
Bagaimana? Moga sampai bab ini Reader semua dapat menikmati tulisan Author...😊😊
Terima kasih untuk Reader yang telah berkenan meninggalkan Jejakny baik dengan cara like, love, vote dan rate bintang limanya.😍🙏
Author doa'in deh diberi kesehatan dan rezeki yang cukup sehingga bisa lanjut ngebaca dan setia dengan tulisan Author.😍
Bagi yang belum terbuka hatinyee... namun menikmati tulisan ini, tetap Author doa'i moga jemarinya refleks memberikan jejak atas jerih payah Author dalam menghasilkan sebuah tulisan yang dapat dinikmati Reader. 😍
Jom Lanjut...😍
💐💐💐
Semilir angin membelai lembut rambut coklat bergelombag diujung yang dimiliki Aiyla. Berdiri ditaman yang terdapat dirumah sakit tersebut.
Matanya tertuju pada sepasang suami istri yang berada disatu sisi taman ini yang tak jauh dari tempat duduknya.
Sepasang suami istri itu tidak muda lagi melainkan telah lanjut usia. Terlihat lelaki itu dengan sabar melatih istrinya yang sedang berjalan diatas batu-batu kecil.
Sepertinya sengaja didesain oleh rumah sakit untuk melatih otot telapak kaki yang berpijak diatas batu-batu kecil tersebut.
"Sungguh bahagianya wanita itu, mendapat cinta suaminya sampai seusia itu," batin Aiyla dalam hati dengan wajah bersedih
Hari ini Azzam sudah dapat keluar dari rumah sakit, kondisinya sudah jauh lebih baik. Bergegas Aiyla kembali kedalam ruang rawat inap untuk segera mengurus administrasi kepulangan putranya.
💗💗💗
Terdengar suara pesan singkat yang masuk diponselnya. Segera dilihatnya ternyata pesan singkat itu dari Ergin.
"Jikalau langit telah mendung diatas kepala biarkan hujan jatuh membasahi bumi, jikalau gelapnya malam telah melenyapkan harga diri biarkanlah sang fajar mengembalikannya kembali."
Pesan singkat kedua yang Ergin kirim malam ini, baru saja meninggalkan Aiyla karena ada sesuatu yang harus dikerjakan olehnya diluar kota.
__ADS_1
Kini Aiyla telah kembali kerumah Fusun, putranya sudah lebih baik. Namun kata-kata yang disampaikan dokter Ahmed menjadi pegangan Aiyla untuk harus ditanamkan dihatinya.
Ergin baru saja pergi setelah mengantarkan mereka kembali kerumah Fusun yang ada dipinggir kota. Lelaki itu ingin memberikan Aiyla sebuah mobil pribadi namun Aiyla menolaknya.
Dan meminta Aiyla untuk pindah keapartemant yang tak jauh dari apartemant Ergin agar mudah lelaki itu untuk menjaga Aiyla dan putranya. Maksud baik Ergin yang kedua ini juga mendapatkan penolakan dari Aiyla.
Ergin berusaha membujuk agar menyetujuinya, namun pada akhirnya tak dapat memaksakan kehendak pada wanita satu ini. Dimana wanita lain akan berlari dengan fasilitas yang diberikan namun tidak dengan Aiyla.
Senyuman kebanggaan terpancar diparas tampan lelaki itu, sebuah kesalahan besar saat itu dirinya menguji wanita itu dengan uang.
Wanita itu seperti tak tergiur atau tak ingin memanfaatkan kedekatannya dengan Ergin. Walaupun sampai detik ini Aiyla belum mengatakan sepatah katapun bahwa dia menerima Ergin.
Tapi dihati lelaki bermata biru itu ada keyakinan akan ada masanya disaat Aiyla menerima seutuhnya, sekarang hanya diminta untuk dirinya bersabar.
Kesehatan Azzam semakin membaik, putranya menunjukkan bahwa dirinya dapat berinteraksi dengan baik disekolah barunya. Ditambah dengan kehadiran Ergin pada saat mengantar Azzam pada saat pertama kali anak lelaki itu kembali kesekolah selama sakit.
Ergin sengaja melakukan hal itu setelah mendengar cerita dari Azzam sewaktu dirumah sakit. Lelaki itu seperti ingin menunjukkan pada teman-teman Azzam bahwa dia adalah Ayahnya Azzam.
"Apakah ini sudah tepat, tapi aku tak ingin lari dari masa lalu ku," besit dihati Aiyla.
Melihat Aiyla yang termenung dengan laptop masih menyala membuat Fusun menghampirinya.
"Kak... Apakah sudah tepat tindakan ku ini," ucap Aiyla dengan wajah sedih.
Fusun tahu apa yang dibicarakan oleh wanita dihadapanya. Aiyla merasa bahwa dirinya telah mengkhianati cinta suaminya dengan memberikan peluang pada lelaki lain.
"Tanya pada hati mu dan lihatlah putramu sebagai pertimbangan kau mengambil keputusan," balas Fusun seraya tersenyum.
Ini semakin berat disaat dirinya berusaha menutup hatinya, namun lelaki itu telah mengambil hati putranya.
Ditambah lagi dengan malam yang pekat itu masih menghantui didirinya. Aiyla masih tak bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang telah diperbuat olehnya.
__ADS_1
"Biarkanlah waktu yang memutuskannya jikalau kau tak dapat mengambil keputusan. Biarlah mengalir seperti air jika kau berusaha melawan arus maka kau akan tenggelam ataupun hanyut," ungkap wanita yang menatap dalam kematanya.
Kalimat bijak yang keluar dari mulut wanita yang usianya tak terpaut jauh darinya itu secara tidak langsung menyadarkan dirinya tentang arti bersabar dan bersyukur.
"Siapalah diri ini...yang berani menolak segala takdir dari keputusan Mu didalam hidupku," ucap lirih Aiyla dengan bulir bening telah membasahi wajahnya.
"Aku rela menunggu mu tanpa batas waktu sampai kau mengatakan ya pada ku. Itu jauh lebih baik dari pada kata tidak yang menusuk jantung ku, karena aku belajar sabar dari cara mendapatkan hatimu."
Pesan singkat ketiga yang dikirimkan Ergin kali ini. Entah mengapa Aiyla selalu tak membalas pesan singkat yang diterimanya. Namun setiap pesan singkat itu terbaca olehnya mengapa selalu hatinya bergetar dan merasakan sesuatu didalam hatinya.
Lama Aiyla melamun dengan membaca pesan singkat yang diterimanya itu. Sebuah panggilan masuk keponselnya. Tertera nama Ergin dalam panggilan masuk tersebut.
Aiyla menjawab panggilan tersebut dengan hati masih bergemuruh didadanya. Memikir apa yang harus dijawab jika Ergin menanyakan dua pesan yang telah diterimanya.
"Sayang... Sepertinya aku akan lama disini. Aku memikirkan mu dan putraku.. Bagaimana keadaannya hari ini? " tanya Ergin dengan suara pelan.
Kecemasan Aiyla berkurang karena lelaki itu tidak mempertanyakan pesan yang telah dikirim melainkan yang lain.
Dengan runtun Aiyla menjawab apa yang ditanya Ergin melalui panggilan tersebut. Mendengar suara laki-laki diseberang sana terdengar bahagia pada saat dirinya menjelaskan tentang Azzam.
Lebih kurang 15 menit Ergin dan Aiyla berbicara didalam panggilan telpon tersebut. Sebelum mengakhiri panggilan terdengar ditelinganya sebuah kecupan hangat dari mulut lelaki tersebut.
Hati Aiyla bergemuruh lelaki itu begitu so sweet walaupun tidak berada disampingnya. Senyum tipis diujung bibir Aiyla ketika panggilan itu berakhir.
Fusun yang masih berada disampingnya hanya tersenyum berharap wanita ini akan diberikan kebahagian karena terlalu banyak derita yang telah dirasakannya dalam hidup ini.
"Aiyla, aku akan tidur lebih dulu, jaga kesehatan mu. Jangan tidur sampai larut malam," ucap Fusun seraya berlalu dari hadapan Aiyla.
Hanya tinggal sedikit lagi maka ia akan segera beristirahat. Aiyla memang tahu bahwa jika diporsir tubuhnya maka akan jauh lebih tidak menguntungkan baginya.
Dirumah ini hanya dirinya yang bekerja, Aiyla tak ingin Fusun bekerja karena wanita itu telah repot dengan mengurus rumah dan mengatar jemput Azzam kesekolah.
__ADS_1