Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 156


__ADS_3

Duuuh buat kaget saja ya... Apakah jadi mimpi itu jadi nyata?


Tulis dikolom komentar πŸ‘‡


Dengan cara klik :


1. πŸ‘Like diakhir bacaan 😚


2. πŸ’™ Love jadikan favorit 😍


3. 🎁 Gift sekuntum mawar lebih juga boleh 😁


4. πŸ’― Vote 😍


5. ⭐ Rate Star 5 😘


Salam hangat dan manis teruntuk Reader setia.. πŸ’“πŸ’“πŸ˜


Jom lanjuuutπŸ’¨πŸ’¨πŸ’¨


πŸ’™Happy ReadingπŸ’™


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


"Bulut!!"


Terdengar suara Gul sedikit meninggi lantaran terkejut dengan kehadiran lelaki dihadapannya.


Dengan santainya Bulut telah duduk disofa yang ada diruang tamu tanpa diminta untuk masuk kedalam rumah terlebih dahulu. Lelaki itu seperti amnesia, berbicara seolah tidak pernah terjadi sesuatu apapun.


Padahal baru saja kemarin terjadinya peristiwa pertengkaran antara mereka berdua. Kini Bulut bersikap seperti biasanya namun terkesan kurang sopan.


Masuk kedalam rumah sebelum diminta untuk masuk kedalam, walau diawal lelaki itu mengucapkan keinginannya masuk kedalam rumah Gul.


"Dimana Dilec? "


Tanya lelaki itu seraya mengedar pandangan matanya. Kemudian berjalan menuju kamar pribadinya yang tak pernah ia masuki sebelumnya.


Bulut terlihat lebih berani dari sebelumnya, masuk kekamar pribadi Gul. Melihat putri kecil Gul yang telah tertidur dengan botol susu kosong masih berada didalam mulutnya.

__ADS_1


Secara perlahan Bulut menarik botol susu dari mulut anak perempuan yang masih tertidur tanpa terbangun saat botol susu terlepas dari mulutnya.


"Begitu menggemaskan walau dalam keadaan tertidur."


Terdengar suara pelan lelaki itu dengan tak lepas menatap wajah putri kecil Gul. Telah puas memandang anak perempuan yang tertidur kini langkah kakinya mendekati Gul yang terdiam terpaku menatap Bulut.


Gul yang sedari tadi hanya mengikuti langkah kaki lelaki itu tanpa bersuara sepatah katapun.


"Aku ingin berbicara pada mu ? "


Sebuah tatapan mata yang penuh dengan keseriusan dan terdengar suara yang berat keluar dari mulut lelaki itu.


"Aku, akan menerima dirimu termasuk putri kecil mu yang cantik. Aku tak bisa kehilangan dirimu walau aku telah mengetahui bahwa kau tak memiliki rasa sebagai sepasang kekasih. Aku yakin dengan seiring perjalanan waktu cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, dan aku sanggup menunggu sampai waktu itu datang. "


Ungkap Bulut mencurahkan segala perasaannya terhadap Gul. Wanita itu tentu terkejut dan tak menduga bahwa laki-laki itu sanggup untuk menerima dengan segala keterbatasannya.


"Aku... Tak tahu saat ini tak bisa memutuskan apapun. Terima kasih telah mencintai sedalam itu, bersedia menerima ku apa adanya. Tapi aku tak ingin memberikan harapan palsu pada mu. Aku masih mencintai ayah dari putriku, walau saat ini aku tak tahu apakah laki-laki itu bisa menerima Dilec atau tidak."


Ungkap Gul dengan kepala tertunduk tak mampu menatap wajah lelaki dihadapannya.


"Aku bersedia menunggu...Aku begitu sayang pada putri mu. Sejak dia lahir telah ku anggap sebagai putri ku sendiri."


Balas Bulut dengan suara pelan dan begitu meyakinkan Gul. Kata-kata laki-laki itu begitu tulus terdengar ditelinganya.


Lamunan Gul ditengah pembicaraan mereka berdua. Bulut lebih mendekat kearahnya seraya meraih tangan Gul.


Kini mereka berdua duduk berdampingan dan sangat dekat tak ada jarak bagi keduanya. Gul merasakan sesuatu yang berbeda dari Bulut. Lelaki itu saat ini terlihat begitu terobsesi padanya sehingga ada rasa khawatir dan cemas menyelimuti hatinya.


"Gul...Berikan kesempatan pada ku, aku akan menjaga kalian berdua. Percayalah pada ku, aku tak akan menyakiti kalian berdua."


Ungkap Bulut dengan kesungguhan terlihat dimatanya. Gul merasakan itu tapi hatinya menolak karena telah terisi oleh seseorang sebelumnya.


"Bulut aku tahu kau adalah lelaki yang sangat baik, aku beruntung mengenal mu dan ibu Feride.Tapi maaf aku tak bisa memberikan kesempatan yang semu pada mu. Kau akan hidup lebih bahagia dan akan menemukan cinta mu dari seseorang yang sangat mencintai mu nantinya daripada diriku ini. "


Balas Gul dengan suara pelan namun tertata dengan rapi agar dapat dicerna dengan baik oleh Bulut. Raut wajah Bulut berubah seketika setelah mendengar perkataan dari Gul.


Melepaskan gengaman tangannya secara perlahan lalu berdiri membelakanginya. Gul melihat perubahan ekspresi wajah dan sikap dari Bulut.


Memang terlihat menyakitkan bagi Bulut, namun itu jauh lebih baik daripada Gul memberikan harapan semu pada laki-laki dihadapannya itu.

__ADS_1


"Baiklah jika itu keputusan mu, aku permisi. "


Balas Bulut tanpa melihat kearah Gul kembali lalu keluar menuju pintu utama. Ada sedikit kelegaan dihatinya, berharap Bulut dapat menerima semua yang dikatakan oleh Gul.


Terdengar suara ponselnya berdering sebuah panggilan masuk datang dari Aiyla. Segera Gul meraih ponselnya yang terletak diatas meja diruang tamu.


"Gul ayo cepat kemari bawa Dilec bersama mu ketempat yang ku ceritakan sebelumnya. "


Terdengar suara Aiyla dengan jelas dari seberang sana. Dari percakapan diponsel Aiyla ingin menikmati sebuah resort tepi pantai yang ingin dikunjungi olehnya.


Gul mengiyakan saja panggilan dari sahabatnya itu, dan segera menyusul kesana. Panggilanpun terputus setelah adanya kesepakatan diantara mereka berdua.


Setiba ditempat yang dijanjikan, Aiyla menyambut kehadiran sahabatnya itu bersama putri kecinya. Mereka menikmati menu resort serta menghabiskan waktu bermain bersama anak-anak mereka.


"Ergin mana? "


Tanya Gul karena sedari tadi tak menemui lelaki itu bersama Aiyla.


"Oh... Dia ada urusan sejenak. Makanya ku panggil kau agar bisa bergambung disini. Sebentar lagi liburan ini akan berakhir, butuh waktu lagi kita bisa bersama jadi sebleum pulang aku ingin mereka saling dekat seperti kita dulu."


Ungkap Aiyla pada sahabatnya itu. Aiyla ingin anak-anak mereka menjalin hubungan seperti mereka berdua.


Apalagi usia putri mereka yang tak terpaut jauh antara Melec dengan Dilec hanya berbeda beberapa bulan saja.


Setelah puas berenang Aiyla dan Gul berbaring dengan santai sembari melihat putra putri mereka berdua. Azzam sudah pas sekali menjadi saudara bagi kedua adik perempuannya. Karena terpaut dengan usia yang lumayan jauh dari kedua anak perempuan itu membuat Azzam jadi lebih bijak.


Gul sedang berdiri menatap tepi laut dengan hembusan angin yang kencang menyibak rambut panjangnya. Sedangkan Aiyla sedang menidurkan putrinya yang seharian lelah bermain.


Dilec telah lebih dulu tertidur sehingga Gul hanya berdiri seorang diri ditepian laut yang masuk dalam kawasan resort tersebut.


Pandangan Gul lepas sejauh mata memandang dengan pikiran larut dalam deburan ombak yang memecah karang.


Diusapnya kedua lengan dengan telapak tangan karena terasa dingin menyentuh kulitnya karena Gul hanya mengenakan pakaian yang tipis.


"Gul... Gul...Gulver..."


Terdengar ada suara yang memanggil namanya, suara yang tak asing didengar ditelinganya.


"Suara Murad...Apakah aku sedang berhalusinasi terbawa mimpi semalam. Aku seperti sedang mendengar dengan jelas suara laki-laki itu."

__ADS_1


Batin Gul dalam hati seraya tetap tak bergeming dan berdiri dengan posisi tak berubah tanpa mengarahkan pandangannya pada sumber suara.


Suara itu terdengar kembali, sangat jelas dan sangat dekat saat ini. Gul masih menganggap bahwa itu hanya halusinasi dirinya saja.


__ADS_2