Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 175


__ADS_3

Gimana Reader apakah Nadine masih nekad untuk bertindak lebih jauh? ๐Ÿ˜‰


Jom lanjut ngebaca๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ


๐Ÿ’™Happy Reading๐Ÿ’™


๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


Nadine menjatuhkan begitu saja tubuhnya diatas kasur dengan tatapan mata yang kosong menatap langit-langit kamarnya.


Pikirannya terlintas kembali disaat mata Ergin yang tak sedikitpun menunjukkan rasa cinta seperti dahulu yang pernah ia rasakan.


" Sekarang aku benar kehilangan diri mu Ergin."


Ucap lirih Nadine dengan bulir bening diujung matanya. Malam ini terasa amat berat dari malam-malam sebelumnya disaat dirinya telah mengetahui bahwa Ergin telah membuang jauh rasa cinta untuk dirinya.


"Oh.... Tuhan, aku masih menginginkan lelaki itu."


Ucap Nadine kembali dengan suara keras memenuhi ruang kamar pribadinya.


Nadine kini hanya tinggal sendiri dirumah besar peninggalan almarhum suaminya. Wanita itu menjadi pewaris satu-satunya harta dari sang suami.


Selama penikahan mereka yang berjalan lebih kurang 5 tahun, Nadine tak memiliki anak lantaran dengan sengaja dirinya memakai alat kotrasepsi. Sehingga selama perjalanan hubungan pernikahan bersama lelaki tersebut Nadine tak kunjung hamil.


Nadine tak menginginkan keturunan dari lelaki yang menjadi suaminya itu. Jadi tanpa sepengetahuan suaminya dirinya menggunakan penghambat kehamilan.


Sampai disuatu saat suaminya mengetahui atas perbuatan Nadine sehingga menyebabkan lelaki itu seketika terkena serangan jantung.


Tidak hanya itu saja suami Nadine mengetahui bahwa istrinya tidak mencintai dirinya. Suaminya tahu bahwa ada laki-laki lain dihati Nadine.


Pernikahan itu berlangsung lantaran Nadine mengincar harta kekayaan dengan status sosial yang dimilikinya. Diperkuat lagi dengan ketahuannya wanita itu tidak mengingikan adanya anak didalam pernikahan mereka berdua.


Karena terlalu mencintai Nadine dan tak ingin kehilangan wanita tersebut, lelaki itu mampu memendam rasa dihatinya selama itu. Dengan sengaja suami Nadine menyimpan semua rahasia dan berujung kematian akibat penyakit yang dideritanya.


"Ergin... Aku sungguh menyesal!!! Tak terlihatkah dimata mu? "


Teriakannya kembali menggema dikamar yang didesain kedap suara. Sehingga para asisten rumah tangga yang bekerja disana tak mendengar sedikitpun.


Kini Nadine tak mampu mengendalikan emosinya, alas kasur yang tadinya rapi serta licin kini terurai akibat tarikan dari kedua tangan Nadine yang kesal bercampur amarah dilampiaskannya dengan cara menangis sepuasnya dan memukul kasur serta melempar barang terdekat denganya.

__ADS_1


Wajahnya telah terlihat sayu dengan kelopak mata bengkak dan memerah. Tempat tidur yang semula rapi menjadi berantakan dengan beberapa barang yang tergelatak dilantai.


Seperti kapal pecah dimana beberapa barang pecah akibat dilempar dengan sengaja kelantai dan dinding kamar.


Terdengar suara dari sebuah alat yang sengaja didesain untuk asisten rumah tangga yang bekerja dirumah tersebut jika memanggil dari luar kamar yang kedab suara.


"Permisi Nyonya ada seorang wanita yang datang yang hendak bertemu."


Ucap asisten rumah tangga yang bekerja disana. Nadine yang telah berhenti menangis setelah menumpahkan segala rasa dihatinya bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju


pintu.


"Baiklah tunggu sekitar 5 menit saya akan turun."


Tanpa membuka pintu dengan alat yang serupa tertempel disamping pintu Nadine berbicara pada asisten rumah tangganya.


Nadine berjalan menuju kamar mandi dan berdiri tepat didepan sebuah cermin. Berusaha untuk merapikan rambutnya yang kusut dan mencuci wajahnya yang masih terlihat sembab namun tak seperti sebelumnya.


Memoleskan kembali make-up untuk menyamarkan bekas tangis yang terlihat dikelopak matanya.


Menganti pakaian kemudian berjalan turun dari lantai dua menuju ruang tamu yang terletak dilantai bawah dirumah yang bertingkat dua tersebut.


Terlihat punggung dari wanita yang duduk dengan rambut yang disanggul rapi kebelakang.


"Maaf Nyonya ada keperluan apa? Sehingga melangkahkan kaki hingga kemari dan ingin bertemu dengan saya?"


Ucap Nadine dengan suara pelan dan ramah membuka pembicaraan mereka berdua.


Raut wajah wanita itu terlihat sedikit berubah pada saat Nadine menatap wajahnya serta perkataan Nadine yang baru saja didengar telinganya.


"Apakah kau melupai ku? Wanita yang dulunya sering menemui mu bermain disebuah taman yang ada disebuah panti."


Balas wanita tersebut dengan tatapan serius menatap Nadine yang tiba-tiba saja mengingat


kenangan yang dikatakan wanita paruh baya tersebut.


"Ya... Tuhan... Nyonya Esma! "


Teriak Nadine dengan spontan berdiri dari posisi duduk kemudian berjalan kearah wanita dihadapannya.

__ADS_1


Repleks wanita itupun berdiri lalu tangan mereka saling menggengam dan kini kedua wanita tersebut saling berpelukan satu sama lain dengan eratnya.


Mereka saling menyebutkan nama masing-masing, terlihat dua orang yang saling merindu setelah sekian lama tak bertemu.


"Aku senang Nyonya masih mengingat ku dan kini datang mengunjungi ku... "


Ungkap Nadine yang saat ini mengeluarkan kembali bulir bening telah jatuh dari kedua ujung matanya.


Namun tangis kali ini adalah sebuah tangis kebahagian. Nyonya Esma adalah seorang pengunjung yang ditunggu Nadine setiap Satu bulan. Nyonya Esma menjadi wanita satu-satunya yang sering mengunjungi dirinya sewaktu masih dipanti asuhan.


Berkat wanita inilah dirinya dapat bersekolah bahkan sampai duduk disebuah perguruan tinggi bersama Ergin dan Murad.


Dari sanalah tumbuh benih-benih cinta antara Ergin dan Nadine. Ergin yang memiliki sikap dingin yang tak mudah wanita mendekatinya, hanya dua orang wanita yang hadir didalam hidup Ergin yaitu Dilsha dan Nadine.


Dilsha sosok wanita yang hanya menjadi sahabat terdekat, namun Nadine adalah sahabat sekaligus kekasih Ergin.


Ibu Ergin yang selalu mengajak Nadine kerumah dan sering menghabiskan waktu dirumah besar milik Ozturk.


Namun sayang setelah Nadine lebih memilih lelaki yang terpaut lebih tua dari usianya serta mapan membuat Nadine menjauh dari Nyonya Esma sehingga hubungan mereka berdua menjadi renggang.


Saat itu Ergin hanya sosok laki-laki Muda pewaris dari keluarganya, sedangkan lelaki yang dinikahi Nadine adalah pengusaha yang mapan dengan harta kekayaaan yang terbilang tak sedikit.


Nadine berpikir bahwa Ergin adalah anak manja yang nantinya tak mampu membahagiakan dirinya terlebih lagi tentang persoal materi yang masih didapat dari orang tuanya.


Berbeda jauh dengan lelaki tampan dan jutawan walau usia mereka berdua terpaut jauh tak menjadi masalah oleh Nadine.


Dengan cepat Nadine menerima lamaran lelaki tersebut tanpa memikirkan perasaan Ergin saat itu. Disaat bersamaan Nadine menjalin hubungan dengan dua laki-laki.


Sampai saatnya hubungan Nadine dengan almarhum suaminya diketahui oleh sahabat Ergin yaitu Murad.


Murad saat itu langsung mengancam Nadine untuk memberitahukan pengkhiatan wanita tersebut. Dengan tanpa menyesal Nadine membiarkan saja lelaki yang menjadi sahabat kekasihnya itu memberitahukan pengkhiatannya.


Tentu saja saat itu Ergin langsung bereaksi padahal mereka telah berencana akan menikah. Detik-detik pernikahan terasa sudah didepan mata, namun dengan sekejab dihancurkan oleh sikap Nadine yang menerima lamaran dari seorang lelaki yang menjadi suami Nadine saat ini.


"Nadine... Mengapa kau begitu tega saat itu melepaskan putra ku? Apa kau tak pernah mencintainya?


Ungkap Nyonya Esma dengan langsung mengingatkan Nadine akan perbuatan dimasa lalunya. Nadine duduk disamping wanita tersebut seraya merebahkan kepalanya tepat dibahu Nyonya Esma.


Wanita itu biasa bermanja seperti itu dikala dirinya bersedih. Nyonya Esma adalah ibu bagi Nadine, dirinya merasakan kasih sayang seorang ibu yang tak pernah didapatkannya dari ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


Bagaimana mendapatkan kasih sayang sedangkan Nadine tidak tahu siapa Ibu yang telah melahirkan dirinya dan dengan tega meletakkan dirinya pada sebuah panti asuhan disaat masih bayi merah.


Nyonya Esma yang memberikan sedikit arti sosok seorang ibu bagi Nadine.


__ADS_2