Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
103. Sensasi Pagi Pertama


__ADS_3

°°°


Mia menggeliat dalam dekapan suaminya. Tidur nya begitu nyenyak tadi malam, tidak biasanya Mia bisa tidur begitu nyenyak. Ia semakin merapatkan tubuhnya, mencari kenyamanan. Tangannya meraba-raba sekitar, dia membayangkan sedang menyentuh da-da bidang suaminya yang ia lihat tadi malam.


Bagaimana bisa dia punya da-da dan perut sebagus ini. Sangat liat dan keras. Sekarang Mia bahkan menempelkan pipinya di sana.


Apa ini mimpi, kenapa terasa sangat nyata. Kalau begini aku tidak ingin membuka mataku. Semakin menelusup dalam pelukan suaminya.


Eh tunggu, kenapa ada suara detak jantungnya juga.


"Apa belum puas meraba semalaman?" suara serak khas bangun tidur menyadarkan Mia kalau itu bukan mimpi.


Perlahan mata indahnya mengerjap, mengintip sedikit demi sedikit dari celah kelopak matanya.


"Selamat pagi istriku...." Daniel mencium kening istrinya.


Mia masih mencoba mengingat apa yang terjadi, aa... ya dia ingat kalau dirinya sudah menikah dan yang ada di sampingnya saat ini tentu saja suaminya.


Jadi semalam kami tidak melakukan apapun. Mia memeriksa pakaiannya, masih lengkap tidak ada yang kurang. Tubuhnya juga terasa biasa saja tidak ada yang aneh.


Kami sungguh tidur semalaman, malam pertama kami tidak terjadi apapun.


Daniel memperhatikan tingkah istrinya, dengan menopang kepalanya dengan satu tangan. Menatap wajah cantik istrinya yang terlihat lebih cantik saat bangun tidur.


"Apa kau sedang memeriksa apa aku melakukan sesuatu atau tidak?" tanya Daniel dengan tersenyum miring.


"Niel, semalam apa kita..." Mia ragu mau bertanya.


"Apa kau tidak ingat?"


Mia menggeleng, seingatnya semalam dia berbaring di sisi suaminya lalu mereka mengobrol dan setelahnya tidak ingat lagi.

__ADS_1


Cup.


"Jangan melamun di pagi hari. Semalam kau tidur saat aku bercerita tentang masa lalu ku. Sayang sekali padahal tadi malam adalah malam pertama kita." Daniel menegakkan tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang. Bagian atasnya yang tak memakai apapun jadi terekspos di depan Mia.


Glek


Pagi-pagi Mia sudah dapat durian runtuh. Sudah wajahnya tampan tubuhnya juga bagus, Sepertinya memang benar kalau dari pernikahan itu Mia banyak mendapat keuntungan dan bonus.


Daniel menyadari kemana arah pandang Mia, dia sengaja melakukan hal itu. Sebagai wanita dewasa Mia pasti lebih mudah terpancing gai-rah. Semalam boleh gagal tapi pagi ini tidak akan ia lewatkan, apalagi juniornya sudah sang on di pagi hari.


Ohh tidak, Mia segera memandang ke arah lain sebelum tangannya tergerak untuk menyentuh perut sixpack itu. Lebih baik ia mandi untuk menghilangkan pikiran kotornya.


"Kalau begitu aku mandi duluan, bukankah kita harus sarapan bersama di bawah." Mia menyingkap selimutnya dan menurunkan kakinya ke lantai.


"Masih terlalu pagi untuk mandi, masih banyak waktu sebelum sarapan bersama." Daniel membisikkan kalimat itu tetap di telinga Mia.


Mia memejamkan matanya saat hembusan nafas Daniel menyentuh kulit nya. Memberikan sensasi hangat dan membuat tubuhnya mere-mang. Sialnya tubuhnya benar-benar mudah sekali terpancing.


"A... aku mau mandi sekarang saja Niel. Kau tidur lah lagi kalau masih mengantuk." Mia menggeliat dan berusaha menjauhkan lehernya saat pria itu mulai menelusup.


"Aku butuh bantuan mu untuk tidur, lebih tepatnya menidurkannya."


"Aakkkhhh... Niel," de-sah Mia saat tangan Daniel tiba-tiba naik ke atas dan me-re-mas da-danya kasar. Pria itu juga merapatkan tubuhnya sehingga Mia bisa merasakan mi-lik Daniel yang sudah me-ne-gang di balik celana pendeknya.


Bisa gawat kalau terus membiarkan suaminya beraksi. Mia pun berusaha melepaskan tangan Daniel dari da-danya. "Ja...Ngan nieeelll, Akkhhh... " Daniel semakin kuat mempermainkan da-da besarnya yang memang tidak memakai da-la-man, hanya terbalut kain kemeja milik suaminya.


"Sebentar saja, hanya pegang...." Li-dah Daniel juga bermain di telinga Mia.


"Aku tidak percaya, mana mungkin hanya pegang. Sssttt... " Mia menggigit bibir bawahnya saat dia jari Daniel me-mi-lin pu-t-ingnya.


"Aku sudah menahannya dari semalam dan membiarkan mu beristirahat. Pagi ini giliran ku mendapatkannya." Satu tangan pria itu me-re-mas bagian bawah Mia.

__ADS_1


Sontak saja mata Mia melotot tajam, mau protes tapi mulutnya sudah lebih dulu dibungkam dengan bi-bir Daniel.


Mia sudah tidak berniat melawan lagi, yang ada kini dia membalas cium-aann Daniel. Satu tangannya ia gunakan untuk menjambak rambut Daniel.


Sshhh ... aaakkhhh...


"Aku sangat menyukai ini," ujar Daniel sambil kedua tangannya menangkup da-da Mia yang sudah terbuka dari samping. Menggoyangkannya ke atas dan ke bawah. Hingga benda favorit nya itu bergoyang mengikuti gerakan Daniel.


"Aarrggghhh... Niel berhenti memainkannya seperti itu."


Tidak menyangka kalau Daniel menurut dan hal itu justru membuat Mia kecewa.


"Aaaa... " Mia memekik saat tubuhnya terpelanting ke atas kasur dan Daniel sudah berada di atasnya. sehingga da-danya yang sudah terbuka terpampang di depan mata Daniel. Laki-laki itu menatapnya penuh damba.


"Kenapa sepertinya kamu kecewa saat aku berhenti," menyeringai.


"Ti... dak mana mungkin a...ku kecewa." Mia membuang mukanya yang sudah memerah, dan berusaha menutupi asetnya.


"Jangan di tutup, aku mau ini."


Hap... Dengan sekali gerakan Daniel berhasil menyingkirkan tangan Mia dan menahannya ke atas. Sehingga dia bisa dengan mudah melahap sumber kehidupan anak-anak nya kelak dengan rakus. Meng-hi-sap nya bergantian, memutar li-dahnya di pu-c-uk are-ola.


Mia tidak munafik lagi, dia menikmatinya dan mulai mengeluarkan lengu-han manjanya yang semakin membuat Daniel bersemangat. Dia juga sengaja membusung da-da agar Daniel bisa lebih mudah me-nyu-su seperti bayi.


Di pagi hari yang dingin itu, kedua insan dengan gelora asmara yang menggebu-gebu melakukan hal yang wajar bagi pasangan suami istri. Mereka sudah sama-sama polos tanpa sehelai benangpun. Entah siapa yang melucuti nya. Mereka hanya mengikuti naluri nya.


Daniel sungguh puas me-nyu-su pagi ini. Dari tadi saja masih mulutnya masih di sana. Belum mau beranjak, sampai Mia merasa perih di sana.


"Aku masih ingin berlama-lama dengan kalian tapi Daniel junior sudah tidak sabar melakukan hal yang lebih. Tenang saja kita akan sering bertemu nanti." Daniel mengobrol dengan kedua bongka-han da-da Mia yang ia satukan dengan kedua tangannya. Memperlakukan benda itu seperti temannya sendiri.


Di sela-sela gai-rah nya yang sedang memuncak, Mia pun tertawa geli. Sebegitu sukakah suaminya pada kedua pa-yu-da-ra nya sampai mengajaknya mengobrol.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2