
Duuuh....Sibabang ganteng lagi panik... π’
Dua orang yang sangat berharga didalam kehidupannya sedang bertarung nyawa... ππ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya Reader tersayang ππ
Jom lanjut ngebaca π¨π¨
πHappy Readingπ
πππ
Cukup lama mereka menunggu kabar dari dalam ruangan yang tertutup itu. Bunyi suara dari jarum jam terdengar keras disuasana hening malam ini.
Dingin malam menambah suasana menjadi tegang dan membekukan hati yang tak tentu arah. Menatikan jawaban dari dalam ruangan yang tertutup rapat.
Semua orang terpaku tak bergeming, semuanya tertuju pada satu pintu yang ada diruang yang tertutup tersebut.
Ergin masih tertunduk dengan kedua telapak tangan menutupi separuh wajahnya. Terlihat sekali laki-laki itu larut dalam kesedihan dengan menghela nafas yang sangat berat dari mulutnya.
"Tuan Ergin... Istri anda membutuhkan dua kantung darah bergolongan AB secepatnya, yang tersedia hanya satu kantong. "
Terdengar petugas kesehatan yang keluar dari ruang yang tertutup itu dengan tatapan mata penuh keseriusan menatap kearah Ergin.
Ergin terkejut karena tiba-tiba saja terdengar suara petugas kesehatan yang berdiri didepan pintu.
"Saya memiliki golongan darah yang sama. Silahkan cek, jika sesuai maka saya bersedia. "
Ungkap Dishya langsung berdiri dari tempat duduknya yang bersebelahan dengan Buraq. Semua pandangan mata mengarah kewanita yang sedang berdiri dihadapan petugas kesehatan.
"Baiklah nona, mari ikut saya. "
Balas singkat petugas kesehatan tersebut diiringi langkah kaki Dishya dari belakangnya.
Pintu kembali tertutup sedangkan semua mata tertunduk kembali larut dalam kesedihan yang sama. Belum ada kabar tentang mereka berdua yang ada didalam sana.
"Tuan... Putra anda telah sadar. Tuan bisa melihatnya, namun istri anda masih dalam kondisi belum stabil karena keadaannya yang begitu lemah dan beberapa luka pada bagian tubuhnya serta ditambah dengan kondisi Nyonya Aiyla yang sedang hamil. "
Ungkap dokter yang telah menangani mereka berdua keluar dari ruang yang tertutup.
Ergin yang mendengar penjelasan dari dokter memberikan sedikit harapan untuk dirinya dari kesedihan yang menyelimuti hatinya.
"Terima kasih dokter..."
Balas singkat Ergin dengan berusaha tersenyum tipis diujung bibirnya, rasa sesak didada sedikit berkurang.
__ADS_1
Murad memberikan sentuhan tepat dipundaknya seolah sebuah kekuatan agar bersikap sabar dan tegar dalam menghadapi segala yang terjadi.
"Mari Tuan, ikut saya. "
Ucap dokter tersebut mengajak Ergin menemui putranya. Dengan langkah kaki yang pelan memasuki kedalam ruang dimana Azzam telah terbaring dengan wajah pucat.
Terdapat luka gores dibeberapa bagian ditubuh Azzam. Namun yang lebih banyak dibagian tubuh Aiyla karena posisinya yang memeluk tubuh putranya.
"Ibu mana?"
Tanya Azzam saat Ergin telah berada disamping putranya itu. Terlihat wajah pucat anak lelaki itu dengan luka gores yang telah diberikan obat di beberapa bagian tubuhnya.
"Doakan ibu ya sayang...Biar Ibu bisa segera melihat Azzam."
Ungkap Ergin dengan bulir telah jatuh diujung matanya. Berusaha menyeka bulir bening tersebut, agar tak terlihat rasa pilu dan sedih yang sedang mendera dihatinya dihadapan putranya itu.
Azzam menganggukan kepalanya pertanda mengerti akan apa yang dikatakan oleh Ergin. Anak laki-laki itu meraih tangan Ergin berusaha untuk memberikan sentuhan pada Ergin untuk tak terus mengeluarkan bulir bening diujung matanya.
"Putra ayah memang kuat, kita akan bersama-sama seperti dulu lagi sayang. "
Ungkap Ergin seraya mencium dahi Azzam dan membelai lembut wajah anak lelaki itu.
Pintu terbuka dan terlihat Gul sedang berada tepat dihadapan mereka berdua. Sebuah senyum terlihat diparas wajahnya.
"Aiyla mencari mu dan Azzam, dia telah siuman. "
"Sayaang... Ayah tinggal bersama aunti Gul ya.. Ayah mau lihat ibu dulu."
Terdengar suara Ergin antusias dengan meraih tangan putranya lalu mencium punggung tangannya. Azzam tersenyum seraya menatap dalam kearah Ergin.
"Baiklah... Sampaikan pada ibu, bahwa Azzam baik-baik saja. "
Terdengar suara polos namun terkesan memiliki sebuah ikatan yang sangat kuat antara anak dan ibu kandung.
"Saya titip Azzam dengan mu."
Bisik Ergin seraya berlalu meninggalkan ruang inap putranya itu. Berjalan tak jauh dari ruang Azzam, kini Ergin berbelok kearah kanan dari koridor yang ada dirumah sakit tersebut.
Langkah kakinya terhenti disuatu ruang yang sudah lama ia duduk dikursi yang ada dihadapannya.
Perlahan Ergin membuka pintu lalu masuk dan bertemu dengan petugas kesehatan yang menyambutnya.
"Tuan, silahkan ikuti saya. "
Terdengar suara wanita petugas kesehatan tersebut seraya melangkah memasuki ruang isolasi yang didalamnya terbaring beberapa pasien disana.
__ADS_1
Ergin telah mengenakan pakaian khusus untuk ruang isolasi tersebut. Matanya memandang kesegala penjuru yang ada didalam ruangan itu.
Mata Ergin tertuju pada perban yang membalut lutut , lengan, dahi serta kaki Aiyla. Wajah wanita itu terlihat lebam dan memar.
Rasa tak sampai hati Ergin melihat istrinya yang tengah terbaring diatas tempat tidur. Bulir yang sedari tadi keluar berusaha untuk tak jatuh dan terlihat oleh Aiyla.
"Sayaaang... "
Suara mesra Ergin meraih tangan Aiyla dan mencium pipi istrinya yang terasa sejuk dibibirnya. Wajah pucat dengan luka yang telah dijahit dan diperban terlihat membuat hatinya terenyuh dan terasa sakit.
"Bagaimana Azzam? "
Kata yang keluar dari mulut Aiyla adalah menanyakan keberadaan putranya. Kasih sayang ibu dan pengorbanan ibu tak sebanding dengan luka fisik yang dirasakan wanita itu.
Sudah dalam kondisi seperti itu, namun masih menanyakan putranya. Aiyla memang tak akan memaafkan dirinya jika hal buruk terjadi pada putranya.
"Tenang sayang... Azzam mengatakan bahwa ia baik-baik saja bahkan jangan mengkhawatirkan dirinya. Putra kita telah siuman dan sekarang berada diruang rawat inap. "
Ungkap Ergin dengan kesungguhan menatap kemanik coklat istrinya. Ada segurat senyum terlukis diwajah Aiyla yang membuat hati Ergin menjadi hangat.
Rasa sedih beransur membaik melihat sebingkai senyum diwajah Aiyla. Sungguh memberikan kekuatan pada Ergin untuk lebih tegar menghadapi segala yang terjadi.
"Apakah bayi kita baik-baik saja? "
Tanya Aiyla seraya mengelus lembut perut buncitnya. Erginpun melakukan hal yang sama membelai lembut perut istrinya.
Terasa pergerakan dari dalam perut Aiyla yang dirasakan oleh Ergin dan Aiyla. Sontak membuat dirinya dan Aiyla tersenyum.
"Baik-baik disana sayang.... Ayah dan ibu ada disini. Dia merasakan sentuhan kita berdua sayang."
Ungkap Ergin dengan mencium perut buncit Aiyla dengan lembut dan mesrah. Beruntung kecelakaan mobil tersebut tak membahayakan kondisi janin yang ada didalam rahim Aiyla.
Sepertinya Tuhan memberikan keajaiban dan pertolongan pada Aiyla dan putranya. Kejadian naas itu memberikan luka dan trauma pada keduanya namun tak lagi membahayakan kondisi keduanya.
"Tuhan memberikan perlindunganNya pada keluarga kita,"
Ungkap Aiyla kini dengan menganti posisinya yang semula berbaring kini berusaha duduk, namun masih diatas kasur.
Punggungnya terasa hangat dan gatal karena lamanya berbaring. Aiyla meminta Ergin membantunya memberikan bedak tabur untuk menghilangkan rasa gatal dan rasa hangat dipunggungnya.
Dengan telaten Ergin mengusap lembut bedak tabur kepunggung Aiyla dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang.
Menggunakan telapak tangannya mengusap berulang - ulang kali kepunggung istrinya. Sehingga terasa sejuk dan terasa hilang gatal yang dirasakan Aiyla.
"Enaaaak...Terasa lebih baikkan. Terima kasih sayang."
__ADS_1
Ungkap Aiyla dan kembali tersenyum seraya merebahkan kembali tubuhnya.
Ergin merasakan rasa syukur pada Sang Pencipta bahwa dirinya dapat melalui semua yang telah terjadi.