Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 171


__ADS_3

Hai... Hai... Hai... πŸ‘‹πŸ‘‹


Masih setia ya Reader... 😊😊


Author ucapkan terima kasih dan mohon maaf kalau sekarang sangat sulit untuk nge-up perharinyaπŸ™πŸ™


Semoga tidak mengurangi rasa cinta kalian ya pada tulisan ini πŸ˜€πŸ˜€


Jom lanjut ngebaca 😘


πŸ’§Happy ReadingπŸ’§


πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


Wanita dewasa tersebut larut dalam kesedihan dan begitu juga Murad. Gadis muda yang selama ini menghilang dan sempat mengisi hatinya walau sesaat kini telah tiada.


Ada rasa bersalah dan bercampur rasa penyesalan dihati Murad. Mengapa dulu dirinya tak begitu gigih mencari keberadaan gadis muda nan periang itu.


"Jadi...Apakah anak lelaki itu adalah putra ku?"

__ADS_1


Seperti orang bodoh dan linglung, Murad mengeluarkan suaranya dengan terbata-bata ditambah wajah kusut dari lelaki tersebut.


"Saya tak tahu...Jikapun benar, maka tak akan ku biarkan Tuan mengambilnya dari tangan saya! "


Terdengar suara tegas dari wanita yang semula duduk berhadapan dengan Murad kini berdiri dan menatap tajam kearahnya.


"Baiklah...Saya tahu itu. Tidak mungkin anda mau melepaskan begitu saja keponakan yang selama ini telah anda rawat. "


Ungkap Murad dengan wajah tertunduk lesu dan kehilangan gairah pada saat itu juga.


"Silahkan Tuan cek DNA karena saya pun tak mengetahui siapa ayah dari keponakan ku ini."


Ungkap wanita tersebut dengan menatap wajah Murad penuh kesungguhan.


Ucap wanita tersebut dengan tegas mematap Murad.


Suasana menjadi hening kembali, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut keduanya. Mereka berdua seakan hanyut pada perasaan masing-masing.


Murad yang masih terlihat shock akan penjelasan yang baru saja didengar dan kini jika memang benar bahwa anak lelaki tersebut adalah putranya maka ada rasa bersalah yang amat besar menggelayuti hatinya.

__ADS_1


"Apa yang harus ku katakan pada Gul jika aku ternyata telah memiliki seorang putra. Aku baru saja berkumpul dengan putri kecil ku namun saat ini aku harus dikejutkan dengan kehadiran seorang putra."


Batin Murad dalam hati disaat dirinya masih menatap photo anak lelaki yang ada digengamannya.


"Aku pastikan terlebih dahulu identitas anak ini, setelah itu baru aku pikirkan hal selanjutnya. "


Besit Murad dalam hati seraya membuat suatu rencana yang tersimpan dikepalanya. Murad segera berjalan lalu duduk disebuah kursi dengan serius menatap wanita dihadapannya.


"Baiklah... Begini izinkan saya untuk mengetes DNA anak lelaki ini terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan yang ada dibenak kita berdua."


Ucap Murad memecah keheningan yang terjadi diantara mereka berdua. Wanita dihadapan Murad mengangguk kepalanya pertanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Murad.


Disalah satu sisi Gul telah merasa perubahan pada suaminya. Murad sering termenung sendiri bahkan pada saat diajak berbicara terkadang Gul dibuatnya untuk menjadi serba salah karena sikap diam suaminya.


Setelah beberapa minggu pertemuan antara Murad dengan wanita dewasa yang mengasuh anak lelaki dari wanita muda yang dulu pernah dikenal olehnya, membuat hubungan rumah tangga Murad dan Gul sedikit terganggu.


Akhirnya setelah beberapa hari menunggu hasil DNA sudah ada didepan matanya. Hatinya bergemuruh kencang seakan hendak keluar dari tempatnya.


Dengan tangan bergetar Murad membuka amplop berwarna coklat tersebut. Terselip pikiran yang bercampur aduk dihatinya.

__ADS_1


"Apaa!!


Sedikit berteriak setelah membacanya surat keterangan dari hasil DNA yang terpampang nyata dihadapannya.


__ADS_2