
Terima kasih banyak pada reader yang telah meninggalkan jejaknya dan memberikan dukungan melalui sekuntum bunga ataupun hadiah yang lainnya.๐๐
Memberikan Like setelah selesai membaca dan memberikan Vote serta bintang 5 untuk tulisan Author.๐๐
Salam manis dan hangat buat Reader semua๐๐
Jom Lanjuuut๐๐
๐Happy Reading๐
"Nyonya Aiyla...Silahkan masuk," ucap petugas jaga yang ada diruang isolasi.
Aiyla telah siap dengan seragam khas memasuki ruangan tersebut. Terlihat Ergin tersenyum menatap Aiyla yang berjalan kearahnya.
Dengan wajah pucat dan tubuh dingin Ergin meraih tangan Aiyla. Sorot mata yang sendu dan teduh penuh dengan rasa kasih dan sayang terlihat dikedua bola mata berwarna biru itu.
"Sayang... Aku disini," ucap Aiyla dengan binar mata menatap sahdu lelaki yang terbaring diatas tempat tidur.
Membelai lembut punggung tangan lelaki itu seraya bulir bening jatuh diujung matanya. Sentuhan mesrah dan lembut berulang kali dirasakan oleh Ergin tepat dikedua pipinya.
"Apakah kau baik? " Tanya lelaki yang terbaring tak berdaya.
Dalam kondisi seperti itu Ergin masih memikirkan Aiyla dan menanyakan kabarnya. Sungguh lelaki ini tak memperdulikan dirinya sendiri.
"Untuk sesat baru ku sadar kalau aku sangat takut kehilangan diri mu, jangan berbuat seperti itu lagi. Kau harus pikirkan juga tentang keselamatan dirimu sendiri," ungkap Aiyla dengan wajah telah basah.
Hanya senyum yang mengembang diparas wajahnya yang pucat. Lelaki itu bahagia mendengar untuk yang pertama kali Aiyla mengungkapkan perasaan terhadap dirinya.
"Sayaaang...." Sapa Ergin dengan menggelengkan kepalanya meminta Aiyla menghentikan tangisnya.
Mencoba menyeka bulir bening yang membasahi wajah Aiyla dengan satu tangannya.
"Baiklah beristirahatlah...Aku ada diluar menunggu mu," ucap Aiyla dengan kembali mencium kedua pipi Ergin.
Tangan Aiyla tak ingin dilepas Ergin, sepertinya lelaki itu tak ingin ditinggal sendiri oleh Aiyla.
Dengan tersenyum Aiyla mencoba kembali dan mencium punggung tangannya dengan lembut lalu Ergin melepaskan secara perlahan gengaman tangannya.
__ADS_1
Lelaki itu yakin bahwa wanita dihadapanya akan setia berada disampingnya.
Disalah satu sisi nyonya Esma menghempas kristal berbetuk kuda yang ada disampingnya. Rasa kesal dilampiaskannya setelah sampai dirumah.
Asisten rumah tangganya menjadi takut dan panik mendengar barang yang pecah karena sengaja dilempar.
"Beraninya kau melawan Esma Ozturk.." Teriak wanita itu dengan jemarinya yang menggenggam erat serta bola mata seperti hendak keluar.
Kamar tidurnya berantakan penuh dengan pecahan kristal dan benda lain yang pecah akibat pelampiasan amarah wanita itu.
"Lihat saja... Kali ini aku gagal. Aku akan mencari peluang untuk menghancurkan dirimu !!!" Ungkap wanita itu dengan kesungguhan.
Diambilnya ponsel yang ada didalam tas. dengan tangan gemetar menahan amarah yang masih mendera dirinya.
Wanita itu memainkan jemarinya menekan sebuah kontak nama dengan inisial X. Terdengar suara dering dari ponselnya, menandakan panggilan keluarnya terhubung.
Tak berselang lama terdengar suara dari seberang sana. Mendengarkan perintah yang dikatakan wanita itu dengan mata licik dan sudut bibir yang meninggi.
Terdengar dari suara panggilan disana dengan kata siap Nyonya. Panggilanpun terputus setelah terdengar kata itu.
Wanita yang terlihat anggun sekarang memperlihatkan sisi buruk dari dalam dirinya yang telah lama dicobanya untuk menghilangkan sifat tersebut.
"Nyonya... Ada Nyonya Syukran dibawah. Apakah anda ingin menemuinya? " Ucap asisten rumah tangganya dengan suara bergetar dan takut pada majikannya itu.
Benar saja wanita yang berdiri didepan jendela itu, beralih menatap dirinya dengan wajah sangar seakan hendak menelannya hidup-hidup.
"Mau apa ia kemari... Sudah terang-terang dihadapan ku mendukung wanita itu. Kini datang menemui ku!!! " Umpat Esma dengan menahan rasa kesal dan geram.
Meminta asistennya untuk memberikan alasan bahwa dirinya tak bisa dibangunkan karena telah tertidur. Esma sengaja menghidar Syukran Sharken sahabatnya itu. Hatinya masih terasa sakit disaat Syukran lebih membela wanita itu.
"Baiklah Nyonya saya akan menyampaikan apa yang anda perintahkan pada ku," balas asisten rumah tangganya yang takut untuk mengangkat kepalanya.
Berjalan keluar kamar yang berserakan dengan remahan kaca lalu menuruni tangga dan bertemu dengan sahabat majikannya itu yang sedang menunggu diruang tamu.
"Nyonya... Maaf. Nyonya Esma telah tertidur saya tak berani membangunkannya," ucap wanita yang telah lama bekerja dirumah besar itu.
Dengan meyakinkan asisten rumah tangga Esma berbicara dengan wanita dihadapannya.
__ADS_1
"Aku mengenal sifat mu Esma... Kau pasti sakit hati pada ku atas sikap ku dirumah sakit itu," besit Syukran dengan senyum tipis dan mata penuh arti.
Ibu Murad melangkah pergi meninggalkan kediaman sahabatnya itu. Syukran sudah tahu jika saat ini Esma tak ingin bertemu dengannya. Wanita itu begitu keras kepala dan terkadang sangat sulit untuk mendengar pendapat orang lain termasuk sahabatnya itu.
"Aku harap kau tak sekejam dulu, memisahkan ibu dengan putranya," besit Syukran kembali.
Laju mobil mengatarkan Syukran kembali kerumah. Ternyata putranya telah ada diruang tamu dengan gelas minuman ditangannya.
Terlihat suasana hati Murat sedang tak bagus, menatap kosong gelas yang ada ditangannya dengan memutar-mutar gelas tersebut
"Murad... Ada apa dengan mu? Apa yang sedang merusak suasana hati mu?" Tanya ibunya dengan menyentuh pundak putranya.
Tak segera memberikan jawaban atas pertanyaan ibunya itu. Murad meneguk kembali minuman yang ada didalam gelas itu, masuk kedalam kerongkongannya yang terasa kering.
"Hei... Ada apa? " Tanya ibunya penuh dengan nada penekanan.
Menatap kearah wanita yang dirinya tahu bahwa ibunya akan mengetahui bahwa saat ini Murad begitu tak berbahagia.
"Aku tertarik dan jatuh hati pada wanita itu!!!" Ucap lirih Murad seraya menuang kembali minuman kedalam gelas yang telah kosong.
Nyonya Syukran tak mengerti maksud dari perkataan putranya itu. Wanita yang dimaksud oleh putranya.
"Bukannya saat ini kalian telah menjalin hubungan lebih dekat? Apakah Gul menolak cinta mu? " Ucap ibunya dengan wajah tak mengerti akan sikap putranya.
Murad tersenyum tipis seakan menandakan rasa sakit dihatinya dan merasa dirinya telah dicampakkan begitu saja oleh seorang wanita.
"Wanita itu akan menjadi calon istri sahabat ku, maka aku tak memiliki harapan lagi, " balas Murad dengan suara pelan dan penuh kehancuran terlihat dari mimik wajahnya.
Betapa terkejutnya Syukran mendengar perkataan dari putranya itu. Wanita yang dimaksud adalah Aiyla.
Tak percaya bahwa kedua lelaki itu telah jatuh cinta dengan seorang wanita yang sama. Terjawab sudah mengapa Murad dan Ergin tidak lagi sering berjalan bersama, terkesan hubungan persahabatan mereka berdua renggang.
Mereka berdua bersaing untuk mendapatkan hati wanita itu. Syukran semakin tertarik dengan pribadi Aiyla, karena telah membuat dua orang lelaki jatuh cinta secara bersamaan.
Syukan tahu karakter dari dua orang lelaki itu, Ergin yang tak begitu tertarik dengan seorang wanita bahkan selalu bersikap dingin dan putranya Murad yang selalu dengan mudah untuk menyukai wanita kini terlihat begitu terpuruk dan hancur setelah Ergin mendapatkan hati Aiyla.
"Kau memang wanita yang luar biasa Aiyla... Mampu mengubah dua karakter lelaki secara bersamaan," batin Syukran dengan wajah takjub.
__ADS_1