
°°°
Semakin hari, kebaikan yang Daniel tunjukkan pada keluarga Mia semakin kentara. Dan hal itu sukses membuat Mia selalu memijit pelipisnya setiap kali Emma sang mamah memujinya.
"Cari suami itu yang seperti dokter Daniel, sudah baik, perhatian, pengertian,..." bla bla bla.
Mia diam saja tak menanggapi ocehan mamahnya.
"Kenapa tidak dokter Daniel saja yang menjadi suami kak Mia sepertinya dia suka sama kakak, Mah. Iya nggak mah?" Celetuk Felice begitu saja.
Sontak Mia yang sedang minum pun hampir saja menyemburkan minuman yang ada di mulutnya.
Matanya membola menatap tajam sang adik yang sembarangan bicara.
"Benar katamu, Fel. Mamah rasa juga begitu. Pantas saja dokter Daniel begitu baik pada kita, ternyata dia mengincar salah satu putri mamah." Emma melirik putrinya, dengan menaik turunkan alisnya.
"Kalian bicara apa sih, jangan menyalah artikan kebaikan seseorang. Bagaimana kalau ada yang dengar, dokter Daniel bisa jadi bahan gunjingan di rumah sakit ini," terang Mia. dia mencoba menghilangkan pikiran aneh mamah dan adiknya.
"Tapi beneran aneh Kak, untuk apa dokter Daniel begitu baik pada kita kalau tidak ada maksud tertentu. Kalau melihat Kakak juga beda," sanggah Felice, dia tetap merasa apa yang dokter Daniel lakukan itu tidak biasa.
Tuk.
Mia menonyor kening adiknya.
"Sudah aku bilang jangan bicara sembarangan, kau itu tau apa soal pikiran orang. Cari pacar saja tidak benar begitu. Dan juga jangan mudah percaya tidak semua yang terlihat baik itu aslinya begitu." Mia teringat Justin, sang mantan juga dulu sangat baik pada keluarganya tapi nyatanya apa. Dia selingkuh juga.
"Yang Felice katakan benar nak, kalau kebaikan dokter Daniel tidak biasa. Mamah jelas mendapatkan perlakuan berbeda darinya. Dimana dokter Daniel bisa datang berkali-kali dalam sehari hanya untuk menanyakan keadaan mamah. Tapi yang dikatakan kamu juga benar, kita tidak boleh asal menebak karna bisa menimbulkan gosip nantinya." Emma menengahi kedua putrinya agar tidak lagi berdebat. Dia juga tidak ingin banyak berharap pada kebaikan yang ditunjukkan dokter Daniel, tapi kalau dia benar suka dengan Mia. Emma siap mendukung.
"Kau dengar itu..."
"Kakak juga dengar kan..."
Mereka saling menjulurkan lidah. Sedangkan Emma hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua putrinya.
"Eh Kak, tapi kalau dokter Daniel beneran suka sama kakak bagaimana?" bisik Felice dan hal itu sukses membuat pipi Mia memerah.
__ADS_1
"Sssttt... nggak usah mikirin yang nggak mungkin. Aku aja lebih tua darinya," ujar Mia.
"Ini kan seandainya kak... seandainya... apa kak Mia mau menerimanya? Aku sih sangat setuju, kapan lagi punya kakak ipar tampan." Felice terkekeh sendiri.
Mia salah tingkah mendengar pertanyaan yang adiknya yang ia anggap konyol. Tapi berbeda dengan reaksi tubuhnya, pipinya memerah dan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Sudah sana jangan ganggu kakak lagi, kakak mau menyelesaikan pekerjaan yang tadi di kantor," usir Mia sebelum sang adik kembali menanyakan hal yang aneh-aneh lagi. Mia pun berpura-pura mengambil laptop nya untuk bekerja.
Kakak boleh berpura-pura, tapi aku lihat sendiri kalau pipi kakak memerah. Kalau memang dokter Daniel serius pada kakak, aku ikut bahagia. Setidaknya laki-laki itu terlihat baik dan tulus pada kami. Dan kak Mia juga akan menemukan sandarannya nanti.
,,,
Tak lama Perawat datang mengantarkan obat untuk Emma.
"Permisi, waktunya minum obat," ujar perawat itu.
"Terimakasih sus." Emma menerima obatnya dan langsung menelannya.
"Dua hari lagi anda akan melakukan operasi, jadi pesan dokter jangan sampai lupa. Tetap jaga kesehatan tubuh anda agar stabil seperti ini," pesan perawat itu, tentu saja atas perintah Daniel.
"Ini surat persetujuannya, bisa dibaca dulu. Kalau sudah ditandatangani bisa diserahkan ke bagian administrasi rumah sakit." perawat itu menyerah sebuah map pada Mia.
"Baik Sus, nanti saya juga akan melunasi biayanya," Ujar Mia menerima map itu.
"Sepertinya biayanya sudah dibayarkan nona. Coba lihat di dalam map itu. Nona hanya tinggal tanda tangan saja," ujar perawat itu membuat semua orang bingung.
"Siapa yang membayarnya sus, saya tidak merasa sudah membayar. Atau mungkin datanya salah, nanti rumah sakitnya bisa rugi," sanggah Mia yang tidak merasa telah membayar.
"Tidak mungkin rumah sakit melakukan kesalahan sebesar itu nona. Uang itu tidak sedikit, tidak mungkin rumah sakit mau rugi," Ujar perawat itu ada benarnya juga. Tapi kalau bukan kesalahan lalu siapa yang membayar.
"Apa mungkin kamu lupa nak, kalau kau sudah membayar biayanya?" tanya Emma meyakinkan.
"Belum Mah, uangku saja masih utuh." Mia menunjukkan m-banking miliknya pada sang mamah.
"Lalu Siapa? Apa kami boleh tau dia siapa orang yang telah membayar biaya operasi saya sus," pinta Emma yang juga penasaran.
__ADS_1
"Saya tidak tau Nyonya, karena disitu tidak tertulis. Lebih baik anda tanyakan saja pada bagian administrasi."
Benar kata perawat tadi kalau bagian administrasi pasti tau siapa yang sudah membayar kan biaya operasi Emma. Namun, mereka sama sekali tidak mau memberitahu.
"Tolong beri tau siapa yang sudah membayar semua biaya ini sus." Untuk yang kesekian kalinya Mia memohon. Bukannya tidak rejeki tapi dia tidak mau nantinya justru ada masalah setelah ini. Lebih baik menggunakan uang sendiri untuk kesembuhan mamahnya.
"Maaf Nona, saya tidak tau. Kalau begitu saya permisi."
Perawat itupun pergi setelah menyuntikkan cairan obat untuk Emma.
"Mah, kira-kira siapa yang sudah membayarkan biaya operasi mamah ya? Baik sekali orang itu, apa kita kenal," komen Felice, dia juga penasaran siapa yang mau keluar uang begitu banyak untuk membantu keluarganya.
"Mamah juga tidak tau, saudara mamah mana mungkin mau keluar uang banyak. Menjenguk mamah saja tidak pernah," lirih Emma yang sebenarnya masih punya saudara tapi mereka seperti menjauhinya saat Emma sedang jatuh miskin dan terpuruk. Dan Emma pun mengerti karena mereka tidak mau disusahkan.
"Mungkin itu orang baik yang dikirim Tuhan untuk kita, Mah." Felice mengusap punggung mamahnya.
"Aku akan cari tau mah, entah apa maksudnya orang itu. Aku merasa ada sesuatu dibelakang ini semua," ujar Mia.
"Iya nak, kalau orang itu memang punya maksud yang tidak baik. Lebih baik kamu kembalikan saja uangnya. Mamah tidak mau karena mamah, kalian juga jadi terkena masalah," pesan Emma pada putrinya.
"Tenang saja Mah, Mia akan cari tau. Apapun caranya, aku harus mengembalikan uangnya."
"Tidak perlu...."
Suara bariton milik seseorang mengalihkan pandangan semua orang. Manik hitam orang itu bersibobrok dengan mata hazel Mia.
to be continue...
°°°
Halloo.... Masih ada yang nungguin kelanjutannya nggak ya??
Maaf ya liburnya kelamaen🤭, nggak libur deng tapi ngebut novel yang satu.
Like komen dan bintang lima 😍
__ADS_1
Gomawo 🤗