murad telah berubah, lelaki itu akan menerima putrinya. Disaat kepergian Gul, hatinya terasa hampa. Bergonta-ganti pasangan adalah tempat pelariannya saja, karena ingin mencari wanita seperti sosok Gul."


Ungkap Ergin yang kini meraih pundak Aiyla dan menatap penuh kesungguhan atas apa yang baru saja dikatakannya.


"Sayang... Cobalah kau bicarakan lagi pada sahabat mu itu. Semoga hatinya terbuka pada saat kau bercerita dari hati kehati. Selama ini hubungan mu hanya melalui ponsel saja."


Ungkap Ergin meyakinkan istrinya untuk kembali mencoba membuka pintu hati Gul agar memberikan kesempatan pada Murad.


"Baiklah sayang...Akan ku lakukan semampu ku, tapi aku tak bisa berjanji pada mu jika Gul tak ingin mengubah pendiriannya."


Terdengar suara lirih dari Aiyla karena wanita itu memahami benar sifat sahabatnya itu. Gul adalah tipe wanita yang tak mudah menghilangkan rasa kecewa atau rasa disakiti.


Luka itu teramat sulit untuk dilupakan olehnya, berbeda dengan Aiyla. Gul akan mencoba menghindar dari pada harus kecewa dan sakit hati kembali.


Jika rasa sakit itu bisa hilang dan berubah seiring dengan perjalanan waktu maka waktu jualah yang dapat menyembuhkan luka dihati dengan sedirinya.


"Mari kita tidur sudah larut malam."


Ungkap Aiyla seraya meraih tangan Ergin memasuki kamarnya. Mereka berjalan dengan tangan Ergin melingkar dipinggang Aiyla.


Ungkap Ergin dengan memeluk tubuh Aiyla dengan erat. Lelaki itu menyentuh bibirnya dan beralih kejenjang leher Aiyla.


"Sayang... Besok kita akan ada misi bukan... sebaiknya malam ini kita beristrirahat."


Ucap Aiyla menghentikan pergerakan dari suaminya. Lelaki itu seperti tak kehabisan tenaga, padahal lumayan lama Ergin mengemudikan mobil hingga sampai kekota kecil ini.


Ergin mengerti maksud dari istrinya, Aiyla merasa lelah dari perjalanan kemari sehingga wajar saja dirinya tak merespon sentuhan yang diberikan Ergin.


Akhirnya mereka berdua tertidur dengan lelapnya. Hingga matahari pagi mengusik mereka berdua melalui sela-sela jendela yang terbuka karena hembusan angin laut.


"Selamat pagi...Sayang."


Ucap Aiyla seraya mencium bibir Ergin dengan lembut setelah lelaki itu membuka matanya. Sebuah senyuman terukir diwajah Ergin karena ini adalah rutinitas mereka berdua yang membangunkan salah satunya jika siapa yang terjaga lebih dahulu.


"Pagi... Sayang."

__ADS_1


Balas singkat Ergin seraya membalas ciuman dibibir Aiyla dan disertai pelukan erat kembali sehingga Aiyla telah kembali berada didalam dekapan lelaki itu.


"Eistt... Sayang... Lepaskan, kita punya misikan hari ini? "


Ungkap Aiyla mengingatkan kembali suaminya akan sebuah misi mempersatukan Gul dengan Murad.


"Baiklah...Aku akan segera mandi tapi sebelum itu akan ku bangunkan Azzam. "


Ergin sepertinya mengerti akan tugasnya, ia akan mengurus putra mereka sedangkan Aiyla akan mengurus yang kecil sehingga mereka berdua berbagi tugas disaat pengasuh dan asisten rumah tangganya tidak turut bersama mereka.


Dalam waktu dua jam mereka telah siap dan hendak pergi untuk sarapan pagi dicafe Feride. Dengan berjalan kaki mereka menuju kecafe Feride.


Ergin dan Azzam saling bergandengan tangan sedangkan Aiyla mendorong stroller Melec. Azzam yang tak biasa berjalan kaki merasa mengeluh pada betis dan kakinya dan pada akhirnya Ergin harus mendukung anak lelaki itu.


Perjalanan mereka dari hunian yang ditempati selama disana hanya menempuh waktu lebih kurang sekitar 10 menit untuk sampai kecafe.


Namun bagi yang tak terbiasa berjalan kaki maka jarak pendekpun terasa menjadi jarak yang terpanjang dan lama.


"Kenapa berjalan?"


Ungkap Feride karena melihat keringat jagung didahi Ergin. Aiyla tersenyum melihat Ergin berkeringat karena mendukung Azzam yang lumayan berat.


"Tuan, tunggu sebentar....Aku akan buatkan jus untuk anda agar hilang penatnya dan seketika akan merasakan kesegaran kembali."


Ungkap wanita itu kembali seraya berlalu dari hadapannya tanpa melihat Ergin. Lelaki itu menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, guna menghilang penatnya.


Setelah selesai sarapan, Bulut selalu berada disamping Gul dan putrinya. Sebagian orang terutama Ergin juga merasakan hal yang sama bahwa Gul begitu dekat dengan putra Feride.


Kedekatan diantara mereka berdua menjadi masalah nantinya. Murad tentu akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan simpati Gul dan putrinya.


"Gul, bisakah kau ikut dengan ku sebentar? "


Ucap Aiyla seraya berjalan keluar cafe dan beralih kepojokan dari salah satu sisi dicafe tersebut.


"Ku lihat putri mu dan diri mu begitu dekat dengan putra Feride? Lelaki itu memang baik terlihat bagaimana caranya melayani mu dan putrimu. Apakah kau ada hati padanya? "


Terdengar perkataan Aiyla seolah menginterogasi sahabatnya. Aiyla memang tak pandai berbasa-basi. Dirinya hanya bisa mengungkapkan secara langsung maksud hatinya.


Gul terkejut dengan perkataan sahabatnya itu seolah mengatur akan kehidupan pribadinya. Dengan serius wanita itu menanggapi perkataan dari Aiyla.

__ADS_1


"Apa maksudnya mu Aiyla? Tolong beritahu pada ku secara langsung arah dari pembicaraan mu itu?"


Balas Gul secara serius menatap kearah Aiyla. Wanita itu seakan mengetahui bahwa Aiyla memiliki maksud atau tujuan tertentu dengan berkata demikian.


__ADS_2