
Hai... Hai... Hai... ππ
Salam Hangat buat Reader setia... ππ
Semangat Author menurun seiring dengan sedikitnya jejak yang Reader tinggalkanππ
Come on Guy's π
I'm waiting for you support...π
Please...clik right nowπ
Like, love, vote and rate star 5 guy's...ππ
So...Happy Reading...ππ
πππ
Keheningan diruang keluarga itu pecah, Ergin yang berusaha menahan amarah sedari tadi kini bergelora dengan hebatnya. Seakan ingin mengeluarkan segala yang tersimpan dihatinya selama ini.
Benar saja dengan suara tak seperti biasanya lelaki bermata biru itu berdiri lalu dengan lancar dirinya mengeluarkan begitu saja semua beban berat yang tersimpan selama ini
"Kau tahu ibu, kau tak pernah mendukung ku dalam segala hal. Selama ini aku selalu menuruti perintah mu, berusaha mendapatkan perhatian dari mu. Tapi tak pernah terucap sekalipun dibibir mu rasa bangga atas keberhasilan yang ku raih selama ini. Namun mengapa kau sekarang begitu perduli pada siapa aku menempati hati ku yang kosong selama ini ?" Ungkap Ergin dengan suara lantang.
Wanita paruh baya yang tertunduk itu lalu mengangkat kepalanya menatap dalam kearah mata Ergin. Seakan menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya atas apa yang didengar ditelinganya.
"Aku hanya ingin menjaga apa yang telah kau dapat dengan kerja keras mu selama ini dan tak ingin orang lain memanfaatkan dirimu begitu saja," balas Nyonya Esma dengan suara lebih tinggi.
Ergin semakin tak dapat mengerti apa yang dikatakan ibunya itu. Jika soal harta dan status sosial maka dirinya akan sanggup melepaskan itu semua. Tapi tidak dengan cinta Aiyla, ia akan terus memperjuangkan cintanya dengan segala rintangan yang akan menghadang.
__ADS_1
"Aku tahu ibu, bukan itu sesungguhnya yang kau khawatirkan. Apa yang terjadi pada ayah dan ibu...Sesuatu yang tak bisa aku mengerti dari sikap mu. Disaat seorang ibu selalu berusaha memberikan kasih sayang terhadap anaknya, tapi tidak dengan diriku. Hati ku hampa ibu, sebelum hadir sosok Aiyla dihati ku," ucap Ergin dengan memelankan suaranya.
Nyonya Esma merasakan sesak didadanya, rahasia yang selama ini ada disimpan dihati membuat dirinya tak mampu bernafas dengan biasanya. Kini dirinya tak sanggup lagi menahan semua yang membuatnya tertekan dan tersiksa dihati selama ini.
"Kau bukanlah anak kandung ku, kau lahir dari wanita perusak rumah tangga ku, setiap ku lihat wajah mu terbayang akan wanita murahan itu," ucap Nyonya Esma dengan sorot mata kebencian.
Bagai disambar petir Ergin mendengar kata yang masuk ketelinganya. Seraya menatap lekat kearah wanita yang ada dihadapannya, tak mampu kakinya menopang tubuhnya lagi.
"Apa...!! " Teriak Ergin kencang.
Ergin terduduk diatas sofa yang semula dalam posisi berdiri. Seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya, namun sorot mata penuh kebencian terlihat nyata diwajah wanita yang disapa ibu olehnya selama ini.
"Wanita itu melahirkan mu didalam hubungan gelap dengan suami ku, aku berhasil menyumbat mulutnya dengan sejumlah uang yang tak kecil jumlah nominalnya agar mau menyerahkan mu dan mengakhiri hubungan kotor mereka berdua," ungkap nyonya Esma dengan mata masih menunjukkan kebencian.
Serasa hancur hati Ergin, ternyata selama ini wanita dihadapannya menyimpan keburukan ibu kandungnya. Terlahir dari hubungan gelap ayahnya. Semua terjawab sudah mengapa wanita yang disapa ibu olehnya, selalu menjaga jarak bahkan tak begitu perduli padanya karena bukanlah ibu kandung Ergin.
Semenjak terjadi pengkhiatan yang dilakukan oleh suaminya menyebabkan hubungan mereka hanya sebatas kertas. Mereka terpaksa hidup seperti itu karena keluarga besar dari keduanya yang tak menginginkan perceraian dengan alasan apapun.
Wajar saja Ergin selalu mendapatkan ayahnya yang sering berpergian dengan alasan pekerjaan dan begitu dengan ibunya yang menyibukkan kehidupan sosialitanya serta yayasan yang dididirikannya bersama ibu Murad.
"Apakah ibu Murad mengetahui ini? " Tanya Ergin dengan wajah tertunduk.
Nyonya Esma menganggukkan kepalanya pertanda bahwa membenarkan dengan apa yang dikatakan oleh Ergin.
Wajar ibu Murad memberikan kasih sayang padanya, karena Ergin tak mendapatkan kasih sayang seutuhnya dari Nyonya Esma. Wanita itu selalu memberikan segala hal yang sama dengan Murad.
"Sebelum kau jatuh seperti ayah mu, maka sebaiknya kau putuskan hubungan mu dengan wanita itu. Mengapa wanita seusia dirinya telah memiliki seorang anak tentu hasil hubungan gelap dengan seseorang," ucap Nyonya Esma dengan merendahkan Aiyla.
Dengan prasangka buruk yang telah merasuk kedalam pikirkan wanita paruh baya itu, begitu mudahnya Nyonya Esma dihadapan Ergin menuduh Aiyla seperti ibu kandung Ergin.
__ADS_1
"Dengan apa wanita itu memikat hati mu? Menawarkan dirinya seperti wanita murahan lainnya? Entah siapa ayah dari putranya itu!! " Ucap ketus wanita itu dengan sorot mata merendahkan.
Cacian yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu tak terkendali lagi, menumpahkan rasa tertekan dan tersakiti selama ini. Perkataan itu membuat wajah Ergin memerah dengan rahang yang bergetar menahan amarah.
Dipukul meja sekuat-kuatnya yang ada dihadapannya dengan seketika meja kaca itu pecah dan keluar darah dari punggung tangan kanannya. Darah yang keluar tak sebanding dengan rasa perih dihatinya atas perkataan yang tak beralasan.
Wanita itu terkejut dan wajahnya berubah pucat terhenti dari bicaranya, melihat sikap Ergin yang tak dapat mengendalikan emosi dan perasaannya lagi.
"Kau boleh menghina ibu kandung ku, karena memang aku tak mengenal wanita itu. Tapi jangan kau samakan dengan Aiyla, dia tak seburuk dari prasangka mu. Kau mau tahu siapa ayah dari putranya, yaitu keluarga Mustafa Othman." Ungkap Ergin dengan suara bergetar menahan amarahnya.
Matanya memerah dengan darah segar yang mengucur dipunggung tangannya. Ergin melangkah kedepan mendekati wanita paruh baya yang berdiri dengan wajah terlihat pucat.
"Dengarkan baik-baik Nyonya Esma Ozturk, mulai saat ini aku tak akan memanggil mu ibu karena sesungguhnya kau sangat membenci itu. Aku akan keluar dari jabatan ku sebagai presiden direktur diperusahan. Semoga membuat hati puas karena tak ada wanita yang akan memanfaatkan kedudukan ku. Namun aku tak akan pernah meninggalkan Aiyla, kau dengar itu baik-baik!!!" Ungkap Ergin dengan raut wajah serius dan sorot mata yang memerah.
Berlalu pergi begitu saja meninggalkan wanita paruh baya yang telah terkulai diatas lantai. Asisten pribadinya yang mendengar pertengkaran hebat yang barusan terjadi itu hanya mampu terdiam dan berdiri disudut ruang tamu tersebut.
Melihat Tuan mudanya pergi dengan sorot matanya yang tajam dan merah, barulah mendekat dan meraih tubuh majikannya dan memapah masuk kembali kedalam kamar.
"Nyonya...berbaringlah dulu. Akan aku ambil segelas air," ucap asisten rumah tangganya dengan wajah terlihat gugup dengan tangan gemetar.
Baru kali ini terjadi pertengkaran hebat antara nyonya Esma dan Tuan muda Ergin dirumah besar itu. Malam ini terkuak rahasia yang selama ini dipendam oleh majikannya.
"Aku tak pernah menyangka bahwa Nyonya Esma bukanlah ibu kandung Tuan muda Ergin." Gumam didalam hatinya.
Secepatnya dituang air kedalam gelas dengan tangan masih bergetar. Melangkahkan kaki dengan cepat kembali kekamar majikannya dengan segelas air putih digenggamannya.
Dengan tatapan mata yang kosong, wanita itu menatap langit-langit kamarnya.Tenggorokan kering dan matanya sembab.
Tak pernah menyangka akan berakhir seperti ini, terlihat disorot mata Ergin yang berubah seketika menjadi sosok asing bagi Nyonya Esma.
__ADS_1