Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 153


__ADS_3

Waduh akankan terjadi kesalahpahaman antara Aiyla dan sahabatnya itu? ๐Ÿ˜ข


Tulis dikolom komentar ya... ๐Ÿ‘‡


But don't forget to like, love, vote, gift, and rate stars 5 Guy's ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


I'm waiting to your support Readers๐Ÿ™๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


Jom lanjuuut ๐Ÿ’จ๐Ÿ’จ


๐Ÿ’ฅHappy Reading๐Ÿ’ฅ


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Aiyla merasa sahabatnya ini terlalu takut untuk merasakan penolakan kembali dan memilih menghindar daripada harus menghadapinya.


Sehingga kini, Gul mencurigai maksud baik dari Aiyla sendiri. Dalam hati kecil Aiyla tentu akan mendukung kebahagian dari sahabatnya itu. Namun disatu sisi seorang anak layak untuk mengetahui ayah kandungnya.


"Maaf sebelumnya, tidak ada maksud dari ku untuk ikut campur dalam masalah pribadi mu, tapi karena sekarang aku terlibat didalamnya ada rasa tertekan dihati ini setelah melihat putri kecilmu yang cantik. Awalnya aku setuju pada mu untuk merahasiakan semua dari Murad, tapi setelah melihat Dilec."


Terdengar suara Aiyla terhenti dan bulir bening jatuh membasahi wajahnya. Sedari tadi ia menahan rasa iba dan sedih jika terbayang wajah putri Gul yang hampir sebaya dengan putrinya sendiri.


"Gul sahabat ku..Dilec butuh sosok dan figure seorang ayah. Bulut memang laki-laki yang baik, bahkan aku lebih dulu mengenalnya dengan sangat baik. Namun dia bukanlah laki-laki yang tepat untuk putri mu. Seburuk apapun Murad dia adalah ayah kandungnya. Dilec berhak mendapatkan kasih sayang ayah kandung bukan lelaki yang tak memiliki hubungan darah dengannya."


Ungkap Aiyla dengan suara berat melanjutkan perkataanya. Wajah Gul berubah setelah mendengar perkataan dari sahabatnya itu.


Hatinya terenyuh dan terasa amat sakit seperti tertoreh kembali luka yang lama yang belum mengering.


"Apa bedanya Dilec dengan Azzam. Ergin tak memiliki hubungan darah dengan putra mu tapi lihatlah, lelaki itu begitu sayang dan perhatian pada Azzam. Tak menutup kemungkinan Bulutpun akan menyayangi putri ku seperti Ergin. "


Balas Gul atas perkataan Aiyla dengan kesungguhan. Aiyla terkejut diluar dugaannya disaat ini sahabatnya itu mengaitkan hubungan putranya dengan Ergin.


"Sungguh berbeda Gul. Azzam sudah tahu bahwa ayahnya telah meninggal sedangkan Dilec ayahnya masih hidup!! dan satu hal lagi aku mencintai Ergin."


Terdengar suara Aiyla lebih tinggi nadanya dari sebelumnya membuat Gul terdiam dan mengeluarkan bulir bening diujung matanya.

__ADS_1


"Gul... Sahabatku, aku tahu kau juga tak akan mencintai lelaki itu seutuhnya seperti kau mencintai Murad. Jangan jadikan Bulut pelarian atas masalah mu itu. Biarkan ia berbahagia dengan wanita yang benar-benar mencintainya."


Terdengar pelan namun masuk kehati Gul. Apa yang diucapkan sahabatnya memang benar adanya.


Aiyla memeluk erat tubuh sahabatnya itu seraya menangis. Berusaha untuk memahami dan mengerti akan perasaan yang dirasakannya saat ini.


"Aku ingin kau dan putri mu bahagia sahabat ku. " Bisik Aiyla seraya menambah erat pelukkannya.


Gul mendekap erat pelukannya dan akhirnya mereka larut dalam kesedihan yang sama. Tanpa disadari Bulut mendengar pembicaraan mereka berdua.


Lelaki itu dengan wajah yang berubah pergi begitu saja keluar dari cafe. Hatinya hancur setelah mengetahui kisah sesungguhnya.


Gul yang diceritakan ibunya tak sama dengan kisah yang baru saja didengarnya. Rasa tak percaya bahwa selama ini wanita yang membuatnya tertarik mampu membodohi dirinya.


Memanfaatkan kebaikan ia dan ibunya. Ada amarah tersirat dimata Bulut akan kisah yang sebenarnya baru saja ia dapatkan.


"Aku telah jatuh hati pada mu... Tapi ternyata aku hanya pelarian mu saja!! "


Umpat dirinya sendiri seraya berteriak sekuat-kuatnya. Hati Bulut begitu kecewa dan hancur, disaat dirinya bisa menerima Gul dan putrinya tapi ada laki-laki lain yang merupakan ayah dari putri kecilnya itu.


Umpat Bulut kembali seraya mengepal kedua tangannya dengan rahang yang mengeras dan sorot mata yang tajam.


Dipacunya sepeda motor tersebut dengan kecepatan tinggi seakan menghilangkan rasa kecewa, sakit hati, amarah dan cinta bercampur aduk menjadi satu.


Sampai menjelang malam Bulut belum juga kembali, Feride cemas karena tak pernah putranya pergi selarut itu dan akan selalu memberitahukan dirinya kemana ia akan pergi.


Feride panik dan khawatir takut terjadi sesuatu pada putranya. Wanita itu telah menghubungi beberapa kali tapi ponselnya tidak aktif.


Semua teman dan orang yang dekat dengan putranya berusaha dihubungi oleh Feride tapi hasilnya nihil mereka tak bertemu dengan Bulut hari ini.


"Kemanalah kau Nak... "


Ucap Feride dengan bulir bening telah membasahi wajahnya. Ergin, Aiyla dan termasuk Gul juga heran dan bingung kemana perginya Bulut.


1 jam kemudian terdengar suara motor berhenti diparkiran cafe. Suara motor yang khas milik Bulut, bergegas ibunya keluar dan menyambut putranya.

__ADS_1


Diikuti oleh mereka bertiga, lelaki itu masuk dengan jalan sempoyongan. Bulut pulang dalam keadaan mabuk. Tercium aroma yang menyengat dari mulutnya berbau minuman keras yang habis diminumnya. Feride terkejut baru kali ini ia mabuk sebelumnya tak pernah sampai mabuk seperti ini.


"Apa yang telah terjadi putra ku... Mengapa kau sampai begini?


Ucap Feride seraya menggoyangkan tubuh putranya yang telah teler terbaring diatas tempat tidur tanpa menyapa orang yang sedang cemas seraya menunggu kabar dan kehadiran dirinya.


"Maaf Tuan Ergi dan Nyonya Aiyla telah merepotkan kalian."


Terdengar suara pelan dari Feride mengakhiri drama Bulut malam ini.


Aiyla dan Ergin kembali kehunian, beruntung mereka tak berjalan kaki karena putra putri mereka telah tertidur dengan pulasnya.


"Baiklah kami pamit Feride."


Ucapan diakhir kalimat Aiyla setelah keluar dari cafe begitu juga Gul yang ikut pulang bersama putrinya.


Deru mobil mengantarkan sahabat istrinya bersama putri kecilnya kembali kerumah. Aiyla masih tak percaya bahwa Bulut bisa mabuk begitu berat.


"Sayang... Aku tak pernah melihat Bulut mabuk seperti itu. Apa penyebabnya....Atau ia telah mendengar percakapan kami berdua?"


Terlihat diwajah Aiyla cemas dan panik setelah terpikir olehnya penyebab Bulut mabuk. Jika memang benar itu adalah penyebabnya tentu dirinya merasa bersalah terhadap laki-laki itu.


"Sudahlah...Jangan dipikirkan. Jika memang benar penyebabnya karena Bulut telah mengetahui cerita sebenarnya maka itu lebih baik bagi dirinya. Gul tak memanfaatkan keadaan disaat ia masih mencintai Murad seperti yang kau ceritakan itu."


Balas Ergin santai seraya mengemudikan mobilnya. Aiyla yang masih panik dan turut bersalah tak dapat seringan suaminya itu untuk berpikir.


"Bagaimana kalau Bulut menggagalkan rencana kita mempertemukan Gul dengan Murad !!! Bahkan akan menjadi penghalang bagi mereka berdua? "


Terdengar suara Aiyla kembali yang masih memikirkan kejadian dicafe.


"Sayang... Sudahlah, tidur lagi!"


Balas Ergin seraya merebahkan tubuhnya diatas kasur dan memeluk tubuh istrinya dengan erat.


Setelah sampai dirumah dan kini sudah diatas kasur namun Aiyla masih tak dapat memejamkan matanya. Pikiran Aiyla melayang-layang dengan praduga-praduga yang berputar dipikirannya.

__ADS_1


Diliriknya Ergin telah tertidur dengan nafasnya yang teratur seraya memeluk erat tubuhnya.


__ADS_2